Feature

Sudah Sarapan? Pura-pura Bahagia Itu Butuh Energi loh!

Kamu mungkin menganggapku nyinyir ketika mengatakan hal tersebut kepadamu. Mungkin juga kamu menuduhku cemburu atas bahagiamu yang sering kamu tunjukan dan pamerkan itu. Tapi sesungguhnya tidak, aku mengatakannya karena perduli kepadamu.

Boleh kamu tak percaya aku, tapi penelitian Svend Brinkmann dari Aalborg University mengungkapkan betapa berbahayanya ketika seseorang mencoba dan memaksa dirinya bahagia setiap waktu. Karena menurut penelitian ini, hidup manusia itu memang berwarna. Termasuk ada susah-mudah, senang-sedih dan emosi lainnya yang beragam.

Jadi ketika kamu terus menerus berusaha menunjukan kamu bahagia, bisa jadi emosimu menjadi mati. Kamu jadi tak terbiasa merespon situasi dengan apa adanya. Lama-lama kamu akan menjadi pribadi yang tak bisa menerima kenyataan. Dan itu butuh energi yang banyak.

 

Di satu Sisi Aku Kasihan Padamu, Karena Memakai Topeng Kebahagian Adalah Sebuah Beban

Masih tak mau jadi seseorang yang tak berperasaan, kali ini aku tahu apa yang mungkin sedang kamu rasakan. Tapi anehnya kamu masih saja mengelak dan tak mau mengakuinya. Dan bertahan menjadi pihak yang paling bahagia dari semua manusia yang ada.

Tek perlu mengguruiku, aku bisa melihat beberapa butir kesedihan yang sedang kau coba tutupi dari pupil matamu. Sebagaimana kemampuan yang kerap memberiku beberapa petuah nasehat untuk hidup yang lebih baik. Harusnya kau juga bisa melakukannya pada cerita perjalananmu.

Cobalah tanggalkan semua hal bohong yang saat ini mungkin kamu gunakan. Jika ternyata tak membuatmu merasa hidupmu lebih baik dari sebelumnya. Apa gunakanya terus bertahan pada pemahaman yang salah?

 

Kau Mungkin Dikagumi Sebab Terlihat Bahagia Sepanjang Hari, Namun Jika Tak Berarti Untuk Apa Membohongi Diri?

Selain bijak dalam hal menyampaikan beberapa tetuah, kau ini adalah orang yang lihai menipu dari penampilan. Dalam artian, meski ditengah-tengah suasana hati yang tak baik sekalipun kau masih bisa melempar senyum tanpa merasa jika itu adalah beban.

Manipulasi yang kau lakukan cukup apik sebab tak meninggalkan bekas yang besar. Bahkan beberapa orang lain, tak akan habis pikir jika semua hal yang selama ini kau perlihatkan adalah bohong dan tak benar.

Bak perahu yang sedang melaju, kau terlihat gagah dan kokoh mengarungi lautan luas tapi sedikit saja orang-orang mengalihkan pandangannya. Kau bisa hanyut dan terjatuh akibar kerusakan yang ada. Perbaiki hidupmu, sebab itu akan jauh lebih membantu.

 

Benahi Semuanya dengan Mulai Jujur dengan Segala yang Kau Punya

Bangkit dan lawan, jadi sesuatu yang memang kau butuhkan. Barangkali semua yang terjadi memang telah digariskan, jadi cobalah untuk nikmati. Tak perlu merasa hidupmu paling nelangsa, asal kau bisa memahaminya. Rasanya itu tak akan menjadi sebuah masalah. Konon Tuhan pun enggan, jika kita tak mau berusaha atau malah lari dan berpura-pura bahagia.

Tinggalkan zona bahagia bohong yang kau ciptakan. Mulailah menjalani hidup sesuai dengan kenyataan. Tak dibuat-buat dan apa adanya. Sebab ini akan membuatmu jauh lebih baik dari sebelumnya.

 

Tanggalkan Semua Topengmu, dan Cintai Diri Sendiri dan Ceritamu

Sebab bahagia dan cerita senang lain tak akan kau raih sebelum mencintai diri sendiri. Sosok yang selalu berada pada setiap keputusan yang kau buat, pada setiap pemikiran yang sedang kau bayangkan hingga pada hal-hal lain yang akan menyelamatkanmu dari berbagai hal. Jadi satu-satunya pihak yang harus lebih dulu kau cintai, ya ia adalah diri sendiri.

Barangkali selama ini, kamu terlalu sibuk untuk terlihat bahagia dan tersenyum dihadapan semua orang. Dan lupa bahwa dirimu sendiri juga butuh dicintai. Bukan oleh orang lain, tapi oleh diri sendiri.

 

Saat Ini Kamu Bisa Bertahan dalam Bahagia Bohong yang Kau Rancang, Tapi…

Itu berarti kamu sedang memupuk ladang sakit hati yang nanti akan menyerangmu sendiri. Segala kehampaan hidup yang sembunyikan dalam tawa, dan rasa dendam yang tak membuat bahagia kau balut dalam senyum yang lebih mirip tanda tanya. Lalu apakah dengan begitu kau akan merasa tenang? Tentu tidak!

Hal lain yang justru menghantuimu adalah kecemasan akan hal-hal yang selama ini mungkin kamu takutkan. Takut ketahuan bahwa kamu sedang berbohong, takut ketahuan bahwa selama ini kau sedang berpura-pura terlihat tenang.

 

Karena Lelap dalam Kepura-puraan Hanya Membuatmu Menyakiti Diri Sendiri

Dan tak hanya itu saja, kamu juga telah menghabiskan waktu untuk hal yang sebenarnya tentu tak berguna. Lagipula mereka yang berada disekelilingmu juga tak akan mempermasalahkan derita yang mungkin sedang kau emban. Tapi berlaku jadi manusia paling benar dan merasa bahagia, namun tak nyata. Tentu membuatmu dinilaia negatif oleh mereka.

Tatkala semua sedih datang menghampiri, kau hanya butuh menangis jika memang tak kuat. Berdiam diri jika memang masih belum bisa bangkit. Tak perlu tutupi sedihmu dengan hal-hal baik yang sebenarnya justru menyakitimu.

 

Dan Bukan Asal Bicara, Aku Berkata Seperti Itu Karena Ku Tahu Kau Tak Sedang Bahagia

Yap, semua hal yang sedari tadi kau baca, adalah bentuk perhatian yang bisa aku berikan padamu. Tak banyak memang, hanya sekedar pengingat agar kau tak lagi berbuat yang bukan-bukan.

Manipulasi bahagia yang kau tunjukkan memang terlihat menyenangkan. Tapi bagaimana rasanya kamu tentu tahu. Tak perlu jelaskan padaku, sebab aku hanya ingin menyadarkanmu. Berhenti dari cerita bohongmu, dan mulailah menjalani hidupmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Terlalu Lama Menjomblo, Membuat Kamu Kian Dekat dengan Hal-hal Ini!

“Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asyik sendiri”

Mungkin lirik lagu tersebut sangat cocok untukmu yang sudah lama menghabiskan waktumu seorang diri. Terlalu lama menjomblo ternyata juga tak baik loh untukmu. Terlebih jika akhirnya kamu sudah benar-benar terbiasa dan asyik dengan kesendirianmu itu. Bahkan nih, dari  hasil beberapa penelitian. Sendiri kelamaan, bisa memicu kematian. Untuk itulah, kamu disarankan segera mencari pacar.

Akan tetapi, sebelum beranjak untuk menebarkan pesonamu. Kami ingin mengajakmu menyadari beberapa hal yang selama ini kamu alami. Iya, kamu alami selama sendiri tanpa kekasih.

1. Merasa Kaku Saat Berkenalan dengan Orang Baru

Karena kamu sudah terlalu lama sendiri, akhirnya kamu pun tak terbiasa dengan kehadiran orang baru dalam kehidupanmu. Kamu pun akan terkesan canggung saat bertemu dengan orang baru. Akhirnya akan sulit untuk orang lain mendekat padamu karena tidak nyaman dengan sikap canggungmu itu.

Bukan tak mau membuka diri, hanya saja ada sedikit keraguan yang masih menghiasi pikiran. Semacam pertanyaan kurang percaya diri, karena sudah lama menyendiri.

2. Banyak Temanmu yang Akhirnya Menyerah untuk Mencarikanmu Pendamping

Temanmu pun ingin melihatmu memiliki pendamping. Mereka berusaha mengenalkanmu dengan kenalannya dengan maksud siapa tahu dia bisa cocok denganmu. Namun karena sikapmu yang cenderung cuek, akhirnya teman-temanmu pun menyerah untuk mencarikanmu pendamping. Bahkan setelah upaya  yang mereka perbuat, tak sedikit pula yang akhirnya merasa kesal padamu.

“Lu maunya pacar yang kaya gimana sih?” 

Sering mendengar kalimat ini? Ya, kadang kamu merasa terharu pada teman-teman yang sibuk mencarikanmu pacar baru. Namun juga sering merasa lucu, kenapa mereka sesibuk itu. Karena bisa jadi kamu sendiri masih menunggu dan tak mau terburu-buru.

3. Padahal Kamu Merasa Bahwa Cinta Bukanlah Hal yang Penting untuk Dipikirkan

Kondisi kesendirianmu yang sudah terlalu lama akhirnya juga memengaruhi pola pikirmu pada makna cinta itu sendiri. Kamu mulai merasa bahwa cinta bukanlah suatu hal penting untuk kamu pikirkan. Ada hal penting lain yang harus lebih dulu kamu dahulukan dibandingkan hanya untuk sebuah cinta. Dan barangkali inilah sebabnya, mengapa kamu masih betah sendiri sampai sekarang.

4. Bisa Jadi, Kamu Merasa Jauh Lebih Baik Saat Sendiri

  

Bisa dibilang kamu sudah cukup nyaman dengan kesendirianmu. Kamu justru tak tertarik meskipun melihat banyak temanmu yang selalu bersama dengan pasangannya. Kamu cenderung asyik dengan duniamu sendiri. Menikmati hobi dan belajar hal baru lebih banyak lagi. Selalu  jadi sesuatu yang lebih menyenangkan daripada harus buru-buru mencari pacar. Walau pada beberapa orang, ini hanyalah sebuah alasan atas ketidakmampuan. Upss…

5. Kamu Sudah Kebal dengan Komentar dan Pertanyaan Orang Terkait Status Single-mu

Mungkin di awal kamu sempat memikirkannya. Namun karena kamu sudah cukup lama sendiri dan menikmati kesendirian itu, akhirnya kamu pun mulai kebal dengan banyaknya komentar dan pertanyaan orang lain terkait dengan statusmu yang masih saja sendiri sampai saat ini.

Jadi pertanyaan semacam “Sendiri mulu, berduanya kapan?”, tak lagi jadi sesuatu yang menyinggung perasaan. Ini lebih terdengar jadi sebuah basa-basi dalam membuka obrolan. Ya, walau kadang-kadang ada juga yang merasa jadi beban. Tergantung bagaimana kamu menyikapinya.

6. Setiap Kali Ada yang Mendekati, Ada Serangkaian Cerita yang Sudah Kamu Persiapkan

Padahal kamu belum tahu pasti. Namun saat ada orang yang mendekatimu kamu akan dilanda kecemasan dan kepanikan. Kamu mulai berpikir keras akan tujuannya mendekatimu, ingin sekedar bermain-main atau benar-benar ingin serius. Hingga akhhirnya, ketakutakan dan kekhawatiran itu membawamu pada keputusan, akan hal-hal yang ingin dilakukan.

Kamu mulai berandai-andai, jika si dia nanti akan melakukan sesuatu apa yang perlu kamu persiapkan untuk merespon tindakannya itu. Sering membuatmu cemas tak karuan, tapi setidaknya kamu merasa tenang jika ada sesuatu yang sudah dipersiapkan.

7. Kamu Menciptakan Tembok yang Semakin Tinggi Karena Keinginanmu untuk Melindungi Diri

Tujuanmu memang ingin melindungi dirimu. Namun tanpa kamu sadari, lambat laun justru tembok yang kamu bangun untuk berlindung semakin tinggi. Akhirnya akan sulit untuk seseorang bisa mejangkau tempatmu berada. Nah, untuk yang satu ini tak selalu sepenuhnya salah. Biar bagaimanapun ini adalah upaya perlindungan untuk diri sendiri.

Dengan kata lain, kamu bisa lebih memilah orang-orang seperti apa yang nanti akan berada di dekatmu. Sehingga patah hati atau disakiti yang dulu pernah terjadi, tak akan terulang kembali. Nah, dari beberapa hal yang tadi sudah dijelaskan. Mana yang saat ini sedang kamu rasakan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ketika Hidupnya Lebih Buruk denganmu, Itu Artinya Ia Tak Tercipta Untukmu

Pernah tidak kamu tiba-tiba bepikir, bahwa ada sesuatu yang sepertinya tak beres dalam hubunganmu? Iya, ini bukan tentang kamu tak bisa membuatnya tertawa atau bahagia. Tapi tentang kenyataan lain yang justru jadi tanda tanya.

Coba lihat hidupnya kini, lalu bandingkan dengan hidupnya sebelum kalian bersama. Dulu ia adalah seorang periang, punya banyak teman dan pekerjaan yang lancar. Tapi bersamamu, harinya justru berubah. Menjauh dari temannya, karena memastikan kamu tak kemana-mana jadi yang lebih utama.

Sering khawatir karena cemburu, ketakutan akan kehilangmu menganggu pekerjaan yang ia lakoni. Lantas, sanggupkah kamu terus menerus melihatnya begitu?

Cinta yang Baik Membawanya Kedamaian, Bukan Membuatnya Gusar Tak Berkesudahan

Sikap periang yang dimilikinya, bisa jadi adalah salah satu hal yang membuatnya suka padanya. Tapi, jauh berbeda dari saat pertama jumpa. Akhir-akhir ini ia justru terlihat sering berwajah sendu, karena tak bahagia. Senyum manis yang tadinya sering mengembang, pelan-pelan mulai hilang. Berganti dengan segudang kekhawatiran atas hubungan yang kalian jalankan.

Tak terlihat secara jelas datang darimana sedihnya, yang terlihat hanyalah raut wajah kecewa, takut, serta kerap khawatir untuk berbagai macam alasan. Jika memang begitu, cobalah untuk melepasnya sendiri dulu.

Jauh dari Kata Berkembang, Hidupnya Kian Monoton Setelah Kamu Datang

Rasa sayang harusnya mendorong seseorang untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya terlihat mustahil. Membantunya meningkatkan kemampuan dan kreativitas, dan semua hal baik itu jelas memberi dampak baik untuknya.

Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, itu artinya memang ada sesuatu yang salah. Bandingkan lagi, bagaimana hidupnya ketika kalian tak bersama. Seberapa banyak pencapaian yang ia perbuat dengan seorang diri saja? Dan kenapa ketika sudah bersama ia justru berdiam diri dan tak berbuat apa-apa?

Semangatnya pelan-pelan hilang, dan jika benar begitu sebaiknya kau lepaskan genggamanmu.

Hanya Demi Kamu, Ia Sering Berbohong

Tak jelas apa alasannya, dari seluruh perubahan sikap yang ia tunjukkan. Kebohongan jadi salah satu hal yang paling banyak kau temukan. Mulai dari kebohongan kecil, hingga yang besar. Dari yang menurutmu tak penting untuk ditutupi sampai hal besar lain yang harusnya tak perlu disembunyikan lagi.

Hubungan kalian, kerap kali dijadikan alasan untuk berbohong dan tak ingin membuatmu marah atau kecewa padanya. Tapi asal kamu tahu saja, cinta yang baik merubah sesorang untuk lebih terbuka dan membicarakan semuanya. Jika ia kerap kedapatan berbohong, itu artinya ada sesuatu yang salah.

Tak Lagi Bergairah untuk Melakoni Hal Lain, Hidupnya Seolah Bertumpu Hanya Padamu Saja

Jadi sesuatu yang kadang sulit diterima, perubahan sikap yang ia tunjukkan kadang memang tak masuk akal. Namun itu semua adalah kenyataan yang mau tak mau harus kamu terima. Kamu bisa melihat ia kehilangan semua gairah, tak lagi terlihat hidup melakukan hal yang tadinya ia suka.

Dan kesimpulan yang bisa ditarik dari sikapnya, kemampuan yang tadinya ia bisa perbesar berubah jadi ketidakpastian yang kian kecil. Tak mau berbuat apa-apa tanpa dirinya, baginya kamulah roda pemutar hidup yang ia percaya. Tapi, bukankah cinta harusnya membuat kita kian kuat? Jika dirinya justru melemah, itu artinya bukan cinta.

Lari dari Tanggung Jawab, Ia Berubah Lebih Buruk dari yang Sebelumnya

Yap, coba tengok seseorang yang katamu paling kamu cintai itu. Ingat kembali bagaimana ia dulu menyelesaikan semua pilihan dan menyelesaikannya dengan benar. Lalu masihkah ia bersikap demikian sampai sekarang? Jika ternyata jawabannya adalah tidak. Berarti ada sesuatu yang memang perlu dibenahi dalam hubungan kalian berdua. Dia yang terjebak dan tak bisa memilah perilakunnya, atau sikapmulah yang membuat ia jadi demikian berubah.

Mungkin Bukan Hanya Salahmu Juga, untuk Itu Cobalah Mencari Penyebabnya

Perkara hubungan yang bisab merubah setiap orang. Siapa yang salah jelas sulit untuk ditentukan. Satu pihak bisa saja merasa biasa dan tak berbuat salah, tapi di sisi lain bisa jadi pasangannya mengira dialah penyebab seseorang berubah.

Tak harus buru-buru, coba dilihat pelan-pelan dulu. Pihak manakah yang sekiranya jadi penyebab perubahan diri. Jika memang itu karenamu, belajarlah untuk lebih bijaksana dalam menanggapinya. Lepaskan ia jika ternyata, tak ada bahagia yang ia terima setelah sekian lama bersama. Jujurlah pada dirimu sendiri dengan mengakui bahwa kamu memang jadi sosok yang membuatnya berubah menjadi lebih buruk dari dirinya yang sebelumnya.

Maka, jika benar-benar cinta, cobalah lepaskan ia. Biarkan ia mencari jalannya, dan belajar untuk mencari bahagianya dulu sebelum nanti berbagi bahagia lagi bersamamu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kadang Seorang Teman Memberi Solusi Bukan Karena Empati, Tapi Sekadar Asal Bicara Saja

Sadarilah, tak semua teman tempat kita curhat adalah seorang pendengar yang baik, yang mau turut merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Karenanya, tak usah heran kalau akhirnya yang kamu dapat adalah solusi yang terdengar ‘ala kadarnya’ bahkan terkesan menggampangkan sebuah masalah.

Padahal jika dikembalikan ke dirinya sendiri belum tentu mereka akan terima dengan masukan seperti itu. Namun bukan berarti berbagi cerita ke teman adalah langkah yang salah ya. Mungkin supaya tak mendapat respon yang tak enak, kamu perlu mengenali karakter mereka dulu. Carilah sosok teman yang benar-benar tepat, yang bisa menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik bagi dirimu.

Seorang Teman Belum Tentu Merasakan Emosi yang Kamu Rasakan

Bagaimanapun, seorang teman belum tentu bisa merasakan emosi seperti yang kamu rasakan saat kamu menceritakan ceritamu. Padahal ada kalanya kamu hanya butuh didengarkan saja dibanding meminta saran dari mereka. Hati-hati, salah cerita pada orang, justru bisa membuatmu merasa sia-sia.

Sadarilah, meski sejak awal kita berharap mereka mau turut merasakan emosi yang sama seperti yang kamu rasakan kala itu. Tak semua orang bisa merasakan apa yang kita sedang rasakan.

Selesai Cerita Justru Dapat Penghakiman dari Teman yang Kamu Ajak Cerita, Menyebalkan Bukan?

Percayalah, tak semua curahan hati kamu bisa diterima dan direspon dengan baik oleh teman yang kamu ajak berbagi. Bahkan, tak semua teman akan setuju dengan jalan cerita yang kelak kamu bagikan pada mereka. Alih-alih ingin mendapat hati yang plong setelah mengeluarkan segala keluh kesahmu, yang ada kamu hanya akan mendapatkan kecewa.

Jika tahu bakal mendapat penghakiman dari lawan bicaramu. Pastikan terlebih dahulu, sebenarnya seberapa besar ia mau mendengarmu.

Tak Menutup Kemungkinan Ceritamu Justru Disebarluaskan pada yang Lain

Tak semua teman bisa menjaga rahasiamu dengan baik setelah kamu ceritakan seluruhnya pada mereka. Karenanya, jangan menceritakan masalahmu ke sembarang orang. Namun carilah sosok teman yang dapat dipercaya bisa menjaga rahasiamu dengan aman.

Susah memang, tapi kuberitahu, jangan sampai setelah kamu curahkan semua pada temanmu, masalahmu malah makin runyam dan akhirnya hanya mengganggu ketentraman hatimu, kan?

Berujung Penyesalan yang Menderamu Karena Sudah Cerita ke Temanmu

Akhirnya ketika kamu tahu bahwa teman yang kamu ajak berbagi cerita tidak bisa dipercaya dalam menjaga segala rahasiamu, yang ada kamu akan merasa menyesal sendiri. Bahkan hal ini bisa berdampak pada merenggangnya hubungan pertemanmu dengannya. Mungkin pada akhirnya kamu bisa petik pelajarannya dari sini agar bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman untuk diajak berbagi cerita.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top