Feature

Ternyata Benar, Perempuan Lebih Berani untuk Berkomitmen Dibanding Kaum Adam

Bayang-bayang akan digantung atau diberi harapan palsu oleh pasangan, biasanya jadi momok yang menakutkan dalam hubungan. Dan untuk sebuah kejelasan, laki-laki seringkali jadi pihak yang susah ditebak apa maunya. Ini bukan sebuah tuduhan, karena penelitian pun berkata hal serupa.

Yap, jika harus dibandingkan dengan laki-laki, ternyata perempuan jauh lebih berani untuk berkomitmen. Menurut Carl Weisman, penulis buku ‘So Why Have You Never Been Married?’ Pernyataan “hidup berdua selamanya”, seringkali membuat pria jengah ketika diajak membawa hubungan pacaran ke jenjang yang lebih serius. Itulah mengapa, ketika perempuan dimabuk cinta dan tidak memusingkan definisi kata “selamanya”, laki-laki justru sebaliknya.

Tapi tak boleh buru-buru marah pada pasanganmu, dengan menuduhnya dengan berbagai macam hasil penelitian yang kamu tahu. Karena, tak bisa berlaku kepada semua orang. Si dia yang masih tak ingin berkomitmen, mungkin punya alasan lain yang perlu kamu dengarkan.

Laki-laki Cenderung Berpikir Rasional dan Buru-buru Membayangkan Bagaimana Situasi Selepas Menikah

Jika dalam bayangan perempuan tentang menikah adalah sebuah gambaran bahagia di masa depan. Laki-laki justru akan lebih dulu untuk mecacah arti dari kata “Hidup berdua selamanya”, ke dalam hitungan hari, bulan, dan tahun-tahun selanjutnya dengan orang yang sama setiap hari.

Tak hanya untuk hari ini saja, laki-laki akan berpikir tentang bagaimana kehidupan mereka di hari esok. Maka, jika dirasa dirinya masih belum siap. Pastilah ia akan buru-buru menolak.

Sebagian Lain, Justru Menakutkan Perceraian Setelah Menikah Bukan Proses Awal untuk Menikahnya

Walau akan terdengar aneh, kepercayaan laki-laki akan komitmen biasanya dipengaruhi pula oleh ada ancaman lain pasca pernikahan, misalnya perceraian. Masih Kata Weisman, para laki-laki yang ia jadikan sumber penelitian, menyadari bahwa semua hal di dunia ini bisa berkembang.

“Perkembangan itu pada akhirnya akan membuat diri seseorang berubah. Nah, para laki-laki ini tidak yakin bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada diri suami maupun istri akan tetap membuat mereka cocok untuk terus hidup bersama dengan satu sama lain,” ujarnya. Dengan kata lain, ketika ketidakcocokan itu datang. Maka perceraian sering kali dijadikan pilihan untuk jalan keluar.

Atau Merasa Belum Siap untuk Menanggung Beban Tanggung Jawab yang Atas Hidup Berdua

Berbeda dengan kaum hawa yang beharap kepastian dalam sebuah hubungan, sebagian lelaki justru menganggap komitmen sebagai sebuah tantangan yang memang tak mudah untuk ditaklukkan. Mereka merasa jika kehidupan setelah menikah dan berkomitmen akan mempengaruhi segalanya.

Tak lagi merasa bisa bebas sendiri, belum siap diganggu setiap hari oleh sang istri, atau memang merasa belum layak jadi seorang suami dengan apa yang saat ini ia jalani. Ini bukan perkara sayang atau tidak sayang, tapi lebih ke bagaimana tanggung jawab yang akan dibebankan kepadanya setelah menikah nanti.

Dan Laki-laki Akan Lebih Percaya Diri untuk Berkomitmen, Ketika Punya Karir dan Keuangan yang Cukup Mapan

Tak peduli kamu akan bilang, jika sumber pendapatanmu cukup untuk membantu menambah biaya hidup berdua. Berjanji akan ikut bekerja demi membayar cicilan rumah, tapi yang namanya laki-laki pastilah gengsi. Mereka tak ingin terlihat lemah dan tak berguna dihadapanmu. Itulah sebabnya, ia hanya ingin mulai berkomitmen ketika dirinya dirasa mampu untuk menghidupi seorang manusia lain diluar dirinya sendiri.

Bagus memang, dalam artian ia tak ingin membuat kita kekurangan. Karena disaat kita percaya bisa bahagia jika bersama dengan dia yang dicintai, laki-laki menambah kemapanan sebagai sesuatu yang harus dimiliki sebelum berumah tangga nanti.

Maka Bersabarlah Dulu, Sembari Cari Tahu Mengapa Ia Masih Enggan Berkomitman denganmu

Kendati menikah adalah sesuatu yang sakral, jangan sampai kamu memilih dengan asal-asalan. Maka jika lelakimu masih selalu mengelak untuk membicarakan komitmen dalam hubungan. Itu artinya ada yang sedang ia pikirkan. Kesiapan materi dan psikis yang memang belum matang, atau memang tak pernah benar-benar sayang.

Cobalah pikirkan lagi, apa yang sebenarnya apa yang ada dipikirannya ketika ia menolak untuk bekomitmen denganmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Usah Kembali, Namamu Sudah Lama Kuhapus dari Hati

Akhir-akhir ini sedang ada satu perseteruan antara masa lalu dengan sesuatu yang sedang kujalani. Berusaha merawat luka dan semua dari sisa cerita kita, sebenarnya aku baik-baik saja dan tak berharap akan ada kata kita lagi untuk kita berdua. Tapi ini hanya perkiraanku saja, karena sejatinya semua hal bisa terjadi begitu saja. Ya, serupa kamu yang tiba-tiba datang lagi meski tanpa diminta.

Hampir berhasil lepas dari semua rasa kecewa, memandangku kembali dihadapanku. Mengusik upaya penyembuhan yang selama ini aku upayakan. Membawa rasa sesal dan sebuah harapan, tawaran untuk kembali mengulang kisah bukanlah sesuatu yang aku harapkan. Sampaikan apa isi kepalamu atas tolakanku, tapi sebelum itu aku ingin kamu tahu bagaimana aku merawat lukaku dulu.

Pergi Tanpa Aba-aba, Aku Sempat Berpikir Bahwa Dirikulah yang Salah

Jangankan mereka yang tahu cerita kita. Aku yang jadi kekasihmu saja masih kerap bertanya-tanya. Mengapa kita mendadak bisa berpisah tanpa alasan jelas yang bisa dipercaya. Bukan tentang orang ketiga, bukan pula tentang pandangan yang kian berbeda. Bahwa meski kata seorang kawan, kamu sudah berkencan dengan orang baru, selepas perpisahan itu. Aku masih sering bertanya “Dimana letak salahku?”.

Berbulan-bulan aku merasa tertekan, serasa disudutkan oleh banyaknya pertanyaan. Hingga sampai pada satu titik, dimana aku merasa bahwa sepertinya memang akulah yang bersalah. Walau akhirnya, aku justru lega. Karena deklrasi hubungan yang kamu sampaikan justru jadi jawaban, bahkan hubungan itulah yang jadi sebabnya.

Hingga Ribuan Pertanyaan Memadati Isi Kepala

Akhirnya aku mengerti, ini adalah satu sesi proses dari kedewasaan yang harus dipilih. Larut dalam sedih dengan semua kesedihan yang ada saat ini, bukanlah sesuatu yang harus kujalani. Tetap duduk sembari meratap semua yang terjadi atau bediri untuk melanjutkan hidup lagi.

Hampir kalah dan menyerah, kau pasti tahu bahwa aku selalu menang dari semua ketakutan. Dan saat itu, dengan mantap aku berkata pada diri sendiri. Bahwa semua pertanyaan yang ada di dalam kepalaku, kelak akan menemukan jawabannya sendiri.

Pelan-pelan Aku Belajar, Bahwa Kepergianmu Justru Mendewasakan

Perjalananku untuk sampai pada titik yang sekarang, jelas bukanlah sesuatu yang mudah. Beberapa kali saat berusaha menatap hal-hal yang harus aku lakukan di masa depan. Rayuan untuk kembali ke belakang jadi godaan besar yang menakutkan. Sempat tak percaya pada kemampuan diri sendiri, jalan yang kupilih akhirnya menunjukkan perubahan besar.

Manusia yang kemarin kamu tinggalkan, kini berubah lebih tangguh dari masa lalunya yang kelam. Tak lagi sibuk untuk mempetanyakan keadilan atas putusnya hubungan, tapi sibuk mempebaiki segala kekurangan yang masih melekat di badan. Aku berubah, menjadi seseorang yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Kehilangan Adalah Luka, Tapi Bukan Berarti Aku Tak Lagi Percaya pada Cinta

Siapa yang tak sedih ditinggal pergi oleh kekasih. Merasa dilukai sampai dibohongi oleh dia yang dicintai, jelas tak enak. Menghilangkan nafsu makan dan memperlambat gairah hidup yang benar. Sempat tak percaya lagi pada cinta, kebaikan orang-oran yang menyembuhkanku dari luka. Justru mengajakku membuka mata.

Kini aku tahu, cinta tak hanya perkara dua orang laki-laki dan perempuan yang saling sayang. Tapi tentang bagaiamana seseorang diperlakukan dan memperlakukan orang lain dengan baik. Cintamu memang pernah membuatku buta, tapi kasih sayang dari keluarga dan teman-teman ternyata lebih besar pengaruhnya.

Menata Hidup Agar Kembali Seperti Biasa,Ribuan Tanya yang Dulu Ada Kini Menemukan Jawabannya

Awalnya aku menjadi sosok yang ‘sebodo amat’, atas semua luka adalah bentuk lain dari kecewa yang tak menemukan jawab. Belajar untuk tak lagi menghiraukan pertanyaan atas alasan perpisahan, hingga pura-pura diam untuk semua masa lalu yang masih saja tergiang.

Tapi waktu menunjukkan kemampuannya. Membawaku pada jawaban-jawaban atas pertanyaan yang selama ini sering aku pikirkan. Beban berat atas segala bentuk kemungkinan dari perkiraan kini tersingkap dan bersanding dengan semua alasan. Menunjukkanku pada sesuatu hal yang memang tak bisa dipaksakan. “Segala sesuatu yang terjadi, pasti selalu datang dengan penghiburan besar”.

Sengaja Kuciptakan Jarak, Agar Rasa yang Dulu Tak Lagi Kembali Bergerak

Perkara hati memang tak bisa lupa dengan mudah, bahkan hingga kini aku masih sering berterimakasih atas segala hal baik yang dulu kau berikan. Walau belakangan aku suka kesal, kenapa dulu aku jadi pihak yang ditinggalkan. Padahal rasanya tak ada salah yang terlihat besar.

Tak bisa melarangku untuk duduk lagi disampingku, tapi aku selalu punya hak akan duduk dimanakah aku ketika kau memilih menghampiriku. Silahkan berlari sekuat yang kau mau, tapi jangan marah ketika aku pergi berlalu lebih cepat darimu.

Maka Jika Kini Kau Kembali Datang, Kupikir Rasa dan Sayang Telah Lama Hilang

Menuturkan semua kekeliruan di masa lalu, kau bungkus dalam ucapan maaf yang terlihat sendu. Memperlihatkan wajah sayu penuh harap atas pertemuan, mata dan garis bibirmu masih selalu jadi bagian tubuh yang berkesan. Tapi tidak dengan perasaan. Sebab, meski sudah membuatku hampir percaya bahwa kepergianmu di masa lalu hanyalah sebuah kekeliruan. Kupikir untuk kembali bersama, bukanlah sesuatu yang aku butuhkan sekarang.

Tak perlu susah payah berusaha, aku hanya ingin kau tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi begitu saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dia yang Membicarakan Orang Lain di Depanmu Adalah Orang yang Akan Membicarakanmu di Belakangmu

Pernah dengar saran, yang kira-kira intinya begini, “Jangan mau main sama orang yang suka ngomongin orang, karena kalau kamu nggak ikutan, kamulah yang akan jadi bahan omongan”.

Beruntung memang jika kita bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran. Tapi, kita juga tak bisa menghindari orang-orang yang suka merusak suasana. Berbicara tentang orang lain di hadapan kita, untuk kemudian menjadikan kita bahan cibiran ketika tak bersamanya.

Sekilas, urusan membicarakan orang memang terlihat menyenangkan. Dia mungkin merasa bahwa dirinya jauh lebih dari segalanya dibanding orang yang sedang ia bicarakan. Sehingga merasa berhak untuk bersikap sok benar. Sulit untuk dibuat sadar, mencoba memberinya pengertian sering tak berarti baginya. Lalu kita harus apa?

Bahagia Kita Akan Selalu Jadi Cibirannya

Begini, orang-orang yang suka bergosip ria, adalah tanda hidup yang tak bahagia. Sehingga orang yang dilihatnya tampak hidup tenang dan aman-aman saja. Seringkali dijadikan bahan obrolan murahan yang tak berdasar. Entah itu mengkritik kehidupan kita, pekerjaan, sampai ke hal pribadi yang lainnya.

Seolah-olah kita selalu ada di pihak yang salah, sedangkan ia adalah seseorang yang benar tanpa cela. Ini sudah jadi pola pikir yang ia pakai, jadi tak perlu kita jadikan beban. Semua hal tentang orang lain, akan selalu ia jadikan bahan kritikan.

Lagipula Waktu Kita Terlalu Berharga untuk Memikirkan Dia

Daripada memikirkan dia yang sibuk bikin cerita halu tak benar. Lebih baik kita berbahagia, dan menikmati hidup dengan cara yang kita bisa. Jalani hari dengan sesuatu yang bermakna, dan optimalkan waktu dengan mereka yang membuat kita bahagia juga. Kunci rapat semua sela untuk orang-orang beracun yang tahunya hanya ingin mencela.

Karena biar bagaimanapun kita tak bisa merubahnya. Tapi bagaimana cara kita menanggapinya adalah pilihan dan tanggung jawab kita. Waktu dan pikiranmu terlalu berharga hanya untuk memikirkan dirinya.

Bahkan Meski Tak Menyinggung Perasaannya, Ia Akan Tetap Berbicara Semaunya

Berhadapan dengan si mulut besar yang suka ngomongin orang, memang tak akan ada habisnya. Sekalipun yang kita perbuat tak bersinggungan dengan dirinya. Ada saja hal yang salah untuk dikritik dan dijadikan pembahasan.

Tak perlu susah payah membuatnya percaya pada kita, jangan pula merasa butuh membantunya untuk berubah. Karena manusia seperti itu, sudah kebal oleh berbagai macam petuah. Yang ia tahu, dirinya adalah satu-satunya orang yang paling benar.

Daripada Menjadi Beban untuk Diri Sendiri, Lebih Baik Kita Pergi

Yap, berhubungan atau berteman dengannya hanya akan jadi sesuatu yang sulit. Diam dipikir tak bisa melawan, tapi ketika dilawan ia pasti akan bersikap lebih garang. Maka, balasan terbaik adalah menjaga jarak dari dirinya.

Tak perlu merasa tak enak hati, sekalipun ia adalah teman yang konon sudah dekat. Kita berhak untuk memilah-milah, kepada siapa saja kita akan berteman. Kalau dirinya memang terlihat menyusahkan, sebaiknya tinggalkan.

Dan Kalau Masih Tetap Menjadikan Kita Bahan Gosip, Sebaiknya…

Untuk kemungkinan lain, jika memang kamu sudah kehabisan kesabaran atas semua tingkah dan cerita-cerita tak sedap yang ia ciptakan. Silahkan buat keputusan besar yang sekiranya wajar untuk dilakukan. Menegurnya ketika bersikap tak baik secara langsung, hingga memintanya berhenti menjadikan kita bahan obrolan murahan yang tak benar.

Namun, jika ternyata apa yang kita sampaikan masih tak berarti apa-apa untuknya. Itu artinya dirinya memang adalah seorang pengarang cerita bohong yang handal. Sudah, tak perlu dekat-dekat dengan dia!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Usah Terlalu Diumbar, Kemiripan diantara Kalian Belum Bisa Jadi Jaminan Melenggang ke Pelaminan

Relationship goals yang dikira orang selama ini bukan hanya yang selalu membagikan foto-foto bahagia di media sosial. Ada yang beranggapan relationship goals adalah saat kamu punya pasangan dengan hobi, kebiasaan, dan aneka sifat yang sama denganmu. Karena kesamaan itu, menurutmu pasti tipikal pasangan semacam ini akan terus adem ayem dan tak ada masalah yang cukup berarti.

Nyatanya tak selalu demikian. Kesamaan sifat atau kesukaan tak menjamin kebahagiaan dan hubungan yang langgeng. Misalnya, kamu dan pasangan dikenal sama-sama keras kepala, kalau dipaksakan bersama yang ada satu sama lain lebih sulit menyesuaikan dan tak ada yang mau mengalah. Pusing sendiri kan? Untuk itu, kesamaan tak menjamin kebahagiaan.

Jangan Takut dengan Perbedaan, Hubungan Asmara Justru Lebih Berwarna untuk Dilakoni

Kita ambil saja contoh dari pasangan Nick Jonas dan Priyanka Chopra. Keduanya bukan hanya beda usia, namun datang dari budaya yang berbeda sekaligus karier yang bertolak belakang. Namun perbedaan yang dijalani keduanya malah berakhir indah. Sebagai orang Amerika, Nick perlahan-lahan belajar adat sang istri yaitu India sehingga pengetahuannya pun bertambah. Tidak sia-sia kan punya pasangan yang berbeda?

Perbedaan karakter pun baik. Menurut hasil penelitian yang pernah dipublikasikan oleh Psychology Today, pasangan dengan karakter beda justru lebih langgeng bila dibandingkan dengan pasangan yang serba sama. Ini karena pengalaman yang dirasakannya dalam hidup lebih bervariasi.

Kalau Sama-sama Perfeksionis, Hati-hati Ada Momennya Kamu Tersiksa Saat Salah Satu dari Kalian Berbuat Kesalahan

Ukuran perfeksionis seseorang sejatinya berbeda-beda. Ada yang perfeksionisnya tinggi, ada yang sedang-sedang saja. Tingkat perfeksionis ini dapat memengaruhi bedanya ukuran prinsip masing-masing. Yang sedikit fatal adalah kalau salah satu dari pasangan melakukan kesalahan, bisa jadi pasangan satunya lagi tidak bisa mentolerir dan menunjukkan kekesalannya secara langsung. Semoga saja kamu tak mengalami hal semacam ini ya kawan.

Sama-sama Dikenal Ramah dan Peduli Pada Orang Lain, Ada Masanya Kalian Langsung Cemburu

Menjadi pribadi yang baik ke sesama dan selalu memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu memang sangat baik. Hanya saja, hati-hati, jangan sampai lantaran kamu sibuk peduli dan menolong orang, waktumu selalu habis untuk orang lain sementara pasangan yang memerlukan keberadaanmu justru tak mendapat respon sama sekali. Alhasil, muncul rasa cemburu. Kalau kamu tidak bisa memanipulasi pikiran sendiri, bisa terjadi konflik lho kawan.

Kalau Kalian Sama-sama Haus Prestasi, Siap-siap Saat Menikah Nanti Selalu Saingan Karier Siapa yang Lebih Tinggi

Misalnya kamu di kondisi kalau kamu dan pasanganmu adalah sosok yang sama-sama berpengaruh di lingkungan kerja. Jabatan kalian juga tinggi dan selalu bekerja keras demi suksesnya perusahaan. Akhirnya, kalian disibukkan dengan jadwal di sana-sini.

Tapi, kalian tak mungkin kan sibuk terus kan? Terlebih saat pacaran, tentu harus bisa meluangkan waktu. Pun saat berdiskusi, bukan berarti kamu dan pasangan jadi saling menyibukkan diri pamer prestasi masing-masing. Ada lho karakter seseorang yang tak mau kalah saat pasangannya berada di puncak karier. Apa iya kamu saingan dengan pasanganmu sendiri?

Pasangan yang Keduanya Romantis Namun Punya Sisi idealis, Kalau Sedang Bosan, Justru Riskan Membanding-bandingkan

Buat kalian, pacaran itu harus romantis dan mengupayakan yang terbaik. Kamu pun bersyukur karena kamu menemukan pasangan yang sama-sama mendukung dan mampu bersikap romantis satu sama lain. Mungkin idealisme semacam ini terdengar bagus.

Tapi hubungan itu juga tak bisa selalu romantis. Pasti akan ada masalah tertentu. Selain itu, kalau terlalu sering romantis dan kadarnya berlebihan, bukannya justru membosankan? Di saat yang bosan inilah, rentan membanding-bandingkan hubungan dengan pasangan lain yang kamu lihat. Kawan, berhentilah membandingkan. Tuntutan untuk meniru pasangan lain ke pasangan sendiri justru bisa jadi beban lho.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top