Trending

Yang Kudapat dari Menonton Film “My Generation” Hari Jumat Kemarin

“Zaman papa dulu…”

Jadi satu-satunya kalimat yang membuat saya tersenyum dan ingat Bapak di rumah.

Dan jika kalian ingin tahu, itu adalah kata-kata pamungkas dari Papanya Konji (Joko Anwar) kepada sang anak Konji (Arya Vasco), setiap kali memberi petuah jika anaknya berulah.

Di tengah hiruk pikuk fenomena generasi micin yang katanya jadi generasi tak bermoral, tadinya saya berpikir bahwa film ini akan jadi salah satu peyegaran jiwa untuk orang tua dan anak muda.

Konon menurut orangtua Konji, sikap dan perilaku anak muda zaman sekarang sama sekali tak menunjukkan nilai-nilai moral. Budaya timurnya telah tergeser dengan perilaku kebarat-baratan yang lebih mendominasi. Babak ini berhasil menyeret saya untuk berpihak pada Konji bahwa “Tak semua anak muda seperti yang Papanya Konji pikirkan”.

Beruntungnya Konji tak sendiri, anak SMA ini punya 3 orang teman lain yang merasa senasib dengannya, mereka adalah Zeke (Bryan Langelo), Orly (Alexandra Kosasie), dan Suki (Lutesha).

Diawali dengan hukuman yang mereka terima dari orangtua masing-masing, perkara video YouTube yang mereka buat. Padahal bagi saya, isinya patut diacungi jempol. Saya dan kamu tentu sudah bosan dengan Vlog yang bertebaran di kanal per-YouTube-an Tanah Air. Harusnya para YouTuber muda belajar dari mereka berempat.

Ya, setidaknya menyuarakan bentuk ketidaksukaan jauh lebih berfaedah daripada nangis sesenggukan karena diputusin pacar ,atau peluk-pelukan di kolam renang dengan laki-laki yang bukan pasangan halalnya. Kenapa? Kamu ingat seseorang ya? 

Dari kacamata perempuan muda berusia 22 tahun, tadinya saya berpikir ini akan jadi jembatan penghubung untuk menyuarakan isi hati saya juga. Tapi nampaknya saya terlalu berharap pada Mbak Upi selaku sutradaranya.

Mimpi mereka untuk berjemur di Bali pada liburan sekolah akhirnya musnah. Mau tak mau liburan kali ini akan dihabiskan di Jakarta. Tak ingin dicap sebagai pecundang yang akan meratapi nasib atas hukuman, titik ini justru jadi garis start memulai petualangan.

Mulai dari cerita putusnya Suki dengan sang pacar, sampai mengerjai mobil mantan, dan manisnya kisah cinta Konji, serta peliknya perasaan Zeke atas kematian adiknya, atau rasa tak pernah dimengerti oleh sang ibu yang dirasakan Orly.

Tayang serempak sejak tanggal 9 November 2017, film hasil rumah produksi IFI Sinema ini memang terlihat ingin mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan keseharian anak muda. Hanya saja, bagi saya ini terlalu jauh. Karena faktanya tak semua anak di Indonesia ini bisa seperti mereka ini. Meski saya sendiri mungkin akan melakukan hal yang sama, jika dalam posisi mereka.

Melawan aturan dengan menyuarakan kepercayaan akan pilihan sendiri. Namun agaknya kurang pas, jika tak disertai kemampuan yang bisa dijadikan alasan untuk tidak mengikuti apa kata orangtua.

Memang sih, ini cerita saat liburan jadi wajar jika tak ada adegan yang menunjukkan mereka belajar. Tapi masa iya, kamu akan protes besar-besaran menuntut orangtuamu untuk tak terlalu mengekang, sedang kamu tak punya apa-apa untuk dibanggakan? 

Kalaupun kita akan bertanya pada anak-anak SMA, tentu mereka akan mengangguk setuju dan bilang bahwa sesungguhnya gambaran hidup dalam film ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Hidup mewah dengan segala fasilitas, bisa bermain sesuka hati tanpa beban, bahkan Zeke bepergian dengan mengendarai mobil sendiri tanpa dilarang. Kurang apa lagi coba?

Satu-satunya hal yang mungkin akan membuat mereka berhenti protes, adalah ketika orangtuanya memberinya pilihan. Tetap jadi anak dari orangtuanya saat ini, atau jadi anak dari Bapak saya yang ketika SMA cuma di kasih uang jajan lima ribu rupiah.

Tapi meski agak sedikit kecewa, saya harus akui bahwa ada sosok yang cukup menarik perhatian yakni Orly. Perempuan kritis yang pintar, dan berprinsip. Keluar dari zona cinta-cintaan yang kerap kita saksikan di beberapa film anak muda. Dari scene yang terlalu terkonsep, serta cerita yang jauh dari kehidupan saya ini, Mbak Upi berhasil memberi penawar lewat sosok Orly.

Meski nyatanya 4 orang ini adalah artis pendatang baru, Faktanya mereka adalah squad pemeran utamanya. Tapi lagi-lagi saya merasa karakter Orly jadi satu-satunya peran yang mendominasi dan punya persona cukup kuat.

Lewat bentuk pemberontakan akan kesetaraan gender, dan hal-hal yang kerap dibebankan pada perempuan. Hingga  rasa tak sukanya kepada sang ibu (Indah Kalalo), yang kerap bersikap bak anak milenial dan berpacaran dengan laki-laki lebih muda darinya.

Cerita lain yang menjadi nilai plusnya, adalah scene yang menampilkan sosok yang selalu ingin tahu. Salah satunya, pertanyaan Konji kepada teman-temannya. Tentang bulan kelahirannya yang lebih cepat 3 bulan dari tanggal pernikahan orangtuanya. Hingga ditutup dengan manis oleh kesadaran mereka akan pentingnya rasa saling mengerti dan menghargai dalam hubungan anak dan orangtua.

Diharapkan akan jadi jembatan bagi orang tua dan anak, namun saya melihat ada beberapa sisi yang dirasa kurang. Saya merasa beberapa orangtua atau bahkan anak muda justru akan mempertanyakan letak nilai-nilai yang seharusnya dapat diambil pelajaran. Ya, setidaknya ini jadi gambaran akan beberapa komentar dari para orangtua, yang kini berseliweran di beberapa media sosial.

Akan tetapi sebagaimana yang Mbak Upi bilang, “Film ini bukan bermaksud menggurui atau menghakimi generasi millenial. Akan tetapi memberikan referensi terkini bagaimana kondisi generasi milenial lebih dekat. Pada akhirnya, antara generasi sekarang dan dulu harus saling memahami,”

Kamu bisa sependapat dengan saya, bisa juga tidak. Toh ini adalah beberapa hal yang berdasarkan sudut pandang saya sendiri. Jika ternyata kamu tak setuju tentu saya tak akan marah. Jika dirasa masih kurang, cobalah pergi ke bioskop dan tonton sendiri. Barangkali kamu punya penilaian yang berbeda. 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Semakin Kita Dewasa, Waktu Terasa Semakin Cepat Berlalu! Kenapa ya?

Saat kamu masih kanak-kanak dulu pasti kamu sempat merasakan bahwa masa liburan sangatlah panjang. Hal sama juga kamu rasakan saat kamu menanti hari ulangtahunmu. Rasanya waktu berjalan amat sangat lambat. Namun saat kamu sudah tumbuh dewasa, hal sebaliknyalah yang kamu rasakan. Justru kamu merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat tanpa kamu sempat menikmatinya.

Waktu Berjalan Lebih Lama Bagi Anak-anak Karena Ilmu yang Dipelajari Sangatlah Banyak di Usianya yang Masih Belia dan Otak Memproses Ilmu Tersebut

Sampai saat ini ada beberapa hipotesis yang menyatakan alasan kenapa manusia memiliki persepsi terhadap percepatan waktu dengan seiring bertambahnya usia. Nah salah satu alasannya karena adanya pemotongan secara berkala terhadap jam biologis manusia. Sedangkan perlambatan metabolisme tubuh juga akan bertambah seiring bertambahnya usia sehingga melambatkan detak jantung manusia.

Pemacu jantung pada anak ebrdetak lebih ceoat sehingga mereka mengalami penanda biologis lebih banyak seperti detak jantung juga denyut nafas dalam waktu tertentu. Inilah yang membuat mereka merasa waktu berjalan sangat lambat.

Pelajarilah lebih Banyak Hal Baru Agar Waktu Berjalan Lebih Lambat

Kamu bisa coba buktikan sendiri. Ada banyak ahli yang menyatakan bahwa saat dihadapkan dengan situasi yang baru, otak akan merekam lebih banyak memori secara lebih rinci sehingga penghimpunan informasi pun akan terasa lambat tentang kejadian yang dialami.

Jika dihadapkan dengan kehidupan yang semakin tua, maka bisa ditarik sebuah hipotesis bahwa semakin tua seseorang, akan semakin terbiasa orang tersebut dengan apa yang terjadi di sekeliling mereka. Inilah yang akhirnya menjadikan proses penyerapan informasi baru lebih sedikit dan membuat waktu seolah berjalan lebih cepat.

Hakikatnya, Semakin Terbiasa Kita pada Satu Rutinitas, Waktu akan Terasa Hilang Begitu Saja

Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, bahwa semakin tua seseorang, akan terbiasa seseorang itu dengan apa yang ada di sekelilingnya. Hasilnya, penyerapan informasi baru pun akan lebih sedikit dan hal ini membuat waktu terasa berjalan sangat cepat. Mekanisme biokimia dibalik hipotesis ini mengungkapkan bahwa pelepasan dopamin neurotransmitter beriringan dengan rangsangan pembelajaran tentang hal baru, yang akhirnya akan membantu seseorang belajar mengukur lamanya waktu.

Biasanya setelah melewati usia 20-an dan berlanjut pada usia yang semakin tua, lebel dopamin seseorang akan menurun dan inilah yang membuat waktu berjalan semakin cepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

10 Gambaran Kemesraan Pasangan Baru Menikah yang Bikin Gemes

Awal pernikahan merupakan masa yang manis untuk dikenang. Kamu akan menikmati waktu yang lebih banyak dengan pasangan. Tentunya kamu pun akan lebih banyak melakukan kegiatan apapun bersama dengan pasanganmu. Nah, berikut ini adalah 10 gambaran kemesraan pasangan baru menikah yang bisa bikin kamu gemes dan baper abis.

1. Cukup Menggunakan Kode Kedipan Mata

Kamu dan pasangan tak lagi membutuhkan banyak kata untuk menyampaikan apa yang kamu atau pasanganmu inginkan. Dengan perbuatan dan juga tatapan mata itu sudah mampu menyampaikan banyak makna.

2. Istri Kerap Bertingkah Manja

Seringkali istrimu akan bertingkah sangat manja padamu. Mungkin dengan selalu memintamu untuk memberikan pelukan atau ciuman yang berlangsung secara random. Namun kamu pun tak pernah merasa terganggu, justru kamu lebih sering rindu.

3. Memiliki Keromantisan Tersendiri yang Unik

Seringkali bertingkah konyol dan aneh, namun hal itu justru menjadikan hubunganmu dan pasangan menjadi lebih erat lagi. Mungkin kamu dan pasangan tak memiliki selera keromantisan layaknya orang pada umumnya, namun cara konyolmu dan pasangan justru membuat hubungan menjadi lebih menggemaskan.

4. Lebih Suka Menghabiskan Waktu di Rumah

Kamu dan pasanganmu justru akan lebih suka menghabiskan banyak waktu di rumah dibanding bepergian ke suatu tempat yang ramai. Setidaknya kalau kamu dan pasangan di rumah kan dunia serasa milik berdua dan tak ada gangguan dari orang lain.

5. Sering Menjadikan Pasangan Bantal atau Selimut

Jika sudah menikah semua hal juga sah-sah saja untuk dilakukan berdua. Tak jarang baik kamu maupun pasanganmu sering menjadikan satu sama lain sebagai bantal bahkan selimut.

6. Tak Lagi Memerlukan Guling

Karena sudah ada teman untuk menemani tidurmu, kamu tak lagi membutuhkan guling untuk kamu peluk. Karena posisi guling kini sudah digantikan oleh pasangan halalmu.

7. Pujian Kecil Mampu Membuat Pasangan Merasa Dicintai

Misalnya saat sang istri atau suami sedang bersiap untuk pergi ke suatu tempat, lantas salah satu dari pasangan mengatakan bahwa kamu tak perlu dandan terlalu wah, karena apapun keadaanmu, kamu tetaplah cantik atau tampan. Pujian seperti inilah yang membuat hati pasangan tersentuh. Penerimaan atas apa adanya pasangan adalah sebuah penghargaan paling berharga dalam sebuah hubungan.

8. Selalu Bersama dalam Keadaan Apapun

Baik dalam keadaan susah maupun senang, kamu tetap bersama dengan pasanganmu. Misalnya saat pasanganmu sakit, kamu setia merawatnya dan memberikannya perhatian, begitu juga sebaliknya.

9. Istri Tak Ingin Ditinggal Tidur Duluan oleh Suami

Konyol banget sih kelihatannya. Namun hal ini juga biasanya terjadi loh pada pasangan yang baru menikah. Seringkali para istri tak ingin ditinggalkan, walau hanya ditinggal tidur suami duluan.

10. Suka Mengenakan Pakaian Pasangan

Sebenarnya kamu mengenakan pakaian pasangan bukan karena butuh untuk mengenakannya. Kamu hanya ingin mencium aroma tubuh pasanganmu yang melekat di pakaian miliknya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

10 Fakta yang Harus Kamu Pahami Agar Tak Menyesal Nantinya

Setiap orang tentu ingin memiliki kehidupan yang berhasil. Namun pada perjalanannya, selalu ada yang namanya momen jatuh dan bangun. Inilah yang menyebabkan keberanian harus dimiliki oleh setiap orang dalam menjalani pahit manisnya kehidupan. Kamu pun harus memahami 10 fakta kehidupan ini agar kamu tak menyesal di waktu yang akan datang.

1. Sibuk dan Produktif Adalah Hal yang Berbeda

Kamu tak bisa menganggap sibuk dan produktif adalah satu hal yang sama. Kamu mungkin bisa sangat sibuk sepanjang hari, namun sampai hari itu hampir selesai, kamu masih saja kebingungan karena kamu belum menghasilkan apapun di hari itu. Hal inilah yang menyebabkan sibuk berbeda jauh dengan yang namanya produktif.

2. Jangan Katakan “Ya” Jika Kamu Tak Benar-benar Ingin

Kamu harus belajar untuk melakukan hal yang memang ingin kamu lakukan. Jangan terlalu sungkan kepada orang sehingga kamu tak bisa menolak apapun yang mereka minta. Sebisa mungkin, lakukanlah apa yang memang ingin kamu lakukan, bukan apa yang orang lain perintahkan.

3. Keyakinan Adalah Piranti Paling Penting dalam Menjalani Kehidupan

Cobalah untuk meningkatkan keyakinanmu setinggi mungkin. Dengan keyakinan itulah kamu memiliki energi lebih dalam meraih apa yang ingin kamu raih. Jangan pernah pedulikan omongan orang yang hanya ingin menjatuhkanmu. Gantilah cibiran mereka sebagai penambah keyakinanmu dan keberanianmu dalam menjadikan mimpimu menjadi sebuah kenyataan, bukan hanya sekedar ilusi semata.

4. Kamulah yang Menentukan Ingin Hidup Seperti Apa

Sejatinya kamu hidup dalam kehidupan yang kamu ciptakan sendiri. Apa yang kamu jalani saat ini adalah imbas dari apa yang kamu usahakan. Cobalah tanamkan pada dirimu sendiri, semakin keras kamu berusaha, maka akan semakin indah kehidupan yang tercipta untukmu.

5. Berhentilah Mengatakan “Seandainya”

Perkataan ini hanya dimiliki oleh orang yang penuh dengan penyesalan. Dan jangan sampai kamu menjadi salah satu dari mereka. Berhentilah berkata “seandainya” karena hal itu hanya akan menghambat jalanmu untuk meraih masa depan yang lebih baik dari hari kemarin dan hari ini.

6. Mulailah Membuat Jadwal yang Terperinci Tentang Apa yang Ingin Kamu Lakukan

Jika kamu belum terbiasa, mungkin kamu akan kesulitan. Namun cobalah untuk membuat jadwal agar kehidupanmu lebih terarah. Buatlah jadwal mengenai kegiatan apa saja yang ingin kamu lakukan dalam satu hari penuh. Mulai dari bangun tidur hingga waktu untuk tidur kembali di malam hari.

7. Fokuslah pada Solusi, Bukan Kondisi

Tak peduli bagaimana pun kondisinya, kamu harus tetap fokus dalam mencari solusi untuk memecahkan masalah yang sedang kamu hadapi. Jangan membuang waktumu dengan memikirkan hal yang tak penting.

8. Berhentilah Melontarkan Hal Negatif tentang Diri Sendiri

Berhentilah berpikir atau melontarkan hal negatif tentang dirimu sendiri. Ingatlah, pikiran bisa menjadi sebuah motivasi terkuat, namun juga bisa beralih menjadi pembunuh yang handal. Jangan biarkan pikiran negatifmu membunuh segala keyakinan baikmu dalam kehidupan ini.

9. Berhentilah Mencari Kesempurnaan

Tak ada yang sempurna di muka bumi ini. Kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri saat kamu selalu mengejar yang namanya kesempurnaan. Kamu hanya bisa melakukan apapun dengan semaksimal yang kamu mampu, sehingga kamu bisa mendapatkan yang terbaik. Karena apa yang ada adalah yang “terbaik” bukan yang “sempurna”.

10. Belajarlah Memaafkan Diri Sendiri

Membenci diri sendiri tak akan membuatmu maju. Kamu hanya akan menyiksa dirimu sendiri. Karenanya cobalah untuk memaafkan diri sendiri dan berusaha untuk memperbaiki segala kesalahan yang sudah kamu lakukan sebelumnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top