Feature

Tak Datang ke Pernikahan Teman, Memangnya Kenapa?

Seperti biasa, setelah lebaran musim kawin pun tiba. Yang berarti ada banyak teman yang kemungkinan akan mengirimkan undangan untuk masing-masing pernikahannya. Belum masuk bulan Agustus saja, saya sudah menerima 3 undangan untuk bulan depan. Bagaimana dengan kalian?

Selain doa untuk kebahagian keduanya, kehadiran kita mungkin sering diharapkan oleh mereka. Namun lagi-lagi, manusia boleh berencana tapi Tuhanlah yang menentukannya. Berharap bisa hadir, tapi karena satu-dua hal kadang kala kita tak bisa datang ke pernikahan mereka. Hingga akhirnya merasa bersalah hingga enggan untuk kemudian bertegur sapa. 

Hey, hadir atau tidak dalam pernikahan seorang teman adalah perkara biasa, dan tak seharusnya dirimu merasa bersalah. Apalagi jika kamu punya alasan yang masuk akal, kenapa kamu akhirnya memutuskan untuk tak datang. 

Ada Rencana Lain yang Ingin Kamu Lakukan di Hari Pernikahan Mereka

 

Jauh sebelum teman mengirimkan undangan pernikahannya, ada rencana lain yang sudah dibuat beberapa waktu sebelumnya. Pada titik ini, kita tentu akan membuat keputusan mana yang akan dilakukan. Dan tentu hal yang dipilih adalah sesuatu yang menjadi prioritas.

Bukan ingin berkata bahwa pernikahan teman tak penting, tapi jika memang ada hal lain yang jauh lebih penting. Maka tak salah jika kita memutuskan untuk tak hadir ke pernikahan mereka. Temanmu pun akan mengerti dan tak akan marah, jika tahu apa alasanmu tak datang ke pernikahannya. 

Lokasi Pesta yang Terbilang Sangat Jauh dari Tempat Tinggalmu

Kita mungkin tinggal di Jakarta, tapi teman yang mengirimi undangan pernikahan melangsungkan pesta di Surabaya. Dengan situasi yang seperti ini, tentu ada beberapa faktor yang perlu diperhitungkan. Mulai dari waktu, materi hingga energi. Pikirkan lagi berapa biaya yang akan kamu butuhkan, kalau memang tak merasa sanggup, haturkan maaf atas keabsenanmu dalam pagelaran resepsinya. 

Lagipula kadang kala, membelikan mereka hadiah sebagai kado pernikahan tatkala keduanya kembali ke Jakarta. Bisa jadi lebih dibutuhkan olehnya. Karena biar bagaimanapun pestanya akan tetap berjalan ada atau tanpa kita. Tapi pemberian yang kita berikan, bisa jadi bermanfaat untuk kehidupan rumah tangga mereka kelak. 

Kamu Mendadak Sakit dan Harus Istirahat di Rumah

Faktor kesehatan, jadi salah satu hal yang tak bisa diprediksi. Sehari sebelum pesta mereka berlangsung kita mungkin bisa saja terlihat bugar. Namun jika ternyata bersamaan dengan pesta pernikahannya kamu mendadak sakit, rasanya sah-sah saja untuk tak hadir ke sana. 

Ingat, jangan sampai karena merasa tak enak pada teman, lantas kamu mengabaikan kesehatan. Kalau memang masih belum bisa pergi tak apa jika kamu beristirahat di rumah. Pulihkan tenaga dan beritahu apa yang terjadi atas dirimu setelah pestanya selesai. Teman yang baik pasti bisa memahami.  

Dirimu Tak Merasa Begitu dekat dengan Mereka 

Yap, ini jadi dilema yang kadang membuat kita bertanya-tanya. Mungkin kita hanya bertemu sekali dengannya, walau sudah saling kenal, namun rasanya tetap tak dekat. Anehnya, mereka mungkin sebaliknya. Merasa dekat dengan kita lantas memberi undangan ke pesta pernikahannya. 

Memang sih tak ada yang salah, toh itu hak mereka mau mengundang siapa saja. Namun, untuk kita berhak untuk memutuskan, akan pergi atau tidak. Kalaupun akhirnya kamu tak pergi, itu bukanlah masalah yang besar. Karena sebenarnya dirimu memang merasa tak benar-benar dekat dengan mereka. 

Kondisi Cuaca atau Bencana, Tak Memungkinkan Kamu untuk Pergi ke Pestanya 

Tanpa di duga, temanmu mungkin menggelar pesta di musim penghujan atau adanya bencana lain yang terjadi tanpa diduga. Kalau pergi dengan menerobos hujan, takutnya kamu malah jatuh sakit dan tak nyaman selama di pesta. Begitu pula dengan bencana yang mungkin baru saja terjadi di sekitar tempat tinggalmu yang jadi penyebab kamu tak bisa keluar rumah. 

Asal kamu berinisiatif untuk memberi tahu teman yang sedang menggelar pesta, sebelum atau sesudah pestanya usai, tentu mereka akan paham kondisinya. Lagipula alasanmu sangat masuk akal, jadi tak perlu merasa tak enak ya. 

Atau Ada Pekerjaan yang Benar-benar Tak Bisa Ditinggalkan

Biasanya beberapa teman akan menggelar pesta pernikahannya di akhir pekan karena sebagian besar orang akan libur dan tak bekerja di hari itu. Sialnnya, tak semua orang bisa merasakan hari libur di akhir pekan. Karena beberapa orang masih tetap harus bekerja di sabtu dan minggu. Belum lagi jika pekerjaan tersebut harus diselesaikan secepatnya, sehingga tak memungkinkan jika kamu akan pergi ke pestanya. 

Kehadiran teman dan sahabat dalam sebuah pernikahan memang memiliki peran yang sangat penting. Merasa bahagia bisa melihat kawan menikah pun membuat kita turut serta diliputi bahagia. Tapi jika memang ada faktor yang tak memungkinkan kita untuk ikut di perayaan hari bahagia mereka, rasanya tak apa. Selama itu adalah sesuatu yang benar, mereka akan memahaminya dengan baik. Lain hal jika kamu memang tak ingin pergi dan memalsukan alasan. Itu sih urusanmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top