Feature

Setidaknya, Tunjukkanlah Kepedulianmu Terhadap Mereka yang Terindikasi Mengalami Depresi

Kamu mengikuti serial Glee? Tahun 2013, Cory Monteith—bintang utama serial tersebut ditemukan meninggal dengan cara bunuh diri. Lima tahun berselang, kawan seprofesi Monteith, Mark Salling pun wafat dengan cara gantung diri. Beberapa minggu sebelum Salling, kabar duka pun menyelimuti para penggemar K-Pop. Pasalnya, salah satu idola mereka, Jonghyun SHINee memutuskan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Jika ditarik satu benang merah, tiga publik figur tersebut punya satu kesamaan kondisi. Ya, mereka mengalami depresi. Lihatlah, depresi sekarang ini sudah tak bisa dipandang sepele lagi, kawan. Menyadari bahaya depresi, kita sebaiknya tak  ikut lepas tangan jika ada kawan, kerabat, atau bahkan keluarga inti yang mengalami tanda-tanda depresi.

Tak semua orang bisa mengontrol emosi dengan baik. Ada kalanya ketika mereka terpuruk dan terus-terusan merasa sendiri dan diabaikan, mereka menganggap satu-satunya jalan keluar untuk segala masalah yang menurut mereka tak bisa teratasi adalah dengan cara mengakhiri hidup. Karenanya, penting sekali untukmu agar tahu bagaimana menempatkan diri, bila di tengah-tengahmu ada yang terindikasi mengalami depresi.

Bangun Kepercayaan Dalam Dirinya, Yakinkan Padanya Kalau Kamu Adalah Tempat yang Tepat Baginya untuk Bercerita Keluh Kesahnya

Tak semua orang yang menurutmu kawan adalah pendengar yang baik dan bisa dipercaya. Itulah yang dipikirkan orang yang sedang depresi. Ketika dia merasa benar-benar sendiri, dia lebih baik tak mempercayai siapapun dibanding harus kompromi dengan orang  yang tak bisa mereka percaya.

Sebagai kawan yang ingin menepis anggapan tersebut, kamu punya PR yang cukup berat memang. Tapi bukan berarti kamu tak bisa mengatasinya. Pelan-pelan, datanglah terus padanya. Tunjukkan empatimu padanya dan berikan waktu yang kamu miliki untuk bersamanya.

Pancinglah dia untuk mau menerima kehadiranmu dan memintanya agar tak memendam masalahnya sendiri. Serta, yakinkan padanya kalau dia tak perlu sungkan bila ingin menghubungimu. Pelan tapi pasti, aku yakin kamu pasti bisa menolongnya keluar dari zona depresi.

Ajaklah Membangun Quality Time dan Mintalah Padanya Agar Tak Terlalu Mengurusi Aktivitas di Media Sosial

Faktanya, media sosial terbukti mampu meningkatkan stress dan mendorong depresi. Hal ini berdasarkan penelitian dari Universitas Brown yang mengungkapkan jika orang yang aktif menggunakan media sosial berisiko mengalami stress 3,2 kali lebih besar dibanding mereka yang tidak terlalu aktif bermain media sosial.

Sebagai sosok teman yang baik, cobalah alihkan perhatiannya dan ajaklah dia untuk mengurangi intensitasnya membuka media sosial. Ingatkan terus akan hal ini, terutama saat dia merasa sendiri, katakan padanya jika lebih baik dia menghubungimu daripada harus membuka media sosial terus menerus.

Tak Kalah Menarik, Ajaklah Bergabung di Berbagai Komunitas Atau Aktivitas Sosial Demi Mengalihkan Rasa Depresinya

Depresi dan pemikiran bunuh diri sering kali muncul karena seseorang merasa kesepian. Berdasarkan pengalaman, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk keluar dari perasaan kesepian ini adalah melakukan berbagai aktivitas.

Kalau kamu tipe yang suka bergabung dalam komunitas tertentu, ajak saja temanmu datang sebagai relawan. Atau ikutkan dia dalam kelas-kelas pelatihan singkat. Percayalah, aktivitas fisik yang teratur dapat memperlancar aliran darah dan bermanfaat untuk hormon pada otak.

Jagalah Ucapanmu, Jangan Sampai Melontarkan Kalimat yang Terkesan Menghakimi dan Memojokkan Teman yang Sedang Depresi

Begini, salah satu alasan orang enggan bercerita mengenai kondisi mental mereka lantaran takut dihakimi. Apapun yang mereka alami pada masa lalu, seburuk apapun itu, jangan sampai kamu lontarkan hingga terkesan menghakimi.

Kalau kamu datang memang untuk menolong mereka, maka jadilah pendengar yang baik, dengarkan apa yang mereka rasakan. Caramu datang dan memperlakukan temanmu dengan baik. Akan sangat berarti dibanding jika kamu hanya ingin menghakimi dan memojokkan dirinya hanya karena kesalahan di masa lalunya.

Pelan Tapi Pasti, Bujuklah Dia Agar Mau Mendapatkan Pertolongan dari Mereka yang Paham

Ini patut dilakukan bila kondisi teman atau keluargamu yang mengalami depresi tak kunjung membaik. Perlahan, cobalah nasehati mereka untuk mau mendapatkan pertolongan dari tenaga profesional.  Memang di satu waktu mereka bisa merasa sedih karena dianggap ‘sakit’, tapi setidaknya yakinkan bahwa pertolongan itu perlu dilakukan agar dia tak terpikirkan untuk melakukan hal-hal yang merugikan dirinya dan keluarganya.

Setiap tahun, ada jutaan orang di dunia yang mengalami masalah dengan kondisi mental. Karenanya penting sekali untukmu mengenali dan mengetahui tanda-tanda depresi, termasuk juga cara menghadapi orang depresi.

Pemahaman yang cukup tentang kesehatan mental sejatinya bisa memberikan dampak yang baik untuk lingkungan kita kelak bahkan tak menutup kemungkinan bisa menyelamatkan banyak jiwa.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sering Mengigau Saat Tidur, Bahaya Nggak Sih?

Disadari atau tidak, ada beberapa orang yang memang kerap mengingau setiap tidur. Fenomena ini memang adalah sesuatu yang lumrah terjadi saat kita sedang tidur. Hasil sebuah riset di Norwegia, pada 2010, hampir 66% dari populasi manusia berbicara dalam tidur mereka dalam berbagai bentuk, yang lain menyampaikan monolog yang menawan atau bahkan melakukan percakapan yang kompleks.

Meski begitu, dari beberapa penjelasan para ahli, kebiasaan ini bukanlah termaksud masalah kesehatan yang berarti. Akan tetapi, jika hal tersebut terjadi secara terus menerus sudah tentu kamu perlu ke dokter. Selain itu, inilah yang perlu kita ketahui dari kebiasaan mengingau yang sering terjadi. 

Sebenarnya Belum Banyak Penelitian tentang Bicara Saat Sedang Tidur

 

Sebelumnya fenomena ini dikenal sebagai parasomnia (sejenis gangguan tidur) dalam Klasifikasi Internasional tentang gangguan tidur. Akan tetapi, dari temuan terbaru gejala ini direklasifikasi dari gangguan menjadi hanya kejadian normal yang dapat terjadi selama tidur. 

Nah, menurut Rafael Pelayo, spesialis tidur dengan Sleep Medicine Center di Stanford Health. karena hal tersebut bukan gangguan yang dianggap serius, jadi tak ada permintaan untuk penelitian tentang tidur. Dengan kata lain berbicara saat sedang tidur merupakan perilaku yang sebagian besar tidak dipelajari dan tidak dipahami dengan baik. 

Lagipula, Apa yang Kita Ucapkan Saat Ngigau Sebagian Besar Adalah omong Kosong

Dari hasil klasifikasi temuan yang sama, kalimat atau kata-kata yang kita ucapkan selama mengigau bukan termaksud cerminan perilaku atau kenangan pada situasi sebelumnya. Jadi semua pertengkaran dengan pasangan atau drama pekerjaan yang baru saja kamu alami, kemungkinan besar tak akan kamu bicarakan selama tidur. 

Ini penting dipahami, karena mereka yang sering ngigau memang kadang mengatakan hal-hal yang sulit dipahami sepanjang liar. Bahkan beberapa katanya tergolong liar. Selain membuat orang yang mendengar menjadi kelabakan menebak maksud, kadang kala kita juga bertanya-tanya. 

Intinya, tidak ada arti nyata dari kata-kata yang keluar dari mulut seseorang yang sedang ngigau saat tidur. 

Dan Tak Ada Rentang Usia Tertentu, Semua Orang Bisa Mengalami Gejala Ini 

Beberapa orang berpikir, berbicara saat sedang tertidur hanya akan dialami oleh mereka yang sudah dewasa dan lansia. Padahal hal tersebut tak selalu benar. Masih dari kata Pelayo, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika kamu sudah berbicara saat tidur sejak kecil. Karena faktanya, berbicara saat tidur cenderung sangat umum terjadi pada anak-anak dan remaja – sekitar 50%, bahkan anak-anak antara usia 3 dan 10 mengoceh dalam tidur mereka.

“Jika Anda tidur sambil berbicara saat masih muda, jangan anggap penting,” kata Pelayo. Tidak perlu takut atau bergegas ke dokter.

Untuk orang dewasa, biasanya akan mulai menyadari jika ia sering mengingau saat tidur ketika memasuki usia 20 hingga 30-an. Dimana mereka sudah mulai berbagi kamar atau tempat tidur dengan orang lain. Sehingga orang lain atau pasangan yang tidur bersama merekalah yang kemudian tahu, jika mereka adalah seorang talk sleep.

Namun jika banyak bicara saat tidur terjadi pada mereka yang berusia sekitar 50 tahun atau lebih, hal tersebut bisa dikatakan sebagai penanda penyakit, seperti seperti penyakit Parkinson atau demensia.

Sialnya, Fenomena Ini Biasanya Sering Bercampur dengan Masalah Tidur Lainnya 

Bicara saat sedang tidur memang jelas berbeda dengan beberapa gangguan tidur yang lain. Mengigau hanyalah menceracau dengan kalimat-kalimat yang biasanya tak bermakna. Tak ada artinya dan tak jelas ke mana arahnya. Namun, jika bicaramu sudah lebih dari sekedar obrolan biasa, bisa jadi kamu sedang mengalami kondisi lain yang terkait dengan sleep apnea

Selain itu, James Rowley, kepala divisi pengobatan paru-paru, perawatan kritis dan tidur dengan Detroit Medical Center, berbicara melalui tidur juga dapat disebabkan oleh stres, kecemasan, dan depresi. Jika hal tersebut sudah terjadi berulang kali, cobalah bicarakan pada dokter ahli spesial tidur, karena sepertinya anda butuh perawatan. 

Demi Mengatasinya, Cobalah Lakukan Kebiasaan Baik dengan Tidur Terjadwal dan Dalam Waktu yang Cukup 

Kalau harus dilihat dari keseluruhan kebiasaan ini, momen mengigau kerap terjadi akibat kita terlalu lelah. Atau masih memikirkan sesuatu sesaat sebelum tidur. Untuk menguranginya, cobalah untuk tidur dengan terjadwal. Selain itu penuhilah kebutuhan tidurmu, jangan terlalu singkat atau terlalu lama. Hindari juga makan makanan yang mengganggu kualitas tidurmu, seperti makan makanan berat atau minuman beralkohol.

Walau tak disebut sebagai gejala yang berarti, kita perlu untuk tetap menjaga diri. Jangan terlalu dianggap sepele, apalagi jika  itu sudah menganggu tidurmu dan pasanganmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Tak Perlu Ikut-ikutan, Penderita Gejala Ini Dilarang Plester Mulut Saat Tidur

Penyanyi Andien baru-baru ini memperkenalakan kebiasaan tidur dengan mulut diplester yang sudah beberapa bulan belakangan dilakukannya. Dibagikan pada fitur Instastory, Andien mengaku jka ada banyak manfaat yang sudah dirasakan oleh ia dan suami serta anaknya Kawa, sejak melakukan kebiasaan ini. 

Mengutip dari laman CNN Indonesia, Profesor Faisal Yunus, pengajar bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respiratori FKUI mengatakan bernapas memang harus melalui hidung, bukan napas mulut.

“Diusahakan membiasakan bernapas lewat hidung. Kalau dengan hidung, udara akan disaring, diproteksi dari bahan berbahaya,” kata Faisal melalui sambungan telepon, Kamis (11/7). 

Memang sih, praktik plester mulut saat tidur baik untuk dipraktikkan tetapi dengan catatan khusus. Sebagaimana saran dari Faisal, hal ini sebaiknya tidak dilakukan oleh mereka yang sulit bernapas karena penyakit tertentu, yakni Influenza, Polip hidung, Sinusitis, Rinitis alergi, Deviasi septum nasal.

Dimana jenis gejala atau kondisi kesehatan tersebut adalah sesuatu yang berhubungan dengan gangguan pernafasan. Maka, jika sedang mengalami kondisi tersebut, sebaiknya urungkan niatmu untuk ikut-ikutan seperti Andien yang memplester mulutnya setiap malam. 

“[Plester mulut] boleh saja, tapi yang belum terbiasa mungkin agak kesulitan. Kecuali orang yang agak susah bernapas lewat hidung sebaiknya enggak dulu,” katanya.  

Lebih lanjut, Faisal mengatakan jika cara atau kebiasaan ini terbilang cukup ekstrem untuk melatih pernapasan hidung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Memeluk adalah Cara Terbaik untuk Menenangkan Hati Seseorang

Memberi sebuah pelukan pada seseorang adalah salah satu hal mudah yang memiliki manfaat segudang. Jadi sebuah bentuk terapi, dia yang menerima pelukan akan lebih merasa nyaman, merasa diperhatikan, dicintai, dan berbagai macam energi positif lain yang sulit untuk digambarkan. 

Tak hanya sebatas gerakan, dekapan yang kita terima atau berikan, mengandung sebuah makna yang dalam. Dan dilansir dari mindbodygreen.com berikut ini adalah hal-hal baik yang bisa kita terima dan salurkan dari sebuah pelukan ke seseorang. 

Menyeimbangkan Sistem Saraf Karena Memberikan Rasa Aman

Hanya memberikan seseorang pelukan, kamu sudah membantunya menyeimbangkan sistem saraf mereka. Sensor tekanan berbentuk telur kecil yang ada di sel darah pada kulit saling terhubungan hingga memberikan sinyal baik kepada otak kita. Itulah mengapa seseorang akan merasa lebih aman jika sedang berada dalam pelukan. 

Hal ini dikarenakan sentuhan yang terjadi atas kulit si pemeluk dengan yang dipeluk. Tak hanya boleh dilakukan pada pasangan saja, pelukan bisa kamu berikan kepada siapa saja yang mungkin sedang membutuhkan rasa aman. Baik itu orangtua, anak, saudara, atau sahabat kita. Ini akan mendorongnya lebih terbuka untuk bercerita, karena merasa sedang berada dalam situasi yang aman. 

Lebih Percaya Diri Karena Merasa Kian Bahagia

Tumbuh besar dalam lingkungan yang menjadikan pelukan sebagai sebuah kebiasaan, adalah sesuatu yang menyenangkan. Ini menujukkan rasa cinta mereka, sikap menghargai, dan selalu menganggap kita spesial. Hal inilah yang kemudian melahirkan rasa percaya diri, merasa dihargai dan dicintai. Bahkan akan selalu berguna pada siapa saja. Karena kita jauh lebih bisa memilih dengan bijak bagaimana caranya menghargai dan mencintai diri sendiri, dan semakin percaya diri. 

Menurunkan Denyut Jantung, Sehingga Penerima Pelukan Merasa Lebih Sehat

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of North Carolina-Chapel Hill, mengemukakan dari hasil penelitian pada beberapa orang yang sehari-hari tidak bertatap mata dengan istri atau suaminya, mereka memiliki detak jantung yang bergerak lebih cepat yakni 10 kali berdetak setiap menit. Sedangkan mereka yang menerima pelukan, jantungnya hanya akan berdetak 5 kali dalam setiap menit. 

Padahal, pada dasarnya semakin rendah detak jantung kita, semakin sedikit pula masalah jantung yang akan menyerang kita. Itulah mengapa, kita perlu berpelukan setiap hari dan setiap saat demi kesehatan jantung kita. 

Pikiran Jauh Lebih Rileks, Karena Suasana Hati Berubah Jadi Lebih Baik

Tak hanya dia yang menerima pelukan, kita sebagai pemberi pelukan juga akan mengalami rileksasi terbaik pada bagian otot tubuh. Karena pelukan dapat menyeimbangkan sistem tubuh saat kita merasa tegang. Respon yang mengalir dari rangsangan antar kulit saat menerima dan memberikan pelukan dapat mengantarkan ketenangan dan suasa yang lebih santai. 

Reaksi ini akhirnya membuat kondisi mental menjadi lebih seimbang. Maka wajar jika akhirnya kamu juga akan merasa lebih rileks dan lebih tenang. Karena suasana hati yang mungkin sudah berubah. 

Dan Mengurangi Tingkat Stress dari Dalam Diri 

Coba ingat, sudahkah kamu mendapat pelukan atas segala beban yang seharian ini kamu pikirkan? Atau sudahkah kamu memeluk dia yang kini terlihat sedang butuh pelukanmu agar lebih tenang lagi? Jika belum, segera peluklah. 

Sebuah gerakan lambat yang akan berakhir dengan pose saling merapatkan tubuh ini akan merigankan beban stress dalam diri mereka dengan sangat efektif. Sebab ketika sedang dipeluk tingkat kortisol yang beredar di seluruh tubuh kita berkurang secara drastis. Dengan begitu, pikiran kita akan mampu tenang dan berpikir tanpa stres.  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top