Feature

Tak Perlu Dikekang, Dia yang Benar-benar Serius Tahu Batasan Berteman

Konon cemburu selalu digambarkan sebagai bentuk lain dari cinta. Tapi apa jadinya jika cemburumu justru disampaikan pada hubungan pertemanan dari pasangan? Apalagi dengan cara yang berlebihan? Bukannya tersanjung karena merasa dicemburui, si dia justru bisa semakin menjauh.

Benar memang kamu adalah kekasihnya, tapi bukankah ia juga berhak atas kehidupan lain? Bagaimana ia menjalani hari dengan keluarganya, teman-temannya, hingga orang lain yang mungkin mengenalnya.

Serupa dengan kamu yang tak suka diusik hidupnya, ia juga berhak atas kebebasan dalam menjalin pertemanan. Jangan terlalu dikekang, sebab ia juga punya kehidupan.

Sebelum Bertemu denganmu, Dia Punya Kehidupan dan Jalinan Pertemanan. Untuk Itu Kamu Tak Berhak Melarang-larang

Tak bisa dihindari, setiap kita adalah makhluk sosial yang pasti punya relasi pertemanan. Dulu, saat belum ada kamu barangkali teman-temannya adalah pihak yang banyak membantu dirinya. Kini, kita datang untuk menjadi bagian hidupnya. Tapi bukan berarti juga harus memutus rantai silaturahmi yang selama ini ia jalani.

Sebab jika harus ditanya, kita pun tentu tak suka jika ada pihak lain yang akan memaksa kita memutus hubungan dengan sahabat lama yang kita kenal. Tak perlu terlalu was-was, sampai melarangnya untuk berdekatan dengan orang lain. Jika dia benar-benar cinta, dia pasti bisa menjaga hatinya.

Karena Bisa Jadi Teman-temannya Jadi Pihak yang Lebih Dulu Ia Kenal

Coba bayangkan, apa yang akan dikatakan oleh teman-temannya pada sang pacar. Jika setelah punya pasangan, ia lantas tak lagi mau bergaul dengan mereka. Padahal dulu sebelum bertemu denganmu, teman-temannya adalah pihak yang selalu menolongnya setiap kali merasa susah.

Tak hanya menjauhnya dari pergaulannya saja, upaya kita untuk melarangnya bergaul, juga akan melahirkan citra buruk atas dirinya. Ya, kawannya akan berpikir bahwa ia telah berubah, hanya karena sesosok manusia  yang baru hadir dalam hidupnya.

Biarkan ia tetap menjalani hari-hari bersama dengan orang-orang yang ia senangi, sebab tugas kita adalah jadi pasangan yang mendampingi, bukan untuk membatasi.

Berani Memintamu Menjadi Pasangannya, Berarti Ia Hanya Akan Mencintaimu Saja

Tak ada yang perlu ditakutkan lagi, karena ia selalu punya alasan kuat mengapa akhirnya memintamu menjadi pacar. Kamu mungkin bukanlah yang tercantik yang ia kenal, bukan pula satu-satunya lelaki mapan yang perempuanmu kenal. Tapi anehnya, kamu jadi pilihan akhir yang ia telah tentukan. Lantas apa lagi yang harus dikhawatirkan?

Sahabat yang ia punya hanyalah bagian hidup yang akan mewarnai ceritanya, bukan berarti akan menggantikan posisimu dihatinya. Dan sebagai dua orang yang telah dewasa, harusnya kalian berdua paham batasan masing-masing. Sejauh kamu bisa membatasi geraknya, dan sampai mana batasan pertemanan yang harus ia jaga.

Cemburu Itu Sah-sah Saja, Namun Menjeratnya Agar Tak Kemana-mana Bukanlah Tanda Cinta

Kamu boleh mengelak dengan berkata bahwa upaya membatasi pertemanan yanng kamu buat adalah bentuk lain dari kata cinta. Tapi coba dipikirkan kembali? Apa iya benar begitu? Daripada harus membatasi ruang geraknya untuk berteman dengan orang lain, bukankah lebih baik mendorongnya melakukan apa yang ia senangi?

Saat ini yang ada dihatimu adalah namamu saja, maka tak ada yang perlu kau risaukan lagi. Daripada terus menerus melarangnya untuk menjalin pertemanan dengan banyak orang, cobalah untuk saling memahami lebih dalam lagi.

Cobalah Belajar Untuk Saling Tanamkan Percaya, Ini Akan Lebih Berguna Bagi Hubungan Kalian Berdua

Percaya atau tidak, kepercayaan adalah dasar utama untuk hubungan yang akan dijalani berdua. Jika hanya karena pertemanannya saja kamu merasa terganggu, jangan heran jika ia akan merasa kecewa. Coba dipikirkan kembali, benarkah cemburumu itu adalah sesuatu yang wajar. Karena bisa jadi, itu karena kamu terlalu takut kehilangan dirinya saja.

Menjalin hubungan dengan orang lain selain pacarnya, tak lantas akan membuatnya melupakanmu bergitu saja. Daripada terus menaruh cemburu, jauh lebih baik jika kalian berdua menanamkan percaya yang jauh lebih besar.

Walau Katanya Ketika Berdua denganmu Ia Selalu Bahagia, Pasti Ada Bahagia Lain yang Ia Dapat Jika Bersama Temannya

Memiliki pasangan, biasanya akan menyita sebagian besar waktu kita yang tadinya biasanya dipakai untuk bertemu teman. Tapi apakah itu lantas memisahkan kita dengan mereka? Jelas saja tidak, “kan?

Justru ini jadi ajang yang baik, bukan hanya untuk dia tapi juga untuk diri kita. Setiap kali ia sedang bepergian dengan temannya, kita juga bisa memakai waktu yang sama untuk bertemu sahabat dan teman yang juga kita punya.

Agar Tak Terkesan Mengekangnya, Cobalah Membuka Diri Untuk Mengenal Teman dari Pasangan 

Hubungan yang kita jalin dengan pasangan, pastilah bertujuan untuk melipatgandakan kebahagiaan. Daripada sibuk merasa was-was pada teman-teman dari pacar, mengapa tak mencoba untuk membuka diri untuk mengenali teman-teman pasanganmu?

Ini bukan perkara dia akan selingkuh atau melupakanmu, tidak pula karena dia terlalu mementingkan teman-temannya. Tapi hal lain yang perlu dipikirkan kembali adalah, ketakutanmu yang terlalu berlebihan atas hubungannya dengan orang lain.

Kuasai diri atas cintamu pada dirinya, jangan sampai apa yang sudah terjalin lama sia-sia hanya karena terlalu takut kehilangan dia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sejalan dengan Usia yang Bertambah, Bagimu Kriteria Pasangan Pun Ikut Berubah

Dulu, saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan caramu berpikir tentang cinta.

Pernah berpikir lelaki romantis adalah pasangan sempurna, kini kamu justru merasa jengah jika si dia hanya bisa mengumbar kata manis saja. Benar, kita sadar bahwa deretan kriteria dia yang jadi pasanngan tak lagi melulu tentang dia yang mampu berkata manis seperti lelaki di film romantis.

Sebelumnya, Sering Tak Ada Jeda untuk Memulai Cinta, Kini Punya Pertimbangan Panjang dalam Menerima Seseorang

Mari ingat kembali, perjalanan asmara yang kita miliki sejak dari kekasih pertama. Setiap kali putus cinta, rasanya tak pernah butuh lama untuk bisa kembali membuka hati untuk dia yang baru. Tapi, hal tersebut tak lagi berlaku untuk usia yang sedewasa kini. Biar banyak yang datang untuk menawarkan hati dan cintanya, rasanya selalu susah untuk mengiyakan ajakan untuk memulai hubungan.

Bukan perkara belum bisa melupakan mantan pacar terdahulu, walau kadang hal itu pun bisa jadi alasan. Tapi ini lebih kepada pertimbangan yang perlu dipikirkan matang-matang. Tak lagi mau sembarangan, ada banyak ketentuan yang kita jadikan standar untuk dia yang akan jadi pasangan.

Bukan Rasa yang Menggebu-gebu, Tapi Bagaimana si Dia dan Kamu Mengelola Emosi

Di usia remaja, apapun seolah terasa mudah. Berpikir bahwa kita akan bersama selamanya dengan dia yang dicinta. Jika diibaratkan sebuah bunga, rasa cinta yang ada  di hati kita sedang mekar-mekarnya. Harum ke semua penjuru, bahkan menutup bau dari si dia yang mungkin bisa menyakitimu.

Tapi ketika sudah dewasa, cinta dan rasa yang menggebu-gebu bukanlah jadi penentu. Tapi bagaimana kita dan pasangan bisa sama-sama belajar untuk selalu mampu mengelola emosi dalam segala hal. Untuk itu pulalah, kata putus tak lagi bisa diucapkan dengan mudah seperti kala remaja.

Kini Kamu Paham, Kalau Hubungan yang Baik Bukan yang Tanpa Pertengkaran

Jadi dua sejoli yang selalu akur, bertaburan kata romantis, hingga hal-hal manis lain yang akan menghiasi cerita. Pernah jadi mimpi yang diharapkan untuk selalu ada dalam hubungan cinta. Bayangan yang selalu ada di kepala, bagaimana kita dan si dia selalu tertawa tanpa adanya masalah.

Padahal pada kenyataannya, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebab hubungan yang baik, tentu juga butuh perdebatan. Kamu pasti tak suka, jika lelakimu selalu mengiyakan kata-katamu seolah tak punya pendapatnya sendiri, dan begitupun sebaliknya.

Pertengkaran dan perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, hal ini justru jadi tanda bahwa ada komunikasi yang berjalan antara kita berdua.

Tadinya Putus Cinta Selalu Buat Kecewa, Tapi Sekarang Kamu Sadar Ada Pelajaran dari Sana

Berbalik sebentar ke sikap kita dalam menghadapi putus cinta saat masih di bangku SMA. Menangis semalaman, mengutuki keadaan, atau membencinya dan menganggapnya musuh yang pantas dilenyapkan. Menariknya, kedewasaan turut serta membawa perubahan dalam diri kita dalam hal memahami masalah.

Tak lagi memandang patah hati jadi sebuah pilu yang patut ditangisi, kini kita sadar ada banyak pelajar yang bisa diambil dari setiap asmara, meski kadang berakhir dengan luka.

Dulu Kamu Meyakini Adanya Cinta Sejatinya, Kini Kamu Mengerti Rasa yang Abadi Harus Diciptakan Sendiri

Hidup kita bukanlah cerita romansa yang ada di film-film romantis milik Disney. Ini adalah kehidupan nyata yang butuh upaya. Yap, selain restu dari pemilik hidup, kita perlu berusahauntuk saling membahagiakan jika memang ingin cinta ini jadi sesuatu yang layak disebut keabadiaan.

Butuh mengerti dan dimengerti, mendengar dan didengar, memahami dan dipahami, hingga hal lain yang memang bisa membantu kita mempertahankan hubungan hingga menua bersama.

Kita mungkin pernah bermimpi tentang segala hal indah yang sekiranya terjadi atas hubungan, tapi kini kita sadar bahwa ada banyak hal yang berubah seiring usia yang terus berjalan. Dan ini adalah sesuatu yang wajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top