Feature

Untuk Perempuan, Meski Sudah Menikah Bukan Berarti Karirmu Akan Berhenti Juga

Selepas menikah, beberapa perempuan yang tadinya bekerja akan dihadapkan dengan beberapa pilihan. Memilih menjadi istri yang duduk manis di rumah atau tetap bekerja. Sah-sah saja memang kalau akhirnya suami memintamu untuk di rumah saja, dan kemudian kamu mengiyakannya. Atau pada kasus yang berbeda, suami justru mendukungmu untuk tetap bekerja dan melakukan apapun yang kamu suka.

Tak ada yang harus (terlalu) ditakutkan, karena menikah tak seharusnya penghalang perempuan untuk bekarya. Lagipula, mau bekerja atau di rumah saja, kamu tetap bisa melanjutkan karirmu sesuai kemampuan dan kecintaanmu akan apapun yang ingin kau lakukan.

Nah, sebelum melangkah ke sana. Ada beberapa alasan yang perlu untuk kamu pikirkan, tentang mengapa perempuan harus tetap berkarya meski sudah menikah.

Walau Sudah Ada Suami yang Menafkahi, Kamu Perlu Mandiri dalam Hal Finansial

Bukan apa-apa, menerima nafkah dari suami memang adalah hak seorang istri. Tapi akan selalu ada kebebasan tersendiri ketika kita punya uang yang bisa dibelanjakan untuk sesuatu yang barangkali diinginkan. Lagipula ini memudahkan kita dalam hal mengelola keuangan rumah tangga.

Dana yang diberikan suami, dipakai untuk membayar kebutuhan tempat tinggal dan tagihan lain yang lebih besar. Sedangkan penghasilan yang kita dapat, bisa untuk memenuhi kebutuhan harian. Terbiasa mendapat gaji setiap bulan, lalu mendadak hanya berharap dari suami adalah dua keadaan yang cukup berbeda.

Bisa jadi kamu pun tak siap untuk berada di sana. Itulah mengapa penting, untuk tetap bekerja walau sudah menikah.

Setidaknya, Pada Beberapa Kebutuhan ada yang Bisa Langsung Terpenuhi Tanpa Menunggu Uang Suami

Lain dengan masa pacaran, ketika sudah menikah. Selalu ada rasa tak enak hati setiap kali akan memakai uang pemberian suami untuk keperluan pribadi. Maka bekerja jadi solusi yang bisa mengatasi ini. Tak lagi menungu pemberian, kalau kamu punya penghasilan kamu bisa membeli apa yang kamu ingini.

Selain menghindari kesalahpahaman dalam hubungan dengan suami, membeli sesuatu dengan uang sendiri membuat hati lebih tenang.

Kembangkan Keahlian, Menikah Bukanlah Batasan untuk Hentikan Mimpi yang Belum Kesampaian

Yap, barangkali sebelum menikah ada mimpi yang masih belum tersampaikan. Ingin melanjutkan study, belajar hal baru yang mulai disenangi, atau rencana-rencana lain yang masih belum menjadi kenyataan. Sembari memberi tahu sang suami, tentang apa yang ingin kau lakoni. Cobalah untuk terus belajar mengembangkan keahlian. Tak ada batas untuk belajar, kamu berhak untuk terus menerus mengambangkan kemampuan. Sampai mimpimu, kesampaian.

Kalau Memang Mau, Kamu Tetap Bisa Sukses Menjalani Peran di Rumah Sambil Tetap Bekerja

Meski diberi stigma yang ‘tak baik’ atau dinilai abai pada keadaan rumah, bukan berarti kamu tak bisa jadi yang terbaik walau harus bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Kamu bisa belajar dari perempuan-perempuan hebat yang tetap mengurus sendiri rumah tangganya, sembari bekerja.

Jadikan sikap dan kemampuan mereka sebagai tolok ukur tentang bagaimana kamu akan menjalani kehidupan sebagai istri dan ibu yang juga bekerja di luar rumah.

Namun, Sekalipun Kau Memilih Tak Lagi Bekerja, Selalu Ada Karya yang Bisa Lahir di Rumah

Tak ada yang lebih baik, tak ada yang lebih buruk. Setiap perempuan berhak untuk memilih dan menentukan, mana peran yang memang ia ingin lakukan. Maka keinginan akan jadi penentu yang akhirnya membuktikan. Seberapa besar kamu ingin tetap bekerja dan meningkatkan karir di perusahaan atau bagaimana kamu bisa tetap berkarya dan melahirkan upaya yang besar meski hanya di lakukan dari dalam kamar.

Tak akan terbatas oleh status hubungan atau keberadaan seseorang. Keinginan untuk terus bekerja dan berkarya, perlu untuk tetap dikembangkan.

Karena Mengembangkan Karir dan Kemampuan adalah Hak Semua Orang

Sebenarnya tak hanya terbatas pada sosok perempuan saja. Setiap orang berhak untuk memilih jalan mana yang akan diambilnya selepas menikah. Mau tetap bekerja silahkan saja, tapi memilih di rumah juga bukanlah pilihan yang salah.

Karena karir dan kemampuan kita bisa berkembang, karena keinginan dan kemampuan dalam diri sendiri. Bukan tentang ada dimana kita saat ini, jadi mau menikah atau tidak, jadi istri pekerja atau istri yang di rumah, kita tetap bisa berkarya selama kita memang mau dan mampu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top