Feature

Sedang Lelah Dengan Keadaan? Coba Ingat Kembali Tujuan

Saat ini kamu mungkin merasa bahwa semesta dan isinya sedang mempecundangimu. Beberapa fase yang tadinya kamu rancang akan jadi sesuatu yang bahagia, justru membuatmu harus menelan pil pahit.

Merasa diri sudah tak sanggup lagi, kamu mungkin akan mengacungkan tangan tanda menyerah dan lelah. Tak apa, itu adalah hakmu sebagai manusia. Meski katanya takdir ada di tangan Sang Kuasa, bukan berarti kamu tak bisa membentuknya.

Usaha dan segala upaya untuk hidup yang kita inginkan, tentu tak akan dapat dijalani dengan mudah. Kecuali kamu hanya bermimpi untuk hidup yang biasa saja. Maka ketika segala hal yang datang terasa berat dan tak bisa kita lalui. Sebelum mengangkat tangan tanda kekalahan, coba pikirkan kembali tujuan yang kemarin telah kamu bayangkan.

Lelah Bukan Berarti Kamu Kalah, Jadi Tak Ada Alasan Untuk Berhenti Dan Menyerah

Hal-hal yang sedang kamu kerjakan saat ini bisa jadi memang belum berbuah hasil apa-apa. Mulai dari gaji yang masih terasa pas-pas saja, hingga rekan kerja yang kadang membuat kita naik darah jadi pemandangan yang kerap membuat diri menarik nafas untuk meredam amarah.  

Disisi lain kamu juga harus percaya bahwa tak ada usaha yang akan sia-sia. Tak perlu risau jika hari ini hidup masih terasa biasa-biasa saja. Percayalah jika kelak semua upaya dan kerja keras yang selama ini kita upayakan akan menunjukkan hasilnya. Teruslah berjalan meski kadang lelah, karena hidup memang tak selamanya akan bahagia.

Meski Semangat Di Jiwa Tak Lagi Seperti Dulu Tapi Percayalah Bahwa Tubuhmu Akan Tetap Tangguh Setiap Waktu

Kamu mungkin merasa bahwa berbagai alasan yang dulu kerap jadi pemicu semangat perlahan hilang tak tahu kemana. Tak ingin memaksakan diri untuk sesuatu yang tak mempu kamu penuhi. Cobalah untuk diam dalam beberapa waktu, lalu cari celah mana yang mungkin salah.

Jiwamu bisa saja lelah dan merasa tak lagi kuat untuk menopang semuanya. Tapi setelah berjalan sejauh ini, kamu tentu paham jika fisikmu takkan mudah lelah. Tak peduli hatimu sedang risau dan gelisah, satu-satunya hal yang paling penting untuk percaya bahwa tubuhmu akan selalu kuat untuk kembali berjalan.

Sedih Itu Sah-sah Saja, Tapi Memvonis Diri Bersalah Bukanlah Solusinya

Sebagai subjek yang akan menjalani semuanya, kamu tentu berhak untuk memilih akan melakukan apa saja. Bahkan jika memang hatimu merasa bahwa kamu butuh bersinggah, itu adalah hal yang biasa.

Hari ini mungkin kerja kerasmu belum terlihat jadi sesuatu yang akan membantu mewujudkan mimpi yang kamu punya. Tapi kerap merasa bersalah untuk segala sesuatu yang sedang terjadi bukan hal yang kita cari. Karena daripada sibuk menyalahkan diri sendiri, sebaiknya kamu mulai berjalan lagi.

Kamu Boleh Berhenti Beberapa Saat Tapi Bukan Berarti Kamu Akan Berhenti Berjuang

Untuk lelah yang memang sudah tak tertahankan, mari kita berhenti untuk sekedar menumbuhkan kembali semangat diri. Kita jadi satu-satunya pihak yang mampu menyesuaikan ritme pergerakan sesuai jalan cerita yang kita mau.

Sandarkan kepalamu sebentar jika memang ada beban yang tak lagi bisa ditahan. Tapi jangan jadikan lelah sebagai alasan untuk berhenti berjuang. Sambut semua perasaan sedih dan galau yang kamu punya, hingga kelak itu semua akan menjadi sebuah cerita yang akan kita bagikan kepada mereka yang bersedia untuk mendengarkannya.

Meski Mendapatkan Sesuatu Yang Mudah Itu Menyenangkan, Tapi Kesulitan Akan Membuatmu Lebih Kuat Untuk Bertahan

Anggaplah kamu ini adalah seseorang yang baru saja memilih pergi ke sebuah kota. Alih-alih ingin mendapat hidup yang lebih layak, dirimu malah merasa bahwa hidup jauh lebih susah dari sebelumnya. Beberapa aktivitas yang tadinya kamu jadikan ajang untuk berbahagia, bisa jadi berubah jadi sesuatu yang tak  menyenangkan.

Tak perlu menyesal karena telah keluar dari zona nyaman karena akan ada beberapa hal lain yang membuatmu jadi manusia lebih kuat. Kerahkan segala upaya untuk hidup yang lebih layak, tak ada istilah tak mampu. Karena sekecil apa pun usaha yang dilakukan, itu sudah jadi bukti bahwa sebenarnya kamu bisa melakukannya.

Jika Perjalanan Hidup Masih Terasa Begitu Berat, Cobalah Berkaca Dari Mereka Yang Dulu Bernasib Sama

Ini penting untuk kita jadikan patokan kala hati sudah hampir menyerah. Mereka yang kini terlihat bahagia, bisa jadi dulu pernah seperti kita. Karena sejatinya sukses dan hidup bahagia yang selama ini kita saksikan. Tentu tak datang dari sesuatu yang bersifat instan.

Lebih dari segala hingar bingar bahagia yang mereka tunjukkan, mungkin dulu dirinya juga sama seperti kita. Harus lebih dulu tertatih-tatih dan menahan letih . Hingga akhirnya menemukan sesuatu yang layak dijadikan tempat berteduh. Karena tak ada yang jauh lebih bahagia, dari seseorang yang bisa bangkit dari keterpurukan yang ia punya.

Cerita Hidup Tentu Tak Berjalan Dengan Irama Yang Sama, Tapi Sebelum Menyerah, Mari Bertanya Sudahkah Kita Sampai Pada Tujuan Sebenarnya?

Untuk beberapa kasus, seseorang sering kali menyerah hanya karena seseuatu yang tiba-tiba hadir di ambang pintu sukses yang sudah dekat. Padahal bisa jadi, kita hanya butuh sedikit usaha lagi untuk mendapatkan tujuanmu.

Dipecundangi rasa lelah oleh semesta memang jadi sesuatu yang membuat kita kerap ingin menyerah. Namun lebih daripada itu, cobalah renungkan hal-hal yang dulu jadi tujuan hidupmu?

Mulai dari bagaimana kamu akan menemukan pasangan, memiliki rumah, hidup bersama dan bahagia bersama hingga tua. Tentu kamu pernah memikirkan itu semua bukan?

Karena meski akan merasa gagal di beberapa titik perjalanan, bukan berarti kamu harus mengangkat tangan. Dan untuk sesuatu yang mungkin lebih jadi sekedar pemenang, mari tanyakan apa yang menjadi tujuan hidup sebenarnya pada hatimu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Siasat Jitu Untuk Menjawab Pertanyaan ‘Nyelekit’ dari Keluarga Saat Lebaran Tiba

Setahun sekali, kita menantikan 1 Syawal untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar. Bermaaf-maafan, saling bertukar kabar, sampai bertanya seputar kesibukan yang sedang dilakukan sudah jadi bagian dari silaturahmi keluarga saat lebaran.

Tapi ada kalanya di tengah situasi yang kamu harapkan bisa berjalan kondusif, ada saja hal-hal diluar ekspetasi yang harus kamu hadapi. Misalnya, menghadapi pertanyaan ‘nyelekit’ berbau sindiran, sinisme, atau bahkan sarkasme pasti pernah kamu terima, bukan?

Begini, kuncinya yang terpenting ada pada dirimu yang menanggapi. Daripada dimasukkan ke dalam hati, cobalah untuk menanggapi omongan atau pertanyaan tersebut dengan senyuman. Ingat lho, di hari yang Fitri, sebaiknya rayakan dengan sepenuh hati.

Saatnya Kamu Memiliki Pengendalian Diri yang Baik, Kali Ini Kuminta Anggaplah Omongan yang Datang Sebagai Bentuk Perhatian…

Sebab ada banyak cara untuk mengungkapkan perhatian. Tak melulu dengan sikap yang positif dan omongan yang membangun. Sebab ada lho yang justru menunjukkannya dengan melontarkan pertanyaaan nyelekit seperti yang kamu rasakan. Angap saja begitu.

Anggaplah apa yang kamu terima sebagai bagian dari rasa perhatian mereka. Sukar memang, tapi cobalah untuk mengendalikan dirimu agar tidak terbawa perasaan atau emosi saat menghadapi omongan nyelekit dari saudara.

Memberi Senyum Adalah Hal Terbaik dan Terindah yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Membangun Komitmen untuk Saling Bermaaf-maafan

Di hari yang Fitri, kamu pasti ingin suasana kumpul keluarga terasa hangat dan membahagiakan. Langkanya intensitas bertemu dengan anggota keluarga yang lain, sebaiknya kamu manfaatkan untuk lebih sering lagi memberi senyum. Jangan hanya karena kamu menghadapi omongan atau komentar mereka yang begitu nyelekit, mood-mu jadi ikut berantakan.

Nah, untuk menghadapi situasi semacam ini, ya cukup senyum saja lalu beralih ke saudaramu yang lain. Cukupkan pembicaraan antara kamu dan dia yang melontarkan pertanyaan atau omongan tersebut, manfaatkan waktumu untuk berinteraksi dengan anggota keluarga yang lainnya juga ya.

Saat Mereka Bertanya, Sebaiknya Lontarkan Kembali Pertanyaan yang Serupa tapi dengan Nada Positif

Membangun image yang positif itu perlu. Seiring bertambahnya usiamu. Tapi tentu image yang dibangun harus dengan ketulusan hati. Seperti membuktikan kalau kamu pun sekarang sudah  bisa dewasa dalam menyikapi segala situasi yang mungkin menyulitkanmu.

Tunjukkan kalau pertanyaan atau komentar yang nyelekit tak akan mampu meruntuhkan mood baikmu dan ada baiknya kamu mengalihkan pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan kepada si penanya.

Biasanya orang akan lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya dibanding mendengarkan jawaban orang.

Kalau di Momen yang Sekarang Ini Kamu Masih Ditanya Soal Karier, Target Menikah, atau Mungkin Kapan Mau Memiliki Momongan, Hadapilah dengan Kepala Dingin dan Tetap Meminta Doa

Perihal bagaimana saudara, tante, paman, ya siapapun itu dalam lingkup keluarga besarmu yang suka bertanya soal ‘kapan’, lebih baik jawablah dengan sebijak mungkin. Tak perlu kamu emosi atau jadi malas mengobrol dengan mereka, semalas apapun itu, lawanlah egomu dan jawablah dengan tetap meminta doa. Jadi orang bijak memang sukar, tapi justru akan lebih baik untuk dirimu sendiri sekaligus belajar mengendalikan diri, bukan?

Di Hari dimana Kamu Merayakan Kemenangan, Jangan Mau Kalah dengan Situasi yang Suka Semena-mena

Coba pikirkan kembali, setelah satu bulan menahan hawa nafsu dan amarah, ini adalah momen kamu meraih kemenangan di hari Lebaran. Untuk itu, jangan mau terusik dengan omongan-omongan yang mungkin tak mengenakkan hatimu.

Fokuskan niatmu untuk menikmati kemenangan dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Toh merayakan dan menikmati kemenangan di momen Lebaran ini sepenuhnya hakmu sebagai manusia. Tak perlu lagi lah pusing-pusing mikirin mereka. Sebab belum tentu apa yang mereka ucapkan ini benar-benar dipikirkan sebelumnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengapa Laki-laki yang Sudah Melukai, Jadi Sosok yang Paling Sulit Hilang dari Hati?

Tenang, tenang ini bukan perkara belum move on atau tidak. Tapi jika saat ini, kamu sedang merasakan hal yang serupa, kamu tak sendiri.

Konon dia yang selama ini sudah berhasil melukis tawa, bisa saja jadi pihak yang melahirkan luka. Membuat kita bersedih, menangis hingga menimbulkan benci yang bisa merusak hubungan. Cinta pertama katanya akan selalu dikenang. Disisi lain, sejalan dengan itu, dia yang sulit dilupakan justru adalah sosok lelaki yang sudah melukai hatimu begitu dalam.

Berbagai upaya untuk melupakan sudah dilakukan, anehnya sosoknya justru selalu datang dalam pikiran. Lalu, apa hal yang sebenarnya menjadi penyebab dari ini semua?

Kamu Sudah Mencintai dengan Sangat Dalam, Namun Pada Waktu yang Bersamaan Ia Justru Memilih Pergi dan Melenggang

Gambarannya begini, kita mungkin sudah merasa ia adalah sosok yang akan menemani sampai akhir usia nanti. Hingga tak segan untuk percaya sepenuh hati, padahal si dia justru berbalik dan memilih untuk pindah ke lain hati.

Kecewa dan sakit hati itu wajar, karena biar bagaimana pun kita pernah saling sayang. Namun hal yang justru membuat kita sulit untuk melupakan adalah besarnya rasa sayang yang sudah kita berikan, beberapa saat sebelum ditinggalkan. Cinta boleh saja sudah dicurahkan, tapi memaksa orang lain untuk tetap tinggal jelas diluar kemampuan.

Mencoba Beralih pada Sosok yang Baru, Tapi Nyatanya Bayang-bayang Mantan Masih Seperti Hantu

Hal lain yang kita perlu ingat adalah, kisah cinta yang berakhir tak sesuai keinginan. Sudah menjadi takdir atas kehidupan. Tak bisa dicegah atau dihindari, mau tak mau memanglah harus dihadapi.

Setelah putus karena telah dilukai, beberapa orang memilih untuk buru-buru mencari mengganti. Seolah ingin membuktikan bahwa diri ini juga bisa hidup tanpa tanpanya. Tak apa memang, jika kita sudah menemukan orang yang tepat. Tapi biasanya, hal ini diputuskan hanya untuk sebuah pelarian.

Hasilnya? Bukannya membantu proses melupakan lebih cepat, menerima orang baru dengan buru-buru justru membuat kita merasa bersalah. Karena meski sudah bersamanya, sosok yang dibayangkan masih saja dia yang telah jadi cerita.

Bahkan Kenangan Buruk Akan Dirinya, Kerap Membuat Kita Takut Kembali Terluka

Bayangan yang ada dipikiran sekarang adalah dia yang tadinya kita cinta justru jadi pihak yang menggoreskan luka. Pelan-pelan membuat diri tak nyaman, sebab mencintai dia yang tadinya kita percaya akan membuat bahagia saja, akhinya berujung dengan sia-sia.

Selain hal buruk yang sering terbayang, memang masih ada jenis bahagia yang pernah dirasakan berdua. Namun, tingkat dari rasa sakit hati yang kita lalui terasa lebih tinggi. Beberapa kali demi memastikan diri, kita mungkin akan bertanya-tanya, mengapa dia yang kita cintai dengan tulus justru membuat hati terluka? Dan akhirnya kita pun masih sering tak bisa menerima orang yang sedang berusaha untuk mendekatkan hatinya kepada kita.

Takut Kehilangan Itu Sah-sah Saja, Tapi Tetap Mempertahankan Hubungan Jelas Bukan Pilihan

Tak ada yang salah dengan pilihan untuk tetap tinggal, barangkali hati mungkin berpikir bahwa sebentar lagi dia akan kembali seperti semula. Hal lain yang justru menjadi kesalahan adalah langkah apa yang akan kita ambil jika ternyata dia tak terlihat menunjukkan perubahan.

Bukan, itu jelas bukan cinta. Karena faktanya kita hanya takut kehilangan sosoknya saja. Sehingga apa pun yang ia lakukan, akan tetap kita terima dengan dada yang lapang.

Melepasnya Memang Tak Akan Mudah, Tapi Tetap Lelap Dalam Luka, Untuk Apa?

Proses melupakan seseorang yang pernah kita cinta, barangkali memang jadi sesuatu yang susah. Jatuh-bangun kita menyembuhkan luka, hingga belajar untuk ikhlas dalam menerima semua. Tak ada yang bilang ini akan mudah, tapi bukan berarti juga kita tak bisa.

Tanpa ada yang akan memaksa kita tetap tinggal lagi, sebenarnya kita berhak untuk memilih hal apa yang akan dilakoni. Namun, jika ternyata tetap berada disampingnya hanya akan membuat luka kian menganga, lantas untuk apa?

Belajarlah untuk lebih bijak dalam memilah-milah pilihan, tentang jalan mana yang harus kita ikuti dan jalani.

Cobalah Nikmati Masa Transisi Ini, Hingga Benar-benar Tak Ingat Lagi

Jangan dipaksakan untuk benar-benar melupakan dengan cepat, tapi tak juga tetap lelap dalam bayang-bayang pacar yang sudah pergi meninggalkan. Buka hati dan pikiran, lihat sosok mana yang benar-benar sayang, dan terima hal-hal yang memang sudah jadi ketentuan.

Sebab tak satu pun dari kita bisa menentukan, jalan cerita seperti apa yang besok terjadi atas kehidupan. Hal yang bisa kita lakoni hanyalah menunggu dan menjalani alur cerita yang sudah disiapkan untuk kehidupan kita.

Karena Bukan Tak Bisa Melupakan, Kamu Hanya Terlalu Mengingat Hal-hal yang Nyaman dan Lupa Pada Luka yang Juga Telah Ia Goreskan

Jika memang saat ini kamu masih saja berkutat pada proses melupakan yang tak bisa diijalankan. Cobalah fokuskan diri pada keinginan yang sedang ingin dijalani, bukan malah berdiam diri pada bayang-bayang bahagia yang dulu ada.

Tanamkan pada pikiranmu, jika lelaki itu pernah dengan tega melukai hatimu. Cobalah ingat kembali, bagaimana ia pergi meninggalkanmu saat sedang butuh, hingga tak adanya rasa bersalah dari dia yang sudah menorehkan luka.

Bukan berarti tak bisa melupakannya dia, hanya saja dirimu kurang giat mengingat luka hati yang telah dibuatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top