Feature

Aku Bukan Pengangguran, Cuma Tidak Ada Kantor. Aku Freelancer!

Buat sebagian orang bekerja lepas alias menjadi freelancer itu seperti mimpi jadi kenyataan. Menjadi bos terhadap diri sendiri, jam kerja yang diatur sendiri, kesuksesan tak bergantung dari siapa pun selain diri sendiri. Terdengar utopis bagi mereka yang masih bekerja rutin di kantor.

Benar seindah itu? Bisa saja benar! Tapi layaknya sendi kehidupan yang lain, bekerja freelance juga ada kadang suka kadang duka. Hanya para freelancer full time yang memahami ini.

Tak bergabung dengan Kantor Manapun Berakibat Sering Dituduh Pengangguran

nasehat

Tak semua orang melek pekerja lepas. Apalagi para orang tua yang masih punya anggapan bahwa bekerja itu haruslah masuk kantor jam 9 dan pulang jam 5. Coba saja jelaskan pada calon mertua, kalau kamu itu bekerja lepas. Niscaya, kamu kesulitan bertemu lagi dengan kekasih pujaan keesokan harinya. Yup, tidak bekerja di kantor memang kerap disamakan dengan pengangguran.

Tidak Punya bos? Kadang (sering) klien itu lebih bossy dari bos beneran loh

marah

“Enak ya gak punya bos, gak ada yang perintah-perintah”

Itu komentar paling umum yang diterima para pekerja lepas. Padahal hal ini tidak sepenuhnya benar. Bekerja freelance berarti bertanggung jawab kepada klien. Dan ketika dalam kantor atasan kita bisa jadi hanya supervisor atau manajer. Ruang lingkupnya hanya di satu divisi.

Berbeda ketika menjadi freelancer. Klien itu sama dengan bos, sama dengan HRD, sama dengan orang keuangan. Jadi bayangkan kamu harus mempertanggung jawabkan pekerjaan kepada orang yang menjadi atasanmu sekaligus yang bisa memecatmu dan juga yang menggaji langsung dirimu. Itu lebih daripada bos biasa.

Gajinya Tak Berbatas Macam Pegawai! Iya Juga Tak Berbatas Bawah

dompet

Betul penghasilan seorang pekerja lepas tak seperti pegawai yang sudah ditetapkan menerima sekian angka setiap bulannya. Tapi perlu diingat freelancer itu menerima bayaran hanya ketika dapat project alias ketika ia bekerja.

Waktu pembayaran pun bervariasi. Ada yang setiap minggu, setiap bulan, ketika proyek selesai. Tapi tak sedikit yang dibayar dalam tempo mundur ke belakang. Bisa dua atau tiga bulan setelah proyek selesai. Jadi ya memang tak berbatas penghasilan pekerja lepas itu, tapi berarti pula bisa di batas paling bawah alias tak punya uang.

Enak Betul Tak Perlu Ke Kantor! Benarkah?

montir

Seorang freelancer bebas mengerjakan pekerjaannya dimana pun kamu suka. Terkadang pergi ke sebuah kafe untuk dapat menikmati wi-fi gratis sambil minum secangkir kopi. Namun ada kalanya saat kamu terlanjur datang ke kafe dan memesan secangkir kopi yang bertarif lumayan mahal dengan satu porsi makanan, wi-fi tidak tersambung di laptopmu. Bahkan kamu tak bisa menggunakan laptopmu karena tidak ada colokan untuk mencharge.

Bekerja di rumah juga bisa jadi malah tak produktif. Siapa sih yang bisa rajin bekerjaa kalau kasur selalu memanggil-manggil dari kamar tidur. Karena itu tempat kerja ini sering kali jadi masalah.

Kata Siapa Pekerja Lepas Bisa Libur Kapan Saja?

bijak menulis

Tidak ada kepastian liburan untuk para freelancer. Kamu akan bekerja saat ada job. Kapan pun job itu kamu terima, kamu harus secepat mungkin menyelesaikannya. Sehingga terkadang saat diadakan liburan bersama keluarga, seringkali kamu harus menetap di rumah dan menyelesaikan pekerjaannya. Mengucapkan selamat tinggal pada liburan bersama sering kamu lakukan.

Jarang berkomunikasi dengan orang lain

menyerah

Dengan menjadi freelancer, dimana pun kamu berada, kamu dapat tetap bekerja dan menghasilkan rupiah. Kamu akan tahu betapa bernilainya waktu. Karena itulah kamu akan jarang mengobrol dengan semua orang sepanjang hari. Hal itu karena kamu sibuk dengan urusanmu sendiri. Saat suatu hari kamu bertemu dengan orang di sekelilingmu, terkadang kamu merasa merugi karena terlalu banyak menghabiskan waktumu sendirian bersama pekerjaanmu. Karena jarangnya komunikasi yang dilakukan, terkadang kamu akan merasa canggung dalam berkomunikasi.

Berteman dengan kebosanan dan kesibukan

menunda pekerjaan

Pekerjaan yang ada untuk para freelancer tidak tentu. Terkadang saat tidak ada pekerjaan yang dikerjakan kamu akan merasa bosan. Kamu akan berusaha menghabiskan waktumu dengan sebaik mungkin. Bisa dengan menonton film atau berjalan-jalan ke suatu tempat. Tapi saat pekerjaan datang dalam jumlah yang sangat banyak, terkadang kamu merasa kewalahan untuk mengerjakannya.

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dilema Memilih Tempat Kerja : Suasana yang Nyaman atau yang Bergaji Besar?

Untuk kamu yang baru saja lulus, kesulitan memilih tempat kerja bisa jadi dilema. Ingin memilih tempat kerja yang nyaman atau yang menawarkan gaji besar. Tapi tak hanya dirasakan oleh para fresh gradute saja, karyawan yang sudah lama bekerja pun sering bimbang. Sudah merasa nyaman di tempat kerja yang sekarang, tapi juga butuh tambahan penghasilan demi masa depan.

Suasana seperti ini, sering mengacau pikiran. Bahkan sering menjebak kita dan tak bisa menentukan, mana yang baiknya dipilih. Nah, sebelum menentukan pilihan yang mungkin bisa jadi terbaik untukmu. Ada untung-rugi yang harus kamu pahami terlebih dahulu, dari pekerjaan nyaman atau yang bergaji besar.

Bekerja Nyaman Bisa Mengurangi Tekanan dan Berpeluang Mengambil Pekerjaan Sampingan

Jika kamu kebetulan berhasil masuk ke dalam perusahaan besar yang sudah mapan. Biasanya perusahan tidak memberi tekanan yang besar pada karyawan. Sebaliknya, kamu bisa bekerja dengan nyaman dan suasana yang juga jauh dari kata stres.

Selain itu, karena teknan yang ada tak begitu besar. Tempat bekerja seperti ini biasa memberimu waktu luang yang lebih besar. Sehingga kamu bisa memanfaatkannya untuk melakukan kegiatan atau pekerjan lain yang mungkin bisa jadi sumber penghasilan. Memulai bisnis di rumah atau membuka online shop, misalnya.

Tapi Dampak Buruknya Bisa Membuatmu Malas, Kurang Profesional dan Takut Akan Tantangan

Pola yang sudah lama terpatri atas orang-orang yang terlalu nyaman di pekerjaannya sekarang adalah susah keluar untuk memulai pekerjaan lain. Lagipula situasi sekarang ini sudah cukup nyaman, kalau harus keluar belum tentu bisa menemukan yang nyamannya sama. Begitu kira-kira gambarannya.

Padahal ini adalah sebuah pola pikir yang salah. Karena biar bagaimana pun, pandangan seperti ini akan membuat kita menutup diri pada hal-hal lain. Merasa tak sanggup untuk mengikuti tantangan, hanya karena tak siap untuk berkompetisi dengan orang luar.

Selain itu, aturan yang fleksibel di tempat kerja yang nyaman juga banyak membentuk watak buruk bagi karyawan. Karena tak ada larangan yang begitu keras, kamu bisa saja berubah jadi orang yang sembrono. Telat membuat laporan, hingga datang terlambat setiap ada meeting bulanan. Ya, kamu tak profesional.

Akan Tetapi Jika Gajinya Lebih Besar Mampu Menjamin Finansial dan Membuatmu Kian Profesional

Untuk situasi ini, keuntungan dari segi finansial jelas jadi kelebihan yang wajib disyukuri. Biar bagaimana pun, pundi-pundi harus tetap terisi. Nominal pendapatan yang bertambah, setidaknya akan membantu kita memenuhi kebutuhan harian pada tingkat yang lebih baik. Syukur-syukur bisa menyisihkan jumlah tabungan yang lebih besar untuk masa depan.

Tapi jangan buru-buru senang dulu, karena jika gaji yang ditawarkan memang lebih besar. Ada kemampuan yang seimbang yang harusnya kita bayarkan. Tekanan yang datang untuk capaian pendapatan yang telah ditentukan akhirnya merubahmu jadi sosok yang mampu berkompetisi dengan baik. Karena mau tak mau kamu harus bergerak untuk mencapai targetmu, yang sebenarnya juga baik untuk mengembangan karir dan membuatmu kian profesional.

Namun Sialnya Kamu Jadi Mudah Stres Karena Tekanan yang Lebih Besar dengan Waktu Luang yang Terbatas

Yap, dituntut untuk mencapai target yang ditentukan, terpaksa membuat kita berjuang keras untuk terus bekerja. Beberapa hal yang akan terasa kian dekat, tentu saja stres kalau-kalau targetnya masih belum kesampaian juga. Selain itu, waktu untuk bisa beristirahat meski sekedar beleha-leha sebentar. Akan hilang, diganti dengan konsentrasi untuk mengurus pekerjaan.

Bahkan kalau bisa, seluruh waktu yang ada dalam hidupmu akan kamu serahkan untuk terus fokus bekerja sampai apa yang sudah ditentukan perusahaan bisa di dapat dengan cepat. Gajinya memang besar, tapi setara dengan itu tingkat stres yang kamu dapat juga kian besar.

Lalu, Kemana Pilihanmu Akan Jatuh?

Sesungguhnya, ini bukanlah pilihan yang sulit. Karena kamu hanya butuh mencari apa yang sebenarnya kamu butuhkan. Sembari menemukan jawaban, kamu pun perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan lain yang nantinya akan dirasakan.

Jika kamu memilih untuk berada pada zona kerja yang nyaman, mungkin penghasilan yang akan kamu dapatkan lebih sedikit. Dan begitu sebaliknya, jika kamu memilih untuk berada  pada tempat kerja yang bergaji besar. Cobalah bersiap untuk tekanan besar serta waktu luan yang mulai terbatas.

Tanyakan pada dirimu sendiri, mana pilihan yang sesungguhnya kamu cari. Sembari menyiapkan kemampuan, untuk resiko yang juga akan diemban.

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kantor yang Bebas Berpakaian, Tak Berarti Kamu Boleh Datang dengan Pakaian Rumahan

Di era sekarang sebuah kantor atau perusahaan tidak lagi menekankan karyawannya harus memakai office look. Meskipun tidak semua, tapi beberapa start up telah melakukan kebijakan ini. Apalagi kantor-kantor di bidang kreatif. Pasalnya, ada yang berujar bahwa berpakaian rapih saat ke kantor adalah suatu tekanan. Entah bisa dibenarkan atau tidak, yang jelas generasi milenial sangat senang mendapatkan kantor bebas berpakaian.

Perlu diketahui ketika diberikan kebebasan, bukan berarti datang dengan berpakaian semaunya dan seenaknya. Meskipun bebas, kamu juga mesti tahu aturan. Pada dasarnya aturan tersebut mengacu kepada etika, karena tak mungkin kamu hanya memakai kaus kutang dan celana pendek ke kantor kan? selain tidak enak dipandang, itu sama saja kamu telah menyepelekan tempat kamu bekerja.

Setidaknya bebas berpakaian adalah minimal kamu mengenakan T-shirt dan jeans ke kantor. Dan pastikan kamu tidak berpakaian seperti ini saat berangkat ke kantor ya.

Bebas Tapi Sopan, Jangan Memakai Pakaian Rumahan

Mungkin kamu memiliki kaus kesayangan yang sampai belel pun kamu tetap nyaman memakainya. Tapi, nyaman buatmu belum tentu nyaman di mata orang lain. Pakaian yang seperti itu sebaiknya kamu kenakan saat di rumah, bukan berangkat ke kantor. Meskipun bebas berpakaian bukan berarti tidak ada aturan lho. Kamu harus kenakan pakaian yang setidaknya enak dipandang.

Memakai Pakaian yang Kusut

Tentu penampilan dapat menopang mood seseorang dalam bekerja. Tidak bagusnya penampilan pasti akan menganggu konsenstrasi saat di kantor. Terutama saat kamu mendapatkan komentar dari karyawan lain, atau melihat seseorang yang melihatmu secara tidak enak. Untuk itu perhatikan pakaianm.

Apalagi jika menggunakan pakaian kusut, jelas sangatlah tidak enak dipandang. Sebisa mungkin kamu harus membawa pakaian ganti untuk mengganti pakaianmu yang kusut. Apalagi kalau kamu ke kantor naik angkutan umum.

Memakai Pakaian yang Sudah Dipakai di Hari Sebelumnya

Mungkin kamu memiliki sikap yang terlalu cuek soal pakaian. Apalagi mengetahui kalau kantor kamu adalah kantor yang bebas berpakaian. Secuek-cueknya kamu dengan penampilan, tak semestinya juga kamu memakai pakaian yang sudah dipakai di hari sebelumnya. Jangan heran kalau kamu mendapatkan cap jorok dari teman-teman kantor lantaran pakaianmu tidak diganti-ganti.

Jangan Sampai Memakai Sandal Ke Kantor Karena Tidak Etis

Dalam suatu kondisi seperti hujan, kamu mungkin bisa memakai sandal ke kantor karena sepatumu kebasahan atau semacamnya. Tetapi di luar dari kondisi tersebut, memakai sandal ke kantor sangatlah tidak etis. Apalagi kalau dilihat teman kerja dan bosmu, otomatis kamu akan dipandang berbeda. Lain kasusnya apabila bos dan teman kantor memang memperbolehkan memakai sandal.

Mengenakan Piyama Saat Bekerja

Lebih kacau lagi kalau kamu mengenakan piyama saat bekerja. Jelas saja itu sudah salah, karena piyama adalah pakaian untuk beristirahat bukan bekerja. Kamu bisa mengenakan piyama ke kantor apabila saat itu sedang ada pesta kostum atau semacamnya. Karena kami yakin sebebas apapun kantormu pasti tidak srek apabila melihat seseorang mengenakan piyama saat bekerja.

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pertama dalam Sejarah APBN, Penerimaan Negara Tembus 100%

Sehari sebelum perayaan Tahun Baru 2019 kemarin, Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani Indrawati mengumumkan penerimaan negara 2018 mencapai 100%.  Belia juga mengatakan jika capaian tersebut adalah yang pertama kali dalam sejarah APBN.

Sri Mulyani menjelaskan, pemerintah meraup penerimaan sebesar Rp 1.894,72 triliun atau 100% dari target APBN 2018. Dan adapun sumbernya antara lain dari perpajakan, yakni pajak dan bea cukai, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan hibah.

“Pada tahun ini untuk pertama kalinya Kementerian Keuangan tidak mengundang-undangkan APBN Perubahan dan tahun 2018 ditutup dengan Penerimaan Negara sebesar 100%,” kata Sri Mulyani dalam keterangannya di Jakarta, Senin (31/12/2018), sebagaimana dikutip dari detik.com. 

Dan, kabarnya hasil dari pencapaian ini akan dilaporkan oleh Sri Mulyani kepada Presiden Joko Widodo, hari ini Selasa (1/1/2019).

3 Comments

3 Comments

  1. aya slavina

    January 7, 2016 at 11:17 pm

    ohh pemilik blog ini cewek tohh, wkwkwk maap mbak dina kukira gobagi cowok ehehhe. Saya juga freelancer, dannn bahagiaaa ;D

  2. meii

    February 6, 2016 at 10:05 pm

    oMG…… ini gue banget….

    berjuang untuk kebahagian orang jamak, menelan segala duka yang ada… hikks

  3. ari

    February 22, 2016 at 8:25 pm

    Batas bawah keuangan buat freelancer memang bisa seperti sebuah lubang besar ya Mba, kadang bisa ketutup..kadang ngebuka lagi..hihihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top