Feature

Kawan Seperti Ini yang Akan Meracuni Hidupmu

Pernahkah kamu bertemu kawan baikmu, lalu sesudahnya kamu merasa begitu capek? Atau pernahkah kamu merasa sangat lelah membaca lini masa sosial media seseorang? Berhati-hatilah, bisa jadi orang tersebut adalah vampire energi.

Ya, mereka hidup dan ada di tengah-tengah kita tanpa kita sadari. Vampire energi ini adalah orang-orang yang hidupnya penuh energi negatif. Dan karena ketidakmampuannya membangkitkan energi positif inilah maka ia membutuhkan pasokan energi positif yang diserapnya dari orang-orang sekitarnya.

Sialnya orang yang diserap itu bisa jadi kamu! Tanpa kamu sadari, selama ini kamu sudah masuk dalam perangkap mereka. Diserap energimu sampai habis sampai kamu merasa lelah dan kering. Hidupmu juga perlahan menjadi terasa hampa, merana dan kamu jadi terus mengeluh tentang apa saja. Ujungnya kamu tak lagi bisa merasakan bahagia.

Mengerikan bukan? Karena itu kamu harus bisa mengenali para vampire energi ini. Dan pelajari pula bagaimana cara menghindar dari mereka.

Kenalkan Si Megalomania, Mereka Yang Merasa Bumi Berputar Karenanya

topeng-racun

Percaya diri itu menginspirasi, sementara kesombongan itu mengintimidasi. Kamu harus camkan hal itu di dalam dirimu baik-baik. Tak ada yang salah memang dengan orang-orang yang percaya diri, namun kalau sampai ada yang membuatmu merasa terintimidasi, bisa jadi orang itu vampire energi.

Vampire tipe ini akan selalu bicara soal dirinya, dirinya dan dirinya. Ia tidak akan menunjukan ketertarikan jika pembicaraan berbelok jauh dari tema tentang dirinya. Sebisa dan sesegera mungkin ia akan kembali mengarahkan pembicaraan tentang dirinya. Dan sudah pasti Dia tak akan terima masukan apalagi kritik tentang dirinya. Maklum mereka merasa begitu superior dan tanpa cela.

Egonya yang besar tentu perlu sumber makanan yang besar pula. Apa itu? Pujian dan perhatian dari orang-orang sekitarnya, termasuk kamu. Ia akan terus mencoba mengikatmu kuat-kuat agar energi postifmu bisa diserapnya dalam bentuk pujian.

Mereka Raja Dan Ratu Drama, Seolah Dunia Berutang Maaf Padanya

mengeluh

Vampire tipe ini bertolak belakang dengan yang pertama tadi. Mereka justru merasa dirinya lah yang paling perlu dikasihani dari dunia dan seisinya. Bertemu masalah sedikit mereka bisa langsung sedih, meratapi kemalangannya.

Jangan mudah merasa kasihan terhadap mereka yang beracun macam ini. Yakinlah bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah mencari perhatian. Selama mereka belum berubah, abaikan saja. Terkadang, mereka berperan sebagai orang lemah dan putus asa. Tujuannya apa? Agar kita memberi dukungan dan dorongan. Kita ikut berkorban untuk mereka, padahal mereka mampu melakukannya sendiri.

Kalau orang-orang di sekitarmu butuh bantuan, tentu memang sebaiknya kamu membantu mereka. Tapi hati-hati terhadap orang macam ini. Mereka meminta bantuan meskipun sebenarnya mereka mampu. Kalau kamu tak bisa membantunya, jangan menyesal atau merasa bersalah. Mereka menekan atau protes? Biarkan berlalu. Kemampuanmu ada batasnya, tak bisa dipaksa. Kamu harus jadi pribadi yang kuat. Jangan sampai tumbang saat berjuang melawan mereka.

Ini Miss Komplain dan Mister Keluhan, Tak ada Satu pun Yang Benar Di Matanya

menunjuk

Entah kenapa, mereka-mereka ini selalu mengeluh setiap saat. Bergeser sedikit mengeluh, keliru sedikit komplain. Vampire ini adalah orang-orang yang gagal dewasa. Ciri khasnya adalah mereka tak pernah merasa bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi pada diri mereka. Semua dilemparkannya kepada orang lain, dan menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri.

Kamu harus menjauh dari orang-orang macam ini. Karena secara tak sadar kamu akan bersikap sangat hati-hati di depan mereka karena khawatir mereka mengajukan komplain terhadap sikapmu. Ujungnya kamu akan merasa cepat lelah karena sikap hati-hati yang berlebihan demi menjaga perasaannya.

Kalau Yang Ini Mungkin Cita-citanya pengamat, mereka selalu penuh kritik

mengeluh

Vampire tipe ini mudah kamu kenali. Mereka akan mengkritik hal apa saja yang ada di depan mereka. Mulai dari bos di tempat kerja, pemerintah, sampai hal-hal kecil macam jalanan macet. Mereka tak menyadari bahwa dunia ini dibangun berdasarkan ketidak sempurnaan. Jadi menuntut semua hal selalu sempurna adalah omong kosong.

Sosial media biasanya jadi surga bagi para vampire jenis ini. Mereka seperti menemukan surganya. Tempat mereka bisa mengumpat, mencaci siapa dan apa saja. Like, share, love, dan komentar kamu jadi menu makanan utama mereka. Semakin banyak mendapatkan reaksi, maka mereka akan semakin mengulanginya lagi.

Bahayanya, energi positifmu akan habis. Jika berlama-lama bergaul dengan mereka, kamu tak akan lagi bisa melihat indahnya dunia. Kamu tak bisa lagi nyaman menjalani hidupmu, karena kamu akan tertular kemampuan mereka mengkritik apa pun.

Si Joker Yang Merasa Dirinya Paling Lucu Di Dunia

sok lucu

Vampire tipe ini memang terasa berbeda dari vampire lain yang sebelumnya kita bahas. Mereka ini terlihat positif karena selalu berusaha lucu. Namun percayalah, sesuatu yang berlebihan tidaklah pernah baik.

Demikian juga dengan candaan. Sementara, vampire jenis ini tak mau terima adanya ketenangan. Semua hal harus dilalui dengan hingar bingar dan canda tawa yang keras. Mereka juga akan menuntut kita untuk terus tertawa.

Satu hal yang harus kita sadari, orang-orang seperti ini biasanya punya rasa empati dan simpati yang sangat rendah. Mereka juga jarang menghargai hal menarik dan lucu yang dilontarkan orang lain. Hal terpenting buat mereka adalah mendapatkan tertawaan sebanyak mungkin untuk dirinya. Buntutnya selepas bertemu dengannya kamu akan merasa begitu lelah karena tertawa yang tidak natural dan dibuat-buat hanya untuk menyenangkannya dan menyamakan situasi dengannya.

Mungkin Ini Waktunya Kamu Bicara Jujur dan Menyampaikan Ketidaksukaanmu Pada Mereka

mulut

Bicara terus terang mengenai sikap mereka memang terasa berat. Tetapi apa boleh buat, kalau mereka vampire. Katakan dengan jujur kalau kebiasaannya tak bisa kita terima. Sampaikan dengan sabar dan pelan-pelan saja. Apapun respon mereka, jangan sampai kamu terbawa emosi.

Jangan Sampai Ikut-ikutan Jadi Vampire, Tetaplah Bersikap Baik

cinta

Ini hal paling berat. Karena seperti juga vampire yang difilm-film, sekali mereka menggigit mereka akan menularkan ke-vampire-annya kepadamu. Cobalah kembali ke alam sadarmu. Temukan jati dirimu kembali seutuhnya.

Bersihkan Pikiran dan Jauhkan Aura Negatif dari Dirimu

meditasi pantai

Berada di dekat orang-orang beracun memang menguras energi. Tak jarang kita dipenuhi emosi yang negatif. Ada baiknya membersihkan pikiran dari pengaruh orang yang beracun. Cuci otak dengan kegiatan positif dan menyegarkan, misalnya meditasi, kegiatan di alam bebas, traveling dan lainnya.

Segera Keluar dari Cengkraman Mereka, Bertemanlah dengan Orang Baik

kawan

Suka tidak suka, mereka menular. Karena itu cara terbaik adalah keluar dari zona beracun itu. Mereka menguras energi dan bikin kita tertekan batin. Kalau kamu tetap bersama, bisa saja akan menjadi salah satu dari anggota mereka. Menyeramkan bukan?

Berkumpul dengan teman yang baik bisa mengembalikan kekuatanmu. Mereka yang berbahagia atau yang sedang bekerja keras meraih kesuksesan. Ketularan semangatnya dan rasa senangnya lumayan juga kok. Tak ada salahnya mulai bergabung dengan mereka yang baik. Kalau tetap dengan si racun, bisa-bisa kita disamakan dengan mereka. Malas juga kan?

Jangan Takut Dibilang Sombong, Kamu Memang Harus Menghindari Mereka yang Beracun Itu

sedih

Kalau kamu sudah keluar dari zona racun, hindari bersama mereka lagi. Bukan berarti kamu menjadi orang yang jahat dan sombong. Hindari mereka kalau pembicaraannya mengarah pada topikyang tak perlu seperti menggosip, mengeluh yang tak ada ujungnya, atau kegiatan beracun lainnya. Segera lari, katakan alasan yang tepat. Tegas sedikit juga tak apa, siapa tahu mereka sadar.

Menghadapi mereka yang beracun memang tidak mudah. Tapi semuanya pasti bisa dilakukan kalau kita benar-benar punya tekad dan keinginan. Lebih baik punya teman sedikit tapi berkualitas. Hidupmu tenang dan kamu bisa melakukan lebih banyak hal tanpa harus memikirkan ‘para racun’ tersebut. Ingat, dirimu beda dengan mereka.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Daripada Pusing Jenis Orang-orang Ini Memang Seharusnya Tidak Perlu Ada di List Pertemanan Sosial Media-Mu – GoBagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Siasat Jitu Untuk Menjawab Pertanyaan ‘Nyelekit’ dari Keluarga Saat Lebaran Tiba

Setahun sekali, kita menantikan 1 Syawal untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar. Bermaaf-maafan, saling bertukar kabar, sampai bertanya seputar kesibukan yang sedang dilakukan sudah jadi bagian dari silaturahmi keluarga saat lebaran.

Tapi ada kalanya di tengah situasi yang kamu harapkan bisa berjalan kondusif, ada saja hal-hal diluar ekspetasi yang harus kamu hadapi. Misalnya, menghadapi pertanyaan ‘nyelekit’ berbau sindiran, sinisme, atau bahkan sarkasme pasti pernah kamu terima, bukan?

Begini, kuncinya yang terpenting ada pada dirimu yang menanggapi. Daripada dimasukkan ke dalam hati, cobalah untuk menanggapi omongan atau pertanyaan tersebut dengan senyuman. Ingat lho, di hari yang Fitri, sebaiknya rayakan dengan sepenuh hati.

Saatnya Kamu Memiliki Pengendalian Diri yang Baik, Kali Ini Kuminta Anggaplah Omongan yang Datang Sebagai Bentuk Perhatian…

Sebab ada banyak cara untuk mengungkapkan perhatian. Tak melulu dengan sikap yang positif dan omongan yang membangun. Sebab ada lho yang justru menunjukkannya dengan melontarkan pertanyaaan nyelekit seperti yang kamu rasakan. Angap saja begitu.

Anggaplah apa yang kamu terima sebagai bagian dari rasa perhatian mereka. Sukar memang, tapi cobalah untuk mengendalikan dirimu agar tidak terbawa perasaan atau emosi saat menghadapi omongan nyelekit dari saudara.

Memberi Senyum Adalah Hal Terbaik dan Terindah yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Membangun Komitmen untuk Saling Bermaaf-maafan

Di hari yang Fitri, kamu pasti ingin suasana kumpul keluarga terasa hangat dan membahagiakan. Langkanya intensitas bertemu dengan anggota keluarga yang lain, sebaiknya kamu manfaatkan untuk lebih sering lagi memberi senyum. Jangan hanya karena kamu menghadapi omongan atau komentar mereka yang begitu nyelekit, mood-mu jadi ikut berantakan.

Nah, untuk menghadapi situasi semacam ini, ya cukup senyum saja lalu beralih ke saudaramu yang lain. Cukupkan pembicaraan antara kamu dan dia yang melontarkan pertanyaan atau omongan tersebut, manfaatkan waktumu untuk berinteraksi dengan anggota keluarga yang lainnya juga ya.

Saat Mereka Bertanya, Sebaiknya Lontarkan Kembali Pertanyaan yang Serupa tapi dengan Nada Positif

Membangun image yang positif itu perlu. Seiring bertambahnya usiamu. Tapi tentu image yang dibangun harus dengan ketulusan hati. Seperti membuktikan kalau kamu pun sekarang sudah  bisa dewasa dalam menyikapi segala situasi yang mungkin menyulitkanmu.

Tunjukkan kalau pertanyaan atau komentar yang nyelekit tak akan mampu meruntuhkan mood baikmu dan ada baiknya kamu mengalihkan pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan kepada si penanya.

Biasanya orang akan lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya dibanding mendengarkan jawaban orang.

Kalau di Momen yang Sekarang Ini Kamu Masih Ditanya Soal Karier, Target Menikah, atau Mungkin Kapan Mau Memiliki Momongan, Hadapilah dengan Kepala Dingin dan Tetap Meminta Doa

Perihal bagaimana saudara, tante, paman, ya siapapun itu dalam lingkup keluarga besarmu yang suka bertanya soal ‘kapan’, lebih baik jawablah dengan sebijak mungkin. Tak perlu kamu emosi atau jadi malas mengobrol dengan mereka, semalas apapun itu, lawanlah egomu dan jawablah dengan tetap meminta doa. Jadi orang bijak memang sukar, tapi justru akan lebih baik untuk dirimu sendiri sekaligus belajar mengendalikan diri, bukan?

Di Hari dimana Kamu Merayakan Kemenangan, Jangan Mau Kalah dengan Situasi yang Suka Semena-mena

Coba pikirkan kembali, setelah satu bulan menahan hawa nafsu dan amarah, ini adalah momen kamu meraih kemenangan di hari Lebaran. Untuk itu, jangan mau terusik dengan omongan-omongan yang mungkin tak mengenakkan hatimu.

Fokuskan niatmu untuk menikmati kemenangan dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Toh merayakan dan menikmati kemenangan di momen Lebaran ini sepenuhnya hakmu sebagai manusia. Tak perlu lagi lah pusing-pusing mikirin mereka. Sebab belum tentu apa yang mereka ucapkan ini benar-benar dipikirkan sebelumnya.

 

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Daripada Pusing Jenis Orang-orang Ini Memang Seharusnya Tidak Perlu Ada di List Pertemanan Sosial Media-Mu – GoBagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengapa Laki-laki yang Sudah Melukai, Jadi Sosok yang Paling Sulit Hilang dari Hati?

Tenang, tenang ini bukan perkara belum move on atau tidak. Tapi jika saat ini, kamu sedang merasakan hal yang serupa, kamu tak sendiri.

Konon dia yang selama ini sudah berhasil melukis tawa, bisa saja jadi pihak yang melahirkan luka. Membuat kita bersedih, menangis hingga menimbulkan benci yang bisa merusak hubungan. Cinta pertama katanya akan selalu dikenang. Disisi lain, sejalan dengan itu, dia yang sulit dilupakan justru adalah sosok lelaki yang sudah melukai hatimu begitu dalam.

Berbagai upaya untuk melupakan sudah dilakukan, anehnya sosoknya justru selalu datang dalam pikiran. Lalu, apa hal yang sebenarnya menjadi penyebab dari ini semua?

Kamu Sudah Mencintai dengan Sangat Dalam, Namun Pada Waktu yang Bersamaan Ia Justru Memilih Pergi dan Melenggang

Gambarannya begini, kita mungkin sudah merasa ia adalah sosok yang akan menemani sampai akhir usia nanti. Hingga tak segan untuk percaya sepenuh hati, padahal si dia justru berbalik dan memilih untuk pindah ke lain hati.

Kecewa dan sakit hati itu wajar, karena biar bagaimana pun kita pernah saling sayang. Namun hal yang justru membuat kita sulit untuk melupakan adalah besarnya rasa sayang yang sudah kita berikan, beberapa saat sebelum ditinggalkan. Cinta boleh saja sudah dicurahkan, tapi memaksa orang lain untuk tetap tinggal jelas diluar kemampuan.

Mencoba Beralih pada Sosok yang Baru, Tapi Nyatanya Bayang-bayang Mantan Masih Seperti Hantu

Hal lain yang kita perlu ingat adalah, kisah cinta yang berakhir tak sesuai keinginan. Sudah menjadi takdir atas kehidupan. Tak bisa dicegah atau dihindari, mau tak mau memanglah harus dihadapi.

Setelah putus karena telah dilukai, beberapa orang memilih untuk buru-buru mencari mengganti. Seolah ingin membuktikan bahwa diri ini juga bisa hidup tanpa tanpanya. Tak apa memang, jika kita sudah menemukan orang yang tepat. Tapi biasanya, hal ini diputuskan hanya untuk sebuah pelarian.

Hasilnya? Bukannya membantu proses melupakan lebih cepat, menerima orang baru dengan buru-buru justru membuat kita merasa bersalah. Karena meski sudah bersamanya, sosok yang dibayangkan masih saja dia yang telah jadi cerita.

Bahkan Kenangan Buruk Akan Dirinya, Kerap Membuat Kita Takut Kembali Terluka

Bayangan yang ada dipikiran sekarang adalah dia yang tadinya kita cinta justru jadi pihak yang menggoreskan luka. Pelan-pelan membuat diri tak nyaman, sebab mencintai dia yang tadinya kita percaya akan membuat bahagia saja, akhinya berujung dengan sia-sia.

Selain hal buruk yang sering terbayang, memang masih ada jenis bahagia yang pernah dirasakan berdua. Namun, tingkat dari rasa sakit hati yang kita lalui terasa lebih tinggi. Beberapa kali demi memastikan diri, kita mungkin akan bertanya-tanya, mengapa dia yang kita cintai dengan tulus justru membuat hati terluka? Dan akhirnya kita pun masih sering tak bisa menerima orang yang sedang berusaha untuk mendekatkan hatinya kepada kita.

Takut Kehilangan Itu Sah-sah Saja, Tapi Tetap Mempertahankan Hubungan Jelas Bukan Pilihan

Tak ada yang salah dengan pilihan untuk tetap tinggal, barangkali hati mungkin berpikir bahwa sebentar lagi dia akan kembali seperti semula. Hal lain yang justru menjadi kesalahan adalah langkah apa yang akan kita ambil jika ternyata dia tak terlihat menunjukkan perubahan.

Bukan, itu jelas bukan cinta. Karena faktanya kita hanya takut kehilangan sosoknya saja. Sehingga apa pun yang ia lakukan, akan tetap kita terima dengan dada yang lapang.

Melepasnya Memang Tak Akan Mudah, Tapi Tetap Lelap Dalam Luka, Untuk Apa?

Proses melupakan seseorang yang pernah kita cinta, barangkali memang jadi sesuatu yang susah. Jatuh-bangun kita menyembuhkan luka, hingga belajar untuk ikhlas dalam menerima semua. Tak ada yang bilang ini akan mudah, tapi bukan berarti juga kita tak bisa.

Tanpa ada yang akan memaksa kita tetap tinggal lagi, sebenarnya kita berhak untuk memilih hal apa yang akan dilakoni. Namun, jika ternyata tetap berada disampingnya hanya akan membuat luka kian menganga, lantas untuk apa?

Belajarlah untuk lebih bijak dalam memilah-milah pilihan, tentang jalan mana yang harus kita ikuti dan jalani.

Cobalah Nikmati Masa Transisi Ini, Hingga Benar-benar Tak Ingat Lagi

Jangan dipaksakan untuk benar-benar melupakan dengan cepat, tapi tak juga tetap lelap dalam bayang-bayang pacar yang sudah pergi meninggalkan. Buka hati dan pikiran, lihat sosok mana yang benar-benar sayang, dan terima hal-hal yang memang sudah jadi ketentuan.

Sebab tak satu pun dari kita bisa menentukan, jalan cerita seperti apa yang besok terjadi atas kehidupan. Hal yang bisa kita lakoni hanyalah menunggu dan menjalani alur cerita yang sudah disiapkan untuk kehidupan kita.

Karena Bukan Tak Bisa Melupakan, Kamu Hanya Terlalu Mengingat Hal-hal yang Nyaman dan Lupa Pada Luka yang Juga Telah Ia Goreskan

Jika memang saat ini kamu masih saja berkutat pada proses melupakan yang tak bisa diijalankan. Cobalah fokuskan diri pada keinginan yang sedang ingin dijalani, bukan malah berdiam diri pada bayang-bayang bahagia yang dulu ada.

Tanamkan pada pikiranmu, jika lelaki itu pernah dengan tega melukai hatimu. Cobalah ingat kembali, bagaimana ia pergi meninggalkanmu saat sedang butuh, hingga tak adanya rasa bersalah dari dia yang sudah menorehkan luka.

Bukan berarti tak bisa melupakannya dia, hanya saja dirimu kurang giat mengingat luka hati yang telah dibuatnya.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Daripada Pusing Jenis Orang-orang Ini Memang Seharusnya Tidak Perlu Ada di List Pertemanan Sosial Media-Mu – GoBagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Di Momen Lebaran Ini, Tak Hanya Meminta Maaf Pada Sanak Family, Kita Juga Perlu Berdamai Pada Diri Sendiri

“Untuk segala kekecewaan, untuk segala kegagalan, dan untuk segala pencapaian yang belum bisa dijalankan. Mari kita mulai berdamai pada diri sendiri”

Setelah menjalani ibadah satu bulan penuh, sebentar lagi kita akan tiba pada puncak kemenangan atas penguasaan diri selama berpuasa. Menahan amarah, rasa haus dan lapar, hingga menjangkal pikiran-pikiran buruk yang kadang datang. Dan jika biasanya, kita akan saling bermaaf-maafan dengan semua orang yang kita kenal, kali ini mari kita juga memaafkan diri sendiri.

Ya, kamu tak sedang salah baca, meski mungkin terdengar aneh dari biasanya. Selanjutnya, kamu mungkin justru berkata. Memangnya memaafkan diri sendiri itu perlu? Jelas perlu!

Memaafkan Diri Sendiri Untuk Rasa Kecewa yang Datang dari Mantan Kekasih

Images that show what it feels like to suffer from mental illness. Bringing the inside to the outside.

Berhenti untuk mengutuki situasi yang beberapa waktu belakangan selalu tergiang. Tentang sakit hati yang kita terima dari pasangan, hingga berpikir bahwa kita adalah seseorang yang mungkin patut disalahkan.

Begini, untuk perkara hubungan yang mendadak bubar ditengah jalan. Sang mantan memang tak bisa sepenuhnya jadi pihak yang disalahkan. Tapi berpikir bahwa diri ini adalah pihak yang menyebabkan semua itu terjadi juga bukanlah sesuatu yang baik untuk diri. Buka hati dan pikiran untuk bisa lebih jeli dalam hal memahami, cobalah pisahkan bagian-bagian mana saja yang perlu dan tidak perlu untuk diperhitungkan.

Pun Tentang Mimpi yang Masih Belum Terpenuhi

Untuk keinginanan untuk melanjutkan studi S2, pekerjaan impian yang masih jauh dari jangkauan diri, hingga keinginan menikah yang masih saja belum dipahami oleh sang kekasih. Tak ada yang perlu lebih dulu, tak juga berarti kita jadi pihak yang kalah karena masih belum menggapainya.

Percayakan diri, bahwa setiap makhluk dimuka bumi, punya jalan cerita yang berbeda. Hari teman seusia mungkin sudah duduk manis dengan posisi nyaman ditempat kerja, sedang kita masih harus susah payah mencari apa sebenarnya yang menjadi passion kita. Tak perlu dirutuki, tak juga harus disesali. Mari berdamai pada diri sendiri, dengan percaya bahwa semua orang akan menemukan cara untuk memenuhi mimpi dengan jalannya sendiri.

Juga Tentang Kesalahan dalam Membuat Keputusan yang Berbuah Tak Sesuai Keinginan

Belum punya pandangan, tentang apa hal yang selanjutnya akan dikerjakan. Tapi kita justru melepas pekerjaan dengan tanpa pertimbangan. Mengikuti emosi, kita sampaikan kalimat perpisahan pada pasangan, ditengah amarah yang sedang tinggi-tingginya. Hingga pada banyak hal lain yang mendadak berantakan, hanya karena kita salah dalam menentukan pilihan.

Nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang perlu disesali atas perbuatan yang memang kita buat sendiri. Tapi, meski sudah menjadi bubu, tak lantas kita tak bisa menikmatinya jadi makanan yang berarti. Nah, begitu pula dengan kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Seburuk apapun pilihan yang sudah terjadi di masa lalu, kita berhak untuk memperbaikinya sekarang.

Teman yang Memutuskan Hubungan Hanya Karena Berbeda Pandangan, Bukan Sesuatu yang Perlu Disesalkan

Seiring dengan bertambahnya usia, pelan-pelan kita akan sadar bahwa beberapa orang yang dulu dekat. Kini mulai berguguran satu persatu dari kehidupan. Entah itu karena berpindah tempat, fokus melanjutkan hidupnya, hingga memutuskan hubungan dengan sendirinya.

Jangan terlalu merasa bahwa dirimu selalu jadi sumber masalah, karena kadang mengalah adalah satu-satunya jalan untuk menang dari sebuah pertentangan yang memang tak perlu diperpanjang. Maka jika, temanmu pergi dan memutuskan hubungan. Bukan berarti kita adalah pihak yang patut untuk disalahkan. Terimalah itu semua, menjadi sesuatu yang memang bagian dari kehidupan. Bukan jadi sesuatu yang perlu dipikirkan hingga menjadi beban, untuk kehidupan.

Hingga Pada Hal-hal yang Sejatinya, Memang Diluar Kendali

Kita tak bisa memastikan, bahwa pacar yang ada dihadapan kita sekarang akan jadi teman hidup di masa depan. Teman yang setia mendadak pergi untuk meninggalkan, ekspektasi akan bahagianya kehidupan setelah menikah yang tak sesuai kenyataan, dan susahnya berdamai untuk pekerjaan yang saat ini sedang dijalankan.

Ingatlah, bahwa kita hanyalah manusia yang sama seperti kawan lain. Bertugas untuk menerima dan menjalankan alur cerita, bukan pihak yang bisa mengawasi dan mengendalikan seluruh elemen lapisan kehidupan.

Maka jika banyak hal yang terjadi diluar perkiraan, terima semuanya sebagai sesuatu yang perlu dijalankan. Bukan sesuatu yang harus dikutuki.

Lalu, sudah siapkah kamu berdamai dan memaafkan diri sendiri?

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Daripada Pusing Jenis Orang-orang Ini Memang Seharusnya Tidak Perlu Ada di List Pertemanan Sosial Media-Mu – GoBagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top