Feature

Wanita Suka Lapar Mata saat Belanja, Atasi Dengan Tips Ini Agar Kamu Tak Kebablasan

Belanja itu menyenangkan hati. Untuk sebagian orang, aktivitas ini bahkan jadi cara ampuh menghilangkan suntuk dan stres. Sementara sebagian lainnya, menganggap belanja sebagai sebuah cara memuaskan diri sendiri setelah sebulan bekerja. Apa lagi kalau budget untuk belanja selalu tersedia setiap bulannya, belanja tentu jadi hal wajib yang tak boleh dilewatkan.

Disamping itu, jika pada mulanya kegiatan belanja identik dengan wanita, kini stereotipe itu mulai bergeser. Kamu bisa buktikan sendiri, di mall-mall besar, baik pria maupun wanita terlihat enjoy memilih barang, pakaian, hingga sepatu incaran mereka.

Masalahnya, sebagian orang masih susah mengontrol nafsu belanja. Alih-alih berhemat, yang terjadi malah sering overbudget. Penyebabnya satu, lapar mata! Karenanya, penting sekali untuk belanja cerdas. Kamu harus jago mengendalikan pemasukan dan pengeluaran dengan baik sekaligus bisa memenuhi kebutuhan. Apa lagi boros itu tak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga berdampak pada orang-orang di sekitarmu. Untukmu yang punya kebiasaan seperti ini, kamu harus punya cara mengatasinya agar tak semakin kebablasan.

Membuat Daftar Belanja Ternyata Sangat Membantu, Apalagi Untukmu yang Mudah Sekali Merogoh Saku

Jika kamu belum terbiasa membuat daftar belanja, berarti kamu perlu mencobanya. Hal ini akan membantumu mengelola anggaran belanja jadi lebih detail bahkan bisa meminimalisir pengeluaran. Apa lagi untukmu yang sadar betul kalau kamu mudah lapar mata, trik semacam ini dapat melatih kedisiplinanmu dalam mengontrol uang.

Pada awal bulan atau H-7 sebelum gajian, coba kamu tulis apa saja yang perlu dibeli. Setelahnya, tinggal kamu anggarkan uang gajimu untuk membeli keperluanmu itu. Kalau kamu sudah bisa mematuhi prinsip pribadimu ini, maka ancaman overbudget pun tak akan menghantuimu.

Miliki Jadwal Belanja yang Rutin Supaya Tahu Mana yang Memang Butuh dan Mana yang Sebatas Ingin

Belajarlah untuk tidak menjadikan keinginan sebagai prioritas. Sebab kamu perlu mendahulukan kebutuhan yang nyatanya memang diperlukan. Kalau hanya untuk memenuhi segala keinginan, yang ada kamu jadi sering boros dalam mengeluarkan uang. Belum lagi kalau punya teman yang sering mengajak hang out, pengeluaran untuk aktivitas ini pun harus disiapkan juga. Agar seimbang, mungkin kamu bisa mengakalinya dengan membuat jadwal belanja yang rutin.

Kata Siapa Window Shopping Itu Buang-buang Waktu, Manfaatkan Kesempatan Keliling Mall Kalau Memang Dirasa Perlu

Tujuan window shopping salah satunya untuk membandingkan harga dari satu toko ke toko lainnya. Apa lagi biasanya harga yang ditawarkan oleh masing-masing toko memang selalu berbeda walaupun barangnya sama. Jadi, bijaklah dalam berbelanja. Tidak asal memilih barang hanya karena barang itu terlihat lucu dan menarikmu untuk membeli. Lagi pula kalau kamu terbiasa membandingkan harga, kamu akan tahu banyak hal mengenai suatu produk yang jadi keperluanmu.

Hati-hati dengan Kartu Kredit, Karena Sewaktu-waktu Kalau Tagihanmu Membengkak Justru Bisa Membuatmu Terlilit

Untukmu yang terbiasa menggunakan kartu kredit, penguasaan diri agar tidak lapar mata harus jauh lebih besar. Perlu kamu ingat lagi, fungsi kartu kredit adalah demi memberikan rasa aman dengan tak perlu membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak, bukan sebagai alat yang memudahkanmu  untuk berhutang. Jadi, kalau kamu saat ini mungkin belum menggunakan kartu kredit, pertimbangkanlah terlebih dahulu manfaat serta dampak yang akan muncul nantinya.

Pisahkan Sendiri Rekening untuk Belanja dengan Rekening untuk Keperluan Lainnya

Cara ini mungkin belum banyak diterapkan. Tapi tak ada salahnya mencoba. Kamu cukup membuat satu rekening terpisah yang khusus dialokasikan untuk belanja. Sehingga pengeluaran untuk operasional bulanan tak perlu diutak-atik lagi. Manfaatnya, kamu pun jadi punya saldo khusus setiap bulan yang memang ditujukan untuk belanja. Menarik bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dilema Memilih Tempat Kerja : Suasana yang Nyaman atau yang Bergaji Besar?

Untuk kamu yang baru saja lulus, kesulitan memilih tempat kerja bisa jadi dilema. Ingin memilih tempat kerja yang nyaman atau yang menawarkan gaji besar. Tapi tak hanya dirasakan oleh para fresh gradute saja, karyawan yang sudah lama bekerja pun sering bimbang. Sudah merasa nyaman di tempat kerja yang sekarang, tapi juga butuh tambahan penghasilan demi masa depan.

Suasana seperti ini, sering mengacau pikiran. Bahkan sering menjebak kita dan tak bisa menentukan, mana yang baiknya dipilih. Nah, sebelum menentukan pilihan yang mungkin bisa jadi terbaik untukmu. Ada untung-rugi yang harus kamu pahami terlebih dahulu, dari pekerjaan nyaman atau yang bergaji besar.

Bekerja Nyaman Bisa Mengurangi Tekanan dan Berpeluang Mengambil Pekerjaan Sampingan

Jika kamu kebetulan berhasil masuk ke dalam perusahaan besar yang sudah mapan. Biasanya perusahan tidak memberi tekanan yang besar pada karyawan. Sebaliknya, kamu bisa bekerja dengan nyaman dan suasana yang juga jauh dari kata stres.

Selain itu, karena teknan yang ada tak begitu besar. Tempat bekerja seperti ini biasa memberimu waktu luang yang lebih besar. Sehingga kamu bisa memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan atau pekerjan lain yang mungkin bisa jadi sumber penghasilan. Memulai bisnis di rumah atau membuka online shop, misalnya.

Tapi Dampak Buruknya Bisa Membuatmu Malas, Kurang Profesional dan Takut Akan Tantangan

Pola yang sudah lama terpatri atas orang-orang yang terlalu nyaman di pekerjaannya sekarang adalah susah keluar untuk memulai pekerjaan lain. Lagipula situasi sekarang ini sudah cukup nyaman, kalau harus keluar belum tentu bisa menemukan yang nyamannya sama. Begitu kira-kira gambarannya.

Padahal ini adalah sebuah pola pikir yang salah. Karena biar bagaimana pun, pandangan seperti ini akan membuat kita menutup diri pada hal-hal lain. Merasa tak sanggup untuk mengikuti tantangan, hanya karena tak siap untuk berkompetisi dengan orang luar.

Selain itu, aturan yang fleksibel di tempat kerja yang nyaman juga banyak membentuk watak buruk bagi karyawan. Karena tak ada larangan yang begitu keras, kamu bisa saja berubah jadi orang yang sembrono. Telat membuat laporan, hingga datang terlambat setiap ada meeting bulanan. Ya, kamu tak profesional.

Akan Tetapi Jika Gajinya Lebih Besar Mampu Menjamin Finansial dan Membuatmu Kian Profesional

Untuk situasi ini, keuntungan dari segi finansial jelas jadi kelebihan yang wajib disyukuri. Biar bagaimana pun, pundi-pundi harus tetap terisi. Nominal pendapatan yang bertambah, setidaknya akan membantu kita memenuhi kebutuhan harian pada tingkat yang lebih baik. Syukur-syukur bisa menyisihkan jumlah tabungan yang lebih besar untuk masa depan.

Tapi jangan buru-buru senang dulu, karena jika gaji yang ditawarkan memang lebih besar. Ada kemampuan yang seimbang yang harusnya kita bayarkan. Tekanan yang datang untuk capaian pendapatan yang telah ditentukan akhirnya merubahmu jadi sosok yang mampu berkompetisi dengan baik. Karena mau tak mau kamu harus bergerak untuk mencapai targetmu, yang sebenarnya juga baik untuk mengembangan karir dan membuatmu kian profesional.

Namun Sialnya Kamu Jadi Mudah Stres Karena Tekanan yang Lebih Besar dengan Waktu Luang yang Terbatas

Yap, dituntut untuk mencapai target yang ditentukan, terpaksa membuat kita berjuang keras untuk terus bekerja. Beberapa hal yang akan terasa kian dekat, tentu saja stres kalau-kalau targetnya masih belum kesampaian juga. Selain itu, waktu untuk bisa beristirahat meski sekedar beleha-leha sebentar. Akan hilang, diganti dengan konsentrasi untuk mengurus pekerjaan.

Bahkan kalau bisa, seluruh waktu yang ada dalam hidupmu akan kamu serahkan untuk terus fokus bekerja sampai apa yang sudah ditentukan perusahaan bisa di dapat dengan cepat. Gajinya memang besar, tapi setara dengan itu tingkat stres yang kamu dapat juga kian besar.

Lalu, Kemana Pilihanmu Akan Jatuh?

Sesungguhnya, ini bukanlah pilihan yang sulit. Karena kamu hanya butuh mencari apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Sembari menemukan jawaban, kamu pun perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan lain yang nantinya akan dirasakan.

Jika kamu memilih untuk berada pada zona kerja yang nyaman, mungkin penghasilan yang akan kamu dapatkan lebih sedikit. Dan begitu sebaliknya, jika kamu memilih untuk berada  pada tempat kerja yang bergaji besar. Cobalah bersiap untuk tekanan besar serta waktu luan yang mulai terbatas.

Tanyakan pada dirimu sendiri, mana pilihan yang sesungguhnya kamu cari. Sembari menyiapkan kemampuan, untuk resiko yang juga akan diemban.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kantor yang Bebas Berpakaian, Tak Berarti Kamu Boleh Datang dengan Pakaian Rumahan

Di era sekarang sebuah kantor atau perusahaan tidak lagi menekankan karyawannya harus memakai office look. Meskipun tidak semua, tapi beberapa start up telah melakukan kebijakan ini. Apalagi kantor-kantor di bidang kreatif. Pasalnya, ada yang berujar bahwa berpakaian rapih saat ke kantor adalah suatu tekanan. Entah bisa dibenarkan atau tidak, yang jelas generasi milenial sangat senang mendapatkan kantor bebas berpakaian.

Perlu diketahui ketika diberikan kebebasan, bukan berarti datang dengan berpakaian semaunya dan seenaknya. Meskipun bebas, kamu juga mesti tahu aturan. Pada dasarnya aturan tersebut mengacu kepada etika, karena tak mungkin kamu hanya memakai kaus kutang dan celana pendek ke kantor kan? selain tidak enak dipandang, itu sama saja kamu telah menyepelekan tempat kamu bekerja.

Setidaknya bebas berpakaian adalah minimal kamu mengenakan T-shirt dan jeans ke kantor. Dan pastikan kamu tidak berpakaian seperti ini saat berangkat ke kantor ya.

Bebas Tapi Sopan, Jangan Memakai Pakaian Rumahan

Mungkin kamu memiliki kaus kesayangan yang sampai belel pun kamu tetap nyaman memakainya. Tapi, nyaman buatmu belum tentu nyaman di mata orang lain. Pakaian yang seperti itu sebaiknya kamu kenakan saat di rumah, bukan berangkat ke kantor. Meskipun bebas berpakaian bukan berarti tidak ada aturan lho. Kamu harus kenakan pakaian yang setidaknya enak dipandang.

Memakai Pakaian yang Kusut

Tentu penampilan dapat menopang mood seseorang dalam bekerja. Tidak bagusnya penampilan pasti akan menganggu konsenstrasi saat di kantor. Terutama saat kamu mendapatkan komentar dari karyawan lain, atau melihat seseorang yang melihatmu secara tidak enak. Untuk itu perhatikan pakaianm.

Apalagi jika menggunakan pakaian kusut, jelas sangatlah tidak enak dipandang. Sebisa mungkin kamu harus membawa pakaian ganti untuk mengganti pakaianmu yang kusut. Apalagi kalau kamu ke kantor naik angkutan umum.

Memakai Pakaian yang Sudah Dipakai di Hari Sebelumnya

Mungkin kamu memiliki sikap yang terlalu cuek soal pakaian. Apalagi mengetahui kalau kantor kamu adalah kantor yang bebas berpakaian. Secuek-cueknya kamu dengan penampilan, tak semestinya juga kamu memakai pakaian yang sudah dipakai di hari sebelumnya. Jangan heran kalau kamu mendapatkan cap jorok dari teman-teman kantor lantaran pakaianmu tidak diganti-ganti.

Jangan Sampai Memakai Sandal Ke Kantor Karena Tidak Etis

Dalam suatu kondisi seperti hujan, kamu mungkin bisa memakai sandal ke kantor karena sepatumu kebasahan atau semacamnya. Tetapi di luar dari kondisi tersebut, memakai sandal ke kantor sangatlah tidak etis. Apalagi kalau dilihat teman kerja dan bosmu, otomatis kamu akan dipandang berbeda. Lain kasusnya apabila bos dan teman kantor memang memperbolehkan memakai sandal.

Mengenakan Piyama Saat Bekerja

Lebih kacau lagi kalau kamu mengenakan piyama saat bekerja. Jelas saja itu sudah salah, karena piyama adalah pakaian untuk beristirahat bukan bekerja. Kamu bisa mengenakan piyama ke kantor apabila saat itu sedang ada pesta kostum atau semacamnya. Karena kami yakin sebebas apapun kantormu pasti tidak srek apabila melihat seseorang mengenakan piyama saat bekerja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pertama dalam Sejarah APBN, Penerimaan Negara Tembus 100%

Sehari sebelum perayaan Tahun Baru 2019 kemarin, Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati mengumumkan penerimaan negara 2018 mencapai 100%.  Belia juga mengatakan jika capaian tersebut adalah yang pertama kali dalam sejarah APBN.

Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah meraup penerimaan sebesar Rp 1.894,72 triliun atau 100% dari target APBN 2018. Dan adapun sumbernya antara lain dari perpajakan, yakni pajak dan bea cukai, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah.

“Pada tahun ini untuk pertama kalinya Kementerian Keuangan tidak mengundang-undangkan APBN Perubahan dan tahun 2018 ditutup dengan Penerimaan Negara sebesar 100%,” kata Sri Mulyani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/12/2018), sebagaimana dikutip dari detik.com. 

Dan, kabarnya hasil dari pencapaian ini akan dilaporkan oleh Sri Mulyani kepada Presiden Joko Widodo, hari ini Selasa (1/1/2019).

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top