Trending

Selamat Ulang Tahun Chrisye: Meski Telah Berpulang Kau Kan Selalu Dikenang!

Siapa yang rindu Chrisye ? Jangankan mereka manusia era 80-an, kamu yang lahir di tahun 90 hingga 2000-an sepertinya juga merasakan hal yang sama bukan? Tahun ini genap satu dekade kita kehilangan dia,  salah satu legenda dari dunia musik di Indonesia. Kehadirannya berhasil jadi barometer musik tanah air sejak tahun 80-an, jadi tak heran jika dirinya tetap jadi pujaan meski telah berpulang.

Jenis dan rasa musiknya memang berbeda berbeda, wajar bila dia jadi candu bagi siapa saja. Bertepatan dengan ulang tahunnya yang hari ini seharusnya genap di angka 68 tahun. Mari bernostalgia sedikit, kenapa sang maestro ini selalu dikenang oleh semua orang.

Berbeda Dengan Yang Lain, Sepertinya Chrisye Memang Sengaja Diciptakan Oleh Tuhan Untuk Jadi Musisi Sungguhan

Laki-laki yang lahir pada 16 September 1949 ini memang paket sempurna untuk menyabet gelar maestro yang melegenda. Meski sudah menyenangi musik sejak kecil dari pirangan hitam milik ayahnya, baru saat memasuki masa remaja di SMA, dia memutuskan untuk bergabung dengan grup band. Nasution Bersaudara adalah band yang menyambutnya untuk bergabung, hingga kemudian berganti nama dengan “Gipsy”.

Perjalanan karir mereka pada masa itu terbilang cukup populer, tak heran jika jadwal manggungnya cukup padat. Hal itu pula yang jadi alasan mengapa Chrisye akhirnya berhenti dari bangku kuliah hingga beberapa kali. Sampai  pada akhirnya tahun 1973 dia terbang ke New York untuk mengusul Gipsy, dan kembali lagi ke tanah air pada akhir tahun yang sama. Meski cukup berliku dengan kisah yang tentu tak selalu mulus, faktanya Chrisye mampu bertahan di dunia musik hingga 40 tahun lamanya.

Ada Sesuatu Yang Sulit Kita Temukan Di Zaman Sekarang, Seakan Telah Mendarah Daging Padanya

Untuk kamu penikmat deretan tembang lagu miliknya, tentu bisa merasakan perbedaan yang mencolok dengan lagu-lagu yang sekarang. Bagaimana dia menggambarkan seorang kekasih merelakan pasangannya yang akhirnya pergi pada lagu “Pergilah Kasih”. Hingga dekatnya seorang umat yang mencoba bercerita dengan pemilik hidup lewat lagu “Damai Bersamamu”.

Jika kamu masih tak percaya bahwa dirinya memang berbeda, cobalah dengarkan beberapa lagu miliknya secara berulang-ulang. Alih-alih merasa bosan karena diperdengarkan berulang kali, kamu justru akan kecanduan. Dan jika harus diminta untuk mencari hal yang serupa, rasanya sangat sulit untuk menemukan rasa yang sama pada penyanyi masa sekarang.

Selain Aliran Musik Yang Berbeda, Lirik Dari Lagu-Lagunya Pun Memang Sarat Makna

Pada tahun 1975-1976 Chrisye hadir dengan Gipsy melakukan penggarapan album yang digawangi oleh Guruh Soekarnoputra. Almarhum Denny Sakrie, seorang penulis dan pengamat musik Indonesia, menilai mereka adalah kakek dari tonggak musik progresif milik Indonesia. Kemampuan dan kelihaian mereka dalam membuat aransemen musik yang komplit jadi sesuatu yang membuat mereka berbeda. Karena tak hanya musik progresif rocknya saja, mereka juga menyelipkan musik tradisional Bali sebagai bumbu penyedanya.

Tak hanya berhenti disitu saja, Chrisye juga selalu hadir dengan lagu-lagu sarat makna. Pemilihan kosakata pada setiap lirik lagu miliknya, selalu mempu membuat penggemarnya menerka-nerka apa sesungguhnya makna dari setiap liriknya.

Bahkan Beberapa Remake Lagu Miliknya, Jadi Bukti Meski Telah Tutup Usia Dia Selalu Hidup Untuk Setiap Orang Yang Mengenangnya

Begitu banyak prestasi yang telah dia goreskan dalam sejarah musik tanah air. Lima album miliknya berhasil masuk dalam daftar 150 album terbaik Indonesia sepanjang masa versi Rolling Stone Indonesia,  ini jadi prestasi yang akan dikenang sepanjang masa. Bahkan Menurut data dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia, Badai Pasti Berlalu tahun 1977 adalah album Indonesia paling laris urutan kedua, dengan sembilan juta keping terjual antara tahun 1977 dan 1993.

Meski dirinya telah tiada, kecintaan dan kekaguman para penggemarnya tak hilang begitu saja. Walau tak lagi mampu melihat raganya, sebagian besar dari generasi muda justru mengaku banyak terinspirasi dari lagu-lagunya yang hingga kini masih bisa dinikmati. Bahkan beberapa lagu yang juga telah diremake beberapa penyanyi lain pun masih menuai pujian dan kekaguman pada sang pemiliknya.

Hingga Lagu “Kidung Abadi” Yang Direkam Setelah Chrisye Wafat

Pada tahun 2012 lalu, lima tahun setelah kematiannya, atas rindu dan rasa kehilangan, Erwin Gutawa menggagas sebuah ide yang ingin menghadirkan Chrisye kembali di hadapan para penggemarnya. Benar saja, lagu “Kidung Abadi” pun lahir dari goresan tangan Gita Gutawa pada awal tahun 2012 lalu. Kemudian direkam dengan suara almarhum yang sudah berpulang bahkan lima tahun pada saat itu.

Komposer sekaligus penata musik tersebut, berhasil mengumpulkan 246 kata dari lagu-lagu milik Chrisye. Dibantu oleh 10 orang engineer termasuk putrinya, butuh waktu 2 bulan untuk menyelesaikan editing dan rekaman lagu tersebut. Mereka memilih potongan-potongan suara milik Chrisye, sesuai dengan tinggi dan rendahnya nada yang sesuai dengan lirik yang telah dibuat. Hal ini jadi salah satu bukti, bahwa meski telah tiada suaranya akan tetap abadi.

Selamat Ulang Tahun Maestro Bangsa, Terima Kasih Untuk Setiap Karya Yang Masih Bisa Dinikmati Di Mana Saja

Mengakhiri hidup karena kanker paru-paru yang dideritanya pada 3 maret 2007 lalu, telah memisahkan kita dengan dirinya selama satu dekade lamanya. Namun hingga kini semua energi dari berbagai karyanya, masih tetap mengalir bagi setiap pendengarnya.

Bahkan untuk mengobati rasa rindu bagi mereka yang merasa kehilangan, hingga generasi muda yang mungkin belum tahu sosoknya. Sebuah film yang berkisah tentang drama kehidupan yang dilalui Chrisye sampai jadi legenda telah selesai digarap dan siap ditayangkan akhir tahun ini. 

Meski berhenti melanjutkan hidup di angka 57, sosoknya akan selalu hidup untuk melanjutkan angka-angka berikutnya. Selamat ulang tahun Chrisye, damailah di surga!

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jadi Istri yang Baik, Tak Cukup Hanya Modal Cantik

Punya makna ganda, setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda untuk mendefinisikan kata cantik. Banyak dijadikan sebagai acuan, beberapa perempuan terlalu fokus untuk menjadi cantik tanpa memahami bagaimana arti cantik sesuai dengan dirinya. Apalagi untuk kamu yang saat ini sedang bersiap untuk menikah.

Yap, perkara menjadi seorang istri sehabis menikah memang bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap perempuan akan dihadapkan dengan babak baru dengan berbagai macam lika-liku. Pada titik inilah, kamu mungkin akan paham bahwa untuk menjadi istri yang baik tak cukup hanya modal cantik.

Lagipula selalu ada pertimbangan bagi seorang laki-laki yang akan mempersuntingmu jadi istrinya. Dan ‘cantik’ bukanlah jadi alasan yang pertama, sebaliknya ada hal-hal lain yang perlu kamu kuasai untuk menjadi seorang istri yang (baik) dimata sang suami.

Selepas Jadi Istri, Dirimu Juga Akan Menjadi Seorang Ibu, Sudahkah Kamu Siap Untuk Itu?

Selepas menikah, jika memang sudah berencana untuk memiliki momongan. Masa transisi untuk menjadi seorang ibu, juga akan dipenuhi dengan berbagai macam drama kehidupan berumah tangga. Maka penting untuk kamu bisa belajar mempersiapkan diri dari sekarang.

Cobalah untuk mengulik ilmu-ilmu dasar menjadi seorang perempuan yang akan memiliki bayi kecil. Bagaimana kamu akan membawanya selama 9 bulan, melahirkan, merawat dan membesarkan dan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi dengan benar. Sudahkah kamu bersiap untuk itu semuanya?

Mandiri dan Tidak Manja, Juga Jadi Modal Baik untuk Mendidik Anakmu Nantinya

Walaupun laki-laki dan perempuan tercipta dengan porsi tenaga yang berbeda. Kamu tak boleh hanya berpangku tangan saja, menunggu bala bantuan dari pasangan. Beberapa perkara perlu dikerjakan seorang diri dan mampu mencari jalan keluar untuk semua masalah yang dihadapi.

Ketika kamu berhasil menjadi sosok seorang istri dan ibu yang mendiri, setidaknya kamu sudah punya acuan untuk mendidiknya seperti kemampuan yang kamu miliki. Tak spesifik untuk diturunkan kepada anak yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, karena setiap anak perlu dididik untuk menjadi mandiri dalam kehidupan.

Lihai Dalam Menguasai Pekerjaan Rumah dan Berbagi Tugas Bersama

Jangan salah kaprah, memintamu untuk menguasai pekerjaan rumah, bukan berarti ingin menjadikanmu sebagai sosok yang paling banyak bekerja. Coba pahami pelan-pelan, karena sebenarnya ini akan jadi kerjasama yang baik dengan pasangan. Mampu mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar dan selalu membuka diri untuk terus belajar.

Akan berada di dalam rumah lebih sering daripada si suami, ada beragam hal yang akan kamu hadapi tanpanya. Untuk itu, penting mempersiapkan diri dalam menerima kemungkinan lain yang bisa terjadi. Bukan tentang hal-hal berat yang mungkin tak bisa kamu kerjakan, tapi lebih ke kemampuan dasar pekerjaan rumah yang biasa seorang istri lakukan.

Bijak dalam Mengatur Ekonomi, Semua yang Dibeli Harus Selalu Diperhitungkan dengan Teliti

Setiap perempuannya, umumnya akan jadi pemegang keuangan dalam keluarga. Kamu akan bertugas untuk mengatur semuanya yang diperlukan. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang dan perintilan lain yang diperlukan. Tak boleh diputuskan dengan asal-asalan, ketelitian dalam mempertimbangkan sesuatu dengan matang amat perlu untuk berbagai macam kebutuhan.

Kamu harus bisa mempertimbangkan, segala biaya yang akan dikeluarkan. Pentingkan kursi baru yang rencananya akan kamu beli bulan depan. Sampai penentuan berapa batas biaya yang akan dikeluarkan untuk liburan keluarga setiap tahunnya.

Ya, semua ada perhitungannya. Dan istri yang baik, pasti tahu bagaimana mengaplikasikan perhitungan ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

Serta Mampu Mengatur Emosi dalam Berbagai Macam Persoalan di Kehidupan Sehari-hari

Kehidupan rumah tangga, menjadi seorang istri dan ibu, jelas tak hanya tentang sesuatu yang bahagia. Ada kalanya kamu akan bertengkar dengan suami, lelah karena kenakalan anakmu, atau frustasi atas kesulitan lain dalam menjalankan peranmu. Ini memang berat, tapi bukan berarti kamu tak bisa kuat.

Itulah mengapa, penting sekali untuk bisa mengotrol diri dengan baik. Mengatur kapan harus marah dan kapan harus meredam semuanya. Diam tak selalu jadi pertanda jika kita kalah, tapi juga membuktikan seberapa besar kita bisa menang atas ego diri sendiri. Dengan catatan, si suami pun melakukan hal yang sama seperti yang kau yakini.

Setidaknya, kini kamu punya gambaran. Bagaimana menjadi istri yang baik dan benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Keputusanku untuk Keluar dari Grup WhatsApp Pertemanan yang Isinya Semakin Tak Karuan

Selain mengurangi dosa, keluar dari grup whatsapp yang isinya cuma ujaran kebencian atau hal-hal menyebalkan lain. Kamu juga harus siap dimusuhi oleh kenkawan. Ya, mau bagaimana. Terus berada di sana hanya membuat kita sakit kepala, tapi memutuskan untuk pergi pun bukanlah hal yang mudah.

Namun dengan alasan kesehatan mental diri sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk menarik diri dan keluar. Jangan tanya berapa kawan yang tiba-tiba nge-japri secara personal, hanya untuk bertanya “kenapa keluar?”, karena banyak ternyata whoaa. Bahkan dia yang tadinya, cuma ada di daftar kontak saja tiba-tiba chat dan bertanya kenapa.

Begini, perjalanan hidup beserta segala tetek bengeknya sudah terasa susah. Aku tak mau menambah beban untuk diriku sendiri, dengan tetap berenang dalam kolam toxic yang buat kepala pusing bukan kepalang.

Tak bisa diputuskan dengan mudah, langkah ini kuambil setelah berbulan-bulan berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Dan memang, jawaban yang kutemui adalah “Untuk apa tergabung pada mereka yang suka menyebar sesuatu yang berujung dengan kebencian dan arah yang makin tak jelas?”. Maka untuk itu, aku memutuskan keluar dari grup pertemanan demi hidup yang lebih tenang.

Kamu yang sedang membaca ini, mungkin sedang merasakan hal yang sama. Tapi masih sibuk bergelut untuk mencari jawaban dan keputusan apa yang harus dilakukan. Demi membantumu, ada beberapa alasan yang membuatku akhirnya memutuskan keluar dari grup pertemanan.

Mereka Tak Mau Mendengar Pendapat yang Berbeda, Dimatanya Dia yang Paling Benar dari Semua Manusia

Yap, hal-hal yang kerap memancing emosi adalah sikap keras kepala yang selalu menganggap dirinya paling benar dari kawan di grup.

Gambarannya begini, seorang teman mengirimkan satu tautan ke grup, yang ternyata sebagian besar isinya adalah berita bohong yang tak berdasar. Mencoba untuk membantunya mengerti, barangkali memang kurang memahami.

Kemudian saya membalas kirmannya, dengan tautan lain yang lebih bisa dipercaya. Tapi sayang, pembahasan mana yang salah dan mana yang benar justru berakhir dengan pernyataan bahwa aku terlihat merendahkan kemampuannya dalam memahami satu fakta.

Satu dua kali mungkin masih bisa diterima, tapi kalau setiap teguran atas kesalahannya selalu dianggap merendahkan. Itu artinya ia memang tak mau mendengar pandangan lain yang berbeda. Lalu tiba-tiba saya teringat satu nasehat yang tak tahu entah dari siapa. “Berdebat dengan orang yang tak mau membuka diri akan pendapat orang lain, tak akan ada habisnya”.

Terlalu Sering Membaca dan Menyaksikan Perdebatan Politik Cebong dan Kampret, Ternyata Jadi Beban

Tanpa harus kujelaskan, kamu pasti paham. Bagaimana panasnya suasana jelang musim politik seperti sekarang ini. Masing-masing kubu sering mempermasalahkan sesuatu diluar hubungan pertemanan. Iya, membawa masuk politik hanya untuk menjatuhkan pilihan teman lain yang mungkin berbeda.

Aku yang masih bingung akan menyebrang ke mana, hanya bisa diam melihat bagaimana mereka berkutat dengan masing-masing pendapatnya. Semua berkata pilihannya benar. Sampai-sampai aku sering berpikir, ‘Memangnya apa susahnya sih, menerima pendapat orang?’

Bukan tak peduli akan apa yang mereka perdebatkan, sebagai seseorang yang sedang mencoba untuk jadi warga negara yang baik. Tentu saja aku mengikuti semua perkembangan berita politik. Tapi membawa hal tersebut masuk ke pertemanan, bukanlah sesuatu yang tepat. Apalagi kalau hanya untuk dijadikan bahan berdebat. Percayalah, itu menganggu dan jadi beban untuk pikiranmu.

Belum Lagi Tren Hijrah yang Kian Galak Digadang-gadang oleh Teman Lainnya

Jangan buru-buru emosi! Karena sesungguhnya Hijrah di mataku adalah perbuatan yang baik dan sungguh sangat kukagumi. Sayangnya, beberapa orang yang melabeli diri sedang ‘Hijrah’ justru tak menunjukkan ke-hijrah-annya. Mereka semua adalah temanku dan bisa dibilang aku hampir bisa tahu, bagaimana mereka sejak dulu.

Lalu, dengan alasan hijrah kemudian datang kepada kita untuk memberikan satu dua kata petuah yang seringnya jadi kalimat penghakiman. “Harusnya kamu begini”, “Kamu tak boleh begitu” hingga “Menurutku, harusnya…”

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat atas kajian dan pemahaman agama yang sudah mereka dapatkan. Berupaya terlihat jadi sosok yang paling “Suci” kupikir bukanlah bagian dari ‘Hijrah’ yang benar. Dan jujur ini jadi sesuatu yang amat menyebalkan.

Bahkan Ketika Sudah Keluar Saja, Masih Ada Teman yang Bersikap Menyebalkan

“Ah elunya aja yang sok-sokan, buktinya banyak yang masih di group kok. Walau nggak pernah bahas politik atau masalah hijrah kaya alasan lu”

Yap, itu adalah salah satu kalimat yang dikirimkan seorang teman. Ketika aku menjawab pertanyan yang ia ajukan. Dia tak tahu saja, bahwa sebenarnya beberapa orang di dalam mungkin juga sudah gerah dan tak bisa menahan tetap di sana. Cuma belum menemukan keberanian saja untuk bilang, “Maaf aku keluar grup ya teman-teman”

Setidaknya, ini jauh lebih baik walau  harus menerima sanksi dibenci oleh beberapa teman yang tadinya punya hubungan baik. Tak apa, biarlah mereka menilaiku semaunya. Satu hal yang pasti, aku hanya ingin mengoptimalkan waktu dan energi pada mereka yang memberiku kekuatan positif. Bukan mereka yang tahunya menyebar informasi bohong dan sibuk sok jadi paling benar sendiri.

Tapi Sebelum Keluar dari Grup Pertemanan, Cobalah Pikiran Beberapa Pertanyaan Ini

  1. Masihkah kamu merasa nyaman dengan obrolan yang ada atau justru resah karena mulai terlihat gaduh dan tak terarah?
  2. Bagaimana fungsi grup berjalan, jadi wadah untuk berbagi kabar atau ajang untuk adu debat dan ngotot-ngototan?
  3. Adakah pengaruh baik yang kamu dapatkan dari sana atau justru jadi beban yang menganggu pikiranmu?
  4. Tahukan mereka waktu yang tepat untuk berdebat? Jangan sampai karena grup tersebut, kamu kehilangan fokus untuk pekerjaanmu
  5. Dan yang terakhir, masihkah kamu menganggapnya sebagai grup pertemanan untuk tetap mempertahankan hubungan atau hanya sekedar jadi tameng untuk bisa saling serang?
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Usah Terlalu Diumbar, Kemiripan diantara Kalian Belum Bisa Jadi Jaminan Melenggang ke Pelaminan

Relationship goals yang dikira orang selama ini bukan hanya yang selalu membagikan foto-foto bahagia di media sosial. Ada yang beranggapan relationship goals adalah saat kamu punya pasangan dengan hobi, kebiasaan, dan aneka sifat yang sama denganmu. Karena kesamaan itu, menurutmu pasti tipikal pasangan semacam ini akan terus adem ayem dan tak ada masalah yang cukup berarti.

Nyatanya tak selalu demikian. Kesamaan sifat atau kesukaan tak menjamin kebahagiaan dan hubungan yang langgeng. Misalnya, kamu dan pasangan dikenal sama-sama keras kepala, kalau dipaksakan bersama yang ada satu sama lain lebih sulit menyesuaikan dan tak ada yang mau mengalah. Pusing sendiri kan? Untuk itu, kesamaan tak menjamin kebahagiaan.

Jangan Takut dengan Perbedaan, Hubungan Asmara Justru Lebih Berwarna untuk Dilakoni

Kita ambil saja contoh dari pasangan Nick Jonas dan Priyanka Chopra. Keduanya bukan hanya beda usia, namun datang dari budaya yang berbeda sekaligus karier yang bertolak belakang. Namun perbedaan yang dijalani keduanya malah berakhir indah. Sebagai orang Amerika, Nick perlahan-lahan belajar adat sang istri yaitu India sehingga pengetahuannya pun bertambah. Tidak sia-sia kan punya pasangan yang berbeda?

Perbedaan karakter pun baik. Menurut hasil penelitian yang pernah dipublikasikan oleh Psychology Today, pasangan dengan karakter beda justru lebih langgeng bila dibandingkan dengan pasangan yang serba sama. Ini karena pengalaman yang dirasakannya dalam hidup lebih bervariasi.

Kalau Sama-sama Perfeksionis, Hati-hati Ada Momennya Kamu Tersiksa Saat Salah Satu dari Kalian Berbuat Kesalahan

Ukuran perfeksionis seseorang sejatinya berbeda-beda. Ada yang perfeksionisnya tinggi, ada yang sedang-sedang saja. Tingkat perfeksionis ini dapat memengaruhi bedanya ukuran prinsip masing-masing. Yang sedikit fatal adalah kalau salah satu dari pasangan melakukan kesalahan, bisa jadi pasangan satunya lagi tidak bisa mentolerir dan menunjukkan kekesalannya secara langsung. Semoga saja kamu tak mengalami hal semacam ini ya kawan.

Sama-sama Dikenal Ramah dan Peduli Pada Orang Lain, Ada Masanya Kalian Langsung Cemburu

Menjadi pribadi yang baik ke sesama dan selalu memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu memang sangat baik. Hanya saja, hati-hati, jangan sampai lantaran kamu sibuk peduli dan menolong orang, waktumu selalu habis untuk orang lain sementara pasangan yang memerlukan keberadaanmu justru tak mendapat respon sama sekali. Alhasil, muncul rasa cemburu. Kalau kamu tidak bisa memanipulasi pikiran sendiri, bisa terjadi konflik lho kawan.

Kalau Kalian Sama-sama Haus Prestasi, Siap-siap Saat Menikah Nanti Selalu Saingan Karier Siapa yang Lebih Tinggi

Misalnya kamu di kondisi kalau kamu dan pasanganmu adalah sosok yang sama-sama berpengaruh di lingkungan kerja. Jabatan kalian juga tinggi dan selalu bekerja keras demi suksesnya perusahaan. Akhirnya, kalian disibukkan dengan jadwal di sana-sini.

Tapi, kalian tak mungkin kan sibuk terus kan? Terlebih saat pacaran, tentu harus bisa meluangkan waktu. Pun saat berdiskusi, bukan berarti kamu dan pasangan jadi saling menyibukkan diri pamer prestasi masing-masing. Ada lho karakter seseorang yang tak mau kalah saat pasangannya berada di puncak karier. Apa iya kamu saingan dengan pasanganmu sendiri?

Pasangan yang Keduanya Romantis Namun Punya Sisi idealis, Kalau Sedang Bosan, Justru Riskan Membanding-bandingkan

Buat kalian, pacaran itu harus romantis dan mengupayakan yang terbaik. Kamu pun bersyukur karena kamu menemukan pasangan yang sama-sama mendukung dan mampu bersikap romantis satu sama lain. Mungkin idealisme semacam ini terdengar bagus.

Tapi hubungan itu juga tak bisa selalu romantis. Pasti akan ada masalah tertentu. Selain itu, kalau terlalu sering romantis dan kadarnya berlebihan, bukannya justru membosankan? Di saat yang bosan inilah, rentan membanding-bandingkan hubungan dengan pasangan lain yang kamu lihat. Kawan, berhentilah membandingkan. Tuntutan untuk meniru pasangan lain ke pasangan sendiri justru bisa jadi beban lho.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top