Feature

PornHub: Memberi Opsi Berdonasi dengan Menonton Pornografi

Berdonasi bisa dilakukan siapa saja. Baik perorangan, pasangan, keluarga, bahkan perusahaan. Percayalah, masih ada para dermawan yang masih mau memberikan bantuan atau menyokong dana dalam beberapa acara maupun situasi. Dan lazimnya, bila ada perusahaan atau individu yang ingin berdonasi, apa  yang diberikannya akan diterima dengan tangan terbuka, ‘kan? Tapi ternyata, dibalik semua itu, ada lho beberapa nama yang masuk daftar hitam sehingga seberapa pun angka yang berusaha mereka donasikan, keputusan yang diterima tetap sama: penolakan.

Dari sekian banyak nama, Pornhub dikenal sebagai salah satu perusahaan besar yang sering mendapat penolakan saat hendak berdonasi. Dilihat dari namanya, kamu tahu ‘kan itu perusahaan apa?

Yup! Pemicu penolakan terjadi, ya lantaran perusahaan tersebut dikenal sebagai situs pornografi terbesar. Kamu sendiri, kalau posisinya jadi salah satu pegiat kampanye, sementara ada perusahaan semacam ini yang hendak memberi sokongan dana, apa kamu mau menerimanya?

Menerima Beragam Penolakan Mungkin Sudah Biasa bagi Website yang Satu Ini

Bukan sekali atau dua kali reaksi negatif yang mereka dapati, melainkan sejak 2012. Mengutip tirto.id, situs tersebut menggelontorkan dana untuk Planned Parenthood, sebuah lembaga yang berfokus pada kesehatan reproduksi. Tapi kala itu ‘aksi baiknya’ justru langsung dikritik oleh sebagian masyarakat.  Tanggapan negatif terus mengalir ke Pornhub, terlebih saat mereka mensponsori bus yang memberi layanan pemeriksaan payudara demi meningkatkan kesadaran akan kanker payudara.

Penolakan terus berlanjut, sebuah lembaga bernama Susan G. Komen Foundation juga pernah menolak dengan tegas bantuan dana untuk penelitian kanker payudara. Nilainya tak main-main, kala itu PornHub menawarkan suntikan dana sebesar US$ 75 ribu atau sekitar Rp 1 miliar.

Kamu perlu tahu, Pornhub mendapatkan uang sebesar itu dengan cara mengumpulkan satu sen setiap 30 view video yang ditayangkan di situs tersebut. Jadi bayangkan saja, kira-kira berapa banyak views yang mereka terima sampai bisa menggelontorkan uang sebanyak itu?

Tapi lantaran ditolak, Pornhub pun mengalihkan dana amal yang terkumpul ke yayasan lainnya yang lebih kecil namun tetap bergerak dalam kampanye kanker payudara.

Namun Mereka Tak Menyerah, Keinginan untuk Berdonasi Terus Dilakukan Lewat Cara atau Kampanye yang Lain

Penolakan yang mereka terima berkali-kali tak membuat mereka kapok, lho. Karena pada akhirnya pasti ada saja pihak yang mau menerima donasi dari Pornhub, begitu mungkin pikir mereka.

Di tahun 2014, Pornhub kembali berdonasi. Kali ini mereka fokus kepada isu lingkungan. Menariknya, setiap 100 kali tayangan video di Pornhub dalam kategori tertentu ditonton, situs tersebut siap menanam satu pohon dalam rangka memperingati Arbor Day—hari menanam pohon yang pertama kali dirayakan di AS tahun 1872 dan diikuti oleh beberapa negara lain di seluruh dunia.

Dan empat hari setelah Arbor Day, yang saat itu jatuh pada 25 April, Pornhub mengklaim telah menanam sebanyak 12.079 pohon. Klaim yang cukup bisa membuat kita geleng-geleng kepala, ‘kan?

Tampaknya Keinginan Mereka untuk Berdonasi Semakin Serius, Terbukti, Pornhub Menawarkan Beasiswa Kuliah Juga

Jika sebelumnya Pornhub terlihat fokus pada kampanye perihal kesehatan reproduksi perempuan, perusahaan ini ternyata juga pernah membuat kampanye demi meningkatkan kesadaran kanker testis melalui iklan layanan masyarakat bertajuk “Save The Balls” pada 2015.

Dan pada tahun yang sama, mereka semakin ‘memperluas’ jangkauan donasi, yaitu di bidang pendidikan. Tak main-main, Pornhub menawarkan beasiswa kuliah bagi mahasiswa usia 18-25 tahun. Persyaratan utamanya untuk mendaftar beasiswa tersebut adalah punya IPK 3,2 serta membuat esai dan video berdurasi lima menit yang menceritakan hal baik apa yang sedang pendaftar lakukan.

Beasiswa di bidang pendidikan pun kembali dilanjutkan pada 2016 dan hanya ditujukkan bagi perempuan yang ingin melanjutkan studi di bidang STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics. Terbaru, di tahun ini, situs tersebut menawarkan hibah sebesar 25.000 dolar untuk proyek penelitian di bidang seksualitas manusia bertajuk Pornhub Grant for Sexual Wellness.

Proyek ini akan diberikan kepada pengajar dari universitas terakreditasi. Bukan sembarang pengajar yang berkesempatan menerima hibah ini, melainkan pengajar pembimbing mahasiswa-mahasiswa yang memfokuskan studinya pada seksualitas.  Dalam keterangan tertulis mereka, tujuan pemberian hibah ini adalah untuk melanjutkan misi memperbaiki pemahaman tentang hal apa pun yang berkaitan dengan kehidupan seksual, mulai dari aspek biologis sampai sosial.

Bagaimanapun,  Tak Semua Pihak Bisa Menerima ‘Itikad Baik’ Mereka, Apalagi kalau Kepentingannya Justru Hanya demi Eksploitasi Semata 

Kendati telah menunjukkan itikad baiknya, belum tentu pihak yang mereka sasar akan bersedia menerima hibah. Tentu pertimbangannya lantaran citra yang diusung perusahaan tersebut, apalagi kalau yang disasar adalah institusi pendidikan atau peneliti. Pasti mereka memikirkannya berulang kali sebelum mendaftarkan diri.

Misalnya saja, dalam persyaratan yang dibuat Pornhub pun tertera kewajiban penerima Grant for Sexual Wellness untuk memublikasikan artikel utuhnya di situs mereka. Artinya, nama peneliti dan kampusnya akan diketahui oleh khalayak.

Tak sedikit yang memberikan reaksi keras terhadap aksi Pornhub. Salah satunya dari Direktur Eksekutif The National Center on Sexual Exploitation (NCOSE), Dawn Hawkins. Di tahun 2015 saat perusahaan tersebut menawarkan beasiswa, Hawkins berani berkomentar kalau inisiatif Pornhub pasti tak jauh-jauh dari kepentingan eksploitasi remaja dengan kondisi ekonomi menengah kebawah.

“Pornhub jelas-jelas memakai beasiswa ini untuk menggenjot industri mereka, di mana pencarian nomor wahidnya adalah ‘remaja’,” ujar Hawkins kepada CNBC. Nah, berkaca dari fenomena berdonasi yang ditawarkan Pornhub, menurut pandanganmu bagaimana?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top