Feature

Wahai Generasi Milennials, Perbanyaklah Investasi Daripada Menghabiskan Gaji

Keinginan dan gaya hidup Milenials membuat mereka sulit untuk memprioritaskan mana yang penting untuk dibeli, mana yang tidak harus dibeli. Budaya konsumtif yang menyelimuti generasi ini saja menjadi perhatian, sampai-sampai Menteri Keuangan, Sri Mulyani pun berujar untuk para generasi ini agar menyiapkan dana pensiun dengan menyisihkan uang kopi. Iya kopi, minuman yang akrab dijadikan pembuka topik pembicaraan.

Masalah sulit mengelola keuangan juga menjadikan generasi mileniar diprediksi tak memiliki tempat tinggal (dibaca : rumah). Sebuah survei yang dilakukan Rumah123, yang menyatakan bahwa 95% generasi millenial diprediksi tak memiliki tempat tinggal. Hanya 5% dari generasi ini saja yang mampu membeli rumah. Gaya hidup yang cenderung boros tak sebanding dengan rata-rata kenaikan harga rumah yang tinggi, dan ini jadi penyebab utama.

Untuk itu kalian harus belajar untuk mengelola keuangan, hal ini dilakukan bukan untuk kepentingan siapa-siapa, tapi demi kepentingan kalian.

Cobalah Fokuskan Gaji Kepada Tabungan dan Investasi

Gaji tidak bisa dihambur-hamburkan begitu saja, banyak dari generasi milennials beranggapan kalau menghabiskan uang sekarang tidak apa-apa, lantaran ini adalah proses balas dendam ketika dulu ia tidak bisa membeli apa-apa. Menurut beberapa sumber, rata-rata orang Amerika menghemat kurang lebih 5.7% dari pendapatan mereka.

Pendapatan mereka dibayarkan untuk membayar tagihan baru dibelanjakan apabila terdapat sisa. Intinya gaji dialokasikan kepada tabungan dan investasi. Barulah sisa uang dipakai untuk apapun yang membuat kamu bahagia. Beberapa sumber meyakini kalau cara ini kamu lakukan akan membuat kamu bahagia dengan menciptakan kekayaan secara perlahan dan pasti.

Bijak Dalam Memakai Kartu kredit Jangan Sampai Terlilit

Memakai kartu kredit di era sekarang nampaknya menjadi kebutuhan yang dapat menjadi boomerang, karena budaya konsumtif membuat seseorang gampang saja untuk menggesek setiap barang yang ingin dibelanjakan. Konsekuensinya, hutang kartu kredit pun menumpuk, dan ini dapat menghancurkan kekayaan.

Pasalnya perusahaan kartu kredit biasanya mengenakan bunga tinggi. Suka bunga rata-rata sekitar 16%, dan para pengguna kartu kredit dikenakan biaya lebih 25%. Oleh karena itu kamu harus lebih bijak menggunakan kartu kredit dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan sebelum memutuskan untuk menggunakan.

Biasakan Menyiapkan Dana Darurat Karena Kondisi Tak Terduga Bisa Datang Tiba-tiba

Kamu bisa saja mengalami sakit sampai paling sial, kehilangan pekerjaan! Kamu pun tahu adanya aplikasi mencari kerja, bukan berarti gampang mendapatkan kerja. Hanya saja membantumu melamar pekerjaan jadi lebih gampang. Persiapan dana darurat itu penting sehingga kamu bisa menambal kondisi keuangan yang sedang acak-acakan dan tak diperkirakan.

Meskipun pedoman hidupmu positive thinking everyday, cobalah tambahkan negative thinking guna berjaga-jaga kalau hidup itu tak selamanya mulus. Kadang halus, kadang terkena akal bulus.

Merancang Anggaran Untuk Melacak Pengeluaran

Jangan sampai pengeluaran kamu tak terlacak, kamu mesti mengetahui di bulan ini kamu telah menghabiskan berapa banyak, dan untuk keperluan apa. Dengan cara seperti itu, kamu akan melihat berapa nominal yang kamu habiskan. Secara psikologis kalau dalam sebulan kamu menghabiskan berjuta-juta dengan nominal yang tercantum, pasti akan membuat kamu merasa menyesal dan berkeinginan lebih berhemat di bulan depan.

Kalau kamu malas membuat anggaran, kamu bisa mengunduh aplikasi Tracking tool secara gratis di playstore atau apsstore. Demi mempermudah kamu untuk melacak membangun kekayaan.

Menjalani Kerjaan Sampingan Demi Menambah Penghasilan

Menjalankan kerjaan sampingan?  tidak ada salahnya kok, justru itu bagus bagi kamu yang ingin menambah penghasilan yang bisa dialokasikan kepada tabungan biar makin banyak. Atau untuk demi memenuhi keinginan. Menyimpan dan membuat anggaran memang bagus, demi berjalan kehidupan yang disiplin.

Tapi lebih baik lagi kalau kamu menjalai kerjaan sampingan, tak perlu yang berat-berat kok. Manfaatkan teknologi dengan berjualan secara online yang masih bisa kamu handle dibalik pekerjaan utamamu. Siapa tahu kamu ternyata memiliki keahlian dalam berjualan. Kalau dua-duanya bisa berjalan secara berbarengan kamu bisa bayangkan berapa pendapatanmu sekarang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Hanya Perkara Komitmen, Ada Beberapa Hal yang Buat Milenials Takut Menikah Muda

Dilema atau memang belum kepikiran, pernikahan jadi perkara krusial bagi para generasi milenials. Mereka yang lahir antara tahun 1982 – 1990-an ini, barangkali sudah mulai didesak untuk segera menikah. Meski pada kenyataannya, sebagian dari mereka justru masih enggan untuk terjun untuk berumahtangga.

Tak semua orang paham akan alasan dan ketakutan mereka. Nah, dilansir dari loveumentary.com, setidaknya beberapa hal ini kerap jadi alasan utama mengapa generasi milenials masih takut untuk menikah.

Masih Merasa Belum Siap Membuat Ekspektasi yang Realistis

Selain memberi kemudahan untuk berbagi potret di media sosial, kini Instagram jadi salah satu tolok ukur kebahagian. Disana, kita kerap terdistraksi, membandingkan kehidupan kita dengan kawan. Susah untuk menahan diri, beberapa pencapaian teman justru membuat kita iri hati. Termaksud dalam hal pernikahan.

Milenials merasa perlu untuk punya standar, bahkan tak sedikit yang berekspektasi terlalu tinggi. Menjajarkan beberapa syarat, yang kemudian jadi sumber ketakutan. Ya, kita takut jika dia yang kelak jadi pasangan hidup nanti tak sesuai ekspektasi. Takut kecewa tentang kebenaran pernikahan yang kerap dipajang di dunia maya, itulah kenapa milenials masih memilih untuk jangan menikah dulu.

Enggan untuk Berhadapan dengan Konflik-Konflik Berat

Menikahi seseorang berarti menikahi keluarganya juga. Bagaimana jika ternyata ibunya tak suka pada perempuan yang tak bisa memasak. Ayahnnya tak ingin punya menantu yang punya tato, hingga perkara-perkara lain yang sering jadi ujian dalam hubungan.

Padahal, masa-masa sekarang bisa jadi quarter life crisis untuk para milenials. Sudahlah pusing dengan masalah diri sendiri, harus menambah beban dengan kemungkinan lain yang membuat hidup kian berat.

Selanjutnya, ketakutan akan karakter pasangan yang akan berubah selepas menikah juga disebut-sebut sebagai salah satu beban yang sedang berusaha dihindari juga. Hal ini kemudian membuat kita merasa, kalau sebenarnya diri ini masih belum siap untuk menghadapi konflik-konflik berat dalam pernikahan nanti.

Belum lagi, sebuah studi yang dilakukan oleh Gottman Institute menyebutkan bahwa 69% konflik dalam hubungan percintaan tak bisa diselesaikan. Hingga kita dan pasangan akan mengalami konflik-konflik berat setelah menikah, jadi salah satu penyebab yang membuat sebagian generasi milenial merasa lebih baik sendiri dulu daripada buru-buru menikah tanpa kesiapan mental yang matang.

Masih Tak Tega untuk “Membebani” Orang Lain, Walaupun Itu adalah Suami Sendiri

Setiap orang punya permasalahan sendiri. Hal ini yang kadang membuat kita cemas bila harus memulai hubungan pernikahan. Rasa enggan dan tak enak hati jika harus membebani diri sendiri, tentang persoalan yang tak bisa kita selesaikan sendiri.  

Padahal ekspektasinya, seharusnya kita bisa menadiri. Walau nyatanya masih saja seperti ini. Itulah yang kemudian membuat kita takut untuk memulai hubungan karena tak ingin membuat orang yang kita cintai terbebani dengan masalah yang kita miliki.

Tak Ada Panutan yang Bisa Dijadikan Role Model

Konon dari hasil penelitian, generasi milenial umumnya dibesarkan oleh generasi Baby Boomer (generasi dengan tingkat perceraian yang tinggi). Ditambah lagi dengan ekspektasi yang kelewat tinggi dari berbagai macam film Disney dan film romantis yang pernah ditonton. Alhasil kita sering merasa bingung.

Merasa tak punya panutan yang bisa memberi nasihat atau arahan soal pernikahan dan berharap terlalu tinggi memiliki kehidupan pernikahan yang seindah cerita cinta di Drama Korea. Maka tak heran, jika ketimpangan ini pun bisa jadi salah satu penyebab generasi milenial merasa bingung memaknai pernikahan dan takut melangkah.

Nah, yang menjadi pertanyaanya. Apakah kamu juga sedang merasakan beberapa ketakutan tersebut?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Ternyata 5 Filter VSCO Cam Ini yang Kerap Dipakai oleh Para Selebgram

Selebgram memang kerap menjadi perhatian. Entah karena penampilan atau fotonya yang menarik, mereka bisa dengan mudah mendapatkan banyak like di akun instagramnya. Nah, buat kamu yang penasaran tentang bagaimana mereka mengedit foto sehingga bisa menghasilkan foto sekeren itu, kamu bisa langsung cek di sini. Berikut adalah 5 filter VSCO Cam yang kerap jadi langganan para selebgram.

1. Filter Setting Nuansa “Hangat” Senja

Filter ini digunakan untuk menjadikan foto memiliki nuansa “hangat” senja. Kamu bisa menggunakan preset C1 dengan level default. Kemudian atur level Exposure pada tingkat +2 dan level vignette pada tingkat +5.

2. Filter Setting Nuansa Blue Sea

Untuk mendapatkan foto dengan latar belakang pantai yang indah, kamu bisa gunakan filter jenis ini. Kamu hanya perlu mengatur preset pada tingkat C1 dan menurunkan levelnya pada tingkat +1. Atur exposure pada tingkat +3 dengan kontras +1 serta saturasi pada tingkat +2.

3. Filter Setting Nuansa White

Selanjutnya untuk mendapatkan foto bernuansa putih yang menarik kamu bisa menggunakan filter yang satu ini. Cukup gunakan preset HB2 dengan menurunkan tingkatnya pada angka +1. Setelah itu atur exposure pada tingkat +2, kontras +1 dan temperatur pada tingkat -1.

4. Filter Setting Nuansa Monokrom

Filter yang satu ini juga kerap dikenal sebagai filter hitam putih. Kamu bisa banget dapatkan foto keren bernuansa monokrom dengan mengatur preset pada X1. Kemudian gunakan exposure pada tingkat +1, kontras +3 dan Highlights pada tingkat +4.

5. Filter Setting Nuansa “Gelap” Senja

Foto dengan filter ini bisa menunjukkan sisi misterius loh. Kamu bisa menggunakan preset HB2. Setelah itu atur kontras pada tingkat +1, saturasi +1, Highlights +5 dan Fade pada tingkat +3.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Kamu yang Kuliah di Sekolah Kedinasan Pasti Sudah Paham dengan Hal Positif Ini

Banyak orang yang memiliki mimpi untuk bisa melanjutkan studi di sekolah kedinasan. Sekola ini merupakan instansi yang menerapkan sistem semimiliter di dalamnya. Meski sulit untuk bisa bertahan, namun nyatanya ada juga hal positif yang akan kamu dapatkan dengan sekolah di sekolah kedinasan seperti STMG, STIP dan masih banyak lainnya.

1. Menjadi Lebih Disiplin

Kamu akan belajar untuk menjadi disiplin dalam hal sekecil apapun itu. Kamu tak bisa bertingkah seenaknya sendiri. Kamu akan terbiasa membereskan kamar asrama, merapikan pakian sampai membuang sampah sendiri secara disiplin. Sekalinya kamu bertindak ceroboh, kamu akan mendapatkan sanksi entah itu berupa push-up atau lari keliling lapangan.

2. Menjadi Lebih Menghargai Waktu

Waktu libur yang diberikan oleh pihak sekolah dinas biasanya sangatlah singkat. Hal ini sangat berbanding dengan libur yang diberikan oleh universitas di Indonesia. Karena hal inilah kamu menjadi pribadi yang lebih menghargai waktu. Kamu akan memanfaatkan waktu liburmu itu dengan sebaik mungkin bersama keluarga yang selama ini kamu rindukan di perantauan.

3. Menjadi Lebih Menghormati Orang Lain dan Lingkungan Sekitar

Mungkin istilahnya kamu akan memiliki sifat yang down to earth. Kamu menjadi orang yang lebih menghormarti orang lain dan juga lingkungan sekitarmu. Kamu menghargai setiap jasa orang lain, sekecil apapun itu.

4. Memiliki Potongan Rambut yang Lebih Rapi

Potongan rambut rapi menjadi kewajiban saat kamu sekolah di sekolah kedinasan. Kamu tak boleh memanjangkan rambutmu. Panjang sedikit saja, harus sudah dirapikan ulang. Sepertinya ini juga masuk hal positif yang kamu dapatkan dengan sekolah di sekolah kedinasan kan?

5. Memiliki Teman dari Seluruh Penjuru Indonesia

Ada banyak orang dari latarbelakang suku budaya dan asal daerah yang berbeda dimana mereka sekolah di satu sekolah kedinasan yang sama denganmu. Hal ini tentu akan membuatmu memiliki banyak teman yang berasal dari daerah berbeda denganmu. Wawasanmu dalam pertemanan pun pasti akan lebih luas.

6. Merasa Bangga dengan Pencapaianmu Sendiri

Menjadi seorang siswa di sekolah kedinasan bukanlah suatu hal yang mudah. Untuk lolos seleksi masuk saja sangat sulit. Sehingga pastinya kamu akan bisa merasakan kebanggaan tersendiri atas apa yang sudah kamu capai dengan doa juga kerja kerasmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top