Feature

Setiap Kali Hidup Sedang Susah, Semua Makanan Terlihat Lebih Lezat dari Biasanya. Kamu Juga Begitu?

Minggu lalu, setelah cintamu gagal diterima oleh perempuan incaran, cokelat yang tadinya akan kamu berikan berubah jadi cemilan yang bisa dihabiskan tak lebih dari sejam. Atau, bala-bala di depan gang komplek yang aromanya mendadak terasa lebih enak setiap kali akhir bulan. Ini mungkin sudah jadi kebiasaan, jika sebagian besar orang akan melampiaskan kekesalan dengan makan.

Tak perlu jauh-jauh, warung-warung yang terletak di dekat kampus selalu terlihat ramai tatkala musim ujian tiba. Hingga riuhnya jajanan malam yang diserbut para karyawan, setiap kali pulang dari letihnya bekerja.

Bahkan  menurut Seamless, sebuah jasa layanan antar makanan di Amerika Serikat, jumlah pesanan mereka naik tajam ketika anak-anak kuliah sedang menghadapi UAS. Untuk area kampus saja angka peningkatan pesanan popcorn chicken naik hingga 96 persen, chicken bacon ranch pizza naik sebesar 60 persen, dan kentang goreng naik sampai 56 persen.  

Stres Disebut-sebut Sebagai Pemicu Utama

Yap, konon hanya ada dua jenis manusia jika dilihat dari caranya menghadapi stres. Dia yang akan lari dan menyendiri, dengan dia yang lebih memilih bersenang-senang lalu makan-makan.

Dan hal ini pulalah yang kemudian menarik perhatian para peneliti, hingga akhirnya sebuah penelitian yang dilakukan oleh American Journal of Clinical Nutrition, menegaskan (meskipun semua orang sebetulnya sudah tahu), ternyata orang-orang yang sedang stres lebih sulit mengontrol pola makannya dibanding mereka yang hidupnya baik-baik saja.

Mereka yang sedang memiliki beban berat dan menahan emosi dinilai cenderung akan memilih melampiaskan kekesalan dengan melahap beberapa jenis makanan. Akan tetapi, jika dilihat dari sisi ilmu pengetahuan, hingga kini masih belum ada yang mampu menjelaskan, mengapa seseorang yang sedang stres cenderung akan memilih untuk makan.

Tapi Jika Ingin Dicerna dengan Logika Sederhana, Ini Memang Jadi Rangkaian yang Sejalan

Tidak semua orang stres memang akan melampiaskan kesusahan dengan makan. Namun tanpa perlu dijelaskan, tentu semuanya ingin merasa lebih tenang. Dan makan dinilai jadi salah satu jalan.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Alicia H.Clark, seorang psikolog klinis di Washington DC, “Makanan menjadi semacam alat untuk melumpuhkan perasaan-perasaan yang tidak enak. Dan sensasi kenyang juga bersifat menenangkan.”

Berharap Akan Menjadi Lebih Tenang, Sialnya Kita Malah Mendistraksi Diri Sendiri dengan Hasil yang Sama

Kalau tak percaya, coba saja pergi ke sebuah restoran, lalu cari wajah paling stres  yang bisa kamu temukan. Ia mungkin akan cenderung  melahap semua makanan, entah itu sehat atau tidak. Dan sialnya, hasilnya biasanya akan tetap sama. Sama-sama masih stres. Heuheu…

Tapi kalau kamu memang tetap ingin makan banyak, pilihlah jenis makanan yang memiliki tekstur renyah, seperti timun misalnya. Sebab bunyi dari makanan renyah yang dikunyah biasanya akan menciptakan ketenangan yang lebih cepat dari biasanya.

Sebab Biarpun Membuat Kita Merasa Tenang Sementara, Ini Tak Akan Bertahan Lama

Brian Wansink, seorang direktur dari Cornell Food and Brand Lab melakukan sebuah penelitian yang berhasil mengungkapkan jika, “Biarpun makan ketika stres membuat kamu merasa lebih baik sesaat, sensasi ini tidak bertahan lama. Sama seperti segalanya, endorfin akan pudar”.

Nah untuk itu, jika memang ingin menghilangkan stres. Cobalah dengan cara lain, misalnya dengan membersihkan rumah atau berkebun di halaman. Biasanya ini akan jauh lebih menenangkan, dari sekedar makan.

Dan perlu diingat pula, jika makanan yan terlihat lebih lezat itu hanyalah pengaruh dari rasa stres yang tengah menderamu saja. Bukan enak sungguhan seperti yang kita kira.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top