Trending

Youtube Buat Sistem Monetisasi Baru, Akankan Kejayaan Youtuber Terancam?

Pernah disebut-sebut jadi ladang emas untuk para konten kreator, Youtube jadi surga untuk siapa saja bisa meraup uang sebanyak-banyaknya. Tapi itu dulu, karena sejak 20 Februari 2018 lalu, ada aturan baru yang ditetapkan oleh Youtube dalam sistem monitasinya. Dampaknya, para youtuber kian sulit mendapatkan uang.

Yap, aturan tersebut menerapkan syarat bahwa untuk bisa meraup laba dari iklan. Setiap akun haruslah memiliki setidaknya 1.000 subscriber dengan jumlah penayangan 4.000 jam selama 12 bulan terakhir. Dan sialnya lagi, kebijakan ini berlaku bagi akun YouTube baru maupun yang sudah lama. Dan tak hanya itu saja, terhitung sejak 2016 beberapa youtuber juga mengluhkan beberapa masalah. Video mereka tak lagi menghasilkan uang seperti sebelumnya meski mereka sendiri tak tahu persisnya mengapa. Walau, algoritma yang berubah disebut-sebut adalah penyebabnya. 

Kilas balik ke belakang sebentar, dilansir dari The Verge, sejak kelahirannya kultur kreator konten sudah jadi kekuatan YouTube. Maka muncullah bintang-bintang kenamaan macam Felix ‘PewDiePie’ Kjellberg, Anthony Padilla Sampai Casey Neistat, dengan ciri khasnya masing-masing.

Bergerak melaju ke depan, masa keemasan pun datang. Tahun 2011, YouTube disaksikan lebih dari 1 triliun kali. Dan para kreator meraup banyak uang dari Google AdSense. Bahkan sosok seperti PewDiePie berani fokus sepenuhnya sebagai YouTuber dan meninggalkan pekerjaan lainnya. “Sungguh menyenangkan ketika begitu banyak orang menonton dan mengapresiasi,” kata dia pada salah satu wawancara.

Namun situasi tersebut agaknya tak berlangsun lama, bahkan bisa dibilang hanya terasa pada rentang waktu 2011 hingga 2015 saja. Pelan tapi pasti, Youtuber mulai menyadari kehadiran kompetitoor asing yang jadi ancaman. Sebut saja Netflix. Barangkali itulah sebanya, pada Oktober 2012, YouTube mengumumkan algoritma mereka berubah menjadi lebih ramah pada video dengan durasi lebih lama ketimbang hanya perhitungan views.

Dengan kata lain, video dengan durasi lebih panjang dinilai jadi penggaet yang bisa menahan para penonton lebih lama. Itulah kenapa kahirnya para konten kreator, berubah haluan untuk mebuat video dengan durasi yang lebih dari 10 menit demi peraturan baru tersebut. Selepas itu, para kreator boleh berbangga tapi kembali nelangsa pada 2016, dimana mereka kembali mengeluhkan beberapa masalah.

Setelah Philip DeFranco atau Jesse Ridgway, yang mengeluhkan video mereka mendadak tidak menghasilkan uang seperti sebelumnya. PewDiePie ikut memanas-manasi dengan menayangkan video tentang angka pemirsanya turun. Dari yang semula, 30% dari trafiknya berasal dari saran feed yang dirancang YouTube, namun angka trafik dari metode tersebut mendadak berubah turun jadi di angka 1%.

Merespon pernyataan-pernyataan tersebut, pihak YouTube pun memberi klarifikasi dengan mengatakan tidak ada perubahan apapun. Akan tetapi para kreator mulai tidak percaya dengan YouTube.

“Aku bisa saja sudah bekerja begitu keras dan angka pemirsa jauh lebih rendah dari yang kuharapkan,” kata Anthony Padilla, yang juga adalah seorang kreator.

Merasa kian disusahkan, beberapa kreator frustrasi dan menarik diri. Mereka menilai YouTube tak lagi sama seperti pada tahun 2011 sampai 2016. Selain tak bisa memahami ketentuan baru yang dibuat, mereka juga mengaku kesulitan untuk bisa menyesuaikan  kemampuan dengan cara kerja mesin yang diberi pengaturan baru oleh Youtube.

Dan salah satu penolakan yang menunjukkan respon paling getol, mungkin terlihat dari perilaku yang dilakukan oleh Nasim Najafi Aghdam. Perempuan asal Iran tersebut berang dan melakukan penambakan di Kantor Youtuber di San Brun,California pada Selasa (4/4) lalu. Nasim melukai setidaknya 3 orang karyawan, yang kemudian memilih mengakhiri hidupnya dengan menembakkan senjata api ke kepalanya.

Sebelumnya, Nasim merasa jika aturan baru ini tidak adil dan mempersulit kretor untuk menghasilkan uang dari Youtuber. Bahkan pada salah satu pernyataannya Nasim mengklaim jika Youtube telah memangkas angka view di channel-nya.

“YouTube menyaring Channel saya dan membuat konten saya sulit mendapatkan views,” tulis Nasim dalam situsnya dilansir AP.

“Tidak ada peluang pertumbuhan yang adil di YouTube atau situs berbagi video lainnya. Channel-mu akan berkembang hanya jika mereka menginginkannya.”

Selain itu, Ayah Nasim, Ismail Aghdam, yang dimintai keterangan juga membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan bahwa putrinya begitu marah terhadap platform streaming video tersebut karena mengubah kebijakan monetisasinya dan tidak lagi membayar video-video yang diunggah Nasim.

Hal lain yang kian memuncah amarah para kreator, tindakan Youtube yang terlihat lebih mengutamakan video-video dari acara televisi atau label musik besar. Bahkan pada presentasi tahun 2018 di Radio City Music, YouTube dengan terang-terangan malah memilih untuk  tidak memajang karya Ariana Grande, Kevin Hart sampai klip dari The Tonight Show Starring Jimmy Fallon. 

Banyak yang mengeluh karena peraturan baru tersebut, namun ketika dikonformasi The Verge, YouTube justru menolah anggapan yang menyebut bahwa mereka mulai meninggalkan para kreator. “Strategi inti dan investasi kami tetap berpusat pada para kreator,” kata mereka.

Lalu, akankah kejayaan Youtuber terancam? Kita lihat saja, karena nampaknya Atta Halilintar justru kian kaya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top