Feature

Sayangi Ayahmu Selagi Sempat, Dari Aku yang Tak Sempat Punya Ayah

Kata Ibu, aku punya rupa yang mirip dengan ayahku. Saat rindu ayah, aku jadi sebaik-baiknya pelampiasan yang paling tepat untuk ibuku. Ia mendekapku begitu erat, tanpa mengatakan apa-apa. Namun aku tahu, ia begitu rindu sosok ayah yang tak lagi mampu hadir di tengah-tengah kami. Ya, ayah pergi sebelum aku lahir ke dunia. Membuatku seumur hidup harus menerka seperti apa gestur ayah yang selama ini dikenali Ibu dan seluruh kerabat serta teman-temannya.

Aku tak puas kalau hanya lihat fotonya. Tapi apalagi yang bisa kulakukan. Sekalipun bertemu hanya lewat mimpi, hal itu jelas tak cukup untukku yang selalu merindukannya. Oh bukan, ini lebih dari sekadar rindu. Aku ingin Ayah ada bersamaku. Meski aku tahu itu tidaklah mungkin. Karenanya, untukmu yang sampai detik ini masih memiliki sosok ayah, aku harap kamu tidak mengecewakan apalagi menyia-nyiakan ayahmu itu.

Sejak Aku Duduk di Bangku Sekolah Dasar, Ada Iri yang Sukar Diutarakan Saat Melihat Temanku diantar Jemput oleh Ayahnya

Masa kecilku tak seindah kelihatannya. Kalau bicara nostalgia memang menyenangkan. Tapi tak selalu begitu. Ada masa dimana aku iri melihat temanku yang dijemput ayahnya lalu diajak berkendara sebentar setiap pulang sekolah. Ada rasa iri ketika saat acara kumpul bersama orangtua di sekolah, teman-temanku datang dengan dua orangtua yang masih lengkap.

Tidak, aku sama sekali tidak bermaksud untuk lupa bersyukur dengan kehadiran Ibu yang selalu setia mendampingiku. Ibu tetaplah sosok paling hebat yang aku miliki. Tapi percayalah, ada iri yang sukar diutarakan saat aku harus melihat kenyataan semacam itu sedari aku kecil.

Ayah Ibarat Benteng yang Tak Kumiliki Sampai Kapan pun, meski dari Luar Aku Terlihat Kuat, Ada Rapuh yang Enggan Kubagi pada Siapa pun  

Aku ingat, bagaimana saat teman-temanku bertanya dimana ayahku dan apa yang terjadi padanya. Aku sudah ‘terbiasa’ dengan pertanyaan itu. Membuatku kian tangguh untuk menceritakan sosok ayah pada mereka yang ingin tahu tentangnya. Hidup tanpa cinta kasih Ayah rasanya ada yang kurang. Saat dulu aku masih takut untuk pulang sendirian, aku harus menepis ketakutan itu sebab aku tak punya benteng yang bisa aku andalkan untuk sekadar minta ditemani.

Dari luar, orang melihatku sedemikian tegar, kuat, dan pantang menyerah. Tapi mungkin hanya kepada Ibu, aku selalu mengutarakan kalau ada rapuh yang enggan kubagi pada siapa pun. Cukup kita berdua yang merasakannya.

Pilu Rasanya Ketika Melihat Teman Sendiri Membangkang Saat Ayah Mereka Menasehati Sesuatu, Tak Bisakah Aku Saja yang Jadi Anaknya?

Aku sering melihat, betapa teman-temanku suka memilih mengabaikan ayah mereka. Tidak mengangkat saat ayahnya menelepon, tidak membalas saat menerima pesan instan, atau berkata dengan nada tinggi saat ayah mereka bertanya sesuatu hal. Tapi siapalah aku, karena pada akhirnya hanya nasehat pendek yang bisa kuutarakan agar tak seperti itu caranya memperlakukan sosok ayah yang sudah membesarkan mereka. Ingin rasanya aku berkelakar, tak bisakah kita tukar nasib sejenak?

Saat Aku Merasa Senang dengan Pencapaianku, Hanya Pusara Makam Ayah yang Bisa Kudatangi. Tanpa Peluk apalagi Ucapan Bangga Seorang Ayah pada Anaknya

Serindu apa pun aku pada ayah, sampai ada tangis pilu dan sesak dada yang menemani malam panjangku saat rindu itu menyergap, aku bisa apa selain merapal doa untuk ayahku? Perjalananku untuk sampai di titik ini, tetap ada campur tangan ayahku, untuk itu saat aku merasa senang dengan keberhasilan sekecil apa pun dalam hidupku, ingin rasanya aku berseru: “Ayah, aku bisa! Ayah bangga tidak?”

Tapi pada akhirnya, hanya pusara makam ayah yang bisa aku datangi. Bersama Ibu atau tidak bersamanya, saat aku datang menemui ayah, aku harus ikhlas dan menghargai batas yang ada diantara kami. Tak ada peluk, apalagi ucapan bangga seorang ayah pada anaknya.

Untukmu, Selagi Tuhan Masih Mempercayakan Sosok Ayah yang Kini Semakin Lanjut Usianya untuk Menemani Hari-harimu Sekarang Ini, Sayangilah Dia seperti Kamu Menyayangi Hidupmu

Sementara untukmu, yang sampai sekarang masih hidup dan tinggal bersama ayahmu, kuminta sayangilah beliau. Di usianya yang tak lagi muda, dan fisiknya yang mungkin kian ringkih, siapa lagi kalau bukan anak-anaknya yang bisa dia andalkan. Kepahitan apa pun yang mungkin kamu alami di masa lalu, maafkanlah. Sebab saat kamu atau pasanganmu kelak jadi figur seorang ayah, kamu pasti tahu betapa pilu saat anak yang kita kasihi, tak memiliki kasih untuk ayahnya sendiri. Selagi masih ada banyak waktu, kasihilah ayahmu, Kawan!

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top