Trending

Kenalkan, Mereka Pejuang Muda Bidang Kesehatan. Sebut Mereka Tim Nusantara Sehat!

Coba bayangkan kalau untuk mengupdate twitter, kamu harus terlebih dahulu menempuh perjalanan selama 21 jam, sekedar guna mendapatkan sinyal! Jangan pulak membayangkan perjalanan 21 jam itu, di atas pesawat first class berpendingin ruangan. Ini perjalanan menggunakan perahu kayu tingting yang lebarnya tak lebih dari satu meter, melewati sungai dengan jeram yang begitu menantang, melalui hutan dengan jalan-jalan setapaknya.

Sanggup hidup seperti itu? Pernah terpikir apa jadinya kalau kita harus seperti itu? Berapa hari sanggup bertahan menerima tantangan itu? Mungkin kita sudah bergidik sekedar membayangkan. Namun ada sekelompok anak muda yang tanpa pikir panjang, berani mengarungi tantangan itu.

Mereka adalah tim Nusantara Sehat yang digagas Kementrian Kesehatan. Tak cuma bersenang-senang traveling ke pelosok Indonesia, mereka mengemban tanggung jawab yang tak ringan. Menyehatkan rakyat Indonesia yang hidup di pinggir Indonesia. Penasaran? Yuk kita berkenalan!

Ini Membangun Tim Yang Kuat, Bukan Cuma Individu Yang Berani

tim ns

source: twitter @puthe_PINS

Mungkin kita sudah sering mendengar pribadi berani yang penuh dedikasi mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Itu istimewa, namun mereka yang tergabung di Nusantara Sehat dibawa melangkah lebih jauh. Anggotanya dibentuk ke dalam tim-tim kecil yang berisi 8 orang.

Tim ini terdiri dari, anak-anak muda bidang kesehatan mulai dari dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, tenaga ahli teknologi laboratorium medik, tenaga gizi, hingga tenaga kefarmasian. Jadi bisa dibayangkan betapa istimewanya tim yang dibentuk ini.

Tugasnya Apa? Menyehatkan Rakyat Indonesia Dari Pinggir

senam

source: twitter @puthe_PINS

Ketika Pusing Kepala? Mungkin mudah buat kita beranjak ke toko sebelah untuk sekedar membeli obat sakit kepala. Mau makan harus cuci tangan pakai sabun? Tak sulit membeli sabun di minimarket terdekat.

Tapi sadarkah kamu, begitu banyak rakyat Indonesia yang tak punya akses macam ini? Apotik terdekat bisa 8 jam perjalanan. Penjual sabun mungkin hanya bisa ditemui setelah berjalan menembus hutan. Ke sanalah anak-anak muda Nusantara Sehat ini dikirim.

Dengan telaten mereka mengajarkan pola hidup sehat bagi saudara-saudara kita di pinggiran Indonesia. Mengubah kebiasaan yang sudah mengakar bertahun-tahun. Misalnya cara menggunakan toilet, pemberantasan jentik nyamuk, pemeriksaan kehamilan, hingga ke pemeriksaan bagi yang sakit.

Seberapa Pinggir?

peta

Coba perhatikan gambar peta di atas. Itu adalah lokasi penempatan salah satu tim Nusantara Sehat. Puskesmas Makalehi, Kec. Siao Barat, Kab. Siao Tagulandang Biaro (Sitaro) Sulawesi Barat. Niscaya kita kesulitan melihat letaknya tanpa memperbesar peta dan menaruh pin merah di peta tersebut.

Masih tak tergambar? Simak salah satu perbincangan dengan Putri Indah Nirmala salah satu anggota Tim Nusantara Sehat yang ditempatkan di Long Pahangai, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dari samarinda harus ke kutai barat menempuh perjalanan darat 9 jam. Kemudian dilanjut menggunakan speedboat kurang lebih 6 jam. Sudah sampai? Belum, itu baru di ibu kota Kabupaten. Dari situ Putri dan kawan-kawan harus melanjutkan perjalanan lagi naik perahu 6 jam lagi lamanya.

Setelah tiba, mereka pun tak Cuma diam di tempat. Dalam satu bulan mereka melakukan puskesmas dan posyandu keliling sekurangnya 8 kali. Paling dekat? Harus naik perahu 30 menit. Sementara paling jauh menggunakan speedboat 3 jam, melalui jeram ekstrem yang sudah memakan 10 korban jiwa dalam tahun ini saja.

Di tempat-tempat semacam inilah tim Nusantara Sehat diturunkan. Sedikitnya 120 titik lokasi paling terpencil di Indonesia disambangi oleh tim ini.

Mungkin Kalau Cuma Satu Dua Hari Kamu pun Sanggup, Tapi Mereka Mengabdi 2 Tahun

pengabdian

source: twitter @puthe_PINS

Yup, mereka diterjunkan di lapangan tidak untuk satu dua hari. Pengabdian mereka berjalan selama dua tahun. Kenapa harus dua tahun? Karena tak mudah mengubah kebiasaan yang sudah turun temurun. Dibutuhkan sekurangnya setahun untuk sekedar mendekatkan diri. Kemudian dari sejumlah penelitian disebutkan dibutuhakan kekonsistenan selama sekurangnya dua tahun untuk mengubah kebiasaan seseorang.

Karena Itu Butuh Pribadi Terpilih

perahu tim NS

source: twitter @puthe_PINS

Dalam sebuah wawancara, salah satu anggota Tim Nusantara Sehat diminta menyebutkan momen-momen menyenangkan selama mereka di tempatkan yang sudah berjalan 6 bulan.

“Pernah satu kali perahu kecil yang kami tumpangi mesinnya mati di tengah sungai besar jam 8 malam. Di tengah gelap gulita kami harus mendayung perahu itu sampai di tempat kami menginap jam 11 malam” ujar salah satu dari mereka sambil tertawa riang.

Diah Saminarsih, penanggung jawab program Nusantara Sehat yang juga seorang psikolog menggaris bawahi, bahwa inilah contoh keistimewaan anak-anak muda yang dikirimkan dalam tugas mulia tersebut.

“Manusia normal baru bisa mentertawai sebuah tragedi ketika mereka sudah kembali ke rumahnya masing-masing, ketika sudah tak lagi bertugas. Tapi anak-anak ini, bisa mentertawai peristiwa menegangkan seperti itu hanya sesaat setelah mereka mengalaminya. Diminta menyebut momen menyenangkan, hal seperti itu yang disebut. Mereka memang luar biasa” tutur Diah serius.

Ya, rumusan umum yang berlaku adalah Tragedi + Waktu = Komedi. Butuh jeda waktu sekian lama untuk bisa memahami sebuah tragedi sebagai hal penghibur jiwa. Tapi tidak dengan tim Nusantara Sehat. Hari ke hari mereka dihadapkan dengan tantangan, dan dapat menerimanya dengan hati riang saat itu juga.

Mereka Dipilih Dengan Seleksi Yang Ketat

tim nusantara sehat

Untuk menemukan karakter macam itu, memang tak mudah. Pada angkatan pertama terdaftar sekurangnya 6000 calon peserta yang punya lisensi di bidang kesehatan. Dari sekian banyak hanya 144 orang yang dinyatakan lolos.
Kemenkes sudah membuat sistem perekrutan yang dapat menyaring individu tangguh. Secara online pendaftaran dibuka. Kemudian dirancang sebuah essay yang bisa menunjukan bagaimana karakter seseorang. Apakah mereka termasuk orang yang pantang menyerah atau tidak.

Tak Cuma berhenti disitu. Setiap anggota digembleng dalam pelatihan lima minggu. Mulai dari latihan kedisiplinan, fisik, bahasa daerah setempat. sampai personal komunikasi. Maklum saja salah satu tugas mereka adalah menjalin komunikasi dengan tenaga kesehatan lokal macam dukun, dokter setempat, dan sejenisnya. Belum lagi mereka harus memahami adat dimana mereka bertugas.

Jumlah Mereka Sedikit, Bantu Mereka!

vitamin-A

source: twitter @puthe_PINS

Dengan 144 orang jelas bukanlah jumlah yang cukup. Karena itu Kemenkes kembali membuka pendaftaran gelombang ke dua. Kamu punya setifikasi tenaga kesehatan? Inilah saatnya menerima tantangan tersebut. Kesempatan macam ini tidak akan datang dua kali. Pengalaman berharga yang bisa diteruskan ke anak cucumu nanti.

Apalagi jumlah dokter saat ini belumlah mencukupi. Dari 12 ribu orang yang mendaftar di gelombang ke dua, saat ini baru terdapat 13 orang dokter saja. Padahal gelombang ke dua ini diharapkan bisa menelurkan sedikitnya 900 lagi tenaga kesehatan yang akan bertugas 2 tahun kedepan.

Sementara tim dalam Nusantara Sehat jelas membutuhkan kehadiran seorang dokter. Jadi kamu, para dokter muda nan pemberani, siap menerima tantangan ini? Nusantara Sehat masih akan berlanjut hingga 2019 nanti, jangan mau ketinggalan untuk ikut seleksi gelombang berikutnya.

Tak Punya Latar Belakang Kesehatan, Apa yang Bisa Aku Bantu?

informasi

Jumlah mereka tidak lah banyak. Meski prekrutan gelombang ke dua rampung sekalipun, hanya akan terdapat 1000 anggota tim nusantara sehat di tahun ini. Bandingkan dengan 250 juta penduduk Indonesia. Bandingkan dengan luasnya wilayah Indonesia. Jelas perbandingan ini sangat kecil.

Tapi mereka inilah para pionir. Contoh baku, penjuang kesehatan. Orang perlu kenal mereka, perlu paham yang mereka kerjakan. Biarlah kegiatan mereka jadi pemicu lahirnya gerakan yang lainnya. Untuk itu mereka perlu di dengar.

Kita sama-sama paham informasi positif macam ini kadang tenggelam oleh hingar bingar dan hiruk pikuk sosial politik kita. Bantu mereka, sebarkan informasinya, biarkan orang tahu ada anak-anak muda yang perduli kehidupan di pinggir Indonesia. Sebut mereka, Tim Nusantara Sehat!

1 Comment

1 Comment

  1. Aireni Biroe

    December 11, 2015 at 4:31 am

    Salut buat tim nusantara sehat…2 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani tantangan yang tidak semua orang sanggup menjalani (y)(y)(y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sebab Seintens Apa Pun Kita Berkirim Pesan Singkat, Tak Akan Bisa Menggantikan Kehadiranmu yang Senyatanya

Kata Mama, aku boleh bersyukur karena yang namanya komunikasi sekarang ini semakin dimudahkan. Dulu saat Mama dan Papa masih pacaran, tak ada yang namanya komunikasi intens setiap hari. Kalau tidak lewat telepon, ya terpaksa surat-menyurat sembari menabung rindu. Memang benar adanya, keberadaan teknologi seakan memangkas jarak yang mungkin terbentang jauh antara dua orang yang sedang menjalin relasi.

Durasi berkirim pesan pun tak lagi jadi masalah yang berarti. Tinggal ketik, kirim, ceklis dua, penerima pesan pun bisa langsung membacanya. Begitulah kira-kira. Meski dua orang yang menjalin relasi tetap berjarak, setidaknya bisa saling tahu kabar masing-masing tanpa perlu lelah menunggu.

Hanya saja, benarkah relasi yang semacam ini akan seterusnya membawa dampak yang baik? Sekalipun bisa terus  terhubung sepanjang hari dan saling tahu kabar masing-masing kapanpun kita mau…

Hingga Hari Ini Tiada yang Bisa Menggantikan Makna Kehadiran yang Sesungguhnya

Apalah arti relasi tanpa sebuah kehadiran yang nyata adanya. Kalau ada orang bilang dalam relasi penting sekali yang namanya perhatian dan afeksi, mungkin itu bisa kita rasakan dengan saling terhubung setiap hari lewat telepon dan bertukar pesan singkat. Tapi soal kehadiran yang nyata, teknologi belum sanggup menjawab kegamangan ini.

Padahal, ketika menjalin relasi, yang paling didambakan adalah kehadiran kekasih hati di setiap momen penting hidup kita, bukan? Lantas kalau kita berdua justru sama-sama nyaman via suara dan menabung rindu di udara, benarkah relasi ini sedang baik-baik saja?

Membangun Chemistry Tak Cukup dengan Tertawa Online dan Tersenyum Via Emoji

Aku tertawa dengan lelucon yang kita bicarakan. Pun dengan kamu di seberang sana. Tapi rasanya ada yang kurang, aku tetap tak bisa melihat tawamu. Kalaupun via videocall, aku tetap tak merasakan suasana nyata bahwa kamu benar-benar tertawa di samping atau di depanku. Gelak tawa kita memang tidak palsu, hanya saja aku tak cukup puas kalau belum merasakan sendiri perihal tawamu benar-benar nyata di depanku.

Chemistry mungkin bisa muncul lewat percakapan. Tapi seberapa kuat hal itu akan bertahan? Aku bertanya, saat kamu menyematkan emoji tawa, benarkah kamu memang sedang tertawa? Atau saat kamu mengirim emoji senyum, benarkah wajahmu memang sedang memulas senyum? Namun diatas semua itu, aku hanya rindu kita saling bertatap muka saat kamu atau aku sedang bicara.

Jangan Kira Situasi Semacam Ini Tak Menarik Perhatian Para Peneliti, Justru Ternyata Ada Juga Penelitiannya

Apa yang kukatakan di atas sejatinya tak hanya kurasakan seorang diri. Ketidakyakinan kalau pasangan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sama ternyata jadi sekelumit kekhawatiran bagi mereka yang terbiasa berkirim pesan singkat. Journal of Couple and Relationship Therapy pernah melakukan penelitian pada 276 orang tentang kebiasaan mereka mengirim pesan dan kepuasan dalam suatu hubungan.

Orang-orang tersebut berusia sekitar 18 – 25 tahun, kemudian mereka diminta melaporkan kebiasaan komunikasi dan perasaan tentang hubungan mereka. Peserta juga diminta menjawab pertanyaan seperti berapa kali mereka telah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan mereka dan sejauh mana mereka merasa seolah-olah pasangannya memperhatikan mereka. Kalau begini, benar-benar memprihatinkan, bukan? Aku tak ingin sampai seperti mereka…

Tapi Bukan Berarti Aku Tak Suka Berkirim Pesan Singkat denganmu, Aku pun Sadar Ini Satu-satunya Cara Agar Kita Tetap Terhubung…

Untuk beberapa situasi seperti mendamaikan hati setelah bertengkar, mengutarakan sesuatu yang sungkan dikatakan, rasanya lebih nyaman diketik lewat pesan singkat. Bagaimanapun, aku menyadari intensitas paling nyata bisa diwujudkan dengan berkirim pesan singkat. Tapi kumohon, janganlah kita sampai terlalu nyaman berkirim pesan singkat sehingga menyepelekan pertemuan bahkan mengurangi intensitas bertemu. Jangan juga jadikan hal ini sebagai cara mempertahankan jarak dariku sebagai pasanganmu. Kalaupun kamu ingin punya waktu sendiri, bukankah lebih baik kita bicarakan baik-baik?

Pada Akhirnya, Kuakui Seintens Apa Pun Kita Mengobrol Lewat Pesan Singkat, Tak Ada yang Bisa Mengalahkan Kualitas Obrolan saat Kita Sedang Bertatap Muka

Selama denganmu, tak akan pernah bisa cukup. Baik dalam hal komunikasi maupun intensitas pertemuan. Itulah mengapa rasanya akan tetap kurang sekalipun kita terus-menerus berkirim pesan singkat hanya demi tahu kabar masing-masing.

Tapi di lain sisi, bertukar pesan terlalu sering pun tak terlalu baik untuk kita. Kamu pasti akan menemukan titik penat, kamu tak bisa menebak intonasiku, mimik wajahku, atau emosiku saat mengutarakan sesuatu. Untuk itulah meski berkirim pesan singkat akan menolong kita, di lain sisi justru jadi tantangan kita.

Ke depannya, mungkin ada baiknya kita berjanji untuk lebih menjaga kata-kata yang kita utarakan lewat pesan singkat. Semaju apa pun teknologi, tetap ada kelemahannya, bukan? Kalaupun ada percakapan yang cenderung berpotensi menghasilkan perasaan sakit hati, mungkin lebih baik disimpan dan tak diutarakan sampai suasana benar-benar kondusif. Sebab saat sedang sendiri-sendiri di tempat masing-masing, seseorang akan lebih punya waktu lebih untuk memikirkan perkara omongan pasangannya, bukan?

Karenanya aku ingin kamu tahu, sesukar apa pun jalan di depan, aku hanya ingin membuat pasanganku tidak hanya merasa dicintai, tapi juga membuatnya merasa dihargai.

1 Comment

1 Comment

  1. Aireni Biroe

    December 11, 2015 at 4:31 am

    Salut buat tim nusantara sehat…2 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani tantangan yang tidak semua orang sanggup menjalani (y)(y)(y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

“Seleb English” Konten Edukasi dari Sacha Stevenson, Bagaimana Berbahasa Inggris yang Baik dan Benar

Tak lama setelah membuat video berjudul “How To Act Indonesian”, nama Sacha Stevenson mulai banyak dikenal oleh sebagian besar pegiat media sosial. Dalam seri video tersebut, Sacha menampilan beberapa adegan yang menggambarkan bagaimana masyarakat kita melakoni hidupnya sehari-hari. Mulai dari kebiasaan, kekonyolan, sikap, bahkan pada keramahan setiap masyarakat kita. Jadi jangan heran, jika selama menyaksikan videonya. Barangkali kita akan berkata “Wah ini gue banget”.

Lahir di Kanada, pada 21 Januari 1982 lalu. Sacha sudah tinggal dan menetap di Indonesia selama 17 tahun lamanya. Menikah dengan lelaki Indonesia, yang juga jadi teman duet untuk berkarya dalam melahirkan konten youtube di saluran pribadinya.

Memiliki pengikut kurang lebih 400 ribu orang, Sacha selalu melahirkan konten-konten menarik untuk disaksikan. Tapi, jika saya akan ditanya manakah konten miliknya yang paling saya sukai. Pilihan saya, jelas jatuh pada seri “Seleb English” yang selalu memberi banyak pelajaran baru seusai menontonnya.

Konon, Kata Sacha Video Seri Ini Adalah Sesuatu yang Baru

Jika kita coba melihat pada beberapa video karya miliknya, kurang lebih ada 20 jenis playlist video pada saluran youtube pribadinya. Dan benar saja, jika seri “Seleb English’ ini adalah sesuatu yang baru ia lahirkan pada pertengahan April 2018 lalu.

Dengan modal, pernah menjadi guru bahasa Inggris selama 7 tahun. Tak ada salahnya jika Sacha membuat video ini sebagai bahan pelajaran untuk para pengikutnya di Youtube. Hanya saja, objeknya mungkin berbeda dari tempat kursus atau sekolah. Ia tak menyampaikan pemahaman lewat materi dari buku-buku tebal atau kamus yang biasa kamu gunakan. Tapi, menggaet para selebriti sebagai bahan pembelajaran.

Tidak Menyebut Dirinya Benar dan yang Dikoreksi Salah, Ia Datang Hanya Untuk Membenarkan Apa yang Seharusnya

Pada video pertama seri “Seleb English” ia mencatut nama Rich Brian, Ayu Ting-ting, Agnezmo, Dian Sastro dan Sule. Hampir serupa dengan seorang guru yang sedang melakoni peran dalam hal menjelaskan sesuatu pada seorang murid. Sacha memberhentikan rekaman suara yang jadi subjek pembahasan, menjelaskan titik salahnya dan menuturkan bagaimana pengucapan yang benar yang seharusnya disampaikan. Mulai dari aksen yang harusnya ditekan, atau kata yang seharusnya diganti dengan kata lain. Sampai beberapa hal, yang mungkin sebelumnya belum kita ketahui sama sekali.

Bahkan tak sampai disitu saja, ia juga mengapresiasi setiap kemampuan berbahasa Inggris semua orang yang ia jadikan bahan koreksi. Mulai dari yang dinilai buruk, sedang, baik, hingga sangat baik.

Sacha Membuktikan, Jika Konten di Youtube Tak Selalu Buruk Seperti yang Banyak Digambarkan

Kita jelas sudah jengah dengan video-video sensasi dari akun-akun yang mengaku konten kreator, video sensasi dengan judul-judul klik bait yang hanya ingin mendulang pundi-pundi dolar dari satu klik para pengguna media sosial, hingga para aksi-aksi tak pantas yang seharusnya tak dijadikan tontonan.

Dan, lahirnya konten “Seleb English” dari Sacha ini. Mungkin bisa jadi sesuatu yang tak hanya menyengarkan tampilan timeline saja. Tapi juga memberikan pelajaran baru untuk siapa saja yang merasa butuh tahu lebih dalam, bagaimana berbahasa Inggris yang baik dan benar.

Disambut Baik Oleh Pengikutnya, Konten-konten Seperti Ini Memang Jadi Sesuatu yang Kita Butuhkan

Setidaknya, tak hanya membuang-buang kuota untuk menonton video-video youtube yang kadang tak ada juntrungannya. Mulai sekarang, ada satu hal baik yang sudah akan kita bayangkan tiap kali akan menonton deretan video miliknya, yakni pelajaran baru dalam berbahasa Inggris yang ia berikan. Karena biar bagaimanapun, ini jadi salah satu bahasa yang seharusnya kita kuasai.

Lebih dari itu, kedepan kita mungkin berharap, akan lebih banyak kreator yang menciptakan konten mendidik serupa yang juga sama baiknya. Memberi edukasi pada setiap orang yang menyaksikan, dan jadi bahan pelajaran baik untuk semua orang.

Dan untuk Sacha, tetap berkarya dan lahirkan lebih banyak konten mendidik lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. Aireni Biroe

    December 11, 2015 at 4:31 am

    Salut buat tim nusantara sehat…2 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani tantangan yang tidak semua orang sanggup menjalani (y)(y)(y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. Aireni Biroe

    December 11, 2015 at 4:31 am

    Salut buat tim nusantara sehat…2 tahun bukan waktu yang singkat untuk menjalani tantangan yang tidak semua orang sanggup menjalani (y)(y)(y)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top