Feature

Kahiyang yang Anak Presiden Tak Ada Gelar Akademik di Undangannya, Terus Kamu Pakai Buat Apa?

“Penting!” Begitu kata sebagian orang, sedangkan yang merasa kontra akan menggerutu sambil berkata, “Buat apa?”

Konon pernikahan memang jadi salah satu perhelatan besar yang akan dihadiri banyak orang pula. Dan tak tahu datang dari mana, untuk urusan isi dari undangan pernikahan, rasanya hampir di seluruh antero nusantara, kompak untuk mencantumkan gelar akademis pada halaman undangan pernikahan.

Tak perlu menepis pandangan karena merasa disinggung, toh tulisan ini juga bukan untuk bahan perdebatan. Hanya saja, masih banyak orang yang tak habis pikir untuk apa gelar-gelar tersebut dicantumkan. Padahal jika ingin berkaca pada masyarakat luar yang berada di negara berbeda. Fenomena ini sangat jarang kita temui. Lalu ada apa dengan masyarakat kita?

Barangkali Ini Jadi Salah Satu Bentuk Syukur, Bahwa Kedua Mempelai Telah Berhasil Menempuh Pendidikan Hingga Perguruan Tinggi

Sekilas alasan ini memang bisa diterima, lagi pula siapa yang tak bangga jika ternyata calon mempelai tak hanya menempuh pendidikan hingga tingkat sekolah menengah atas saja, bahkan telah berhasil lulus dari perguruan tinggi dengan gelar sarjana. Belum lagi, jika ternyata gelarmu tak hanya satu saja, ada dua atau bahkan tiga sekaligus. Tentu semakin bangga kan?

Hal lain yang mungkin jadi alasan, penulisan gelar akademik juga jadi bukti bahwa calon pengantin yang tengah menggelar pesta termasuk golongan orang dengan intelektual diatas rata-rata. Walau kadang-kadang gelar tak selalu jadi patokan untuk kecerdasan seseorang.

Hal Lain yang Dipercaya jadi Alasannya Adalah Kebiasaan Masyarakat Kita

Sebenarnya tak ada yang salah dengan pandangan ini. Dengan kata lain, kamu akan semakin terhormat jika punya embel-embel di belakang nama. Meski kadang kala keputusan-keputusan seperti ini datang bukan dari calon mempelainya. Namun karena desakan dari keluarga yang mungkin menginginkan untuk mencantumkan gelar. Ya, mau tak mau kedua mempelai pun hanya bisa pasrah.

Meraih gelar sarjana tentu jadi pencapaian besar pada setiap orang, tapi bukankah saat wisuda orang lain sudah tahu bahwa kita ini adalah seorang sarjana. Lalu untuk apa lagi, harus dicantumkan di undangan pernikahan. Namun percaya atau tidak, kepercayaan orang-orang yang ada di negara kiat kerap jadi sesuatu yang melatarinya. Sebab sebagian besar orang berpikir, bahwa gelar tersebut jadi sesuatu yang harus diagungkan.

Padahal Keputusan Tersebut Kadang Berubah Jadi Bahan Perbincangan, Jika yang Sarjana Hanyalah Salah Seorang Saja

Sesaat setelah menerima undangan pernikahan yang dibagikan di tempat ibadah, saya pernah mendengar seorang ibu berkata, “Yah, kasian ya padahal dia sarjana tapi ketemu suami yang tidak ada gelarnya”. Kalimat-kalimat seperti ini jadi salah satu hal buruk yang bisa saja terjadi. Padahal belum tentu suami sang calon pengantin tersebut tak sarjana. Bisa saja dia hanya tak mau seperti calon istrinya yang mencantumkan gelar di undangan pernikahan.

Tindakan yang tadinya kita pikir jadi sesuatu yang akan menaikkan pamor ketika menikah, bisa berubah jadi bumerang yang justru menyakiti kita sendiri. Apa lagi jika cibiran-cibiran sumbang tersebut terdengar hingga ke telinga kita sendiri.

Tapi Jika Ternyata Kedua Mempelai Sama-sama Memiliki Gelar Dibelakang Nama, Tentulah Jadi Sumber Pujian Saat Pesta

Konon jodoh kerap ditunjukkan lewat raut wajah yang terlihat mirip diantara keduanya. Dan sepertinya latar belakang pendidikan jadi salah satu hal yang memang harus mirip juga. Katakanlah si calon mempelai perempuan, kebetulan lulusan ekonomi yang memiliki gelar S.E. bersanding dengan sang pujaan yang ternyata adalah seorang sarjana teknik dengan embel-embel gelar S.T.

Tak hanya terlihat serasi dan sepadan saja, banyak orang yang menilai gelar tersebut akan memanjakan mata tatkala kita membuka undangan pernikahan mereka. Tapi apa iya, benar begitu? 

Namun Keputusan Tersebut Tak Melulu Jadi Keinginan Sang Calon Pengantin Saja, Adakalanya Orangtualah yang Meminta

Untuk urusan yang satu ini, kita memang kerap tak bisa berbuat banyak. Sebagai anak yang ingin menyenangkan hati orangtuanya, kita tentu tak bisa menolak keinginan mereka. Walau dalam hati, ada rasa yang kurang sreg. Namun demi menghindari situasi yang bisa-bisa semakin pelik, mengangguk tanda setuju nampaknya memang jauh lebih baik.

Hitung-hitung ini akan jadi salah satu bakti kita kepada mereka. Karena telah susah payah berjuang untuk membuat kita mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, hingga memperoleh gelar dibelakang nama.

Perkara Penting atau Tidaknya, Memang Tergantung Bagaimana Kita Menilainya

Sejatinya pihak yang berhak untuk memutuskan akan mencantumkan gelar atau tidak, tentu kedua mempelai. Meski akan ada perundingan lain yang melibatkan orangtua dan calon mertua tentunya.

Meski bagi sebagian orang ini akan terlihat jadi sesuatu yang aneh. Bahkan banyak yang akan bertanya, dimana letak korelasi dari gelar dan pernikahan. Toh kita mau menikah kan, bukan ingin mengikuti kompetisi atau kembali belajar.

Namun bagaimana pun akhirnya, pilihan yang ditetapkan tentu sudah melalui beberapa perundingan. Apa pun itu, kamu dan pasangan berhak untuk melakukannya.

Untuk kamu yang berencana menikah, kira-kira akan masuk ke tim yang mana nih? #TeamdenganGelar atau #TeamtanpaGelar?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dibantu Ulama FPI, Polisi Halau Massa Rusuh di Fly Over Slipi

Melanjuti aksi demo yang terjadi sejak kemarin, pagi tadi sekelompok massa diberitakan kembali merusuh di flyover Slipi, Jakarta Barat. Dilansir dari detik.com, Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi menyatakan jika massa tersebut bukan dari santri atau Front Pembela Islam (FPI).

“Ini massa dari luar daerah, bukan dari FPI. Kami bersama FPI, kami dibantu ulama,” kata Kombes Hengki saat dihubungi, Rabu (22/5/2019).

Lebih lanjut, Hengki mengatakan sebagian besar massa datang dari daerah. Mereka terlihat mulai bergerak datang sejak pukul 02.00 Wib dini hari tadi.

“Mereka mau gabung ke Tanah Abang, kami halau,” lanjut Hengki.

Akan tetapi, ketika dihadang mereka tidak terima, kemudian sempat terjadi bentrok dengan polisi.

“Petugas dilempari batu, macam-macam,” imbuh Hengki.

Saat berita ini dituliskan, dilaporkan polisi masih berjaga-jaga pada sejumlah titik di beberapa wilayah di Jakarta.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

5 Cara Tepat untuk Mengatasi Mabuk Perjalanan Selama Mudik Lebaran

Pulang ke kampung halaman ketika lebaran, rasanya sudah jadi agenda tahunan yang rutin kita lakukan. Tapi masalahnya, selama perjalanana kita tentu akan bertemu dengan kemacetan. Bahkan tak hanya itu saja, beberapa orang juga harus berjuang untuk melawan rasa mabuk selama perjalanan.

Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan istilah motion sickness, yakni semacam ganggung pada telinga bagian dalam yang menyebabkan kita mual, pusing bahkan muntah. Menurut dokter, Dr Jennifer Derebery  dari The New York Times, mabuk terjadi ketika dikarenakan ketidakseimbangan antara mata, telinga bagian dalam, dan sumsum tulang belakang.

Nah untuk itu, kali ini kami punya beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghalau mabuk dalam perjalanan untuk mudik lebaran nanti.  

1. Coba Fokuskan Mata untuk Melihat Objek yang Bergerak

Ketika kita sedang mabuk, rasanya menutup mata dan tertidur adalah obat yang paling kita butuhkan. Namun, meski itu adalah sesuatu yang wajar, sebaiknya jangan dilakukan ya. Daripada menutup mata, jauh lebih baik jika kita mengarahkan pandangan pada satu objek bergerak.

Menurut Dr Jennifer, cara ini ampuh untuk membuat tubuh pulih dari mabuk perjalanan. “Lihatlah sesuatu yang bergerak selama beberapa menit. Cara ini membantu mengarahkan telinga bagian dalam sehingga meringankan gejala mabuk,” begitu tuturnya.

2. Selanjutnya Pilih Posisi Duduk yang Terbaik

Untuk mabuk yang tak terlalu parah, cobalah ambil posisi duduk di bagian kursi depan mobil. Konon cara ini akan membuat mata bisa melihat setiap gerakan pada objek yang berjalan seperti yang tadi sudah disebutkan. Nah, untuk kalian yang mungkin mudik dengan pesawat atau kereta, cobalah cari kursi yang letaknya di dekat jendela.

Selain itu, hindari dulu aktivitas seperti membaca, menonton, dan bermain ponsel. Karena, aktivitas tersebut biasanya akan menghilangkan keseimbangan telinga bagian dalam yang bisa menyebabkan mabuk perjalanan.

3. Minum Air Putih yang Banyak dan Hindari Mengonsumsi Makanan Tertentu

Sehabis muntah, meski masih tak ingin sebisa mungkin paksa diri untuk minum air hangat. Ini bertujuan untuk mencegah dehidrasi, karena isi perut kita mungkin sudah kosong karena muntah. Akan tetapi, jangan pula buru-buru untuk mengisi perut dengan jenis makanan yang asal. Seperti gorengan, makanan pedas, atau makanan berat lainnya.

Makanan-makanan itu sulit dicerna sehingga bisa menyebabkan perut kembali muntah. Sebaliknya, pilihlah makanan yang mudah dicerna seperti sup ayam, roti tawar dan biskuit.

4. Usapkan Minyak Angin Ke Perut atau Coba Makan Permen

Nah, cara yang satu ini biasanya cukup ampu untuk menghilangkan rasa mual selama perjalanan. Yap, kamu bisa membalurkan minyak angin di bagian leher dan perut untuk menghangatkan bagian tubuh tersebut. Namun, jika kamu alergi atau tak begitu suka dengan bau minyak angin, cobalah makan permen mint untuk hilangkan rasa mual.

5. Dan yang Terakhir, Bantu Cegah Mabuk dengan Minum Obat Anti Mabuk

Jika empat cara yang tadi sudah dijelaskan masih tidak mempan, mungkin ini saatnya kamu pakai cara yang terakhir. Selain lebih praktis, memakan obat pencegah mabuk perjalanan biasanya cukup akurat. Pilihlah obat anti yang mengandung antihistamin sehingga bisa mencegah rasa mabuk. Sebagai tambahan, sebaiknya minumlah obat tersebut satu jam sebelum perjalananmu akan dimulai. Dengan begitu, kandungan obatnya sudah lebih dulu bereaksi.

Tak hanya itu saja, upaya lain yang juga bisa kita lakukan adalah memakai benda yang bisa menekan titik pergelangan tangan. Seperti jam tangan atau gelang, yang bisa mempengaruhi keseimbangan telinga bagian dalam. Sehingg rasa mual yang biasanya datang diminimalisir dan tak menyebabkan kita mabuk selama perjalanan.

Nah, itulah 5 cara tepat untuk mengatasi mabuk perjalanan selama mudik lebaran yang bisa  kamu lakukan. Semoga berguna ya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Meratapi Nasib Para Pengguna Hp Huawei

Terus berlanjut, perang  dagang antara Amerika Serikat dan Cina masih berbuntut panjang. Terbaru, hal tersebut ternyata berimbas ke Huawei. Yap, merek teknologi raksasa asal Cina tersebut dikabarkan tak lagi mendapat izin untuk memakai Android, sistem operasi yang dikembangkan oleh Google.

Sebelumnya sih, Huawei bilang kalau mereka sudah merasa siap dengan larangan akan penggunaan produk Amerika tersebut. Bahkan pada bulan Maret 2019 lalu, Huawei sempat membuat pernyataan jika ada sistem operasi yang sedang digodok sebagai pengganti Google Andoroid dan Microsoft Windows.

“Kita telah bersiap-siap untuk memiliki sistem operasi sendiri. Jika suatu saat tidak menggunakan sistem ini (Android dan Windows), kita sudah siap,” ujar Richard Yu, selaku CEO Huawei.

Nah, kalian yang mungkin menggunakan Huawei mungkin sedang was-was akan bagaimana nasib ke depan. Tapi tenang, melalui akun Twitter resminya, @Android, Google mengatakan bahwa Google Play dan pengamanan lewat Google Play Protect akan tetap berjalan pada perangkat Huawei yang sudah ada.

Akan tetapi, untuk versi smartphone Huawei selanjutnya, perangkat tersebut tak lagi memiliki akses ke layanan populer milik Google, seperti Google Play Store, Gmail dan YouTube. Di sisi lain, setelah menerima kenyataan bahwa Google akan mencabut lisensi Androidnya dari Huawei. Konon mereka akan semakin fokus dalam hal mengembangkan sistem operasi lain yang akan menggantikan Android.  

Selain itu, sebelumnya Pemerintah China juga sudah merencanakan program Made In china 2025 dengan tujuan Cina akan menjadi pemain global di bidang teknologi. Hal ini tentunya mendorong para pengusaha lokal untuk menginkatkan inovasi, khususnya dalam industri teknologi.

Berdasarkan sebuah laporan yang dikutip dari Reuters, saat ini Huawei sudah meningkatkan dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D) yang mencapai angka $20 Juta, hampir menyaingi Amazon $22.6 Juta. Sekitar 80 ribuan karyawan atau 45% dari total pekerja ditempatkan pada bagian R&D di beragam segmen, meliputi sistem operasi, chipset, hingga database AI.

Selain itu, di Negeri Tirai Bambu tersebut, produk buatan Amerika terbilang masih kurang populer atau bahkan diblokir dibanding buatan dalam negeri. Mulai dari Weibo sebagai penggati Facebook, Baidu pengganti Google Search dan beragam layanan digital lainnya.

Dan fakta tentang Huawei yang menempati posisi kedua penjualan smartphone terbanyak di dunia, jadi peluang yang memungkinkan jika sistem operasi baru buatan Huawei tersebut, nantinya akan menjadi pesaing baru untuk  Android.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top