Feature

Sering Bertengkar Dengan Pasangan Tak Akan Menguatkan Relasi, Pilih Perbaiki Atau Sudahi?

Kapan kamu terakhir kali bertengkar dengan pasangan? Faktanya, dalam sebuah hubungan, pertengkaran itu memang sudah jadi semacam ‘bumbu’ yang pasti terjadi. Namanya juga bumbu, katanya hubungan memang jadi terasa lebih ‘sedap’ apabila pertengkaran sudah usai. Tapi sebentar, kalau yang terjadi justru kebanyakan bumbu, bukannya justru jadi tak karuan rasanya? Seperti masakan, bumbu dalam hubungan juga bisa jadi racun. Apa lagi kalau pertengkaran diantara kalian sampai menimbulkan sakit hati yang teramat dalam. Bukannya semakin lengket, yang ada kalian malah melakoni hubungan yang tak sehat.

Bertengkar dengan pacar tak melulu bisa dikatakan sebagai bumbu. Bukannya justru lebih baik kalau setiap masalah dapat disikapi dan diselesaikan baik-baik? Menyelesaikan masalah memang bukan perkara mudah, tetapi saling menyakiti satu sama lain dan egois dengan pasangan justru membuat kalian terus terpuruk. Sekian lama bersama, sudah sebaiknya kamu tahu mana yang jadi bumbu, dan mana yang bisa memicu racun.

Yang Jarang Bertengkar Saja Bisa Jenuh, Apa lagi yang Sering Bertengkar…

Kalau setiap bertemu hanya berujung pertengkaran, buat apa? Sejatinya kalian ini pasangan atau musuhan? Kamu pasti tahu kan, cinta itu perlu dirawat. Lantas bagaimana kamu dan cintamu selama ini? Mengontrol diri agar tidak saling egois itu juga perlu. Setidaknya berikan kesempatan pacarmu untuk melampiaskan kekesalannya juga. Tapi kamu tak perlu selalu meresponnya dengan nada tinggi. Sebaliknya, berikan respon dengan kepala dingin. Dalam sebuah hubungan pasti membutuhkan pengorbanan. Cobalah berkorban dengan menahan diri untuk tidak mudah mengeluarkan amarah.

Buktikan Kalau Kamu Masih Sayang, Saat Bertengkar Jangan Sampai Tangan Melayang

Kekerasan fisik dalam sebuah hubungan, tentu sudah tidak bisa ditolerir. Pertengkaran dalam situasi apa pun tetap harus punya batasan yang manusiawi. Kalau sebatas debat, mungkin itu yang sering terjadi. Tapi di luar sana, masih banyak orang yang gampang mengekspresikan kemarahan dengan memukuli kekasih yang berujung pada dendam dan trauma. Atau yang lebih parah, keduanya saling memberikan serangan-serangan fisik dan tak ragu mengancam satu sama lain. Kalau sudah begini, masih yakin kalau bertengkar itu bumbu dalam hubungan? Lebih baik sudahi saja.

Tak Perlu Mengungkit Masalah yang Sudah Berlalu, Apa lagi Membuatnya Jadi Senjata Saat Kalian Berseteru

Masalah biasanya muncul dari berbagai persoalan sepele yang tak diselesaikan dengan baik-baik. Kamu dan dia malah memilih berdebat dan membiarkan masalah itu semakin besar saat kalian bertengkar. Setelah bersama sekian lama, tentu sudah banyak masalah yang kalian lewati bersama. Kalau kamu masih ingin bersamanya, bukankah lebih baik melupakan masalah yang sudah berlalu? Biarkan masa-masa sulit yang sudah terlewati jadi pembelajaran bagi masing-masing kalian. Memilih mengungkit kembali masalah saat kamu dan dia sedang berseteru justru hanya jadi bumerang dalam hubungan kalian.

Biarkan Dia Jadi Dirinya Sendiri, Kamu Tak Perlu Memaksanya untuk Jadi Orang Lain. Kalau Kamu Tetap Memaksa, Itu Sama Saja Dengan Tak Menghargai Keberadaan Pasanganmu

Menghargai pasangan artinya kamu harus menghargai apa yang dimilikinya sekarang, serta apa yang ada di dalam dirinya. Kalau kamu terus membandingkan dirinya dengan orang lain, itu artinya kamu egois. Terlebih jika kamu memaksanya untuk jadi orang lain. Cobalah untuk bersyukur dan berhenti membanding-bandingkan pacarmu dengan orang lain. Kalau kamu tetap melakukan hal itu, sama artinya dengan menghalangi kebahagiaan datang padamu. Padahal, kalau kamu bisa menahan diri untuk tidak membandingkan dan belajar menerima, kamu akan jauh merasa bahagia karena sudah pandai bersyukur.

Menghindar Itu Bukan Jalan Keluar Kalau Kalian Sedang Bertengkar

Saat sedang bertengkar, pasti ada perasaan mengganjal diantara kamu dengan pasanganmu. Saat itulah sejatinya kamu dan dia harus segera menemukan jalan keluar. Bertengkarlah sewajarnya dan tak perlu berlebihan hingga berujung permusuhan.

Satu hal yang perlu kamu yakini, bertengkar sejatinya kalau diresapi lebih baik lagi memang tak selalu bermakna negatif, pertengkaran justru akan berbuah manis kalau akhirnya kamu dan dia bisa mencari jalan keluar atas masalah kalian dan kembali saling memaafkan. Itulah sebabnya saling menghindar bukan jalan yang tepat. Sering bertemu tapi terus-terusan bertengkar pun tak sehat. Intinya, kalian berdua harus sama-sama bisa mendewasakan diri melalui setiap pertengkaran yang terjadi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kerugian yang Akan Kamu Rasakan Ketika Mencintai Orang yang Tak Bisa Kamu Miliki

Mulai dari sekarang, berhenti untuk percaya pada tagline yang bilang kalau ‘cinta tak harus memiliki’. Kecuali jika kamu memang sudah rela dan bersedia disakiti. Kita tak perlu terlalu naif, dengan berkata turut bahagia ketika melihat ia bahagia meski bukan dengan kita. Karena percaya atau tidak, ketika kita sudah menaruh hati untuk mencintai, tentulah ada rasa harap atas balasan serupa untuk diri.

Sialnya, hati manusia kadang sulit terkendali. Tak peduli pada kenyataan, kita kerap menaruh hati pada dia yang jelas-jelas tak bisa dimiliki. Lalu apa hal yang lahir dari pilihan ini? Seringnya sih sakit hati. Iya, sakit hati karena berjuang sendiri.

Terus bertahan untuk tetap mencintai, yang didapat justru sakit hati. Beberapa orang mungkin sudah jatuh dan tetap bertahan, tapi kamu yang masih di permulaan perlu memahami beberapa hal ini. Agar kamu tahu jika mencintai orang yang tak bisa dimiliki hanyalah melahirkan belenggu. 

Hanya Bisa Berangan-angan, untuk Itulah Hatimu Kian Kesepian

Coba bayangkan lagi, berapa sering kamu menunggu balasan pesan darinya yang selalu berujung dengan sikap abai berhari-hari. Berharap ia bertanya kabar dan mengkhawatirkanmu yang sudah seminggu tak bertegur sapa. Ujung-ujungnya, kamulah yang selalu tetap mengalah dan menyapanya.

Masa-masa tarik-ulur hati seperti itu, pada akhirnya hanyalah jadi sebuah ilusi yang menipu. Sebab, rasa tak perduli yang datang darinya hanya membuatmu diselimuti sepi yang sangat menyiksa diri.

Rasa Cinta yang Sebenarnya Salah, Membuatmu Melewatkan Banyak Hal Penting dengan Sia-sia

Iya, iya… kami paham jika cinta memang kerap membolak-balikkan perasaan seseorang. Bahkan sering membuat hal-hal diluar nalar, hanya karena terlalu percaya pada perasaan sendiri. Dimatamu ia mungkin istimewa, berharga, dan kau yakini bisa membuatmu percaya.

Sehingga segala fokus yang kamu punya, kau kerahkan hanya pada dirinya saja. Kamu lupa pada perasaanmu sendiri, kamu lupa bahwa sesungguhnya ada banyak hal yang sudah kau lewati dengan sia-sia dan tak berarti. Jika terus menerus begitu, percayalah kamu akan kehilangan banyak hal baik dalam hidup. 

Tersiksa Karena Cemburu Tapi Tak Bisa Berbuat Apa-apa

Selain merasa gundah karena tak mendapat perhatian, cemburu adalah hal berat lain yang akan kamu rasakan.Tak bisa memilikinya, tak ada ruang untukmu dihatinya. Maka meski kamu sudah tersiksa karena cemburu atas orang-orang yang mungkin ada di sekelilingnya. Kamu tetap tak bisa berbuat apa-apa.

Cemburumu bisa jadi bukti cinta, tapi semuanya percuma karena ia tak pernah merasa punya keinginan bersama. Pada titik ini, harusnya kamu membuka mata. Dirinya sedang menggali luka sendiri, karena tetap berharap pada cinta yang tak bisa kamu miliki.

Kehilangan Kesempatan Bertemu dengan Seseorang yang Menunggumu Diluar Sana

Jika harus dibuka secara terang-terangan, bisa dipastikan pikiranmu sudah dipenuhi akan semua hal tentang dirinya. Merasa butuh berjuang untuk cinta yang kau rasakan, tindak bodoh macam menutup diri dari orang lain. Kau yakini sebagai sebuah upaya paling pintar untuk tetap bisa mendapatkan perhtian darinya.

Manjadikannya sebagai pusat perhatian, kamu kehilangan kesempatan untuk bisa bertemu orang baru yang mungkin bisa mencintaimu. Hanya karena bertahan pada sesuatu yang jelas-jelas tak akan pernah bisa kamu miliki.

Hati dan Jiwamu Gelisah, Karena Dirinya Tetap Tak Kunjung Memberi Hatinya

Sudahlah, ini adalah tindakan bodoh yang tak seharusnya kamu lakukan. Menyiksa diri dengan tetap bertahan pada rasa cinta yang tak berarah. Akan melahirkan banyak ketakutan dan kegelisahan pada dirimu saja. Namun dibalik semua itu, walau ada ribuan ucapan yang datang untuk menyadarkanmu. Dirimu sendiri tetap jadi penentu yang akan menyelamatkan hatimu.

Tetap bertahan untuk mencintai dia yang tak bisa kamu miliki atau bangkit berdiri untuk mencari cinta lain yan bisa membahagiakan hati.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perjalanan Transisi Hidup Menuju Dewasa dan Bijaksana

“Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah untuk dijalankan”

Kami percaya, setidaknya beberapa orang akan setuju dengan kalimat yang barusan kalian baca. Menjadi dewasa berarti siap dihadang banyak perkara, mulai dari yang remeh sampai yang berat. Dari pekerjaan sampai perkara hubungan. Walau bebas memilih akan jadi orang dewasa yang seperti apa, tapi setidaknya ada beberapa fase  yang juga akan kamu rasa.

Bayang-bayang hidup indah tanpa gangguan, bukan lagi jadi sesuatu yang kamu pikirkan. Lebih dari itu, menjadi dewasa seiring bertambahnya usia membuatmu membuka mata bahwa hidup tak melulu tentang bahagia.

Menjadi Dewasa Menyebalkan, Tapi Biar Bagaimanapun Harus Tetap Dijalankan

Sebelum sampai di usia yang sekarang, ada banyak sekali sumber bahagia. Gebetan yang memberi senyum sebagai isyarat suku, aktivitas di sekolah yang selalu berhasil mengundang tawa, hingga kencan pertama yang membuat hati berbunga-bunga hingga esoknya.

Sialnya, selepas memasuki usia di angka 20. Segala macam tetek bengek untuk menjadi manusia dewasa terasa kian berbeda. Tak melulu tentang urusan cinta, pikiran kita berubah kian kompleks untuk mencerna apa saja yang memang layak untuk membuat bahagia.

Bahkan Mendorong Kita untuk Bertanya Pada Diri Sendiri, “Sejauh Ini, Udah Ngapain Aja Sih?”

Quarter crisis life, memang sering membuat kita merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah.

Akan Tetapi, Dewasa Juga Membuat Kita Lebih Kritis dalam Segala Hal

Pada setiap masa dalam hidup, akan ada titik dimana kita selalu sikap kritis. Mempertanyakan segala sesuatu yang akan kita lakukan. Entah itu pada diri sendiri atau orang sekitar. Selanjutnya, situasi ini akan membawa kita pada satu titik yang bisa dinamakan kedewasaan. Melahirkan sikap yang berbeda, dari masa-masa sebelumnya. Kita mulai menyadari sebuah tanggung jawab, ketulusan, waktu yang berharga, rasa syukur, dan kemauan untuk terus berubah lebih baik lagi.

Namun Jika Harus Dibandingkan, Perempuan Disebut-sebut Lebih Cepat Dewasa Daripada Kaum Adam

Perempuan memang jauh lebih cepat dewasa dibanding kalian kaum adam. Tapi kalau ingin diperdebatkan. Pernyataan ini mungkin akan jadi debat kusir yang tak menemukan titik tengah. Tapi, asal kamu tahu saja. Hal ini juga disetujui oleh para peneliti. Untuk penjelasan yang lebih detail, kami pernah membahasanya di artikel ini.

Tapi Kita Tak Boleh Menyerah, Karena Setiap Masalah Membuat Kita Lebih Dewasa!

Kita mungkin merasa tak siap, tapi daripada lebih dulu pesimis atas masalah yang akan datang silih dan berganti. Mari kita pahami, bagaimana sebuah masalah bisa merubah kita jadi pribadi yang lebih baik lagi. Anggaplah ini sebagai upah, karena kita tetap bertahan untuk semua perkara.

Dan Tak Hanya Itu Saja, Dewasa Juga Merubah Cara Pandang Kita Pada Kriteria Pasangan

Saat belum sedewasa sekarang. Kamu mungkin punya berbagai macam keinginan ajaib tentang bagaimana dia yang kelak jadi pasangan. Namun sejalan dengan pertambahan usia, banyak pandangan baru yang berubah. Begitu pula dengan perubahan caramu berpikir tentang cinta.

Dewasa memang tak bertolak pada usia, tapi bagaimana kite memaknai setiap perjalanan hidup dengan berbagai macam pelajarannya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Pemilu Sudah Terlewatkan, Mari Sudahi Ajang Kubu-kubuan

Hampir satu tahun terakhir, kita semua jadi saksi bagaimana pesta demokrasi melahirkan berbagai macam kejadian. Teman lama yang mendadak bermusuhan, adu pendapat yang jadi sumber pertengkaran, hingga saling ejek atas pilihan yang tak sesuai dengan hal yang kita lakukan.

Banyak drama yang sudah kita saksikan bersama. Gilanya fanatisme atas usungan kepala negara, sampai perselisihan hebat yang terjadi pada beberapa grup whatsApp keluarga. Serupa dengan para legislatif yang gagal mendapat suara, kita semua juga pasti sudah lelah menyaksikan ajang kubu-kubuan yang selama ini jadi tembok pemisah.

“Tujuh belas April lalu, jadi penentu. Siapa yang menang dan kalah”

Untuk itu seharusnya kita pun bisa kembali seperti semula. Tak lagi memblokir teman lama karena sering memberikan komentar negatif atas pilihan kita. Kembali menyapa tetangga, meski pilihan kita kalah dan pilihannya jadi juara.

Perlu diingat, jika tak ada satupun peristiwa yang mampu memisahkan kita semua sebagai saudara sebangsa. Pemilu itu pesta demokrasi, bukan ajang yang bertujuan untuk mencerai-beraikan kita dari hidup bermasyarakat. Setiap usungan kita tentu punya niat dan maksud, dan kita percaya jika perjuangan mereka adalah yang terbaik yang patut dipilih. Namun bukan berarti, orang lain harus bisa mengerti. Sebab, setiap kepala memiliki cara pandang yang berbeda. 

Ingat, Bangsa yang merdeka adalah mereka yang bisa menerima perbedaan yang lahir dari tiap kepala. Ketidaksukaan kita pada satu pihak tertentu, tak lantas jadi alasan untuk memaksakan kehendak pada teman lain yang belum tahu. Sebagaimana kita yang merasa berhak untuk memilih sesuatu, orang lain pun memiliki hak serupa untuk menyuarakan apa yang dirasanya perlu.

Selepas jari yang sudah berwarna ungu, setelah puas karena telah menggunakan hak suaramu, mari kembali bersatu. Sebagaimana gerai pakaian atau restauran yang tak membeda-bedakanmu menikmati diskon bersadarkan pilihan suara, ayo lupakan semua perbedaan dan pertentangan yang kemarin ada.

“Saatnya kembali menjadi Indonesia, yang meski berbeda-beda tapi tetap satu jua”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top