Feature

Quarter Life Crisis, Jadi Masa Transisi Hidup yang Mau Tak Mau Harus Kita Hadapi

Beberapa  pakar psikologi menyebut ini quarter-life crisis –  jadi sebuah krisis yang dirasakan milennials di usia 25 hingga 35 tahun dan lebih sering terjadi pada orang-orang berpendidikan.

Bentuk sederhananya, krisis ini kita rasakan bisa jadi karena ekspektasi kita, keluarga dan masyarakat terhadap diri, serta lingkungan sekitar tak sejalan dengan realita yang ada di depan mata. Konsekuensinya, kita merasa gagal jadi manusia, merasa tak ada yang mengerti kita, depresi atau bahkan memilih mengakhiri hidup saja.

Usia ini jadi rentan waktu yang cukup sakral sekaligus genting, ada banyak hal yang akan terasa jadi beban. Mulai dari urusan pekerjaan, pasangan, pilihan hidup hingga pada hal lain yang akan kita alami.

Dan jika saat ini kamu sedang mengalami, tenang kamu tak sendiri. Sebab ada ribuan bahkan jutaan orang yang mungkin sedang berkelut pada persoalan yang sama. Walau ini terasa berat dan sulit untuk diuraikan, tetap ada jalan untuk membuatnya terasa lebih mudah.

Kamu Mungkin Khawatir, Tapi Jangan Pernah Merasa Sendiri

Gambarannya begini, saat ini kamu sudah berada pada satu titik hidup yang tadinya kamu pikir jadi tujuan. Bekerja pada perusahaan yang cukup nyaman dengan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan. Tapi setelah itu, ada masa dimana kita masih saja bertanya pada diri sendiri. Benarkah ini jadi pilihan hidup yang akan diyakini? Dan seringnya jawabnya sulit kita cari.

Dan sialnya, hal ini tak terjadi pada hal pekerjaan saja. Tapi juga berimbas pada bagian lain yang ada dalam hidup kita. Pasangan yang tadinya kita pikir akan jadi teman hidup di masa depan, tiba-tiba terlihat seperti sosok yang bukan kita inginkan.

Hingga pada tuntutan dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang kini berubah jadi beban yang harus diselesaikan. Diminta menikah, tak disarankan untuk begini , atau dilarang untuk berlaku begitu.

Ini memang jadi fase sulit untuk menuju fase hidup yang lebih dewasa, tapi pada kenyataanya kita tak sendiri. Kita bukanlah satu-satunya manusia yang sedang berjalan pada kedewasaan yang lebih nyata. Hanya saja kita mungkin masih terjebak, pada masa “dewasa yang berpura-pura”, berkali-kali membuat komitmen dan mencoba untuk dewasa namun belum menemukan hasilnya.

Lalu Apa Kata Psikologi Tentang Quarter Life Crisis Ini?

Dari hasil studi yang baru-baru ini dipublikasi oleh Dr. Oliver Robinson di University of Greenwich, yang berjudul “Munculnya Kedewasaan, Awalan Kedewasaan dan Quater Life Crisis”, setidaknya ada 5 fase yang akan kita rasakan, yakni :

  1. Kita merasa terperangkap oleh pilihan hidup yang kita buat, seperti pekerjaan, hubungan, atau keduanya.
  2. Ada sesuatu yang tampak berkata bahwa “Aku harus keluar dari zona ini”, dan sadar jika kita melakukan satu loncatan ada perubahan yang mungkin akan kita dapatkan.
  3. Kita berhenti dari pekerjaan, putus dengan pacar, atau menghancurkan komitmen lain yang membuat kita kerap merasa terjabak. Hingga akhirnya merasa akan memulai kembali segalanya sedari awal.
  4. Perlahan, kita mulai bangkit dan menata hidup lagi.
  5. Kemudian berubah dan mengembangkan komitmen baru dengan hal-hal yang memang kita ingini.

Beberapa psikolog beranggapan bahwa fase hidup ini, jadi masa yang patut untuk disalahkan untuk segala kebimbangan. Dan kemampuan kita untuk menentukan langkah mana yang akan dijadikan sebagai jalan keluar, jadi penentu yang akan menyelamatkan. Langkah mana yang akan kita ambil untuk menemui jalan keluar.

Fase Ini Jadi Bagian Hidup yang Normal

Beberapa orang mungkin akan berkutat dan kerap menyimpulkan segudang pertanyaan dalam hidupnya. Mengapa hidup terasa bagai benang kusut yang sulit kita temukan garis ujungnya. Tanpa harus berpikir bahwa kita jadi satu-satunya orang yang sedang merasakan kesusahan ini.

Cobalah membuka mata bahwa, nyata ada banyak orang yang sedang bernasip serupa. Terjerat dalam masalah pelik yang sulit diuraikan oleh mata dan kepala, hingga bingung akan mencari solusi dimana. Percayalah ini semua adalah sesuatu yang normal terjadi, untuk itu tak perlu taro takutmu secara berlebih.

Maka Hadapi Situasi Ini dengan Siasat yang Kita Mampu

Seorang psikolog klinis Jeffrey DeGroat, Ph.D dari Amerika Serikat, mengatakan bahwa sumber dari segala hal yang sedang kita alami adalah diri sendiri, bukan lingkungan atau siapa saja yang diluar diri. Dan untuk memperbaiki ini, DeGroat menyarankan kita mampu memperbaiki diri dan cara menepis segala hal-hal yang bisa saja membuat kita stress.

Sejalan dengan hal itu, beberapa psikolog juga menyebutkan bahwa kecerdasan kita dalam mengelola emosi. Sebab ini akan jadi kunci yang juga menyelamatkan kita, untuk terus berjalan tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.

Tak perlu terlalu takut tak akan bisa mengendalikan diri, sebab kemampuan ini akan tumbuh seiring dengan berjalanannya waktu. Kematangan usia akan memantapkan kondisi emosional yang kita punya.

Buang Semua Hal-hal yang Membuatmu Merasa Terbelenggu

Tak ada cara yang paling memungkinkan selain, menghadapinya sebagai bagian hidup yang memang harus kita selesaikan. Anggaplah ini jadi ujian untuk kenaikan kelas, yang suka atau tak suka harus kita ikuti demi tingkatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Sebab tahap pertama yang akan menandai masa krisis yang sedang kita derita adalah terjerembab dan masuk kedalamnya. Dan hal pertama yang harus kita lakukan adalah, bagaiman cara mencari jalan keluar untuk lepas darinya.

Jadi jika saat ini mungkin kita sedang berada diambang kebingungan dalam hal menentukan pekerjaan. Cobalah mulai dengan berani melepaskan, dengan catatan telah terlebih dulu mencari hal selanjutnya yang akan kita jalankan. Tak perlu takut untuk melepaskan sesuatu, sebab bisa jadi ada hal yang lebih baik setelah itu.

Lakukan Semuanya dengan Tanpa Menghiraukan Komentar Orang

Seringnya, keresahan dan segala hal-hal yang jadi beban pikiran datang dari kepedulian kita terhadapan omongan orang. Tak ada yang salah dengan membuka telinga untuk komentar pihak lain, untuk kehidupan yang sedang kita jalankan. Namun akan menjadi beban jika sudah terlalu menggantungkan keputusan pada hal-hal yang orang lain sampaikan.

Tak apa, jika tetangga akan menilai pekerjaanmu mungkin tak jelas dan tak ada juntrungannya. Kita hanya perlu belajar untuk mengabaikan apa yang sedang mereka suarakan dengan tetap bekerja sesuai hal yang kita yakini. Ingatlah, bahwa diri sendiri jadi pihak yang paling berhak untuk menilai, sejauh mana kita sudah berbuat sesuai dengan hal yang memang kita inginkan.

Dan Belajarlah Untuk Mengelola Ekspektasi Sejajar dengan Kemampuan yang Bisa Kita Lakukan

Demi menghindari diri dari hal-hal yang justru bisa jadi sumber sakit hati, berkaca pada diri sendiri adalah sesuatu yang kita butuhkan. Bukan apa-apa, bayangan yang terlalu tinggi sering jadi sumber masalah yang seharusnya bisa dihindari.

Tempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, tentukan hal apa yang akan menjadi tujuan selanjutnya tanpa membuatnya jadi beban yang menyusahkan diri sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Terlalu Lama Menjomblo, Membuat Kamu Kian Dekat dengan Hal-hal Ini!

“Sudah terlalu lama sendiri, sudah terlalu lama aku asyik sendiri”

Mungkin lirik lagu tersebut sangat cocok untukmu yang sudah lama menghabiskan waktumu seorang diri. Terlalu lama menjomblo ternyata juga tak baik loh untukmu. Terlebih jika akhirnya kamu sudah benar-benar terbiasa dan asyik dengan kesendirianmu itu. Bahkan nih, dari  hasil beberapa penelitian. Sendiri kelamaan, bisa memicu kematian. Untuk itulah, kamu disarankan segera mencari pacar.

Akan tetapi, sebelum beranjak untuk menebarkan pesonamu. Kami ingin mengajakmu menyadari beberapa hal yang selama ini kamu alami. Iya, kamu alami selama sendiri tanpa kekasih.

1. Merasa Kaku Saat Berkenalan dengan Orang Baru

Karena kamu sudah terlalu lama sendiri, akhirnya kamu pun tak terbiasa dengan kehadiran orang baru dalam kehidupanmu. Kamu pun akan terkesan canggung saat bertemu dengan orang baru. Akhirnya akan sulit untuk orang lain mendekat padamu karena tidak nyaman dengan sikap canggungmu itu.

Bukan tak mau membuka diri, hanya saja ada sedikit keraguan yang masih menghiasi pikiran. Semacam pertanyaan kurang percaya diri, karena sudah lama menyendiri.

2. Banyak Temanmu yang Akhirnya Menyerah untuk Mencarikanmu Pendamping

Temanmu pun ingin melihatmu memiliki pendamping. Mereka berusaha mengenalkanmu dengan kenalannya dengan maksud siapa tahu dia bisa cocok denganmu. Namun karena sikapmu yang cenderung cuek, akhirnya teman-temanmu pun menyerah untuk mencarikanmu pendamping. Bahkan setelah upaya  yang mereka perbuat, tak sedikit pula yang akhirnya merasa kesal padamu.

“Lu maunya pacar yang kaya gimana sih?” 

Sering mendengar kalimat ini? Ya, kadang kamu merasa terharu pada teman-teman yang sibuk mencarikanmu pacar baru. Namun juga sering merasa lucu, kenapa mereka sesibuk itu. Karena bisa jadi kamu sendiri masih menunggu dan tak mau terburu-buru.

3. Padahal Kamu Merasa Bahwa Cinta Bukanlah Hal yang Penting untuk Dipikirkan

Kondisi kesendirianmu yang sudah terlalu lama akhirnya juga memengaruhi pola pikirmu pada makna cinta itu sendiri. Kamu mulai merasa bahwa cinta bukanlah suatu hal penting untuk kamu pikirkan. Ada hal penting lain yang harus lebih dulu kamu dahulukan dibandingkan hanya untuk sebuah cinta. Dan barangkali inilah sebabnya, mengapa kamu masih betah sendiri sampai sekarang.

4. Bisa Jadi, Kamu Merasa Jauh Lebih Baik Saat Sendiri

  

Bisa dibilang kamu sudah cukup nyaman dengan kesendirianmu. Kamu justru tak tertarik meskipun melihat banyak temanmu yang selalu bersama dengan pasangannya. Kamu cenderung asyik dengan duniamu sendiri. Menikmati hobi dan belajar hal baru lebih banyak lagi. Selalu  jadi sesuatu yang lebih menyenangkan daripada harus buru-buru mencari pacar. Walau pada beberapa orang, ini hanyalah sebuah alasan atas ketidakmampuan. Upss…

5. Kamu Sudah Kebal dengan Komentar dan Pertanyaan Orang Terkait Status Single-mu

Mungkin di awal kamu sempat memikirkannya. Namun karena kamu sudah cukup lama sendiri dan menikmati kesendirian itu, akhirnya kamu pun mulai kebal dengan banyaknya komentar dan pertanyaan orang lain terkait dengan statusmu yang masih saja sendiri sampai saat ini.

Jadi pertanyaan semacam “Sendiri mulu, berduanya kapan?”, tak lagi jadi sesuatu yang menyinggung perasaan. Ini lebih terdengar jadi sebuah basa-basi dalam membuka obrolan. Ya, walau kadang-kadang ada juga yang merasa jadi beban. Tergantung bagaimana kamu menyikapinya.

6. Setiap Kali Ada yang Mendekati, Ada Serangkaian Cerita yang Sudah Kamu Persiapkan

Padahal kamu belum tahu pasti. Namun saat ada orang yang mendekatimu kamu akan dilanda kecemasan dan kepanikan. Kamu mulai berpikir keras akan tujuannya mendekatimu, ingin sekedar bermain-main atau benar-benar ingin serius. Hingga akhhirnya, ketakutakan dan kekhawatiran itu membawamu pada keputusan, akan hal-hal yang ingin dilakukan.

Kamu mulai berandai-andai, jika si dia nanti akan melakukan sesuatu apa yang perlu kamu persiapkan untuk merespon tindakannya itu. Sering membuatmu cemas tak karuan, tapi setidaknya kamu merasa tenang jika ada sesuatu yang sudah dipersiapkan.

7. Kamu Menciptakan Tembok yang Semakin Tinggi Karena Keinginanmu untuk Melindungi Diri

Tujuanmu memang ingin melindungi dirimu. Namun tanpa kamu sadari, lambat laun justru tembok yang kamu bangun untuk berlindung semakin tinggi. Akhirnya akan sulit untuk seseorang bisa mejangkau tempatmu berada. Nah, untuk yang satu ini tak selalu sepenuhnya salah. Biar bagaimanapun ini adalah upaya perlindungan untuk diri sendiri.

Dengan kata lain, kamu bisa lebih memilah orang-orang seperti apa yang nanti akan berada di dekatmu. Sehingga patah hati atau disakiti yang dulu pernah terjadi, tak akan terulang kembali. Nah, dari beberapa hal yang tadi sudah dijelaskan. Mana yang saat ini sedang kamu rasakan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ketika Hidupnya Lebih Buruk denganmu, Itu Artinya Ia Tak Tercipta Untukmu

Pernah tidak kamu tiba-tiba bepikir, bahwa ada sesuatu yang sepertinya tak beres dalam hubunganmu? Iya, ini bukan tentang kamu tak bisa membuatnya tertawa atau bahagia. Tapi tentang kenyataan lain yang justru jadi tanda tanya.

Coba lihat hidupnya kini, lalu bandingkan dengan hidupnya sebelum kalian bersama. Dulu ia adalah seorang periang, punya banyak teman dan pekerjaan yang lancar. Tapi bersamamu, harinya justru berubah. Menjauh dari temannya, karena memastikan kamu tak kemana-mana jadi yang lebih utama.

Sering khawatir karena cemburu, ketakutan akan kehilangmu menganggu pekerjaan yang ia lakoni. Lantas, sanggupkah kamu terus menerus melihatnya begitu?

Cinta yang Baik Membawanya Kedamaian, Bukan Membuatnya Gusar Tak Berkesudahan

Sikap periang yang dimilikinya, bisa jadi adalah salah satu hal yang membuatnya suka padanya. Tapi, jauh berbeda dari saat pertama jumpa. Akhir-akhir ini ia justru terlihat sering berwajah sendu, karena tak bahagia. Senyum manis yang tadinya sering mengembang, pelan-pelan mulai hilang. Berganti dengan segudang kekhawatiran atas hubungan yang kalian jalankan.

Tak terlihat secara jelas datang darimana sedihnya, yang terlihat hanyalah raut wajah kecewa, takut, serta kerap khawatir untuk berbagai macam alasan. Jika memang begitu, cobalah untuk melepasnya sendiri dulu.

Jauh dari Kata Berkembang, Hidupnya Kian Monoton Setelah Kamu Datang

Rasa sayang harusnya mendorong seseorang untuk melakukan banyak hal yang sebelumnya terlihat mustahil. Membantunya meningkatkan kemampuan dan kreativitas, dan semua hal baik itu jelas memberi dampak baik untuknya.

Namun jika yang terjadi justru sebaliknya, itu artinya memang ada sesuatu yang salah. Bandingkan lagi, bagaimana hidupnya ketika kalian tak bersama. Seberapa banyak pencapaian yang ia perbuat dengan seorang diri saja? Dan kenapa ketika sudah bersama ia justru berdiam diri dan tak berbuat apa-apa?

Semangatnya pelan-pelan hilang, dan jika benar begitu sebaiknya kau lepaskan genggamanmu.

Hanya Demi Kamu, Ia Sering Berbohong

Tak jelas apa alasannya, dari seluruh perubahan sikap yang ia tunjukkan. Kebohongan jadi salah satu hal yang paling banyak kau temukan. Mulai dari kebohongan kecil, hingga yang besar. Dari yang menurutmu tak penting untuk ditutupi sampai hal besar lain yang harusnya tak perlu disembunyikan lagi.

Hubungan kalian, kerap kali dijadikan alasan untuk berbohong dan tak ingin membuatmu marah atau kecewa padanya. Tapi asal kamu tahu saja, cinta yang baik merubah sesorang untuk lebih terbuka dan membicarakan semuanya. Jika ia kerap kedapatan berbohong, itu artinya ada sesuatu yang salah.

Tak Lagi Bergairah untuk Melakoni Hal Lain, Hidupnya Seolah Bertumpu Hanya Padamu Saja

Jadi sesuatu yang kadang sulit diterima, perubahan sikap yang ia tunjukkan kadang memang tak masuk akal. Namun itu semua adalah kenyataan yang mau tak mau harus kamu terima. Kamu bisa melihat ia kehilangan semua gairah, tak lagi terlihat hidup melakukan hal yang tadinya ia suka.

Dan kesimpulan yang bisa ditarik dari sikapnya, kemampuan yang tadinya ia bisa perbesar berubah jadi ketidakpastian yang kian kecil. Tak mau berbuat apa-apa tanpa dirinya, baginya kamulah roda pemutar hidup yang ia percaya. Tapi, bukankah cinta harusnya membuat kita kian kuat? Jika dirinya justru melemah, itu artinya bukan cinta.

Lari dari Tanggung Jawab, Ia Berubah Lebih Buruk dari yang Sebelumnya

Yap, coba tengok seseorang yang katamu paling kamu cintai itu. Ingat kembali bagaimana ia dulu menyelesaikan semua pilihan dan menyelesaikannya dengan benar. Lalu masihkah ia bersikap demikian sampai sekarang? Jika ternyata jawabannya adalah tidak. Berarti ada sesuatu yang memang perlu dibenahi dalam hubungan kalian berdua. Dia yang terjebak dan tak bisa memilah perilakunnya, atau sikapmulah yang membuat ia jadi demikian berubah.

Mungkin Bukan Hanya Salahmu Juga, untuk Itu Cobalah Mencari Penyebabnya

Perkara hubungan yang bisab merubah setiap orang. Siapa yang salah jelas sulit untuk ditentukan. Satu pihak bisa saja merasa biasa dan tak berbuat salah, tapi di sisi lain bisa jadi pasangannya mengira dialah penyebab seseorang berubah.

Tak harus buru-buru, coba dilihat pelan-pelan dulu. Pihak manakah yang sekiranya jadi penyebab perubahan diri. Jika memang itu karenamu, belajarlah untuk lebih bijaksana dalam menanggapinya. Lepaskan ia jika ternyata, tak ada bahagia yang ia terima setelah sekian lama bersama. Jujurlah pada dirimu sendiri dengan mengakui bahwa kamu memang jadi sosok yang membuatnya berubah menjadi lebih buruk dari dirinya yang sebelumnya.

Maka, jika benar-benar cinta, cobalah lepaskan ia. Biarkan ia mencari jalannya, dan belajar untuk mencari bahagianya dulu sebelum nanti berbagi bahagia lagi bersamamu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kadang Seorang Teman Memberi Solusi Bukan Karena Empati, Tapi Sekadar Asal Bicara Saja

Sadarilah, tak semua teman tempat kita curhat adalah seorang pendengar yang baik, yang mau turut merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat itu. Karenanya, tak usah heran kalau akhirnya yang kamu dapat adalah solusi yang terdengar ‘ala kadarnya’ bahkan terkesan menggampangkan sebuah masalah.

Padahal jika dikembalikan ke dirinya sendiri belum tentu mereka akan terima dengan masukan seperti itu. Namun bukan berarti berbagi cerita ke teman adalah langkah yang salah ya. Mungkin supaya tak mendapat respon yang tak enak, kamu perlu mengenali karakter mereka dulu. Carilah sosok teman yang benar-benar tepat, yang bisa menjadi pendengar dan pemberi solusi yang baik bagi dirimu.

Seorang Teman Belum Tentu Merasakan Emosi yang Kamu Rasakan

Bagaimanapun, seorang teman belum tentu bisa merasakan emosi seperti yang kamu rasakan saat kamu menceritakan ceritamu. Padahal ada kalanya kamu hanya butuh didengarkan saja dibanding meminta saran dari mereka. Hati-hati, salah cerita pada orang, justru bisa membuatmu merasa sia-sia.

Sadarilah, meski sejak awal kita berharap mereka mau turut merasakan emosi yang sama seperti yang kamu rasakan kala itu. Tak semua orang bisa merasakan apa yang kita sedang rasakan.

Selesai Cerita Justru Dapat Penghakiman dari Teman yang Kamu Ajak Cerita, Menyebalkan Bukan?

Percayalah, tak semua curahan hati kamu bisa diterima dan direspon dengan baik oleh teman yang kamu ajak berbagi. Bahkan, tak semua teman akan setuju dengan jalan cerita yang kelak kamu bagikan pada mereka. Alih-alih ingin mendapat hati yang plong setelah mengeluarkan segala keluh kesahmu, yang ada kamu hanya akan mendapatkan kecewa.

Jika tahu bakal mendapat penghakiman dari lawan bicaramu. Pastikan terlebih dahulu, sebenarnya seberapa besar ia mau mendengarmu.

Tak Menutup Kemungkinan Ceritamu Justru Disebarluaskan pada yang Lain

Tak semua teman bisa menjaga rahasiamu dengan baik setelah kamu ceritakan seluruhnya pada mereka. Karenanya, jangan menceritakan masalahmu ke sembarang orang. Namun carilah sosok teman yang dapat dipercaya bisa menjaga rahasiamu dengan aman.

Susah memang, tapi kuberitahu, jangan sampai setelah kamu curahkan semua pada temanmu, masalahmu malah makin runyam dan akhirnya hanya mengganggu ketentraman hatimu, kan?

Berujung Penyesalan yang Menderamu Karena Sudah Cerita ke Temanmu

Akhirnya ketika kamu tahu bahwa teman yang kamu ajak berbagi cerita tidak bisa dipercaya dalam menjaga segala rahasiamu, yang ada kamu akan merasa menyesal sendiri. Bahkan hal ini bisa berdampak pada merenggangnya hubungan pertemanmu dengannya. Mungkin pada akhirnya kamu bisa petik pelajarannya dari sini agar bisa lebih berhati-hati lagi dalam memilih teman untuk diajak berbagi cerita.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top