Feature

Surat dariku, Perempuan Beda Suku yang Katanya Ingin Kamu Nikahi Tanpa Mengikuti Tradisi

Sebelum lebih jauh bercerita, aku ingin bilang “Terimakasih” untuk semuanya. Bersamamu selama tiga tahun terakhir, jelas bukanlah sesuatu yang mudah. Ada banyak perkara yang pernah (hampir) membuat kita menyerah. Tapi selalu berhasil dilalui bersama.

Barangkali kamu sedang duduk bersantai di teras rumah, lalu mendapati tulisan ini di sosial media. Bukan, aku bukan sedang ingin memojokkan kekasih tercinta. Tapi nampaknya ada beberapa hal yang dulu jadi perjanjian dalam hubungan, samar mulai kau lupakan.

“Kita berbeda, banyak yang perlu disamakan nantinya”

Jadi ketakutakan yang dulu aku ajukan, kala dirinya memintaku menjadi pacar. Datang sebagai sosok yang terlihat bak pahlawan, dengan mantap kau memberi jawaban, berisi kesanggupan yang kelak akan dihadangkan untuk kelanjutan hubungan.

Niat Menikah yang Kau Ajukan, Jelas Membuatku Bahagia Bukan Kepalang

Serupa dengan perempuan lain, diriku pun jelas bahagia mendengar keinginan yang kau sampaikan. Seolah terbebas dari satu beban yang selama ini banyak ditanyakan orang. Aku tak lagi risau dengan kejelasan hubungan. Bahkan bayang-bayang aku akan dirias dengan penampilan yang menawan, mulai gemar aku pikirkan.

Beberapa kali aku berusaha untuk terus meyakinkan diri, bahwa kamu memang adalah sosok yang kucari. Hal lain yang lebih membuat aku bahagia, perubahan sikap yang juga kau tunjukkan setelah ajakan menikah. Mungkin benar kata orang, tak ada yang lebih bahagia dari diajak menikah oleh orang yang kita cinta. Sebab itulah yang kurasa.

Pelan-pelan Kau Mulai Terbuka, Berapa Banyak Rupiah yang Sudah Berhasil Terkumpul Untuk Pagelaran Pesta

Sadar jika pesta pernikahan butuh biaya yang tak sedikit. Pelan-pelan semua keperluan masuk dalam list persiapan. Kamu tak lagi bepergian sesering dulu, porsi untuk makan-makan bersama teman yang mulai dikurangi, hingga perubahan lain yang juga bisa aku saksikan sendiri.

Kalau boleh jujur, babak ini jadi bagian yang semakin menguatkan rasa percayaku pada sosok kekasih yang ada dihadapanku. Melihat sendiri, bagaimana kamu berusaha untuk pesta pernikahan yang kelak akan mengesahkan hubungan kita. Tak dinilai oleh semua orang, tapi kerja kerasmu selalu jadi sesuatu yang akan terkenang. Ya, setidaknya itu yang kurassakan kemarin sayang.

Serupa denganmu, Sesunggunya Akupun Tak Suka Menghamburkan Uang Demi Terlihat Mewah

Tak jauh berbeda dari sosok perempuan yang selama ini kau sayangi, sikapku terhadap pernikahan dan pestanya, masih serupa. Tak ingin terikut-ikut oleh mereka yang menggelar pernikahan dengan berbagai macam kemewahan, kupikir kita hanya perlu melegalkan hubungan dengan cara sederhana yang kan membuat semua keluarga bahagia. Dengan catatan, adat dan tradisi keluarga akan tetap kita ikuti sebagai bentuk cinta pada budaya.

Sejak dulu Sudah Jelas Kupaparkan, Bahwa Hubungan Kita Memang Akan Terhalang Oleh Sesuatu yang Diberi Nama “Adat”

Tadinya aku berharap kamu sudah paham, tak lagi menjadikan perbedaan jadi penghalang atau berpikir jika ini jadi sesuatu yang menyusahkan hubungan. Seolah berubah haluan, pelan-pelan ada beberapa sikap yang datang sebagai momok untuk kelangsungan hubungan. Tak perlulah, bersuara untuk menilai jika tradisi atau adat dari masing-masing kita jadi sesuatu yang paling benar atau tidak. Bukankah sedari dulu, kamu juga sudah paham.

Meski tak akan mengikuti adat dari asalku, kitapun harus tetap membayarnya untuk tetap bisa melangsungkan pernikahan yang kita minta. Sikap yang kamu tunjukkan sungguh diluar perkiraan, bahkan terlihat bukan seperti kamu yang aku kenal.

Tak Pernah Mau Mencoba Memahami, Responmu Akhir-akhir Ini Justru Kian Melukai Hati

Kupikir bisa terbuka dan saling memahami adalah sikap yang perlu kita berdua miliki. Sebab, komitmen untuk hubungan yang lebih serius, haruslah memiliki pondasi kuat. Mana bisa bertahan, jika masih sering berselisih paham? pada beberapa obrolan dan pertemuan kita, diriku sudah bersusah payah selalu menahan rasa lelah. Memberimu gambaran untuk apa yang akan dihadapkan pada hubungan. Hingga menjelaskan semua detail tata cara pelaksanaan.

Barangkali, kamu berpikir bahwa setiap perempuan yang sudah tak tinggal di kampung halamannya akan lupa tentang bagaimana budaya yang melekat pada dirinya. Tapi sayang, aku bukanlah sosok yang seperti itu. Untuk itulah aku selalu berupaya untuk membantumu memahami budayaku. Hal lain yang kemudian membuatku kecewa adalah, respon darimu yang justru semakin memperkeruh suasana. Menganggu kepercayaanku, hingga pelan-pelan mengubah keputusanku.

Aku Jelas Tak Akan Memaksa, Tapi Tak Juga Melupakan Tradisi dalam Keluarga

Kamu jelas tahu, bagaimana aku. Selalu tak suka dipaksa dan tak suka memaksa. Itulah sebabnya, sejak awal hubungan kita. Aku selalu menawarkan jalan tengah untuk semua kelanjutan hubungan kita. Seolah tak merasa terbebani oleh semua yang ada, dengan mantap kamu justru berkata. Jika kita akan tetap mengikuti tradisiku saja. Jadi, bukan salahku jika akhirnya keputusan itu, aku sampaikan pada bapak dan ibu di rumah.

Semua keluarga dan sanak famili sudah tahu, bahkan mereka ikut bahagia untuk berita yang kita sampaikan beberapa bulan lalu. Tapi, jika akhinya kamu selalu menolak dan berkata bahwa apa yang harus kita jalani ini adalah sesuatu yang membebankan, bagaimana aku bisa menjawab jika ada pertanyaan?

Lalu, Kemanakah Kita Selanjutnya?

Tradisi dan adat, masih jadi sesuatu yang masih kuat melekat dalam diri. Demi memudahkan kita, aku dan keluarga sudah membantu untuk menyederhanakan semua prosesi, begitu pula dengan nominal rupiah yang tadinya mesti kita keluarkan demi pesta. Bukannya membantuku untuk bisa terus berjalan beriringan, pandanganmu pada tradisi yang akan kita jalankan malah jadi sesuatu yang terlihat meremehkan. Berpikir jika aku terlalu melebih-lebihkan, hingga perkataan lain yang sungguh seharusnya tak layak untuk kudengar.

Lelah dan tak tahu harus berbuat apa, jadi dua hal yang pergulatan didalam kepala. Tak bisa menyudahi hubungan begitu saja, tapi juga tak bisa menanggalkan semua prosesi yang memang harus dijalankan. Lalu kemanakah hubungan ini akan berjalan?

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top