Feature

Jangan Memaksakan Diri, Kesepian Tak Mengharuskan Kamu untuk Mencari Pasangan

Merasakan kesepian tak menjadikan kamu harus memiliki pasangan. Karena pasangan bukan penolong kamu dari rasa sepi di hati, dan segala kondisi. Meskipun banyak diluar sana menyalahkan segala kondisi gundah gulana yang meliputi hatinya lantaran ia tak memiliki pasangan. Dilansir dari CNN Indonesia bahwa lebih dari 60 persen orang tetap merasa kesepian meskipun telah menikah, karena pasangannya selalu sibuk dengan hidupnya masing-masing terutama di bidang pekerjaan. Jadi pernikahan pun tak menjamin kamu tidak akan lagi kesepian.

Lantas kenapa pasangan kerap dijadikan alasan bagi seseorang yang merasakan kesepian? Percaya atau tidak, pasangan masih diyakini sebagai sosok penolong, apa pun kondisi yang kamu alami sekarang. Saat sedang curhat dengan temanmu, pasti ia memberikan solusi berupa, “Mungkin kamu butuh pacar!” Pacar ataupun pasangan dijadikan sebuah solusi akan setiap kejadian yang membuat paradigma tentang kesedihan harus ditolong dengan keberadaan pasangan. Padahal, tak selalu demikian.

Memiliki Pasangan Tak Mengusir Rasa Kesepian

Kamu harus mulai memahami dirimu sendiri. Bagaimana caranya untuk menghibur dirimu sendiri tanpa seseorang kekasih. Kalau kamu mencari pasangan atas dasar menghilangkan rasa sepi di hati, apakah kamu akan memutuskan hubungan apabila rasa kesepian sudah hilang? Padahal dengan begitu, kamu hanya akan mempermainkan hati seseorang.

Tentu saja kamu tak mau tumbuh menjadi orang negatif seperti itu, bukan? Oleh karena itu untuk membunuh kesepian, kamu bisa melakukan beberapa hal yang membuat kamu senang. Bergabung dalam komunitas yang sesuai dengan minatmu, misalnya.

Tak Ada yang Dapat Mencintaimu Melebihi Dirimu Sendiri

Selain rasa kesepian yang kamu alami, ada kondisi lainnya yang tak membuat kamu harus memiliki kekasih. Salah satunya adalah ketika kamu sulit untuk mencintai dirimu sendiri. Kamu merasa selalu kurang apabila dibandingkan orang lain, terutama dari segi fisik. Sehingga kamu membutuhkan orang lain untuk memperkuat statement, bahwa meski kamu merasa dirimu biasa saja, akan tetap ada orang yang mencintaimu.

Itu salah, karena tidak ada orang yang dapat mencintaimu kecuali dirimu sendiri. Kurangi untuk membandingkan diri dengan orang lain. Karena itu hanya menimbulkan rasa iri yang berkepanjangan. Jadi cobalah untuk mencintai dirimu apa adanya.

Kekasih Tak Dapat Menjamin Memberikan Kenyamanan Ekstra

Mungkin kamu mengira, rasa tak nyaman yang kamu alami sekarang, karena kurangnya perhatian dari seseorang yang spesial. Atau kamu merasa sepi hanya karena tak bisa bersandar di pundak laki-laki. Perlu kamu ketahui, pemikiranmu itu tak sepenuhnya benar.

Kamu hanya perlu melakukan hal yang sekiranya bisa membuat perasaanmu jadi lebih lega. Cobalah untuk hang out bersama temanmu dan bercerita tentang keluh kesah yang kamu rasakan. Otomatis saat teman memberikan saran dan mencoba mencari jalan keluar, sisi nyaman tersebut bakal muncul.

Tekanan Sosial Tidak Harus Membuatmu Merasa Jadi Orang Paling Sial

Mendapat tekanan sosial lewat bahasa lisan, adalah hal yang tidak mengenakkan. Dan itu kamu alami sendiri, ketika beberapa temanmu mengatakan, “Kok kamu udah usia segini nggak punya pacar?”, “Kok kamu belum menikah?”, sehingga membuatmu terdorong untuk mencari pasangan.

Tekanan sosial sebenarnya bukan menjadi alasan untuk kamu mencari pasangan dan mengategorikan diri sebagai orang paling sial lantaran kehidupanmu didikte orang lain. Karena mereka yang berujar, dan mengkritik tentang hidupmu tak berarti ia tahu apa yang terbaik bagi kehidupanmu. Sebab yang mengetahui apa yang terbaik untuk hidupmu adalah dirimu sendiri.

Rindu Akan Kekasih Lama Membuatmu Tak Berlama-lama Mencari Penggantinya

Istilah move on pasti sudah akrab ditelingamu, bukan? Rindu akan hasrat berpacaran membuat kamu ingin sekali mendapatkan kekasih baru. Kamu rindu makan berdua, saling bergandengan tangan, hingga menyaksikan film favorit secara bersama-sama.

Meski demikian, kalau kamu terburu-buru mencari pasangan, yang ada kamu hanya membuka celah untuk tersakiti kedua kalinya. Bersabarlah, dan nikmati kesendirianmu sekarang. Karena kebahagiaan dengan pasangan pasti ada waktunya di saat yang tepat, bukan dengan mencari secara buru-buru dengan alasan rasa rindu memiliki pasangan sudah rapat.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dia yang Membicarakan Orang Lain di Depanmu Adalah Orang yang Akan Membicarakanmu di Belakangmu

Pernah dengar saran, yang kira-kira intinya begini, “Jangan mau main sama orang yang suka ngomongin orang, karena kalau kamu nggak ikutan, kamulah yang akan jadi bahan omongan”.

Beruntung memang jika kita bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran. Tapi, kita juga tak bisa menghindari orang-orang yang suka merusak suasana. Berbicara tentang orang lain di hadapan kita, untuk kemudian menjadikan kita bahan cibiran ketika tak bersamanya.

Sekilas, urusan membicarakan orang memang terlihat menyenangkan. Dia mungkin merasa bahwa dirinya jauh lebih dari segalanya dibanding orang yang sedang ia bicarakan. Sehingga merasa berhak untuk bersikap sok benar. Sulit untuk dibuat sadar, mencoba memberinya pengertian sering tak berarti baginya. Lalu kita harus apa?

Bahagia Kita Akan Selalu Jadi Cibirannya

Begini, orang-orang yang suka bergosip ria, adalah tanda hidup yang tak bahagia. Sehingga orang yang dilihatnya tampak hidup tenang dan aman-aman saja. Seringkali dijadikan bahan obrolan murahan yang tak berdasar. Entah itu mengkritik kehidupan kita, pekerjaan, sampai ke hal pribadi yang lainnya.

Seolah-olah kita selalu ada di pihak yang salah, sedangkan ia adalah seseorang yang benar tanpa cela. Ini sudah jadi pola pikir yang ia pakai, jadi tak perlu kita jadikan beban. Semua hal tentang orang lain, akan selalu ia jadikan bahan kritikan.

Lagipula Waktu Kita Terlalu Berharga untuk Memikirkan Dia

Daripada memikirkan dia yang sibuk bikin cerita halu tak benar. Lebih baik kita berbahagia, dan menikmati hidup dengan cara yang kita bisa. Jalani hari dengan sesuatu yang bermakna, dan optimalkan waktu dengan mereka yang membuat kita bahagia juga. Kunci rapat semua sela untuk orang-orang beracun yang tahunya hanya ingin mencela.

Karena biar bagaimanapun kita tak bisa merubahnya. Tapi bagaimana cara kita menanggapinya adalah pilihan dan tanggung jawab kita. Waktu dan pikiranmu terlalu berharga hanya untuk memikirkan dirinya.

Bahkan Meski Tak Menyinggung Perasaannya, Ia Akan Tetap Berbicara Semaunya

Berhadapan dengan si mulut besar yang suka ngomongin orang, memang tak akan ada habisnya. Sekalipun yang kita perbuat tak bersinggungan dengan dirinya. Ada saja hal yang salah untuk dikritik dan dijadikan pembahasan.

Tak perlu susah payah membuatnya percaya pada kita, jangan pula merasa butuh membantunya untuk berubah. Karena manusia seperti itu, sudah kebal oleh berbagai macam petuah. Yang ia tahu, dirinya adalah satu-satunya orang yang paling benar.

Daripada Menjadi Beban untuk Diri Sendiri, Lebih Baik Kita Pergi

Yap, berhubungan atau berteman dengannya hanya akan jadi sesuatu yang sulit. Diam dipikir tak bisa melawan, tapi ketika dilawan ia pasti akan bersikap lebih garang. Maka, balasan terbaik adalah menjaga jarak dari dirinya.

Tak perlu merasa tak enak hati, sekalipun ia adalah teman yang konon sudah dekat. Kita berhak untuk memilah-milah, kepada siapa saja kita akan berteman. Kalau dirinya memang terlihat menyusahkan, sebaiknya tinggalkan.

Dan Kalau Masih Tetap Menjadikan Kita Bahan Gosip, Sebaiknya…

Untuk kemungkinan lain, jika memang kamu sudah kehabisan kesabaran atas semua tingkah dan cerita-cerita tak sedap yang ia ciptakan. Silahkan buat keputusan besar yang sekiranya wajar untuk dilakukan. Menegurnya ketika bersikap tak baik secara langsung, hingga memintanya berhenti menjadikan kita bahan obrolan murahan yang tak benar.

Namun, jika ternyata apa yang kita sampaikan masih tak berarti apa-apa untuknya. Itu artinya dirinya memang adalah seorang pengarang cerita bohong yang handal. Sudah, tak perlu dekat-dekat dengan dia!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Usah Terlalu Diumbar, Kemiripan diantara Kalian Belum Bisa Jadi Jaminan Melenggang ke Pelaminan

Relationship goals yang dikira orang selama ini bukan hanya yang selalu membagikan foto-foto bahagia di media sosial. Ada yang beranggapan relationship goals adalah saat kamu punya pasangan dengan hobi, kebiasaan, dan aneka sifat yang sama denganmu. Karena kesamaan itu, menurutmu pasti tipikal pasangan semacam ini akan terus adem ayem dan tak ada masalah yang cukup berarti.

Nyatanya tak selalu demikian. Kesamaan sifat atau kesukaan tak menjamin kebahagiaan dan hubungan yang langgeng. Misalnya, kamu dan pasangan dikenal sama-sama keras kepala, kalau dipaksakan bersama yang ada satu sama lain lebih sulit menyesuaikan dan tak ada yang mau mengalah. Pusing sendiri kan? Untuk itu, kesamaan tak menjamin kebahagiaan.

Jangan Takut dengan Perbedaan, Hubungan Asmara Justru Lebih Berwarna untuk Dilakoni

Kita ambil saja contoh dari pasangan Nick Jonas dan Priyanka Chopra. Keduanya bukan hanya beda usia, namun datang dari budaya yang berbeda sekaligus karier yang bertolak belakang. Namun perbedaan yang dijalani keduanya malah berakhir indah. Sebagai orang Amerika, Nick perlahan-lahan belajar adat sang istri yaitu India sehingga pengetahuannya pun bertambah. Tidak sia-sia kan punya pasangan yang berbeda?

Perbedaan karakter pun baik. Menurut hasil penelitian yang pernah dipublikasikan oleh Psychology Today, pasangan dengan karakter beda justru lebih langgeng bila dibandingkan dengan pasangan yang serba sama. Ini karena pengalaman yang dirasakannya dalam hidup lebih bervariasi.

Kalau Sama-sama Perfeksionis, Hati-hati Ada Momennya Kamu Tersiksa Saat Salah Satu dari Kalian Berbuat Kesalahan

Ukuran perfeksionis seseorang sejatinya berbeda-beda. Ada yang perfeksionisnya tinggi, ada yang sedang-sedang saja. Tingkat perfeksionis ini dapat memengaruhi bedanya ukuran prinsip masing-masing. Yang sedikit fatal adalah kalau salah satu dari pasangan melakukan kesalahan, bisa jadi pasangan satunya lagi tidak bisa mentolerir dan menunjukkan kekesalannya secara langsung. Semoga saja kamu tak mengalami hal semacam ini ya kawan.

Sama-sama Dikenal Ramah dan Peduli Pada Orang Lain, Ada Masanya Kalian Langsung Cemburu

Menjadi pribadi yang baik ke sesama dan selalu memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu memang sangat baik. Hanya saja, hati-hati, jangan sampai lantaran kamu sibuk peduli dan menolong orang, waktumu selalu habis untuk orang lain sementara pasangan yang memerlukan keberadaanmu justru tak mendapat respon sama sekali. Alhasil, muncul rasa cemburu. Kalau kamu tidak bisa memanipulasi pikiran sendiri, bisa terjadi konflik lho kawan.

Kalau Kalian Sama-sama Haus Prestasi, Siap-siap Saat Menikah Nanti Selalu Saingan Karier Siapa yang Lebih Tinggi

Misalnya kamu di kondisi kalau kamu dan pasanganmu adalah sosok yang sama-sama berpengaruh di lingkungan kerja. Jabatan kalian juga tinggi dan selalu bekerja keras demi suksesnya perusahaan. Akhirnya, kalian disibukkan dengan jadwal di sana-sini.

Tapi, kalian tak mungkin kan sibuk terus kan? Terlebih saat pacaran, tentu harus bisa meluangkan waktu. Pun saat berdiskusi, bukan berarti kamu dan pasangan jadi saling menyibukkan diri pamer prestasi masing-masing. Ada lho karakter seseorang yang tak mau kalah saat pasangannya berada di puncak karier. Apa iya kamu saingan dengan pasanganmu sendiri?

Pasangan yang Keduanya Romantis Namun Punya Sisi idealis, Kalau Sedang Bosan, Justru Riskan Membanding-bandingkan

Buat kalian, pacaran itu harus romantis dan mengupayakan yang terbaik. Kamu pun bersyukur karena kamu menemukan pasangan yang sama-sama mendukung dan mampu bersikap romantis satu sama lain. Mungkin idealisme semacam ini terdengar bagus.

Tapi hubungan itu juga tak bisa selalu romantis. Pasti akan ada masalah tertentu. Selain itu, kalau terlalu sering romantis dan kadarnya berlebihan, bukannya justru membosankan? Di saat yang bosan inilah, rentan membanding-bandingkan hubungan dengan pasangan lain yang kamu lihat. Kawan, berhentilah membandingkan. Tuntutan untuk meniru pasangan lain ke pasangan sendiri justru bisa jadi beban lho.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top