Feature

Tak Melulu Pahit, Manisnya LDR Akan Membuat Hubungan Kian Romantis

Jarang bertemu barangkali sudah jadi sesuatu yang biasa untuk kamu dan dia. Memang, menjalanin hubungan seperti ini tentulah bukan menjadi keinginanmu. Namun kadang kala situasi dan keterbatasan kemampuan, membuat kalian berpisah sementara.

Tapi jangan dulu terburu-buru meringis untuk sisi negatifnya, sebab menurut studi yang dilakukan Queens University, pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh, kelak jika nanti akan menikah hatinya akan semakin dekat. Bahkan untuk menguatkan temuan ini Psikolog dan Peniti, Emma Dargie mengatakan bahwa ” Orang-orang yang hubungan jarak jauh, saat menikah akan lebih mengalami kepuasan, keintiman dan komunikasi yang lebih lancar”.

Nah demi menguatkan hatimu lebih dalam lagi, kali ini biarkan kamu untuk memberitahumu akan beberapa manfaat baik yang akan kamu terima jika menjalani hubungan LDR dengan si dia.

Percaya Jelas Jadi Kunci, Untuk Itu Kalian Berdua Harus Belajar Mengusir Rasa Curiga

Tak mampu melihatnya, tak tahu apa yang dikerjakan olehnya jadi situasi yang memang menuntut kepercayaan penuh. Tak boleh sembarang curiga, sebab kita sendiri tak tahu betul bagaimana ia di sana.

Kalian berdua tahu bahwa untuk hubungan ini, percaya jadi pondasi utama yang memang harus dimiliki. Sebab ini bukan perkara yang mudah, sepanjang menjalaninya akan ada berbagai macam tantangan untuk kalian berdua. Akan tetapi percaya akan membawa kalian pada situasi yang selalu jauh dari kata berpisah. Sebab kalian berdua mampu menahan segala curiga yang kerap datang.

Dan kebiasaan untuk selalu percaya pada pasangan nan jauh di sana, berimbas pula pada aktivitas lain. Baik itu pada hubungan dengan relasi kerja, hingga pada teman lain yang mengenali kita. Sebab pikiran positif tentulah akan berbuah baik pula.

Begitu Pula dengan Sabar yang Pelan-pelan Tampak Tak Lagi Berbatas

Nilai positif selanjutnya, jelas pada kesabaran yang kalian punya. Tak bisa bertemu setiap saat, hingga menunggu waktu luang yang tepat. Berubah jadi kebiasaan yang tak hanya menghasilkan rindu saja, namun turut serta melatih kesabaran kita juga.

Sekilas, hubungan ini memang terlihat buruk bahkan sering menempatkan kita pada posisi pacaran yang paling tak enak sedunia. Kita memang harus kuat untuk menahan diri, tak mudah terbawa suasa sedih tatkala melihat pasangan lain pergi.

Tak boleh serta menuntutnya untuk pulang dan menemui kita, pelan-pelan kita sadar bahwa situasi ini akan jadi sesuatu yang harus dihadapi setiap hari.

Tak Bersama Setiap Waktu, Kalian Jadi Lebih Fokus Mengembangkan Diri Tanpa Perlu Dipandu

Tanpa perlu dijelaskan lagi, setiap orang pastilah punya cita-cita dan keinginan sendiri. Begitu pula dengan kamu dan dia yang jadi kekasih. Tak ada ketentuan yang akan menyita waktu untuk selalu berdua, sebab hidup di tempat yang tak sama, jadi alasan lain yang akan memberi manfaat baik untuk kalian.

Yap, kamu dan dia memiliki kualitas waktu yang cukup dalam hal pengembangan diri dan kemampuan. Sadar bahwa masing-masing pasangan punya kebebasan untuk melakoni setiap hal, kalian berdua mendukung satu sama lain lebih dari biasa.

Tak terpaku pada pertemuan-pertemuan yang menjadi rutinitas orang pacaran, kalian berdua leluasa untuk mewujudkan mimpi.

Berbeda dengan Pasangan yang Selalu Bersama, Romansa Kalian Berdua Kerap Jadi Memori Luar Biasa

Barangkali pertemuan yang memang terbilang cukup sedikit, jadi hal lain yang membantu kita mengingat semua yang telah terjadi. Bulan ini dia mungkin datang secara tiba-tiba, membawakanmu seikat bunga lengkap dengan surat romantisnya. Intensitas pertemuan yang tak banyak, mendorong kalian berdua untuk melakukan hal-hal menyenangkan lebih dari sekedar biasa.

Sehingga kelak akan jadi sesuatu yang selalu dingat sepanjang masa. Sedikit memang tapi hal-hal seperti ini jadi sesuatu yang menjadi alasan kuat untuk tetap bertahan.

Pertemuan yang Terjadwal Membuat Kalian Berdua Lebih Leluasa Melakoni Banyak Hal

Tidak ada yang perlu dipusingkan dan dijadikan beban, semua kegiatan bisa dilakukan tanpa ada gangguan. Katakalah jika kamu dan dia mungkin akan bertemu 2 hingga 3 bulan sekali, dengan kata lain ada banyak waktu yang tersisa untuk fokus pada diri sendiri.

Bukan berarti akan melupakan dia yang jauh di sana, ada kalanya kita butuh sendiri untuk melakukan segalanya lebih tenang. Tak ada gangguan hanya karena berpikir jika esok mesti ketemuan, harus menemani ia jalan hingga harus mengantarnya pulang. Kalian memang jauh, tapi kepercayaan dan cinta membuat kalian berdua saling menguatkan meski tak selalu bersama.

Rindu Memang Sering Menderu, Tapi Kamu dan Dia Selalu Tahu Cara Mengatasinya

Menggelar temu memang jadi salah satu cara untuk mengobati rindu, namun berhubung ini bukan lagi sesuatu yang baru ada hal-hal lain yang kalian berdua temukan untuk menyiasati semua kegundahan.

Mengajaknya bertatap muka lewat smartphone, hingga mengobrol berjam-jam lewat telepon. Meski kata sebagian orang ini tak akan terasa cukup mengobati rasa, tapi kalian berdua merasa ini sudah lebih dari cukup. Tak perlu bertele-tele, rindu yang kalian punya bisa cepat hilang hanya dengan mengobrol seperti biasa.

Dan Situasi Ini Lebih Membantu Diri Untuk Fokus Pada Jenjang Hubungan yang Kian Serius

Hubungan jarak jauh, jadi salah satu hal yang dipercaya untuk kelangsungan hubungan selanjutnya. Keseriusan dan kepercayaan yang sudah dibangun sekian lama, membentuk kalian berdua jadi pribadi yang taat pada cinta.

Saling menghargai atas pilihan dan privasi masing-masing, membuat kalian berdua paham bagaimana caranya jadi pasangan yang lebih baik dari sebelumnya. Aktivitas berbeda di tempat yang berbeda pula, memberi kita keleluasaan untuk menekuni segala kegiatan.

Baiknya lagi saat pasangan lain gemar menghamburkan uang untuk sekedar makan malam berdua, kalian berdua justru menabung untuk hal-hal yang lebih berguna.

Ini memang bukanlah sebuah perjuangan yang mudah, sebab situasi ini jadi penentu seberapa kuat kalian berjuang untuk tetap bersama. Namun jika memang sudah memiliki komitmen dan benar-benar tulus dalam hal berjuang, niscaya semua halangan yang datang akan bisa dilalui dengan baik.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Terlalu Lama Menjomblo, Membuat Kamu Kian Dekat dengan Hal-hal Ini!

“Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asyik sendiri”

Mungkin lirik lagu tersebut sangat cocok untukmu yang sudah lama menghabiskan waktumu seorang diri. Terlalu lama menjomblo ternyata juga tak baik loh untukmu. Terlebih jika akhirnya kamu sudah benar-benar terbiasa dan asyik dengan kesendirianmu itu. Bahkan nih, dari  hasil beberapa penelitian. Sendiri kelamaan, bisa memicu kematian. Untuk itulah, kamu disarankan segera mencari pacar.

Akan tetapi, sebelum beranjak untuk menebarkan pesonamu. Kami ingin mengajakmu menyadari beberapa hal yang selama ini kamu alami. Iya, kamu alami selama sendiri tanpa kekasih.

1. Merasa Kaku Saat Berkenalan dengan Orang Baru

Karena kamu sudah terlalu lama sendiri, akhirnya kamu pun tak terbiasa dengan kehadiran orang baru dalam kehidupanmu. Kamu pun akan terkesan canggung saat bertemu dengan orang baru. Akhirnya akan sulit untuk orang lain mendekat padamu karena tidak nyaman dengan sikap canggungmu itu.

Bukan tak mau membuka diri, hanya saja ada sedikit keraguan yang masih menghiasi pikiran. Semacam pertanyaan kurang percaya diri, karena sudah lama menyendiri.

2. Banyak Temanmu yang Akhirnya Menyerah untuk Mencarikanmu Pendamping

Temanmu pun ingin melihatmu memiliki pendamping. Mereka berusaha mengenalkanmu dengan kenalannya dengan maksud siapa tahu dia bisa cocok denganmu. Namun karena sikapmu yang cenderung cuek, akhirnya teman-temanmu pun menyerah untuk mencarikanmu pendamping. Bahkan setelah upaya  yang mereka perbuat, tak sedikit pula yang akhirnya merasa kesal padamu.

“Lu maunya pacar yang kaya gimana sih?” 

Sering mendengar kalimat ini? Ya, kadang kamu merasa terharu pada teman-teman yang sibuk mencarikanmu pacar baru. Namun juga sering merasa lucu, kenapa mereka sesibuk itu. Karena bisa jadi kamu sendiri masih menunggu dan tak mau terburu-buru.

3. Padahal Kamu Merasa Bahwa Cinta Bukanlah Hal yang Penting untuk Dipikirkan

Kondisi kesendirianmu yang sudah terlalu lama akhirnya juga memengaruhi pola pikirmu pada makna cinta itu sendiri. Kamu mulai merasa bahwa cinta bukanlah suatu hal penting untuk kamu pikirkan. Ada hal penting lain yang harus lebih dulu kamu dahulukan dibandingkan hanya untuk sebuah cinta. Dan barangkali inilah sebabnya, mengapa kamu masih betah sendiri sampai sekarang.

4. Bisa Jadi, Kamu Merasa Jauh Lebih Baik Saat Sendiri

  

Bisa dibilang kamu sudah cukup nyaman dengan kesendirianmu. Kamu justru tak tertarik meskipun melihat banyak temanmu yang selalu bersama dengan pasangannya. Kamu cenderung asyik dengan duniamu sendiri. Menikmati hobi dan belajar hal baru lebih banyak lagi. Selalu  jadi sesuatu yang lebih menyenangkan daripada harus buru-buru mencari pacar. Walau pada beberapa orang, ini hanyalah sebuah alasan atas ketidakmampuan. Upss…

5. Kamu Sudah Kebal dengan Komentar dan Pertanyaan Orang Terkait Status Single-mu

Mungkin di awal kamu sempat memikirkannya. Namun karena kamu sudah cukup lama sendiri dan menikmati kesendirian itu, akhirnya kamu pun mulai kebal dengan banyaknya komentar dan pertanyaan orang lain terkait dengan statusmu yang masih saja sendiri sampai saat ini.

Jadi pertanyaan semacam “Sendiri mulu, berduanya kapan?”, tak lagi jadi sesuatu yang menyinggung perasaan. Ini lebih terdengar jadi sebuah basa-basi dalam membuka obrolan. Ya, walau kadang-kadang ada juga yang merasa jadi beban. Tergantung bagaimana kamu menyikapinya.

6. Setiap Kali Ada yang Mendekati, Ada Serangkaian Cerita yang Sudah Kamu Persiapkan

Padahal kamu belum tahu pasti. Namun saat ada orang yang mendekatimu kamu akan dilanda kecemasan dan kepanikan. Kamu mulai berpikir keras akan tujuannya mendekatimu, ingin sekedar bermain-main atau benar-benar ingin serius. Hingga akhhirnya, ketakutakan dan kekhawatiran itu membawamu pada keputusan, akan hal-hal yang ingin dilakukan.

Kamu mulai berandai-andai, jika si dia nanti akan melakukan sesuatu apa yang perlu kamu persiapkan untuk merespon tindakannya itu. Sering membuatmu cemas tak karuan, tapi setidaknya kamu merasa tenang jika ada sesuatu yang sudah dipersiapkan.

7. Kamu Menciptakan Tembok yang Semakin Tinggi Karena Keinginanmu untuk Melindungi Diri

Tujuanmu memang ingin melindungi dirimu. Namun tanpa kamu sadari, lambat laun justru tembok yang kamu bangun untuk berlindung semakin tinggi. Akhirnya akan sulit untuk seseorang bisa mejangkau tempatmu berada. Nah, untuk yang satu ini tak selalu sepenuhnya salah. Biar bagaimanapun ini adalah upaya perlindungan untuk diri sendiri.

Dengan kata lain, kamu bisa lebih memilah orang-orang seperti apa yang nanti akan berada di dekatmu. Sehingga patah hati atau disakiti yang dulu pernah terjadi, tak akan terulang kembali. Nah, dari beberapa hal yang tadi sudah dijelaskan. Mana yang saat ini sedang kamu rasakan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ketika Hidupnya Lebih Buruk denganmu, Itu Artinya Ia Tak Tercipta Untukmu

Pernah tidak kamu tiba-tiba bepikir, bahwa ada sesuatu yang sepertinya tak beres dalam hubunganmu? Iya, ini bukan tentang kamu tak bisa membuatnya tertawa atau bahagia. Tapi tentang kenyataan lain yang justru jadi tanda tanya.

Coba lihat hidupnya kini, lalu bandingkan dengan hidupnya sebelum kalian bersama. Dulu ia adalah seorang periang, punya banyak teman dan pekerjaan yang lancar. Tapi bersamamu, harinya justru berubah. Menjauh dari temannya, karena memastikan kamu tak kemana-mana jadi yang lebih utama.

Sering khawatir karena cemburu, ketakutan akan kehilangmu menganggu pekerjaan yang ia lakoni. Lantas, sanggupkah kamu terus menerus melihatnya begitu?

Cinta yang Baik Membawanya Kedamaian, Bukan Membuatnya Gusar Tak Berkesudahan

Sikap periang yang dimilikinya, bisa jadi adalah salah satu hal yang membuatnya suka padanya. Tapi, jauh berbeda dari saat pertama jumpa. Akhir-akhir ini ia justru terlihat sering berwajah sendu, karena tak bahagia. Senyum manis yang tadinya sering mengembang, pelan-pelan mulai hilang. Berganti dengan segudang kekhawatiran atas hubungan yang kalian jalankan.

Tak terlihat secara jelas datang darimana sedihnya, yang terlihat hanyalah raut wajah kecewa, takut, serta kerap khawatir untuk berbagai macam alasan. Jika memang begitu, cobalah untuk melepasnya sendiri dulu.

Jauh dari Kata Berkembang, Hidupnya Kian Monoton Setelah Kamu Datang

Rasa sayang harusnya mendorong seseorang untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya terlihat mustahil. Membantunya meningkatkan kemampuan dan kreativitas, dan semua hal baik itu jelas memberi dampak baik untuknya.

Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, itu artinya memang ada sesuatu yang salah. Bandingkan lagi, bagaimana hidupnya ketika kalian tak bersama. Seberapa banyak pencapaian yang ia perbuat dengan seorang diri saja? Dan kenapa ketika sudah bersama ia justru berdiam diri dan tak berbuat apa-apa?

Semangatnya pelan-pelan hilang, dan jika benar begitu sebaiknya kau lepaskan genggamanmu.

Hanya Demi Kamu, Ia Sering Berbohong

Tak jelas apa alasannya, dari seluruh perubahan sikap yang ia tunjukkan. Kebohongan jadi salah satu hal yang paling banyak kau temukan. Mulai dari kebohongan kecil, hingga yang besar. Dari yang menurutmu tak penting untuk ditutupi sampai hal besar lain yang harusnya tak perlu disembunyikan lagi.

Hubungan kalian, kerap kali dijadikan alasan untuk berbohong dan tak ingin membuatmu marah atau kecewa padanya. Tapi asal kamu tahu saja, cinta yang baik merubah sesorang untuk lebih terbuka dan membicarakan semuanya. Jika ia kerap kedapatan berbohong, itu artinya ada sesuatu yang salah.

Tak Lagi Bergairah untuk Melakoni Hal Lain, Hidupnya Seolah Bertumpu Hanya Padamu Saja

Jadi sesuatu yang kadang sulit diterima, perubahan sikap yang ia tunjukkan kadang memang tak masuk akal. Namun itu semua adalah kenyataan yang mau tak mau harus kamu terima. Kamu bisa melihat ia kehilangan semua gairah, tak lagi terlihat hidup melakukan hal yang tadinya ia suka.

Dan kesimpulan yang bisa ditarik dari sikapnya, kemampuan yang tadinya ia bisa perbesar berubah jadi ketidakpastian yang kian kecil. Tak mau berbuat apa-apa tanpa dirinya, baginya kamulah roda pemutar hidup yang ia percaya. Tapi, bukankah cinta harusnya membuat kita kian kuat? Jika dirinya justru melemah, itu artinya bukan cinta.

Lari dari Tanggung Jawab, Ia Berubah Lebih Buruk dari yang Sebelumnya

Yap, coba tengok seseorang yang katamu paling kamu cintai itu. Ingat kembali bagaimana ia dulu menyelesaikan semua pilihan dan menyelesaikannya dengan benar. Lalu masihkah ia bersikap demikian sampai sekarang? Jika ternyata jawabannya adalah tidak. Berarti ada sesuatu yang memang perlu dibenahi dalam hubungan kalian berdua. Dia yang terjebak dan tak bisa memilah perilakunnya, atau sikapmulah yang membuat ia jadi demikian berubah.

Mungkin Bukan Hanya Salahmu Juga, untuk Itu Cobalah Mencari Penyebabnya

Perkara hubungan yang bisab merubah setiap orang. Siapa yang salah jelas sulit untuk ditentukan. Satu pihak bisa saja merasa biasa dan tak berbuat salah, tapi di sisi lain bisa jadi pasangannya mengira dialah penyebab seseorang berubah.

Tak harus buru-buru, coba dilihat pelan-pelan dulu. Pihak manakah yang sekiranya jadi penyebab perubahan diri. Jika memang itu karenamu, belajarlah untuk lebih bijaksana dalam menanggapinya. Lepaskan ia jika ternyata, tak ada bahagia yang ia terima setelah sekian lama bersama. Jujurlah pada dirimu sendiri dengan mengakui bahwa kamu memang jadi sosok yang membuatnya berubah menjadi lebih buruk dari dirinya yang sebelumnya.

Maka, jika benar-benar cinta, cobalah lepaskan ia. Biarkan ia mencari jalannya, dan belajar untuk mencari bahagianya dulu sebelum nanti berbagi bahagia lagi bersamamu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kadang Seorang Teman Memberi Solusi Bukan Karena Empati, Tapi Sekadar Asal Bicara Saja

Sadarilah, tak semua teman tempat kita curhat adalah seorang pendengar yang baik, yang mau turut merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Karenanya, tak usah heran kalau akhirnya yang kamu dapat adalah solusi yang terdengar ‘ala kadarnya’ bahkan terkesan menggampangkan sebuah masalah.

Padahal jika dikembalikan ke dirinya sendiri belum tentu mereka akan terima dengan masukan seperti itu. Namun bukan berarti berbagi cerita ke teman adalah langkah yang salah ya. Mungkin supaya tak mendapat respon yang tak enak, kamu perlu mengenali karakter mereka dulu. Carilah sosok teman yang benar-benar tepat, yang bisa menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik bagi dirimu.

Seorang Teman Belum Tentu Merasakan Emosi yang Kamu Rasakan

Bagaimanapun, seorang teman belum tentu bisa merasakan emosi seperti yang kamu rasakan saat kamu menceritakan ceritamu. Padahal ada kalanya kamu hanya butuh didengarkan saja dibanding meminta saran dari mereka. Hati-hati, salah cerita pada orang, justru bisa membuatmu merasa sia-sia.

Sadarilah, meski sejak awal kita berharap mereka mau turut merasakan emosi yang sama seperti yang kamu rasakan kala itu. Tak semua orang bisa merasakan apa yang kita sedang rasakan.

Selesai Cerita Justru Dapat Penghakiman dari Teman yang Kamu Ajak Cerita, Menyebalkan Bukan?

Percayalah, tak semua curahan hati kamu bisa diterima dan direspon dengan baik oleh teman yang kamu ajak berbagi. Bahkan, tak semua teman akan setuju dengan jalan cerita yang kelak kamu bagikan pada mereka. Alih-alih ingin mendapat hati yang plong setelah mengeluarkan segala keluh kesahmu, yang ada kamu hanya akan mendapatkan kecewa.

Jika tahu bakal mendapat penghakiman dari lawan bicaramu. Pastikan terlebih dahulu, sebenarnya seberapa besar ia mau mendengarmu.

Tak Menutup Kemungkinan Ceritamu Justru Disebarluaskan pada yang Lain

Tak semua teman bisa menjaga rahasiamu dengan baik setelah kamu ceritakan seluruhnya pada mereka. Karenanya, jangan menceritakan masalahmu ke sembarang orang. Namun carilah sosok teman yang dapat dipercaya bisa menjaga rahasiamu dengan aman.

Susah memang, tapi kuberitahu, jangan sampai setelah kamu curahkan semua pada temanmu, masalahmu malah makin runyam dan akhirnya hanya mengganggu ketentraman hatimu, kan?

Berujung Penyesalan yang Menderamu Karena Sudah Cerita ke Temanmu

Akhirnya ketika kamu tahu bahwa teman yang kamu ajak berbagi cerita tidak bisa dipercaya dalam menjaga segala rahasiamu, yang ada kamu akan merasa menyesal sendiri. Bahkan hal ini bisa berdampak pada merenggangnya hubungan pertemanmu dengannya. Mungkin pada akhirnya kamu bisa petik pelajarannya dari sini agar bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman untuk diajak berbagi cerita.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top