Community

Semakin Kita Dewasa, Waktu Terasa Semakin Cepat Berlalu! Kenapa ya?

Saat kamu masih kanak-kanak dulu pasti kamu sempat merasakan bahwa masa liburan sangatlah panjang. Hal sama juga kamu rasakan saat kamu menanti hari ulangtahunmu. Rasanya waktu berjalan amat sangat lambat. Namun saat kamu sudah tumbuh dewasa, hal sebaliknyalah yang kamu rasakan. Justru kamu merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat tanpa kamu sempat menikmatinya.

Waktu Berjalan Lebih Lama Bagi Anak-anak Karena Ilmu yang Dipelajari Sangatlah Banyak di Usianya yang Masih Belia dan Otak Memproses Ilmu Tersebut

Sampai saat ini ada beberapa hipotesis yang menyatakan alasan kenapa manusia memiliki persepsi terhadap percepatan waktu dengan seiring bertambahnya usia. Nah salah satu alasannya karena adanya pemotongan secara berkala terhadap jam biologis manusia. Sedangkan perlambatan metabolisme tubuh juga akan bertambah seiring bertambahnya usia sehingga melambatkan detak jantung manusia.

Pemacu jantung pada anak ebrdetak lebih ceoat sehingga mereka mengalami penanda biologis lebih banyak seperti detak jantung juga denyut nafas dalam waktu tertentu. Inilah yang membuat mereka merasa waktu berjalan sangat lambat.

Pelajarilah lebih Banyak Hal Baru Agar Waktu Berjalan Lebih Lambat

Kamu bisa coba buktikan sendiri. Ada banyak ahli yang menyatakan bahwa saat dihadapkan dengan situasi yang baru, otak akan merekam lebih banyak memori secara lebih rinci sehingga penghimpunan informasi pun akan terasa lambat tentang kejadian yang dialami.

Jika dihadapkan dengan kehidupan yang semakin tua, maka bisa ditarik sebuah hipotesis bahwa semakin tua seseorang, akan semakin terbiasa orang tersebut dengan apa yang terjadi di sekeliling mereka. Inilah yang akhirnya menjadikan proses penyerapan informasi baru lebih sedikit dan membuat waktu seolah berjalan lebih cepat.

Hakikatnya, Semakin Terbiasa Kita pada Satu Rutinitas, Waktu akan Terasa Hilang Begitu Saja

Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, bahwa semakin tua seseorang, akan terbiasa seseorang itu dengan apa yang ada di sekelilingnya. Hasilnya, penyerapan informasi baru pun akan lebih sedikit dan hal ini membuat waktu terasa berjalan sangat cepat. Mekanisme biokimia dibalik hipotesis ini mengungkapkan bahwa pelepasan dopamin neurotransmitter beriringan dengan rangsangan pembelajaran tentang hal baru, yang akhirnya akan membantu seseorang belajar mengukur lamanya waktu.

Biasanya setelah melewati usia 20-an dan berlanjut pada usia yang semakin tua, lebel dopamin seseorang akan menurun dan inilah yang membuat waktu berjalan semakin cepat.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top