Feature

Tak Searah Meski Sedarah

Dikutip dari laman Antara (berbagai tahun), Pada Januari 2017, warga Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, dibuat kaget dengan kejadian seorang kakak yang menghabisi adik kandungnya tanpa ada alasan yang jelas. Dan jauh sebelum itu, pada Agustus 2007, seorang adik di Jambi membunuh kakak kandungnya sendiri di sebuah kebun karena sang adik ingin menguasai sendiri harta warisan berupa tanah. Sang kakak ditemukan dalam kondisi tubuh penuh luka bacokan.

Tidak, kamu tidak salah baca. Karena semua kejadian itu memang benar terjadi. Bahkan mungkin hanya beberapa dari banyaknya kasus pertikaian antar saudara yang kerap berujung pada hilangnya nyawa. Perselisihan antara saudara memang adalah hal yang biasa, bahkan sudah ada dipikiran anak pertama jauh sebelum anak kedua lahir.

Namun sialnya, kejadian yang tadi dipaparkan tak terjadi atas bocah-cobah remaja yang mungkin belum bisa mengontrol diri. Tapi pada mereka yang bahkan sudah berusia di atas 30 tahun. Lalu, masihkah kita bisa menganggapnya biasa?

Perubahan Kebutuhan Pada Tiap Pikiran

Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, ada banyak perubahan yang juga mungkin akan dirasakan. Bahkan lahir sejak sepasang saudara masih kecil, antara anak pertama dan kedua misalnya. Merasa kehilangan perhatian yang dibutuhkan jadi memicu timbulnya rasa tak senang dalam pikiran.

Kebutuhan macam ini, bisa merebak dan berubah jadi sebuah amunisi yang dianggap benar. Maka, jika seorang saudara dinilai sebagai alasan ia kehilangan kebutuhan. Ada rasa kewajaran yang kemudian dianggap jadi alasan untuk merebut apa yang diinginkan, meski itu akan berujung dengan saling melukai.

Bisa Pula Dipengaruhi Katakutan dan Tingkat Kecemasan

Fenomena ini disebut sibling rivalry, yang kemungkinan sudah dirasakan sejak sang adik masih dalam kandungan. Ada semacam kecemasan yang membuat diri merasa tak nyaman atas kehadiran saudara dalam keluarga atau hidupnya. Hingga mulai merasa tak nyaman jika harus dibanding-bandingkan.

Selain itu, faktor usia yang terlalu dekat jadi salah satu pemicu yang dipercaya memupuk ketakutan dan kecemasan yang salah seorang atau keduanya rasakan. Mempengaruhi jalan pikirannya, hingga bisa melakukan apa saja asal ia tak lagi measa cemas atas hidupnya, karena kehadiran saudaranya.

Akur Hanya Ilusi, Namun Persaingan dan Pertengkaran Kadang Tak Bisa Dielakkan

Jika ketika kecil hingga remaja, pertengkaran antar saudara mungkin hanya terlihat dari aktivitas sederhana seperti adu mulut, hingga bertengkar, dan saling tuduh. Berbeda ketika sudah sama-sama dewasa, bentuk serangannya jauh lebih agresif. Bisa dalam bentuk verbal atau non-verbal, tapi tak menutup kemungkinan pula dengan sebuah tindakan fisik, menampar, menjambak, memukul, hingga saling bunuh tanpa rasa takut.

Ya, seseorang bisa melakukan segala hal demi jadi yang lebih baik, saling hujat dan hajar, sampai yang lain meresa tertekan dan tak lagi mengusik apa yang salah seorang inginkan.

Kurangnya Peran Orangtua yang Bisa Dijadikan Sebagai Panutan

Ya, baik dan buruknya efek dari sibling rivalry sangat berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai persepsi terhadap pola asuh permisif dari orangtua. Pola asuh permisif sendiri adalah  tindakan atau pola asuh orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak tanpa adanya bimbingan dan tuntutan tanggung jawab.

Mereka tumbuh sebagai sosok yang menjadi jati diri dan pemahaman hidup sendiri. Inilah yang kemudian membentuk karakter mereka yang juga menjadikan kemungkinan lahirnya sikap-sikap negatif dalam memahami hubungannya dengan sang saudara.

Tak mampu membedakan hal-hal mana yang sebaiknya dilakukan dalam relasi persaudaraan. Karena memang tak ada orangtua yang bisa dijadikan suri tauladan untuk memahami persepsi dan hubungan antar saudara kandung ini.

Dan Tak Bisa Menangani Konflik dengan Benar Hingga Hilang Akal Sehat

Selanjutnya, situasi sibling rivalry ini, bisa pula berdampak pada kemampuan diri untuk mengelola emosi. Tak bisa memilah hal mana yang seharusnya dijadikan sikap untuk menjaga hubungan antar manusia-manusia yang sedarh dengan mereka yang bukan.

Jadi apapun konflik yang sedang terjadi, menjadi pemenang atas orang lain adalah kewajiban yang harus dilakukan. Jangankan untuk membuat yang lain jatuh, ada banyak upaya tertentu yang akan dijadikan jalan keluar demi pulang sebagai pemenang.

Padahal Sesama Saudara, Harusnya Berjalan dan Bergandengan Bersama

Pada situasi positif, sibling rivalry harusnya bisa menjadi sesuatu yang memicu kebaikan. Para saudara kandung bisa bersaing secara sehat, misalnya, dalam hal mengaktualisasikan diri. Mereka bisa berlomba-lomba memiliki prestasi dan pencapaian yang membanggakan keluarga. Namun, tidak semua sibling rivalry dapat berefek demikian.Sebab kenyataannya, gejala inilah yang jadi pemicu, beberapa pasang saudar yang saling bunuh sebagaimana yang ditasa tadi dijelaskan.

Tak hanya itu, selain kuatnya peran keluarga dalam membentuk sibling rivalry yang sehat, hal yang tak kalah pentingnya adalah karakter diri sendiri sebagai seorang anak, seorang saudara, dan sebagai manusia. Dari kejadian tak enak yang tadi dipaparkan, serta beberapa penjelasan yang bisa jadi penyebabnya dampak buruk dari sibling rivalry tersebut, kita bisa belajar mengendalikan diri dari hal-hal yang merugikan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Ternyata, Perempuan Gemuk Lebih Mampu Membuat Laki-laki Bahagia

Bertubuh kurus kadang kala jadi acuan untuk menjadi cantik yang dipercaya sebagian besar perempuan. Padahal, tolok ukur kecantikan tak selalu dari besar atau tidaknya tubuhmu. Nah, jika kau rasa usaha untuk menjadi kurus yang selama ini kamu lakukan sering gagal, tak perlu bersedih hati.

Karena ternyata menurut sebuah studi baru oleh departemen psikologi di Universitas Namibia (UNAM), lelaki yang menikah dengan (atau dalam hubungan dengan) perempuan bertubuh gempal sepuluh kali lebih bahagia daripada mereka yang menjalin hubungan dengan perempuan bertubuh kurus. Surat kabar Argentina, Nuevo Diario yang pertama kali melaporkan temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Dr Filemón Alvarado dan Dr Edgardo Morales di departemen psikologi UNAM ini.

Fakta lainnya, menurut penelitian, laki-laki lebih banyak tersenyum ketika mereka bersama pasangan dengan tubuh melekuk atau berisi, para laki-laki tersebut juga lebih mudah dalam menyelesaikan masalah. Mengapa? Menurut Alvarado dan Morales, yang melakukan penelitian ini, Indeks Massa Tubuh yang lebih tinggi memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan lelaki.

Jadi meski tubuhmu tetap terlihat gemuk walau sudah melakukan olahraga dan diet ketat, jangan bersedih lagi ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pentingnya Berdamai dengan Masa Lalu

Kalau bisa memilih, kita semua tentu ingin kisah hidup yang selalu menyenangkan. Mulai dari masa lalu, masa sekarang hingga masa depan. Tapi hidup tak selalu ada dalam genggaman tangan, beberapa hal yang terjadi tak bisa kita rubah sesuai keinginan. Dan salah satunya adalah masa lalu yang mungkin tak menyenangka. Entah itu itu ketakutan, patah hati, atau hal-hal lain yang menyakiti diri. 

Namun semua itu sudah berlalu, kita perlu untuk melangkahkan kaki untuk maju. Menatap masa depan yang lebih cerah, dan berbuat hal-hal baik yang bisa mengubah hidup kita. Itulah mengapa kita perlu berdamai pada masa lalu yang tak selalu enak untuk dikenang. 

Lalu, manfaatnya apa sih?

Merubah Diri untuk Lebih Bersemangat dan Tak Gampang Menyerah Lagi

Menghilangkan rasa sakit dari masa lalu, memang kadang jadi ketakutan tersendiri untuk kita. Sulit untuk bisa menerima apa yang sudah terjadi, hingga akhirnya jadi bumerang untuk diri sendiri. Dari sini, kita terperankap untuk tak akan melakukan ha-hal yang mengingatkan diri pada masa silam, dan tentu jadi sesuatu yang merugikan.

Nah, jika kita berhasil untuk berdamai dengan semua yang terjadi di masa lalu. Akan ada hal-hal baik lain yang kelak bisa dilakukan. Terbuka untuk menjalani kehidupan di masa sekarang, tanpa harus was-was dengan semua perasaan sakit yang dulu pernah dirasakan. 

Setelah Berdamai, Kita Tak Akan Gampang Stres Lagi

Yap, pada kehidupan nyata beberapa kejadian memang tak bisa kita hindari untuk tak dialami. Selepas mengalami beberapa hal yang tak menyenangkan, ada rasa takut yang sering membuat hati lelah. Jadi beban untuk pikiran, dan berujung pada stress yang tak karuan. 

Padahal hal seperti ini adalah sesuatu yang sesungguhnya harus dilewati. Tak bisa kita hindari, semua yang sudah terjadi harus tetap dihadapi dengan segala kemampuan diri. Hasilnya? Rasa takut dan semua beban yang selama ini jadi pikiran, bisa dilalui dengan santai dan lebih sabar. 

Dan Lebih Berani untuk Mencoba Hal-Hal Baru yang Selama Ini Dihindari

Selama kita masih dalam bayang-bayang masa lalu, akan banyak pembatas yang mengekang ruang gerak. Belum berani untuk melakukan sesuatu yang sekiranya membuka ingatan di masa silam, hingga selalu menghindar untuk tak bertemu sesuatu yang bisa membuat kita kembali terbayang atas banyaknya hal tak mengenakkan yang dulu pernah kita lakukan. 

Itulah mengapa penting untuk berdamai, menerima semua hal yang sudah jadi kenangan dan memandang semua itu sebagai acuan untuk tak lagi mengulang kesalahan bukan jadi sesuatu yang justru mengurung ruang gerak langkah. 

Tak Akan Lagi Terjebak pada Berbagai Macam Nostalgia

Percayalah, ketakutan akan hal-hal yang sudah lewat hanya akan membuat kita terkurung pada sekap yang lebih berat. Membuat kita merasa takut, menghilangkan kepercayaan diri, dan berpikir tak lagi bisa berbahagia atas hidup sendiri. Padahal ada banyak pilihan yang bisa kita lakukan untuk kembali berbahagia atas semua hal. 

Lepaskan semua hal yang merebut kebahagian, buka diri untuk hal baru yang lebih membahagiakan. Dan selalu tekankan dalam diri, jika kita bisa lebih bahagia dari masa lalu yang pernah dijalani. 

Menikmati Hidup dengan Cara yang Memang Kita Suka

Bisa lepas dari semua ketakutan dan kekhawatiran masa lalu, memang bukanlah perkara gampang. Ada banyak hal yang perlu diterima secara perlahan. Membuka mata dan hati untuk semua pilihan baik yang bisa membahagiakan kehidupan. Dan lebih selektif untuk mempertimbangakna semua yang akan dijadikan pilihan. 

Jika semua ini bisa kita jalankan dengan benar, percayalah bahagia tak lagi jadi sesuatu yang mustahil kita dapatkan. Ingatlah selalu, jika apapun yang terjadi atas masa lalu kita selalu berhak untuk berbahagia di hari ini dan masa depan. Tinggal bagaimana kita melangkah setelah dibuat memangis dan kecewa di masa lalu kita.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Sutradara Joko Anwar, Minta KPI Dibubarkan

Setelah polemik tentang keingin KPI untuk turut serta mengawasi kontek Netflix dan Youtube, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) kembali menjadi sorotan. Yap, baru-baru ini, lembaga yang mengawasi jalannya tayangan di pertelevisian Tanah Air itu dianggap mengeluarkan sejumlah sanksi dan keputusan yang sangat aneh.

Salah satu contoh misalnya, KPI melakukan teguran terhadap stasiun Global TV yang menayangkan tayangan kartun Spongebob Squarepants. Di mana dalam salah satu tokoh Spongebob melakukan pelemparan kue tart dan pemukulan.

Masyarakat pun tak diam, sebagian besar menilai keputusan KPI tersebut adalah pendapat yang amat keliru. Berita ini juga menarik perhatian salah satu sutadara kondang di tanah air, yakni Joko Anwar. Pada laman Twitter pribadinya, sutradara Gundala itu bahkan dengan tegas dan yakin menuliskan tagar Bubarkan KPI.

Sumber : https://twitter.com/jokoanwar

Tak hanya itu saja, lelaki kelahiran Medan, Sumatera Utara tersebut juga mengunggah foto ilustrasi sejumlah tayangan televisi yang mendapat teguran dan sanksi KPI. Tak hanya Spongebob, ada pula sejumlah tayangan seperti infotainment “Obsesi” Global TV, “Ragar Perkara” Tv One, “Rumpi” Trans TV dll.

“Promo Gundala kena sanksi @KPI_Pusat karena ada dialog bilang ‘Bangsat.’ Bangsat artinya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:,” twitt Joko Anwar, sambil menyematkan keterangan kata “bangsat” dari sebuah kamus bahasa Indonesia.

“Kalau ada lembaga yang anggap tontonan kayak SpongeBob melanggar norma kesopanan, lembaga itu nggak layak dipercaya menilai apapun di hidup ini. #BubarkanKPI @KPI_Pusat,” sambung Joko Anwar.

Menurutmu bagaimana?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top