Feature

Setelah Dia Ketahuan Selingkuh, Lalu Apa?

Fase terburuk dalam hubungan adalah diselingkuhi oleh pasangan. Untuk kamu yang belum pernah merasakan, tentu akan berkomentar jika hal ini terlalu dilebih-lebihkan. Tapi untukmu yang sudah pernah merasakan tentu paham betul bagaimana pahitnya diselingkuhi

Dia yang tertangkap basah mungkin bisa dengan mudah datang untuk meminta maaf dan mengajakmu memulai lagi dari awal. Tapi tidak untuk kita yang telah jadi korban kecurangannya.

Menyedihkan memang, laki-laki yang selama ini kita cintai ternyata diam-diam juga mencintai perempuan lain. Kenyataan ini tentu menyeret kita pada dua pilihan, bertahan atau menyudahi hubungan.

Apa pun keputusanmu nanti, semuanya memang mutlak menjadi hakmu sepenuhnya. Namun sebelum bergerak untuk menentukan jalan mana yang akan kamu pilih. Cobalah lakukan beberapa tahapan ini.

Menyalahkan Diri Sendiri Tentu Tak Akan Membantu Apa pun dalam Situasi Seperti Ini

Selain kecewa dan sakit hati kenyataan pahit ini kerap membuat kita frustasi. Bahkan sebagian perempuan, akan berpikir jika ini adalah kesalahan mereka. Hingga mulai menerka-nerka,

“Apa aku kurang cantik?”

“Apa diriku tak cukup baik?”

“Kurang menarik?” atau

“Tak perhatian sama sekali?”

Dan semua pertanyaan tersebut hanya akan membuat situasi hatimu semakin buruk.

Cobalah untuk menenangkan diri sejenak, dan buang jauh-jauh pemikiran yang beranggapan bahwa semua yang telah terjadi adalah kesalahanmu. Tetap jaga dirimu dari hal-hal yang mungkin berpotensi merugikan, sesuatu yang jauh lebih penting sekarang adalah menemukan jalan keluar.

Cinta yang Masih Ada Tentu Membuat Rindu Tapi Menghindarinya Sementara Waktu Adalah yang Kita Butuhkan

Butuh waktu untuk bisa berdamai dengan situasi ini. Kamu tentu tak mungkin bisa berkata bahwa tidak lagi cinta, tapi menemuinya tentu bukan solusinya. Pada tahapan ini, kita mungkin akan lebih memiliki waktu untuk bisa berpikir jernih. Merenungkan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Bukalah matamu untuk mengingat kembali beberapa hal yang pernah terjadi, barangkali memang ada kesalahan yang berasal darimu sehingga dia berkhianat. Pertimbangan lain yang perlu kamu ingat, jika ternyata sepanjang menjalin hubungan dia lebih kerap menyakiti, semuanya lebih baik untuk disudahi.

Jika Sudah Merasa Sedikit Tenang, Cobalah Untuk Membicarakan Masalah Ini Dengannya

Memantapkan hati untuk berpisah atau tidak, tentu butuh upaya yang keras untuk memutuskannya. Tapi kamu juga tak boleh main pergi begitu saja, biar bagaimana pun kalian pernah saling membahagiakan.

Sebaliknya, cobalah atur waktu untuk kalian berdua bisa bertemu. Dengan begitu kamu tahu alasan pasanganmu hingga melakukan perselingkuhan. Mungkin akan terasa menyakitkan, tapi hal ini penting agar bisa dijadikan pelajaran untukmu dan dia.

Momen ini juga bisa kamu gunakan untuk meluapkan emosi yang selama ini terpendam, katakan apa yang kamu rasakan, serta ceritakan bagaimana perlakuannya begitu menyakitimu.

Berbagi Cerita Mungkin Mengurangi Beban, Tapi Bukan di Media Sosial

Jangan pendam masalahmu sendiri, jika memang merasa tak kuat cobalah cari seseorang untuk berbagi cerita. Walau bukan jadi satu-satunya jalan keluar, setidaknya ini akan membuatmu lega. Kamu bisa berbagi dengan teman atau sahabat yang kamu percayai agar kamu bisa menangis dan meluapkan emosi sesuka hati.

Tapi ingat, jangan sesekali membagikan cerita sedihmu itu di laman media sosial milikmu. Selain tak memberi pengaruh apa pun, hal ini akan menjatuhkan harga dirimu.  Beberapa orang mungkin akan terlihat peduli dengan menanyakan keaadaanmu, atau bahkan menawarkan diri untuk jadi teman berbagi.

Tapi apa kamu yakin sikapnya tersebut sebagai bentuk kepedulian murni? atau Jangan-jangan hanya ingin mengetahui masalahmu saja?  Setelah itu, bisa jadi mereka akan memberi cap buruk terhadapmu.

Dan Balas Dendam Terbaik Adalah dengan Membahagiakan Diri Sendiri

Ingat, perbuatan buruk tak harus dibalas dengan keburukan serupa. Pada beberapa kasus hubungan perselingkuhan, sebagian perempuan memilih kembali rujuk agar bisa membalasnua dengan hal yang sama. Kamu mungkin merasa puas, karena akhirnya membuatnya merasakan hal dulu kamu rasakan.

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah hal tersebut membuatmu lebih baik darinya? Tentu tidak.

Karena sebaik-baiknya balas dendam yang mungkin bisa kamu lakukan adalah dengan menunjukkan bahwa diri akan tetap baik-baik saja pasca berakhirnya hubungan. Mulailah jalani hari seperti biasa, meski tanpa dia. Lakukan kegiatan lain untuk menghibur diri, bepergian ke tempat baru hingga kembali melakukan hobimu.

Cobalah Untuk Memafkan dan Sampaikan Keputusanmu Perihal Kelangsungan Hubungan

Menyimpan amarah karena sakit hati, tentu bukanlah hal yang baik untuk diri. Walau tak mudah, tidak ada salahnya jika kita mencoba untuk memafkan. Biar bagaimana pun, terus menerus menyimpan dendam hanya akan menyakiti hatimu sendiri.

Ubalah sedikit pola pikirmu akan pengkhianatan yang telah ia lakukan kepadamu. Biar bagaimanapun dulu kalian adalah dua orang yang bahagia. Jika masih dirasa kurang untuk meredamkan emosimu, cobalah telisik lagi hal ini dari sudut pandang berbeda.

Ibaratkan kamu adalah dirinya, mungkin itu akan sedikit membantumu untuk lebih memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Bersikaplah dewasa dengan memaafkan dan memberikan keputusanmu perihal kelangsungan hubungan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sejalan dengan Usia yang Bertambah, Bagimu Kriteria Pasangan Pun Ikut Berubah

Dulu, saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan caramu berpikir tentang cinta.

Pernah berpikir lelaki romantis adalah pasangan sempurna, kini kamu justru merasa jengah jika si dia hanya bisa mengumbar kata manis saja. Benar, kita sadar bahwa deretan kriteria dia yang jadi pasanngan tak lagi melulu tentang dia yang mampu berkata manis seperti lelaki di film romantis.

Sebelumnya, Sering Tak Ada Jeda untuk Memulai Cinta, Kini Punya Pertimbangan Panjang dalam Menerima Seseorang

Mari ingat kembali, perjalanan asmara yang kita miliki sejak dari kekasih pertama. Setiap kali putus cinta, rasanya tak pernah butuh lama untuk bisa kembali membuka hati untuk dia yang baru. Tapi, hal tersebut tak lagi berlaku untuk usia yang sedewasa kini. Biar banyak yang datang untuk menawarkan hati dan cintanya, rasanya selalu susah untuk mengiyakan ajakan untuk memulai hubungan.

Bukan perkara belum bisa melupakan mantan pacar terdahulu, walau kadang hal itu pun bisa jadi alasan. Tapi ini lebih kepada pertimbangan yang perlu dipikirkan matang-matang. Tak lagi mau sembarangan, ada banyak ketentuan yang kita jadikan standar untuk dia yang akan jadi pasangan.

Bukan Rasa yang Menggebu-gebu, Tapi Bagaimana si Dia dan Kamu Mengelola Emosi

Di usia remaja, apapun seolah terasa mudah. Berpikir bahwa kita akan bersama selamanya dengan dia yang dicinta. Jika diibaratkan sebuah bunga, rasa cinta yang ada  di hati kita sedang mekar-mekarnya. Harum ke semua penjuru, bahkan menutup bau dari si dia yang mungkin bisa menyakitimu.

Tapi ketika sudah dewasa, cinta dan rasa yang menggebu-gebu bukanlah jadi penentu. Tapi bagaimana kita dan pasangan bisa sama-sama belajar untuk selalu mampu mengelola emosi dalam segala hal. Untuk itu pulalah, kata putus tak lagi bisa diucapkan dengan mudah seperti kala remaja.

Kini Kamu Paham, Kalau Hubungan yang Baik Bukan yang Tanpa Pertengkaran

Jadi dua sejoli yang selalu akur, bertaburan kata romantis, hingga hal-hal manis lain yang akan menghiasi cerita. Pernah jadi mimpi yang diharapkan untuk selalu ada dalam hubungan cinta. Bayangan yang selalu ada di kepala, bagaimana kita dan si dia selalu tertawa tanpa adanya masalah.

Padahal pada kenyataannya, hal tersebut adalah sesuatu yang hampir mustahil. Sebab hubungan yang baik, tentu juga butuh perdebatan. Kamu pasti tak suka, jika lelakimu selalu mengiyakan kata-katamu seolah tak punya pendapatnya sendiri, dan begitupun sebaliknya.

Pertengkaran dan perdebatan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, hal ini justru jadi tanda bahwa ada komunikasi yang berjalan antara kita berdua.

Tadinya Putus Cinta Selalu Buat Kecewa, Tapi Sekarang Kamu Sadar Ada Pelajaran dari Sana

Berbalik sebentar ke sikap kita dalam menghadapi putus cinta saat masih di bangku SMA. Menangis semalaman, mengutuki keadaan, atau membencinya dan menganggapnya musuh yang pantas dilenyapkan. Menariknya, kedewasaan turut serta membawa perubahan dalam diri kita dalam hal memahami masalah.

Tak lagi memandang patah hati jadi sebuah pilu yang patut ditangisi, kini kita sadar ada banyak pelajar yang bisa diambil dari setiap asmara, meski kadang berakhir dengan luka.

Dulu Kamu Meyakini Adanya Cinta Sejatinya, Kini Kamu Mengerti Rasa yang Abadi Harus Diciptakan Sendiri

Hidup kita bukanlah cerita romansa yang ada di film-film romantis milik Disney. Ini adalah kehidupan nyata yang butuh upaya. Yap, selain restu dari pemilik hidup, kita perlu berusahauntuk saling membahagiakan jika memang ingin cinta ini jadi sesuatu yang layak disebut keabadiaan.

Butuh mengerti dan dimengerti, mendengar dan didengar, memahami dan dipahami, hingga hal lain yang memang bisa membantu kita mempertahankan hubungan hingga menua bersama.

Kita mungkin pernah bermimpi tentang segala hal indah yang sekiranya terjadi atas hubungan, tapi kini kita sadar bahwa ada banyak hal yang berubah seiring usia yang terus berjalan. Dan ini adalah sesuatu yang wajar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top