Feature

Sedih itu ketika Cintanya Tepat Waktunya Tidak, Waktunya Tepat Cintanya Tidak

“Ibarat pejalan, aku sudah berjalan terlalu jauh. Melewati hidup dengan semangat hijau dan liar. Tikungan-tikungan patah menjadi saksi. Hinggap dari satu pelukan kekasih ke pelukan kekasih yang lain” – Puthut EA

Bagimu mungkin ini terlihat sederhana, tapi bagiku ini jadi sesuatu yang sulit tentunya. Sebagai seorang insan biasa, aku hanya bisa mengikuti alurnya. Namun untuk kesekian kalinya, lagi-lagi aku kecewa.

Bukan karena cinta yang tak ingin berpihak kepada kita, tapi kepada dewi fortuna yang nampak enggan untuk bersama. Sebab seberapa kuat pun aku bertahan, jika memang semesta tak merestuinya tentu semuanya akan sia-sia.

Teka-teki dari Sang Pemilik Hidup memang sulit untuk kita terka, ketika cinta sudah penuh pada porsinya seringkali waktu justru tak berpihak. Begitu sebaliknya, ketika waktu telah menunjukkan detik terbaiknya, sosok yang ada dihadapan justru terlihat tak meyakinkan. Lalu harus bagaimana?

Bersamamu Aku Jadi Sosok yang Paling Bahagia, Maka Kuurungkan Niat Pada yang Lainnya

Konon ada banyak cara Tuhan untuk mempertemukan dua orang, dan kini aku percaya jika kita memang sedang dipertemukan. Beberapa perlakuan baik yang kerap kamu tunjukkan, berhasil membuatku percaya bahwa kamu adalah orangnya.

Tak tahu bagaimana caranya, tiba-tiba saja ada rasa haru atas semua yang kamu berikan kepadaku. Bahkan kini aku merasa sudah seperti memilikimu secara utuh, lalu bagaimana denganmu? Begitu tanyaku beberapa waktu lalu saat sedang bersama.

Tak ingin membuatku kecewa saat itu juga, kamu hanya menjawab dengan sebuah senyuman manis yang selalu berhasil membuatku rindu untuk kembali melihatnya.

Tapi Lagi-lagi Kita Harus Menahan Rasa, Apa yang Selama Ini Kita Yakini Ternyata Tak Berakhir dengan Bahagia

Jangan dulu bilang sudah tak cinta, tidak pula tak ingin bersama. Karena ada hal lain yang nampaknya sulit untuk dijelaskan. Dari cinta yang tadinya terasa utuh dan membuat bahagia, lagi-lagi kita harus memilih berpisah entah karena apa.

Sebagai dua orang yang tadinya saling cinta, kita tentu tak ingin disalahkan. Karena biar bagaimana pun, sebisa mungkin kita telah berusaha dengan sekuat tenaga. Hanya saja ada beberapa kemungkinan yang terjadi diluar kuasa. Cinta yang telah dipelihara bisa pupus begitu saja, hanya karena waktu yang enggan berpihak.

Memang benar kata orang, rasa yang sudah tertancap begitu dalam justru jadi hal yang juga melukai lebih dalam.

Bahkan Jika Boleh, Aku Ingin Mengutuki Waktu yang Tak Pernah Mau Bersahabat dengan Kita

Tentu akan terdengar naif sekali jika diriku masih akan berkata aku masih baik-baik saja, karena nyatanya tidak. Bermalam-malam aku mencoba mencari dimana letak salahnya, tapi ternyata yang ketemukan hanyalah waktu yang tak tepat.

Cinta kita mungkin sudah benar, bahkan rasa percaya untuk bisa membawa hubungan ini lebih jauh jadi sesuatu yang mulai dimimpikan. Entah dengan alasan apa, sepertinya semesta tak merestuinya.

Diwaktu yang berbeda, ketika semua telah memberi restunya. Barangkali kamu atau aku juga sudah bertemu dengan orangnya. Namun lagi-lagi harus kembali merasakan luka, karena pada waktu yang katanya sudah baik, ternyata cinta yang datang justru tak baik.

Atau Ini Adalah Teguran Untuk Kita Berhenti Sebentar, Sembari Menunggu Dia yang Sudah Dipersiapkan

Perihal cinta dan perasaan memang kerap jadi sesuatu yang cukup menguras pikiran. Hal-hal yang tadinya tak jadi beban, bisa berubah bak lelah yang tak tertahankan. Dengan bekal pikiran jernih, barangkali memang benar kita harus memberi ruang pada sepi. Membiarkan beberapa cinta singgah dan pergi, setelah itu baru kita bisa bertemu dengan dia yang jauh lebih baik lagi.

Rasa kecewa jelas masih terasa, biar bagaimana pun beberapa cinta yang kemarin sempat singgah, pernah kita doakan agar bisa untuk selamanya. Tapi ternyata semesta dan Pemilik Kuasa memberi titah lain.

Karena Perihal Waktu dan Cinta yang Sering Kali Datang Tak Tepat, Sesungguhnya Kita Hanya Bisa Menerima

Sebenarnya ini tak terjadi begitu saja, ada beberapa tanda yang bisa kita baca untuk mengetahuinya. Tapi bermodalkan percaya, dengan kekuatan rasa kadang kita mengabaikan hal-hal yang sesungguhnya jadi petunjuk arah.

“Sudah jalani saja dulu, nanti dia juga berubah”

Kalimat pelindung yang tak lupa kita gunakan untuk meyakinkan diri lebih dalam. Padahal sudah jelas-jelas tahu, bahwa dia itu tidak tercipta untukmu atau untukku.

Lalu siapakah yang harus disalahkan? Cinta atau waktu yang sedang berjalan? Tak ada yang perlu diperdebatkan. Tak pula harus berkutat pada kesalahan. Ini semua sudah menjadi jalannya. Bagaimana kamu akan diam dan pergi begitu saja, ketika mendapati cintamu ternyata tak seperti yang kamu inginkan, atau berjalan lebih jauh karena waktu yang tak mau memberi restu pada hubungan.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Denzel Washington Tak Ragu Jadi Sopir Taksi

Aktor Denzel Washington jadi sopir taksi! Tenang, ini bukan jadi mata pencaharian baru dirinya, melainkan ia hanya menyamar untuk persiapan film ‘Equalizer 2’. Ia akan kembali memerankan sebagai mantan anggota CIA.

Dalam film tersebut, Denzel berprofesi sebagai sopir taksi dari aplikasi bernama Lyft. Ia kemudian menyamar dan mengantarkan beberapa penumpang di sekitar Los Angeles. Hebatnya, penyamaran Denzel tak ada yang mengetahui.

“Saya tidak pernah minum-minum (mabuk), jadi saya tak pernah meminta seseorang untuk mengantar saya pulang,” kata Denzel dalam acara Iive bersama Kelly dan Ryan, seperti yang dikutip dari Aceshowbiz, Minggu 22 Juli 2018.

Bagi aktor berusia 63 tahun itu, penumpang jarang menyadari soal siapa yang membawa mobil. Sebab biasanya para penumpang justru lebih memperhatikan mereka naik mobil dengan siapa.

“Mereka tidak berpikir seperti, oh saya akan naik mobil hari ini dan Denzel yang jadi sopirnya. Tidak ada yang menyadari saya,” ujarnya lalu tertawa.

Di lain sisi, film ‘Equalizer 2’ merupakan lanjutan dari film action thriller di 2017 yang diambil dari TV Series di tahun 1980-an. Hal ini juga jadi sequel pertama Denzel dalam film.

“Saya biasanya mati di dalam film. Mereka jadi membuat prequelnya,” kata Denzel.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Marini Zumarnis Akui Belum Bisa Hubungi Inneke Koesherawati

Aktris senior Marini Zumarnis mengaku belum bisa menghubungi sahabatnya, Inneke Koesherawati yang tengah bermasalah dengan KPK terkait skandal suap yang melibatkan suaminya, Fahmi Darmawansyah yang ditahan di LP Sukamiskin, Bandung.

Marini belum bisa mendengar langsung terkait kejadian yang menimpa wanita yang telah menjadi sahabatnya selama 20 tahun tersebut.

“Ya mendengar berita itu saya juga kaget, tapi enggak boleh suudzon dulu. Kita tanya dulu cerita yang sebenarnya apa, terjadinya apa?” kata Marini seperti dikutip dari Vivanews.com.

Inneke diketahui ikut diamankan tim Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia diperiksa sebagai saksi kasus operasi tangkap tangan di Lapas Sukamiskin, Bandung. Pada Sabtu, 21 Juli lalu, Inneke dijemput di kediamannya yang berada di kawasan Menteng.

Seiring pemberitaan yang tengah ramai, Marini tetap berbaik sangka. Ia yakin sahabatnya orang baik yang bisa melewati ujian yang ada. Doa selalu tercurah untuk Inneke dari Marini.

“Saya sebagai sahabat selalu mendoakan dia yang baik. Karena dari yang dulu juga kita saling menguatkan dan saya yakin Inneke orangnya baik,” katanya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Sponsored Content

Bertemu Sesekali Tapi Berkualitas Jauh Lebih Baik, Daripada Setiap Hari Berjumpa Tapi Sibuk dengan Ponsel dan Sosial Media

“Percayalah kawan, hidupmu bukan untuk menyenangkan semua orang. Kamu hanya perlu bertahan bersama mereka yang memang menyenangkan, bukan yang hanya ingin disenangkan”

Perihal hubungan dengan seseorang, pertemuan sering disebut-sebut jadi kunci untuk bertahan. Namun apakah benar demikian? Sayangnya tidak kan? Toh, banyak yang berteman dan nongkrong bersama setiap malam. Tapi masih bisa saling tuduh dan menjelek-jelekkan. Sedangkan, dia yang hanya sesekali bertemu justru lebih memaknai hubungan pertemanan. Lalu manakah yang sebenarnya kita butuh?

Nah, jika kamu akan bertanya padaku. Jelas saja aku lebih memilih, bertemu sesekali dengan obrolan dan waktu berkualitas daripada harus berteman dengan orang yang lebih mementingkan gadget daripada teman.

Sosok yang Ditemui Mungkin Memang Itu-Itu Saja, Tapi yang Jadi Penentu Adalah Apa yang Terjadi di Pertemuan Kita

Benar memang, kita hidup di era dimana telepon genggam jadi sesuatu yang dekat dalam diri. Dibawa kemana saja kita pergi, sampai kadang lupa jika tujuan bertemu adalah berbincang-bincang dengan teman. Bukan berpindah tempat hanya untuk sibuk bermain gadget di tangan.

Dia yang akan kamu temui, memang hanya si itu-itu saja. Tapi apa yang terjadi di pertemuan akan jadi makna ya berbeda. Jika kamu dan temanmu lebih memilih sibuk pada handphone, mungkin pertemuannya memang tak bermakna. Padahal obrolan dan perbincangan yang bermakna bisa jadi penguat dalam tali pertemanan kita.

Obrolan yang Mengalir Begitu Saja, Jauh Lebih Bermakna daripada Sibuk Stalking Orang yang Tak Disuka Bersama-sama

Gambarannya begini, membicarakan orang lain di satu forum pertemuan memang sering terasa menyenangkan. Tapi apa iya, hal-hal seperti ini bermakna untuk kita? Jika ternyata tak memberi dampak apa-apa untuk kehidupan, untuk apa dilakukan?

Lebih dari itu, memulai obrolan dengan pembahasan yang mungkin menyenangkan. Bisa jadi salah satu hal yang akan melahirkan atau membuka wawasan. Tak hanya sibuk untuk bersuara kontra pada pemerintah, kita dan teman mungkin bisa belajar bersama untuk lebih memahami negara kita. Begini misalnya.

Maknai Setiap Pertemuan dengan Membuat Kesan yang Tak Terlupakan

Demi kesan yang berbeda, dan menghindari kebosanan atas hubungan pertamanan yang begitu-begitu saja. Kita dan beberapa orang yang memang jadi kawan dekat bisa mencoba beberapa hal baru. Misalnya, menjajaki tempat-tempat wisata seputar kota, pergi mencicipi kuliner di beberapa tempat yang belum pernah didatangi sebelumnya, sampai melakukan perjalanan bersama ke luar kota yang mungkin tidak terlalu jauh jaraknya.

Untuk kesan perjalanan yang berbeda. Menyambangi tempat-tempat tadi dengan sepeda motor, barangkali jadi sesuatu yang layak dicoba. Selain menghemat waktu, berkendara dengan roda dua bersama teman konon akan menumbuhkan rasa kekerabatan yang lebih dekat. Tak ada yang perlu dipusingkan, sebab Suzuki Nex II bisa dijadikan pilihan untuk perjalanan yang akan kita lakukan.

Lain dari seri sebelumnya, kita bisa berboncengan dengan leluasa tanpa merasa kesempitan. Karena kendaraan roda dua ini, kini hadir degan panjang dan lebar yang lebih mumpuni. Fitur lain yang juga jadi salah satu perubahan signifikan dari generasi terdahulunya ada pada bagian Floorboarding atau sandaran kaki yang lebih luas. Jadi kita akan tetap merasa nyaman selama berkendara.

Bahkan pada varian tertentu dalam kompartemen ini ada juga yang memiliki tempat charger untuk handphone. Jika di generasi pertamanya, cuma ada satu varian Suzuki Nex II terbaru hadir dengan 5 varian yang berbeda. Mulai dari Sporty Runner, Fancy Dynamic, Elegant Premium, Elegant dan Standart. Dimana setiap variannya ini dibedakan dari pilihan kelengkapan fitur dan aksesoris yang dimiliki.

Karena Hal-hal Sederhana Kadang Memberi Makan yang Jauh Lebih Berharga

Kita mungkin hanya pergi ramai-ramai ke salah satu tempat makan, menikmati hidangan bersamaan atau memasuki beberapa tempat wisata di tengah-tengah kota. Bukan sesuatu yang mewah. Tapi interaksi yang berlangsung jadi sesuatu yang melahirkan kehangatan berbeda.

Dulu, kamu mungkin tak tahu jika temanmu tak suka makan ikan, tapi setelah makan bersama kamu jadi tahu jika ia lebih suka ayam. Begitupun pada hal-hal lain yang akan menambah wawasan dari hasil obrolan. Perjalanan-perjalanan yang akan kita lakoni mungkin terbilang sederhana, tapi kebersamaan yang ada akan selalu bermakna.

Tak Semua Teman Membuatmu Lebih Baik, Maka Jaga Jarak dengan Mereka yang Memberi Dampak Negatif

Memilah-milah dan membedakan teman, konon jadi perbuatan yang kurang menyenangkan. Itu pulalah yang menjadi alasan, mengapa akhirnya kamu akan berteman pada semua orang. Dengan catatan bisa membedakkan, mana dia yang memang benar-benar teman dengan dia  yang hanya sekedar saling kenal.

Kita tak dapat merubah teman kita jadi seperti yang kita ingini, namun membatasi diri dalam bergaul dengan mereka yang dinilai tak baik adalah sesuatu yang bisa kita putuskan sendiri. Kesan pribadi yang supel, mungkin bisa kita emban jika selalu terlihat bersama dengan banyak orang. Tapi, kalau pertemuan-pertemuan yang ada hanya sekedar sibuk dengan ponsel ditangan, untuk apa? Sebaiknya, sisihkan waktu yang berkualitas untuk mereka yang memang paham, bagaimana menikmati waktu bersama dengan teman.

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top