Feature

Ternyata Bertahun-tahun Menjalin Cinta, Bisa Usai Hanya Karena Perbedaan Kasta

“Sejak awal, hal ini sudah pernah aku takutkan. Hubungan kita akan kandas ditengah jalan, hanya karena status sosial”

Ini adalah bulan kedua setelah perpisahan kita, maaf jika diriku terlihat putus asa, karena tak bisa tetap bertahan pada hubungan. Bukan, bukan karena aku tak lagi cinta, bukan pula ada lelaki lain yang lebih bisa membuatku bahagia. Tapi, aku tak ingin kamu terus menerus tersiksa. Didera pilihan, antara tetap memperjuangkan perempuan yang kamu sayang dan menuruti apa kata orangtua dan keluarga besar.

Bertahun-tahun aku menutup telinga atas banyaknya cibiran orang yang bilang aku gila harta, bertahun-tahun pula aku berusaha untuk bisa diterima oleh ayah dan ibumu di rumah. Tapi ternyata, lagi-lagi aku harus mengalah pada kenyataan. Kenyataan bahwa kamu adalah lelaki mapan dari keluarga berada, dan aku hanyalah putri kebanggaan dari seorang ayah dan ibu yang sederhana.

Perbedaan Kita Tampak Begitu Kontras, Meski Selama Ini Sudah Berusaha Dilebur Oleh Rasa  

“Ini bukan perkara status sosial dan harta yang kebetulan aku punya, tapi tentang rasa yang kita  berdua miliki”

Satu kalimat yang selalu berhasil meneduhkan, membuat aku tenang saat beberapa teman berbisik untuk mulai menjadikan hubungan kita sebagai bahan pergunjingan. Jangan tanya berapa kali aku menahan diri untuk tak bersuara, sebab hampir setiap hari aku berupaya. Berupaya tak terbawa emosi, pada mereka yang kerap memandangku sebelah mata. Katanya memilihmu menjadi pacar hanya karena segala yang kamu punya.

Tak bisa kita hindari, segala perbedaan yang kita miliki memang terlihat jelas tanpa bisa ditutupi. Ada banyak sekali sekat penghalang yang membedakan kita dalam berbagai macam hal. Namun seperti yang kamu sering bilang, cinta jadi satu-satunya alasan kita bersama. Dan untuk perkara kasta, seharusnya ditanggalkan saja. Tapi ternyata tak semudah yang kita kira.

Berjalan Beriringan dan Saling Mendukung Untuk Semua Impian, Tapi Apa yang Kudapatkan Sering Kali Disebut Jadi Tujuanku Menjalin Hubungan

“Duh tas baru lagi, dibeliin pacar ya”

Disampaikan padaku dengan wajah tak berdosa, seolah-olah apapun yang aku dapatkan selalu bersumber darimu. Tak bisa memberiku banyak jawaban, untuk hal-hal serupa yang sering aku ceritakan. Kamu memang hanya bisa tersenyum, dan memintaku mengabaikan mereka yang kerap bicara tak benar.

Sekalipun benda tersebut mungkin darimu, apakah ada yang salah dari seorang perempuan yang diberi sesuatu oleh kekasihnya? Kurasa tidak! Tapi ini menjadi salah karena asal-usul keluarga yang tak sepadan. Maka mereka pikir, semua yang ku punya adalah hasil dari merampas harta benda dari dia yang kujadikan pasangan.

Hubungan Kita Terus Melaju, Tapi Restu Tak Kunjung Kita Temu

Kalender masehi sudah berganti 5 kali, menambah rentetan kisah yang kelak jadi kenangan di hati. Tempat-tempat yang kita kunjungi selalu punya cerita yang berbeda. Begitu pula dengan banyaknnya perjalanan yang sudah kita lakoni berdua. Semangat untuk terus membuat pihakmu percaya, jadi sesuatu yang selalu kamu suarakan dengan membara.

“Tunggu saja” katamu berupaya untuk menyembunyikan rasa lelah yang barangkali sudah ada di pintu putus asa. Kamu boleh saja berkata masih ingin bertahan dan menjalani hidup berdua, tapi kita tak mungkin akan terus berdiri pada tonggak yang sama. Kita perlu berjalan selangkah, sebab usia juga tak lagi muda.

Namun lagi-lagi, kecewa masih jadi hasil dari upaya. Ya, perempuan dari keluarga biasa. Nampaknya memang tak bisa masuk dengan mudah ke rumah mewah.

Untuk Rasa dan Cinta, Kupikir Semuanya Masih Saja Sama, Tapi Pelan-pelan Aku Mulai Lelah…

Seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan, ajakan untuk bicara serius yang selalu aku sampaikan kerap kamu balas dengan berbagai macam pengalihan. Ya, aku paham jika kamu mungkin masih belum siap untuk mengatakannya padaku. Padahal, tanpa kamu beritahu aku pun sadar jika hubungan ini memang tak akan melaju ke depan.

Kita berdua boleh saja terus menerus jadi dua sejoli yang berpacaran, tapi kaupun pasti lelah. Harus menemuiku dengan alasan bekerja, bukan untuk menemui kekasihnya. Pada titik ini, kita mungkin akan disadarkan. Bahwa mengorbankan perasaan kadang jadi jalan keluar, untuk hubungan yang masih saja sulit untuk disatukan, hanya karena status sosial.

Jangan Pikir Aku Baik-baik Saja, Sebab Memintamu Menyudahi Hubungan Kita Sama dengan Menyakiti Diri Sendiri Sebanyak Dua Kali 

Sekuat hati aku meyakinkan diri sendiri, membawa keputusan ini dalam setiap sujud di malam hari. Berharap Yang Maha Kuasa akan memberi ilhamnya, jalan mana yang harus kupilih untuk hubungan kita. Bahkan jika boleh berkata jujur untuk permintaan yang kemarin kuajukan. Hal ini boleh jadi kenyataan terpahit yang akan terkenang, sepanjang menjalin hubungan.

Aku tahu, bahwa laki-laki yang selama ini bersamaku pastilah tak akan tega untuk meninggalkan perempuan yang ada dihadapannya. Untuk itu, agar tak membuatmu semakin merasa bersalah, memang lebih baik jika akulah yang memintamu untuk menyudahi hubungan kita.

Bohong jika  kubilang aku tak kecewa, karena selain menghujam diriku sendiri dengan kenyataan pahit yang harus kuhadapi. Aku juga dipaksa untuk menyaksikan sendiri, bagaimana lelaki yang selama ini kucintai harus menangis atas keputusannya sendiri.

Hatiku Jelas Terluka, Tapi Juga Tak Ingin Membuatmu Terus Menerus Merasa Bersalah Karena Cinta dan Keluarga

Setelah berita ini menyebar tanpa tahu siapa yang membawanya. Mereka yang dulu terlihat sinis, kembali bersuara. Mengingatkanku dengan kalimat yang lebih terdengar sebagai sindirian. Tanpa tahu bagaimana kerasnya kita berjuang. Mereka hanya ingin menegaskan, jika laki-laki yang lahir dikeluarga berkecukupan layaknya memang disandingkan dengan perempuan yang sepadan.

Jangan pikir aku tak memikirkan perasaanmu, justru keputusan ini akan jadi jalan keluar untuk segala beban yang selama ini kita emban. Kau tak lagi harus bersusah payah tersenyum dihadapanku, hanya demi menutupi semua tuntutan dari keluargamu. Sebaliknya, aku pun tak akan jadi perempuan yang egois. Karena membuatmu jadi sosok lelaki yang tak menurut perintah pada orangtua yang telah membersarkannya. 

Barangkali Benar, Sekian Tahun Bersama Hanyalah Persinggahan Untuk Cinta Lain yang Mungkin Lebih Sepadan

Aku memang tak bisa memastikan, bagaimana luka hati akan hilang. Pun tentang kelangsungan kehidupan yang akan aku jalankan. Tak ingin menambah beban pada diri, kupikir menikmati proses sakit hati, jadi satu-satunya hal yang harus kujalani.

Kita mungkin dibiarkan bertemu dan bersama pada waktu yang cukup lama. Tapi bukan untuk terus menerus berjalan berdua. Barangkali pertemuan kita memang hanyalah bagian kecil dari perjalanan pencarian pasangan yang lebih sepadan. Mari berbalik untuk tak saling pandang lagi. Karena bisa jadi, dia yang lain sudah menunggu kita untuk menemuinya.

Terimakasih untuk semua cinta dan ketulusan yang selama ini diberikan tanpa embel-embel apa-apa. Untuk semua waktu dan kasih sayang yang mengalir begitu saja. Kamu memang jadi laki-laki yang tak pernah mengikutsertakan harta dalam hubungan kita. Tapi perbedaan kasta, akan tetap jadi sekat pemisah yang nyata. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

9 Tahun Menikah, Rianti Cartwright-Cas Alfonso Sepakat Ikuti Program Bayi Tabung

Rianti Cartwright dan Cas Alfonso telah membina bahtera rumah tangga selama kurang lebih sembilan tahun. Kini mereka memutuskan untuk melakukan program bayi tabung demi mendapatkan momongan. Hal ini diketahui lewat Instagram Stories milik Rianti. Eks VJ MTV itu banyak bertanya ke Tya Ariestya untuk berani melakukan bayi tabung.

“Tya Ariestya, she is an #ivfsurvivor and was so generous with information from the very beginning. Aku bisa tanya2 sama Tya kapan aja. Terus kebetulan waktu aku shooting sinetron Cinta Yang Hilang aku juga dipertemukan dengan sahabat2 yang memberikan banyak informasi tentang IVF, Morula dan juga dokter2 di Morula Clinic. Kayak udah diatur aja semuanya dan akhirnya aku dan Cas memutuskan untuk menjalani program IVF,” kata Rianti

Sebelumnya, Rianti Cartwright belum berani program kehamilan. Dia dan Cas menjalaninya secara natural. Rianti mengatakan dalam melakukan program bayi tabung tidak mudah. Namun dia tetap masih bisa menikmati segala prosesnya.

“To be honest this process is not easy. Tapi menurut aku tetap bisa dinikmati selama kita optimis, positif, dan berserah,” tuturnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Penuhi Keinginan Istri, Uus Tinggalkan Identitas Kepala Plontos

Komedian tunggal Rizky Firdaus Wijaksana (28) atau yang akrab disapa Uus kini tampil beda. Uus tak lagi berkepala plontos melainkan memilih untuk memanjangkan rambutnya dan mewarnainya dengan warna pirang. Hal ini dia lakukan lantaran permintaan istri.

“Kan udah dijelasin di panggung, istri minta pengin bisa jambak, ya sudah dipanjangin. Sudah tiga tahun bersama-sama. Dia cuman minta ke saya gondrongin rambut, ya sudah lah,” kata Uus seperti dikutip dari Kompas.com, Senin (18/03).

Awalnya, Uus merasa risih dengan rambutnya yang panjang karena tak pernah tampil dengan gaya yang demikian. Terkait pemilihan warna rambut, Uus mengatakan bahwa hal itu adalah pilihannya sendiri.

“Ide sendiri, karena pengin aja bingung mau warna apa, bosen kalau hitam, jadi ya kuning. Kan mau membuktikan kalau dicat warna-warni itu selalu identik dengan Atta,” gurau Uus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Niat Hati Dapat Samsung Galaxy S10, yang Datang dari Bukalapak Malah Sendal Jepit

Selain memberi kemudahan untuk para pengguna bertransaksi jual dan beli, E-commerce yang satu ini juga kerap mengadakan promo seru dengan hadiah yang cukup tinggi. Yap, selain hadiah utama mini cooper yang beberapa waktu lalu dimenangkan oleh seorang driver ojol. Baru-baru ini, ajang promosi yang diberi nama ‘nyerbu’ tersebut, memberikan kesempatan untuk para pengguna untuk mendapatkan Samsung Galaxy S10 secara eksklusif cuma dengan 12 ribu.

Sudah berlangsung pada 13 Maret 2019 lalu, beberapa orang yang beruntung memang berhasil mendapatkan Samsung Galaxy S-10nya. Tapi sialnya, pengguna lain yang ikut serta justru ramai-ramai protes. Karena mereka yang belum berhasil justru dikirimi sendal jepit sebagai gantinya dari dana 12 yang telah mereka kirimkan, atau yang sudah terpotong otomatis dari dompet di aplikasi Bukalapak. 

View this post on Instagram

Ada yang nasibnya kayak aku?. Gegara kebiasaan ga baca2 s&k akhirnya zong dapet sandal jepit 🤣🤣. Ini ceritanya ikutan serbu seru Bukalapak, ngincer Samsung S10 seharga 12.000 rupiah. Kalo ga dapat uang 12ribu dibalikin utuh. Karena udah pede dan ga baca2 lagi s&k, esoknya kaget terima notif bahwa serbuanku meleset dan sandal jepit akan dikirim ke alamat. Hah?? Sandal jepit ?? Kapan aku belinya ?😒😒. Oalaahhh ternyata udah ketentuannya begitu. Dan ternyata ya ampuuun, sandalnya dikirim tanpa kardus, bener2 polos hanya kemasan plastik bening sandal itulah. Bungkus koran kek. Ato plastik item kek biar yg terima ga malu 😛😛. Pagi tadi bapak kurir jne yang anter paket sambil ketawa bilang "banyak bangeeeettt paket kiriman sandal kayak gini" 😂😂😂 #bukalapak #sandaljepit

A post shared by lies surya (@liessurya) on

Beberapa orang berkata jika Bukalapak mulai memanfaatkan promosi macam ini untuk memaksimalkan keuntungan. Sebab dalam hal ini dana yang sudah tertarik justru akan direfund dengan produk sendal jepit dari BukaMart. Dan yang lebih parah, warna dan ukurannya pun random, yang kemungkinan besar tak cocok hingga akhirnya tak terpakai pada penggunana.

“Mending warna nya netral… Gw cowo dikasi sendal Pink… ;)” Keluh pengguna @junanrizal di Twitter miliknya.

Tapi usut punya usut, ternyata refund dana 12 ribu rupiah dengan sendal jepit tersebut adalah salah satu ketentuan yang memang sudah ditetapkan oleh Bukalapak untuk promosi ‘nyerbu’ Samsung Galaxy S10 ini. Dan, Bukalapak juga memberi opsi untuk pengguna yang memang tak ingin dananya tersebut di ganti dengan sendal jepit, bisa membatalkan pesanan melalui aplikasi atau menghubungi customer service di Bukalapak.

Akan tetapi, daripada teliti untuk membaca syarat dan ketentuan, sebagian besar pengguna justru ramai-ramai mengungkapkap kekesalan di media sosial tanpa memeriksa, pihak manakah yang salah. Nah, pesan moralnya adalah, cobalah tingkatkan literasi, dimulai dengan teliti dalam membaca hal-hal yang menjadi ketentuan tentang apa yang ingin kita beli. Kan malu, udah marah-marah ternyata kitalah yang salah, karena tak membaca syarat dan ketentuannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top