Feature

Selalu Berpikir yang Terburuk, Bisa Jadi Karena Kamu Diliputi Kecemasan Tinggi

Rasa gugup, cemas dan khawatir secara tidak sadar telah jadi santapan kita sehari-hari. Hal itu normal, dan juga memiliki manfaat. Karena dengan rasa gugup yang dirasakan, akan mendorong kita untuk berlatih agar tidak gugup lagi. Atau semisal kamu khawatir besok tak bisa presentasi di kantor dengan baik, maka kamu akan berlatih di depan cermin, agar dapat tampil maksimal.

Meski begitu, rasa cemas yang melebihi batas normal akan berdampak buruk. Banyak orang yang mengatakan, selalu berpikir hal terburuk dalam suatu kejadian itu baik, karena membuatmu fokus dan tidak lengah apabila situasi mendadak berubah. Tetapi kala rasa cemasmu tinggi, bisa jadi malah membuatmu tak produktif. Sederhananya, kita mengenalnya dengan nasihat, “Jangan kebanyakan berpikir, kerjakan saja. Kalau kebanyakan berpikir, tak jadi-jadi.”

Kamu Mendapat Undangan Suatu Acara yang Dinanti, tapi Enggan Pergi

Ada suatu pesta besar yang kamu nanti selama berminggu-minggu. Bahkan kamu sempat membayangkan keseruannya. Namun kecemasan timbul dan membuatmu berpikir, “Kalau aku datang nanti di sana rame banget, terus sumpek, meskipun seru tapi nggak kebayang nanti capeknya seperti apa.” Dengan berpikir seperti itu, akan membuat dirimu merasa seolah-olah tidak memiliki energi. Dan pada akhirnya, kamu pun hanya berdiam diri di rumah saja.

Terobsesi terhadap Sesuatu Hal yang Tidak Sengaja

Obsesi terhadap sesuatu yang tidak sengaja biasanya dipicu oleh sebuah momen yang kamu alami. Seperti kamu dilirik oleh lawan jenis, yang membuat kamu bertanya-tanya, dia kenapa melirik ke arahku, sampai-sampai hal itu tak bisa lepas dari pikiranmu.

Situs Calmclinic.com melaporkan bahwa pikiran obsesif adalah bentuk gejala kecemasan yang umum. Secara umum pula, ketika kamu sedang mendekati lawan jenis, kamu mengirim pesan kepadanya, tetapi kamu belum mendapatkan balasan berjam-berjam. Kemudian kamu dihantui dengan rasa bertanya-tanya, apakah dia telah melihat pesanmu atau memang mengabaikan.

Tidur Selalu Telat, namun Bangun Lebih Awal

Susah tidur merupakan salah satu masalah bagi mereka yang memiliki kecemasan tinggi. Ada sesuatu yang terus menghiasi di kepala mereka, sulit bagi mereka untuk tidur tepat waktu yang layak dan itu pun dijelaskan oleh Health.com. Bahkan situs kesehatan tersebut menambahkan, saat kecemasan menyerang yang mereka lakukan hanya terbaring di kasur meskipun tak bisa tidur. Karena tak ada kegiatan lain yang dapat dilakukannya. Bahkan meski tertidur pun, mereka tak bisa memiliki kualitas tidur yang baik.

Percakapan di Masa Lalu Selalu Menghiasi Jalan Pikiranmu

Apakah kamu kerap memikirkan percakapan di masa lalu? Baik itu dengan teman, saudara, atau pacarmu sendiri. Merasa cemas apakah kamu pernah salah berucap, dan memikirkan seberapa baik percakapan itu berlangsung. Jika benar memikirkan hal seperti itu, berarti kamu memiliki rasa kecemasan tinggi seperti dijelaskan di Health.com. Perasaan ini dapat mengganggu aktivitasmu, bahkan kamu ingin sekali bertemu dan meminta maaf karena kamu merasa mengatakan hal yang salah.

Kerap Memikirkan Skenario Terburuk

Masih dilansir dari laman yang sama mengatakan, seseorang dengan kecemasan yang parah mulai membayangkan dan meyakinkan  diri bahwa bakal ada skenario terburuk. Meskipun mengingat hal seperti itu, penting guna membuat kamu waspada dan berhati-hati. Namun secara mutlak bakal mempengaruhi jalan pikiranmu. Seperti saat sedang sakit, kamu langsung mendiagnosa diri sendiri kalau ada kaitannya dengan penyakit kronis.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Demi Melacak Ratusan Penguntit, Taylor Swift Pakai Teknologi Pemindai Wajah Saat Konser

Taylor Swift ternyata menggunakan teknologi pendeteksi wajah saat menggelar California’s Rose Bowl pada Mei lalu demi mengawasi ratusan penguntit atau stalker yang kerap membuntutinya.

Dikutip dari The Verge, alat ini dipasang pada sebuah perangkat khusus. Para pengunjung pun tak sadar kalau sebenarnya keberadaan alat ini ditanam pada perangkat berupa papan elektronik yang menampilkan video proses latihan Taylor Swift. Baru kemudian saat para penonton memperhatikan video tersebut, secara diam-diam alat pendeteksi merekam dan memindai wajah masing-masing pengunjung.

Berdasarkan wawancara Rolling Stone dengan seorang petugas keamanan konser, wajah-wajah tersebut kemudian dikirimkan ke Nashville, Amerika Serikat, yang menjadi “command post”, untuk dicocokkan dengan muka-muka penguntit yang sebelumnya sudah diketahui.

Taylor Swift menjadi artis Amerika Serikat pertama yang diketahui menggunakan teknologi pendeteksi wajah di konsernya. Sayangnya, saat ini masih jadi perdebatan apakah penggunaan teknologi ini bisa dibenarkan secara hukum. Sebab, ada yang menilai konser menjadi ranah pribadi bagi penyelenggara. Dengan demikian, penyelenggara berhak memantau pengunjung yang datang. Namun, penggunaan teknologi ini terbilang tak lazim dan berlebihan, namun ternyata hal ini bukan yang pertama.

Sebelumnya, pada April 2018, polisi di China menangkap seorang pelaku kejahatan yanng bersembunyi di antara sekitar 60.000 penonton konser di Nanchang International Sports Center. Sistem pengawasan ini bisa mengawasi pergerakan orang di kerumunan karena menggunakan sistem pemantau “Xue Liang” atau “Sharp Eye”.

Di Amerika Serikat, teknologi pemindaian wajah nantinya akan dikembangkan untuk menggantikan sistem tiket. Jika berhasil, penonton film di bioskop tidak perlu lagi menggunakan tiket kertas, karena cukup dengan menggunakan wajah yang sudah dipindai sesuai dengan nomor bangku sesuai saat pembelian.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Pelaku Menyerahkan Diri, Ussy Tetap Ingin Proses Hukum Tetap Berjalan

Pembawa acara Ussy Sulistiawaty (37) akhirnya menerima permintaan maaf orang yang menghina anaknya di media sosial. Perempuan itu juga sudah menyerahkan diri ke Mapolda Metro Jaya. Namun, Ussy akan tetap melanjutkan proses hukum atas pelaku penghinaan itu.

“Itikad dia bagus untuk menyerahkan diri. Tapi, karena sudah masuk laporan, tetap diproses,” kata Ussy seperti dikutip Kompas.com, Kamis (13/12/2018).

Ussy mengatakan pula bahwa perempuan pelaku penghinaan tersebut mengakui perbuatannya. Pelaku sadar tidak akan bisa kabur ke mana-mana sehingga memilih menyerahkan diri ke polisi.

“Dia sadar, mau ganti IG (Instagram) apa pun, polisi juga akan menemukannya. Makanya, dia sadar, menyerahkan diri. Indonesia kan sekarang lagi melawan bullying dan cyber crime, kita harus dukung. Jangan sampai laporan saya ini dikatai lebai,” ujar istri artis peran dan pembawa acara Andhika Pratama ini. Diberitakan sebelumnya, Ussy Sulistiawaty melaporkan lebih dari 10 akun yang menghina anaknya lewat media sosial dengan kata-kata tidak pantas.

Ussy melaporkan mereka dengan pasal pencemaran nama baik, dengan ancaman hukuman empat tahun penjara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Berkunjung ke Vatikan, Menteri Susi Penuhi Undangan dari Paus Fransiskus dan Bahas Isu Kelautan

Pada salah satu agenda kerja di Eropa baru-baru ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti terlihat mengunjungi Vatikan untuk memenuhi undangan dari Paus Fransiskus. Yap, Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Vatikan Wanry Wabang mengungkapkan, Ibu Susi berkunjung ke Vatikan dalam rangka menghadiri audiensi dengan Paus bersama ribuan umat Katolik dan wisatawan non-Katolik.

Undangan tersebut beliau terima, tatkala menghadiri acara Our Ocean Conference di Bali 29-30 Oktober beberapa waktu lalu. Dalam acara yang berlangsung di Aula Paolo Sesto Vatikan, Rabu (12/12) lalu, pukul 09.00-11.00 waktu setempat tersebut. Menteri perempuan yang terkenal dengan kata “Tenggelamkan” itu, berkesempatan untuk bersalaman dengan Paus Fransiskus dan menyampaikan ucapan terima kasih atas surat Paus yang dikirimkan pada acara Our Ocean Conference 2018 serta mengundang Paus ke Indonesia.

“Saya mengucapkan terima kasih secara langsung atas dukungan dan komitmen Vatikan yang disampaikan oleh H.E Archbishop Piero Pioppo…,” ucap bu Susi seperti dilansir dari Antara, Jumat (14/12)

Selain itu, Menteri Susi juga melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Monsinyur Paul Richard Gallagher di Istana Apostolik Vatikan. Adapun tujuan pertemuan itu adalah untuk membahas pengertian antara Vatikan dan Indonesia mengenai upaya penanggulangan pencurian ikan dan “perbudakan” di sektor perikanan.

Kepada Susi, Paus menyatakan akan terus mendoakan dan memberikan dukungan bagi rakyat dan bangsa Indonesia. Dan Vatikan juga berjanji, untuk setuju membantu upaya Indonesia mengangkat isu hak-hak kelautan di forum PBB.

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top