Feature

Resep Cinta Langgeng Berumah Tangga Hingga 47 Tahun Ala Pak Luhut Binsar Panjaitan

Lalu lalang berita tentang perceraian para selebritas tanah air, rupanya turut serta menarik perhatian salah satu menteri kita. Yap, beliau adalah Pak Luhut Binsar Panjaitan. Beliau adalah seorang mantan Jenderal TNI yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia.

Konon, staffnya yang sebagain besar anak-anak milenialslah yang kerap berbagai berita seputar konten infotaiment pada beliau.  Lewat obrolan di kantor, kadang otak saya disusupi konten-konten infotainment yang terus terang saya tidak ikuti” begitu pak Luhut memulai salah satu ceritanya pada laman facebooknya baru-baru ini.

Menariknya, 27 November ternyata Pak Luhut dan sang istri baru saja merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-47. Wow, kamu pasti sudah bisa menebak kan. Apa yang ingin kami sampaikan padamu, ketika mencatutkan nama beliau di judul artikel ini.

Empat puluh tujuh tahun, bukanlah waktu yang singkat. Apa sih rahasianya, agar bisa tetap bersama seperti Pak Luhut dan Istrinya? Dari cerita yang  dibagikan di laman facebook pribadinya, berikut resep cinta dari pak Menteri yang bisa kamu aplikasikan pada pernikahanmu juga.

Cinta Itu Harus Dirawat, Karena Kalau Tidak Ia Akan Luntur

Sumber : https://www.facebook.com/luhutbinsar.pandjaitan

Tak mau berkomentar, atas apa saja alasan orang-orang yang bercerita. Pak Luhut justru memulai resep cintanya dengan ajakan merawat rasa cinta bersama. Dan benar saja, sampai di usia beliau yang kini sudah menginjak 71 Tahun ternyata. Menteri berdarah Batak ini ternyata masih tetap membuat agenda kencan di akhir pekan dengan sang istri.

Sampai usia saya yang sudah 71 tahun ini, saya masih melakukannya. Di hari Sabtu dan Minggu saya musti cari salah satu restoran untuk makan berdua bersama istri. Ya tentu tempat dan menunya harus ‘canggih’ untuk istri saya tercinta.”. Begitu tulis pak Luhut.

Naik dan turunnya rasa cinta mungkin adalah perkara biasa, sebab emosi yang tak stabil pun bisa mempengaruhinya. Tapi bagaimana kita mengontrol dan mengelola cinta dan kasih sayang dengan pasangan, akan selalu jadi kunci yang menentukannya.

Walau Sedang Bekerja, Kadang-kadang Curi Waktu Hanya Untuk Makan Berdua dengan Istri Tercinta

Sumber : https://www.facebook.com/luhutbinsar.pandjaitan

Nih ya para suami-suami, dengar! Pak Luhut yang super sibuk saja, masih bisa menyelinap diam-diam untuk menyisihkan waktu makan berdua untuk istrinya. Lah kamu, sudah diajak dan tinggal makan berdua dengan istri saja kadang suka banyak alasannya!

Intinya, bijak-bijaklah mengatur waktu antara bekerja dan waktu luang untuk bertemu. Sebab, kalau mau bicara sibuk dan tak ada waktu. Kami pikir Pak Luhut jauh lebih sibuk dari kamu. Bukan sebuah bualan, hal ini baru saja beliau buktikan pada Ulang Tahun pernikahannya yang ke 47 Tahun beberapa waktu lalu.

Misalnya seperti pada saat foto ini diambil 27 November lalu. Kami merayakan ulang tahun pernikahan di sebuah rumah makan. Dan harus diagendakan khusus, karena jajaran di kantor atau rapat-rapat penting selalu siap menemani makan siang saya di kantor setiap hari kerja” jelasnya.

Jangan Pernah Lupa untuk Memberi Kabar, Walau Tak Selalu Dibalas yang Penting Sudah Dibaca oleh Pasangan 

Sumber : https://www.facebook.com/luhutbinsar.pandjaitan

Komunikasi memang selalu jadi syarat mutlak tertinggi dari semua perkara rumah tangga yang mungkin akan kita jalani. Apalagi, sekarang sudah banyak hal yang memudahkan kita untuk tetap terhubung dengan pasangan, walau berada di tempat yang berbeda.

Kamu pasti nggak kebayang kan, gimana dulu pak Luhut dan sang istri bertukar kabar saat masih belum ada ponsel pintar seperti sekarang. Bagaimana beliau, harus meninggalkan istri dan keluarga dan pergia bertugas di beberapa daerah perbatasan yang kerap jauh dari peradaban. Dititik itulah, “Surat Cinta” jadi andalan untuk bertukar kabar.

“Bayangkan, kalau Anda adalah tentara yang harus bertugas di daerah perbatasan Kalimantan-Malaysia di tahun 1970-an. Saya mengalami masa-masa itu, di mana harus bertugas di daerah operasi misalnya seperti di Desa Nanga Kantuk Kalimantan Barat, atau Kecamatan Paloh yang berbatasan langsung dengan Sarawak. Waktu itu jaringan telepon saja belum tersedia”, Tulis pak Luhut menyambung ceritanya.

Jadi tak ada alasan terlalu sibuk atau tak sempat, karena memberi kabar pada pasangan adalah sesuatu yang wajib. Ya, setidaknya pasangan tahu sedang berada dimana kita. 

Meski Sulit, Seorang Lelaki Haruslah Belajar untuk Menjaga Komitmen

Sumber : https://www.facebook.com/luhutbinsar.pandjaitan

Sebagai seorang lelaki, seperti kebanyakan kata orang pak Luhut juga bilang bahwa Laki-laki pada dasarnya sulit menjaga kesetiaan”. Tapi pengalamanan hidup membuatnya membuka mata, atas pengorbanan besar yang sudah istrinya berikan untuk beliau dan keluarga.

Melihat sang istri, ia tahu bahwa menjadi pasangan dari seorang abdi negara bukanlah perkara mudah. Apalagi, pekerjaan selalu membawa mereka berpindah-pindah dan selalu harus ditinggal karena tugas negara.

Hal ini pulalah yang membuat beliau makin sadar, bahwa keberhasilannya, tumbuh kembang anak-anak serta cucu yang kini beliau miliki adalah buah dari pengorbanan sang istri. Beliau merasa berhutang pada istrinya, maka untuk membayar hutang tersebut sampai sekarang Ia selalu berusaha menjadi seorang suami yang belajar menjaga komitmen.

Karena, faktanya ini adalah salah satu upaya yang terbukti menghantarkan keduanya sampai di usia pernikahan yang sekarang. “Laki-laki harus belajar menjaga pikiran, menjaga hati, dan menjaga waktu doa setiap hari. Dengan demikian usia pernikahanmu akan panjang”.

Sebagai Suami, Laki-laki Harus Tahu Kapan Waktu Memimpin, Memerhatikan, Mendengar, Diam, Mengalah dan Mendengar

Sumber : https://www.facebook.com/luhutbinsar.pandjaitan

Sebagai manusia biasa, kita tentulah tak sempurna. Baik istri atau suami, pastilah pernah salah dalam beberapa hal. Maka, jikalau ada perdebatan, baiknya selalu ada satu pihak yang bertindak jadi penenang. Tak ada manusia yang sempurna, begitu juga pernikahan yang kita punya. Namun, menempatkan diri dalam berbagai macam situasi adalah kunci.

Serupa dengan pak Luhut yang bilang bahwa, ia paham kapan harus memimpin, kapan harus memperhatikan, kapan harus diam, mengalah, dan mendengar.

Tak Meminta untuk Terus Seiya-sekata, Tapi Berdoa untuk Selalu Diberi Kekuatan Berdua agar Selalu Bersama

Sumber : https://www.facebook.com/luhutbinsar.pandjaitan

Nah, ini jadi point menarik lain yang bisa kita panuti dari sosok pak Luhut. Lain dari pasangan suami-istri pada umumnya, yang selalu berharap untuk selalu sekata dengan suami atau istri. Beliau justru meminta kekuatan untuk tetap bersama dengan hidup baik dan damai bersama anak-anak dan cucunya.

Dari beliau kita belajar, bahwa sehebat apapun dua orang yang menikah ada kalanya kita akan bertentangan dalam berbagai hal. Maka, yang paling mungkin dilakukan dua insan adalah membiarkan waktu yang menguji apakah masing-masing mampu menjaga egonya atas nama cinta.

Menikah memang bukanlah perkara mudah, tapi beberapa cara untuk mempertahankan cinta yang tadi beliau sampaikan sudah terbukti mampu menjaga kelanggengan hubungan. Sebab, Pak Luhut dan sang Istri adalah bukti nyata dari semua yang telah beliau ajarkan kepada kita. Semoga, kita bisa menirut resep cintanya ya, dan langgeng seperti mereka.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Apakah Kamu Juga Tambah Usia Makin Malas Update di Sosial Media?

Kehidupan kita di sosial media, memang terasa begitu nyata. Bagaimana tidak? Bersamanya kita tumbuh jadi manusia yang kini sudah (lebih) berbeda. Dari yang dulu suka ‘ngalay’ sampai yang sekarang hanya jadi pembaca saja.

Dulu, curhat panjang lebar di timeline facebook terasa jadi jalan keluar setiap kali kita butuh saran. Dan benar saja, beberapa kawan kerap berbaik hati untuk memberikan dukungan atau jawaban. Selain itu, sosial media punya semua hal yang kita butuhkan. Video-video lucu di instagram bisa jadi obat pelepas lelah, bertemu teman baru yang memberikan ilmunya. Hingga pacar pertama yang juga ditemukan lewat sosial media. Tapi kini, hal seperti ini terasa jadi sesuatu yang janggal kan?

Hidup terus berjalan, sosial media masih tetap jadi kawan. Bedanya kini kita tak lagi mau update sembarangan. Tapi kamu tahu tidak? Apa yang merubah kita jadi begitu?

Pandanganmu Berubah, Tahu Mana yang Layak Dibagikan dengan yang Harus Disimpan

Mari berbalik sebentar tentang aktivitas kita sebelum sedewasa sekarang. Berapa banyak cerita cinta-cintaan yang kita bagikan, hingga kekesalan lain yang sebenarnya tak berarti apa-apa meski sudah dijadikan status di sosia media. Kini, hal tersebut mungkin terasa menggelikan. Tapi tak apa, itu adalah bagian dari proses atas perubahan.

Sadar atau tidak, ada paradigma baru yang lahir pada dirimu. Kamu lebih paham, mana yang layak yang dibagikan dengan sesuatu yang memang seharusnya disimpan. Untuk itulah, sekarang hal-hal yang kamu bagikan sifatnya lebih umum, dan semua orang bisa menikmatinya tanpa merasa terganggu atas aktivitas sosial mediamu.

Bukan Keluh Kesah, Membagikan yang Mengundang Tawa Kini Lebih Terasa Indah

Harus diakui memang, dari semua keresahan yang sedang dirasakan, sosial media bisa jadi jalan keluar untuk menenangkan pikiran. Bisa jadi orang yang berbeda dari kehidupan nyata, meski sedang gundah gulana. Kita bisa saja jadi orang paling berbahagia di sosia media. Dan salah satunya dengan membagikan hal-hal lucu yang bisa mengundang tawa.

Aktivitas update status mungkin dikurangi, diganti dengan berbagi hal-hal lucu yang bisa menyenangkan hati. Tak hanya membuat kita lupa pada kesusahan yang sedang dialami, kegiatan macam ini bisa jadi obat penenang diri.

Lagipula, Kalau Dipikir-pikir Toh Tak Ada Orang yang Akan Peduli dengan Masalahmu

Pada masa lampau, kamu mungkin senang mendapat banyak komentar atas curhat yang kamu bagikan. Padahal faktanya mereka bisa jadi hanya sedang ingin tahu saja, bukan ingin membantumu mencari solusinya. Bahkan bisa jadi, mereka malah menjadikanmu sebagai bahan tertawaan karena terlihat kurang kerjaan.

Seiring dengan bertambahnya usia, kita pun sadar bahwa hanya segelintir orang yang bisa benar-benar peduli atas apa yang kita bagikan. Karena kini, mereka punya hidup yan juga perlu dipikirkan.

Tak Lagi Punya Waktu Luang, Jangankan untuk Buka Instagram Pulang Kerja Saja Sudah Larut Malam

Sudah punya kesibukan menyelesaikan skripsi atau bekerja, hampir seluruh waktu yang kita punya, dipakai untuk melakukan hal lain yang jadi tanggung jawab harian. Mulai dari harus bertemu dosen untuk bimbingan, menyelesaikan pekerjaan agar tak selalu pulang larut malam, hingga pada kegiatan lain yang selalu kamu lakukan di akhir pekan. Bahkan jika harus membagikan cerita kehidupan, sepertinya tak ada hal yang menarik untuk dibagikan. Untuk itu, kamu lebih menikmati semuanya secara nyata. Bukan untuk dibagikan pada kawan-kawan dunia maya.

Bahkan Kalaupun Ada Waktu Luang Kosong di Akhir Pekan, Tidur Siang Lebih Terasa Menyenangkan

Hayo, kamu pasti setuju kan? Kalau memanfaatkan waktu untuk tidur siang, jauh lebih menyenangkan dibanding stalking instagram sampai berjam-jam. Kamu semakin sadar jika ada hal-hal yang memang sebaiknya dikurangi, dengan sesuatu yang lebih berarti. Dan mengistirahatkan diri dengan tidur siang jadi sesuatu yang lebih penting.

Secara tidak langsung, kamu pun kian sadar jika menikmati setiap momen dalam hidup secara langsung. Lebih terasa menyenangkan daripada membagi fokus pikiran untuk membagikannya kepada orang-orang, wlaau hanya lewat fiturs stories di instagram.

Karena Pada Akhirnya Kamu Sadar, Kehidupan Nyata Jauh Lebih Dibutuhkan

Setiap kali ada masalah, sahabat dekat yang menjadi kawan di kehidupan nyata datang jadi penolong yang setia. Sedangkan mereka yang kau kenal di sosial media, barangkali hanya akan mengirimkan emoji ‘sedih’ yang tak berdampak apa-apa. Ya, semakin dewasa kamu makin sadar, bahwa 2 orang kawan yang berada di kehidupan yang nyata ternyata lebih berarti dari ribuan manusia yang menjadi temanmu di facebook.

Dan di Usia Sekarang, Media Sosial Bukan Lagi Jadi Sesuatu yang Harus Diprioritaskan

Lebih penting dari segala aktivitas di sosial media, ada ratusan hal penting lain yang perlu untuk dikerjakan dalam kehidupan. Mendalami hobi yang sempat tertunda, belajar hal-hal baru demi pekerjaan yang kita punya, dan kegiatan lain yang bisa menyokong kehidupan agar lebih baik ke depannya.

Kamu telah tumbuh menjadi manusia baru yang berbeda, yang sadar bahwa apapun yang terjadi di sosial media tak pernah bisa menggantikan kehidupan nyata yang kau punya. Kini, kamu kian sibuk membangun koneksi untuk hal baik demi kehidupan, sedangkan aktivitas media sosial dilakukan kalau sedang ingin saja. Tak lagi jadi sosok yang aktif untuk posting status, kini kamu hanya jadi pembaca status orang-orang yang lalu lalang di timeline.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Patung ‘Kelinci’ Jeff Koons Dilelang Rp 990 Miliar

Buah tangan dari Jeff Koons memang selalu berhasil menarik perhatian publik. Dan salah satunya, patung dari tahun 1986 yang baru-baru ini menarik perhatian adalah patung ‘kelinci’. Dan menariknya, patung tersebut akan dijadikan bahan lelang di Balai Lelang Christie’s New York dengan angka fantastis. Yakni sekitar Rp 707 miliar hingga Rp 990 miliar.

Diperkirakan, Karya Jeff Koons ini akan berpotens memecahkan rekor karya Koons sebelumnya di tahun 2013 dengan angka Rp 826 miliar. Angka tersebut untuk patung ‘Balloon Dog (Orange)’.

Alex Rotter mewakili Christie’s New York menagatakan jika, patung kelinci tersebut bakal mengguncang dunia seni.

“Bagi saya ‘kelinci’ adalah anti-Daud yang menandakan kematian patung tradisional. Serta menganggu media dengan cara yang sama dengan karya ‘Number 31’ ciptaan seniman Jackson Pollock dan kembali memikirkan apa itu gagasan melukis,” katanya.

Sebelumnya, patung tersebut dipamerkan untuk yang pertama kali pada tahun 1986. Selama tiga dekade belakangan, patungnya itu menjadi ikon seni kontemporer. Unutk jadwal pelelangannya sendiri, dijadwalkan pada 15 Mei di New York.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Respon Garin Nugroho Terhadap Petisi Tolak Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’

Sudah tayang sejak 18 April 2019 lalu, film “Kucumbu Tubuh Indahku” merupakan karya terbaru dari Garin Nugroho yang sebelum tayang secara reguler di Tanah Air. Film tersebut sudah dibawa melanggang buana ke beberapa festival film Internasional dan meraih banyak penghargaan.

Namun, rupanya “Kucumbu Tubuh Indahku” tak begitu bisa diterima di Indonesia. Terbukti dari munculnya petisi untuk menolak penayangan film tersebut di laman change.org. Rakhmi Mashita, sang pembuat petisi, menolak film “Kucumbu Tubuh Indahku” karena dianggap menyebarluaskan paham LGBT.

Sebuah film selain dibuat untuk menceritakan true story, seharusnya sebuah film bisa membawa efek positif bagi penontonnya, seperti menjadi inspirasi positif,kreatif,dan menambah wawasan yg bernilai positif jgJika film seperti ini diijinkan tayang dan disebarluaskan, kita mesti khawatir, bahwa generasi muda yg mengalami kesulitan menemukan jati diri akan mencontoh perilaku dalam film ini.”  tulis Rakhmi di website change.org. Hingga ini dituliskan dari target 5 ribu orang, sudah 3 ribu lebih orang yang ikut menandatangi petisi tersebut.

Menanggapi hadirnya petisi tersebut, Garin Nugroho buka suara. Ia memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Petisi untuk tidak menonton film “Kucumbu Tubuh Indahku” lewat ajakan medsos, tanpa proses dan ruang dialog, bahkan tanpa menonton telah diviralkan di media sosial. Penghakiman massal lewat media sosial berkali terjadi pada karya seni dan pikiran atas keadilan. Gejala ini menunjukkan media sosial telah menjadi medium penghakiman massal tanpa proses keadilan, melahirkan anarkisme massal.

Bagi saya, anarkisme masa tanpa proses dialog ini akan mematikan daya pikir terbuka serta kualitas warga bangsa, memerosotkan daya kerja serta cipta yang penemuan warga bangsa, serta mengancam kehendak atas hidup bersama manusia untuk bebas dari berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan sebagai tiang utama demokrasi.

Lewat keprihatinan ini, saya ingin menyatakan keprihatinan terbesar atas gejala menjamurnya penghakiman massal tanpa proses dialog dan penegakan hukum berkeadilan. Bagi saya, kehendak atas keadilan dan kehendak untuk hidup bersama dalam keberagaman tanpa diskriminasi dan kekerasan tidak akan pernah mati dan dibungkam oleh apapun, baik senjata hingga anarkisme massal tanpa proses berkeadilan.” tutupnya.

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” sendiri menceritakan kisah penari Lengger bernama Juno. Film produksi Fourcolours Films ini diperankan oleh Muhammad Khan, Sujiwo Tejo, Teuku Rifnu Wikana, Randy Pangalila, dan sederet artis peran pendukung.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top