Feature

Saling Mengalah, Perlu untuk Mempertahankan Hubungan

Berbahagia dengan pasangan dalam hal asrama adalah mimpi semua orang. Dan bisa tetap saling sayang hingga akhirnya menikah dan jadi pasangan yang halal. Benar memang, jatuh cinta adalah perkara mudah. Tapi bagaimana kita mempertahankan rasa adalah kunci utamanya.

Tak saling diam ketika ada masalah, terbuka untuk membicarakan semuanya dan tak saling meninggalkan hanya karena adanya perselisihan. Yap, kunci utamanya adalah saling mempertahankan. Mengalah untuk bisa tetap tenang, dan tak perlu ikut marah ketika pasangan sedang dalam keadaan yang tak senang. 

Tahu kapan harus meninggikan dan menurunkan ego adalah salah satu upaya untuk tetap bisa bersama. Itulah mengapa kita perlu paham, bagaimana cara mengalah agar tetap bisa mempertahankan hubungan. 

Karena Mengalah Bukan Berarti Lemah, Ini adalah Bukti Kedewasaan dalam Hubungan 

Beberapa orang mungkin akan menilaimu sebagai sosok yang lemah. Disebut-sebut sebagai bucin atau budak cinta karena selalu mengalah pada si dia. Sampai-sampai dibilang selalu tertindas oleh pacar sendiri. Dengar, mengalah bukan berarti kamu lemah, justru ini adalah gambaran sikap yang kuat. Sebab kamu bisa mengontrol diri untuk tak ikut marah-marah ketika pasanganmu mungkin sedang marah. 

Selain menyelamatkan hubungan, sikapmu yang demikian juga bisa membuat pasangan lebih bersimpatik dan makin sayang. Ia akan sadar, jika dirimu adalah seseorang yang sudah cukup dewasa untuk mengahadapi sebuah problema dalam hubungan cinta. 

Lupakan dulu Salahnya Sejenak, Ingat Semua Kebaikan yang Pernah Ia Perbuat

Agar tak membuatmu kian merasa sebagai korban yang seharusnya melawan. Cobalah lihat dan pikirkan kembali, sudah berapa banyak kebaikan yang pernah ia perbuat untukmu dan hubungan kalian berdua. Masa iya sih, hanya karena satu kesalahan yang memaksamu mengalah, kamu melupakan semua hal baik darinya? Tentu tidak kan?

Perselisihan dalam hubungan adalah fase romansa yang akan dirasakan oleh siapa  saja. Bukan berarti kalian berdua harus berpisah, karena sejatinya kalian hanya perlu menurunkan sedikit gengsi untuk mengalah saja. 

Pikirkan dan Renungkan Lagi, Bukankah Pertengkaran adalah Hal yang Biasa dalam Hubungan?

Lagipula, pasangan mana sih yang tak pernah bertengkar? Bahkan selisih paham atau perbedaan pendapat adalah bumbu pelengkap dalam hubungan. Hari ini kamu mungkin memilih diam dan mengiyakan permintaan yang ia ajukan, tapi besoknya kamu juga bisa menjelaskan. Bahwa apa yang ia lakukan kemarin adalah sesuatu yang salah.

Tak akan marah, ia yang mendengarmu berucap demikian justru akan berucap terimakasih karena diingatkan. Menjadi benar itu memang baik, namun mengalah untuk bisa menyampaikan kebenaran jauh lebih baik. Tinggal, bagaimana kamu akan memilihnya saja. 

Dirinya Pun Tentu Sadar Jika Ia Sedang Salah, Maka Sekalipun Kau yang Mengalah Bukan Berarti Kamulah yang Salah

Sebagaimana tadi yang sudah dijelaskan sebelumnya, seorang pasangan yang tetap ngotot agar keinginannya kita dengarkan. Tentu tahu, hal apa saja yang sebenarnya salah tapi tetap diingankannya. Kamu mungkin mengalah hari ini, tapi esok hari ia bisa saja datang dengan diam-diam untuk menyampaikan maaf karena sudah begitu egois memintamu mengalah demi keinginannya. 

Kebijaksanaan yang kamu miliki, membuatnya meyakini jika kamu adalah pasangan yang memang pantas untuk diperjuangkan. Karena walau dirinyalah yang salah, kamu tetap merendahkan hati untuk mengalah atas yang dimintanya. 

Ini Adalah Upaya Menghargai Perbedaan, untuk Hubungan yang Lebih Baik ke Depan

Kita memang boleh saja berandai-andai, jika si dia yang jadi pasangan adalah sosok sempurna sebagaimana yang kita inginkan. Tapi yang namanya bertemu seseorang, kita tentu tak pernah bisa menebak akan seperti apa pasanganmu. Apakah dia yang lemah lembut, keras kepala, atau tak mau mengalah. 

Menyatukan pemikiran dan sudut pandang dalam hubungan memang tidak mudah. Itulah pentingnya mengalah demi menghargai pendapat pasanganmu. Ketika kamu bisa menghargainya, percayalah dia pun akan menghargai saran yang kamu sampaikan. Kerikil kecil seperti ini, perlu dihadapi dengan bijak. Jika kalian berdua memang berhasil, bukan tak mungkin kalian akan semakin cinta. Percayalah!

Lagipula Mengalah Mampu Menyudari Cekcok Lebih Cepat 

Meski mengalah tak berarti menyudahi masalah, tapi setidaknya ini akan mempercepat pertengkaran usai. Kamu dan dia tak lagi harus bersitegang untuk saling membenarkan diri sendiri. Mengalah jadi pilihan yang mempercepat pertengkaran sudah. Tapi bukan berarti kamu akan menerima semua hal yang ia sampaikan atau pasrah jika kamu yang disalhkan. Tapi bagaimana kamu  berpikir lebih tenang untuk bisa memilah-milah masalah, mana hal yang perlu disampikan dengan cepat dengan sesuatu yang seharusnya tak perlu diperpanjang. 

Maka Jika Suatu Saat Kalian Akan Kembali Bertengkar, Ia Tahu Bagaimana Cara Mengalah Seperti yang Biasa Kau Lakukan

Jika kamulah yang selalu mengalah, maka darimu dia akan belajar bagaimana menguraikan semua masalah. Dan begitu pun sebaliknya, jika dialah yang sering mengalah, maka kamulah yang akan belajar dari dirinya. Tahu kapan harus tetap bicara, dan tahu kapan harus diam dan mengunci suara. Jadi satu pelajar yang kelak membuat kalian berdua sadar, jika mengalah ternyata adalah upaya baik untuk tetap bisa bersama.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top