Feature

Untukmu yang Pernah Tinggal Bareng Kerabat, Selamat! Kamu Punya Mental yang Hebat!

Selepas keputusan untuk merantau atau tinggal jauh dari orangtua, maka kita biasanya diperhadapkan dengan pilihan untuk tinggal dimana atau dengan siapa. Selain kos, banyak kok anak rantau yang memilih atau justru dianjurkan tinggal di rumah kerabat jauhnya demi menghemat pengeluaran atau bahkan demi tak memutus tali silaturahmi.

Di lain sisi, beberapa orang yang mengaku pernah tinggal dengan kerabat merasa tak betah, mungkin karena bingung harus bersikap. Tapi justru ada sebagian lainnya yang berhasil bertahan. Percayalah, mereka yang bisa bertahan dalam situasi semacam ini pasti punya mental yang hebat. Nah, untukmu yang mungkin bertanya-tanya atau sudah punya rencana untuk tinggal bersama kerabat, pastikan dulu kamu sudah memperbaiki lima hal ini.

Hilangkan Kebiasaan Jelekmu Saat di Rumah, Bagaimanapun Usahakan untuk Jadi Orang yang Lebih Mandiri

Poin ini jelas harus diingat. Kebiasaan jelek yang biasa kamu lakukan saat di rumah, jangan dilakukan saat kamu sedang di rumah kerabatmu. Setiap rumah punya peraturannya masing-masing, kamu tahu itu kan? Kalau di rumah bibi atau di rumahmu bisa saja punya peraturan yang berbeda-beda soal urusan piring kotor.

Di rumahmu mungkin kamu belum terbiasa cuci piring, tapi kalau di rumah bibimu, jelas kamu tak cuma makan lalu kenyang kan? Mulailah untuk mandiri karena hal ini pun nantinya yang akan menguntungkanmu. Jangan sampai karena kamu sukar beradaptasi dengan kerabat, justru kamu sendiri yang membuat hubungan agak canggung.

Bantulah Anggota Keluarga Kerabatmu Saat Mereka Sedang Kerepotan Membereskan Perabotan di Rumah

Sejauh mana kamu peka terhadap situasi rumah yang kamu tempati biasanya akan terlihat lho kawan. Saat rumah sedang sangat berantakan atau kotor, disinilah kepekaanmu teruji. Kalau memang ada yang berantakan, kamu mau tak mau harus membersihkannya. Jangan hanya diam saja. Sebab kalau kamu diam saja, justru hal itu yang akan membuat kerabatmu jadi menerka-nerka karaktermu dan berujung jadi canggung.

Jangan sampai kerabatmu yang adalah tuan rumah jadi berpikir kenapa kita tidak melakukan tugas rumah sementara mereka sudah memfasilitasi apapun di rumah itu.

Kalau Dimintai Tolong, Kamu Lebih Sering Mengelak atau Mengiyakan?

Bukan maksudnya memintamu untuk jadi pesuruh, tapi sebenarnya mengiyakan permintaan kerabatmu pun akan membantu kamu meredakan rasa canggung dengan keluarga kerabatmu itu lho kawan. Jika si tuan rumah menyuruhmu atau kata lebih halus ialah meminta pertolonganmu hal untuk membahagiakan mereka ialah jawaban “iya”.

Percayalah, kalau kamu punya nilai plus di mata kerabatmu, pasti saat ada kerjaan mendadak dimana kamu harus pulang larut, kerabatmu pun akan lebih mudah memberikanmu izin karena sudah percaya padamu.

Rapikan Area Pribadimu dan Lakukan Segala Pekerjaan Rumah dengan Sendiri ya Kawan

Ada hal yang mungkin kita sepelekan yaitu urusan pekerjaan rumah. Mungkin kamu tinggal di rumah kerabat dimana ada asisten rumah tangga sehingga kamu bisa menitipkan hal itu padanya. Segala piring kotor, baju kotor, apapun yang berkaitan denganmu, sebaiknya dicuci sendiri ya kawan. Kalau hal ini tidak kamu lakukan, kamu akan dicap tidak sopan dan tidak tau diri.

Jangan Sungkan untuk Membuka Komunikasi pada Setiap Anggota Keluarga Kerabatmu

Hal ini juga tak kalah penting! Komunikasi harus dijaga dalam suatu hubungan entah hubungan keluarga ataupun percintaan. Kalian bisa menanyakan hal-hal sesuatu untuk menjalin sebuah kedekatan yang lebih dengan si tuan rumah. Perasaan canggung dijamin agak sedikit memudar jika kamu melakukan beberapa tips ini.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ternyata Laki-laki Bertubuh Pendek Lebih Sering Marah Dibanding Mereka yang Tinggi

Kalau harus diperhatikan, seorang lelaki yang bertubuh pendek ternyata lebih sering marah dan mudah terbakar cemburu dibanding mereka yang lebih tinggi. Tapi ini bukan sekedar perkiraan biasa. Karena dari hasil temuan para ilmuwan yang melakukan penelitian di Centres for Disease Control di Atlanta, ternyata lelaki bertubuh pendek lebih mudah terpancing emosi.

Menariknya lagi, penelitian yang dilakukan terhadap setidaknya 600 lelaki berusia 18 sampai 50 tahun ini, juga menemukan bahwa laki-laki bertubuh pendek juga lebih mudah emosi dan melakukan kekerasan dibanding mereka yang bertubuh  tinggi.

Hasil dari penelitian tersebut berkata, bahwa mereka yang pendek menganggap dirinya kurang maskulin yang kemudian bisa memicu tingkat ketakutan dan amarah dalam diri mereka.

Sumber : The Mirror

Disamping itu, penelitian lain yang dilakukan ilmuwan di Universitas Oxford juga mengungkapkan jika alasan seseorang bertubuh pendek lebih mudah marah sebenarnya sangat sederhana. Rasa percaya diri yang kurang, ditambah anggapan masyarakat tentang orang pendek kurang menarik, menjadikan mereka lebih mudah marah hingga berpikir negatif.

Namun tak selalu buruk, karena selain hasil temuan yang tadi sudah disebutkan. Peneliti tersebut juga menemukan fakta bahwa tak semua laki-laki bertubuh pendek lebih mudah marah. Karena, penelitian lain juga menemukan bahwa beberapa laki-laki pendek bahkan memiliki kesabaran yang lebih baik. Beberapa dari mereka juga memiliki rasa percaya diri tinggi, bahagia yang natural dan kemampuan menerima diri sendiri yang lebih baik.

Sumber : YouTube

Dengan kata lain, kita pun harus tahu jika faktor fisik bukanlah satu-satunya pemicu untuk seseorang, (khususnya laki-laki) kehilangan rasa percaya dirinya. Karena biasanya, ada beberapa hal lain yang juga mempengaruhinya. Mulai dari faktor ekonomi, lingkungan, keluarga, dan pekerjaan yang dimiliki.

Karena tinggi pendeknya seseorang kadang bukanlah sebuah jaminan bahwa ia mudah marah, cemburu atau tak percaya diri. Karena semuanya itu, kembali pada masing-masing pribadi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Melanie Putria dan Angga ‘Maliq & D’Essentials’, Resmi Bercerai!

Berbeda dengan Angga yang tak tampak dalam persidangan, Melanie Putria terlihat hadir dengan didampingi oleh kuasa hukumnya, pada sidang perceraiannya, yang digelar di Pengadilan Agama Jakarta Barat, kemarin Senin (21/1).

Dan atas kesepakatan bersama, keduanya akhirnya resmi bercerai sebagaimana hasil putusan yang dibacakan oleh hakim.

“Hari ini dikarenakan bukti sudah cukup, keterangan saksi juga sudah menguatkan alhamdulillah hari ini juga sekalian putusan. Sudah resmi bercerai,” ujar Indah Dewi Yani, kuasa hukum Melanie saat ditemui di Pengadilan Agama Jakarta Barat, dikutip dari laman detik.com.

Ternyata proses perceraian keduanya sudah sejak lama dilangsungkan dan sepakat berpisah dengan baik-baik. 

Sebelumnya, keduanya menikah pada 7 Maret 2010 lalu. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Sheemar Rahman Purariredja. Jarang terlihat dalam gosip miring, keduanya tampak mesra di sosial media. Namun, mendadak harus berpisah setelah 8 tahun berumah tangga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dihargai Rp. 1.500/Kg, Petani di Banyuwangi Buang Buah Naga ke Sungai

Dinilai tak mendapat harga yang cukup mempuni, beberapa petani buah Naga di Bayuwangi terlihat membuang hasil panen ke sungai. Hanya dihargai sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram (kg). Tindakan para petani yang membuang buah naga ke sungai ini jadi salah satu bentuk protes atas merosotnya harga buah tersebut.

Dikutip dari laman Detik.com, Hari candra setyawan (29), warga Dusun Silirbaru Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi mengaku, anjloknya buah naga di Banyuwangi membuat dirinya merugi.

“Terpaksa saya buang ke sungai karena memang tidak laku. Dijual pun juga tidak nutut dengan ongkos petani,” ujarnya kepada wartawan, Senin (21/1/2019).

Dan dari foto dan video yang beredar luas di dunia maya, konon kegiatan membuang buah naga tersebut adalah kali kedua. “Ini bentuk protes kami karena buah naga dari Banyuwangi tidak laku dipasarkan. Kemarin kita buang 100 kilo. Ini lebih banyak lagi. Hampir 200 kilogram,” tambahnya.

Dianggap tak bisa mengembalikan modal, beberapa petani buah naga di wilayah sekitaran Banyuwangi, yakni di Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, akhirnya mempersilahkan masyarakat untuk memetik sendiri buah naga di kebunnya.

“Silakan kalau mau ambil sendiri di kebun. Gratis. Harga tidak nutup dengan ongkos petik,” ujar Ukri, dikutip masih dari laman yang sama.

Situasi ini sudah berjalan sekitar 2 minggu lebih, padahal menurut Ukri para petani baru bisa dikatakan mendapat untung jika harga buah naga diatas Rp. 6.500/kg.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top