Feature

Pola Pertemanan yang Perlu Kita Terapkan

Daripada mencari teman baru, mempertahankan pertemanan yang sudah ada, konon jadi sesuatu yang jauh lebih susah.

Seorang teman bercerita, perihal hubungan pertemanan yang sudah berjalan sekitar 7 tahunan, mendadak renggang, hanya karena dirinya kini sudah memiliki pacar. Bukan karena ia lupa pada teman-temannya, akan tetapi ada bentuk kecemburuan yang terlihat jelas dari teman yang ia miliki. Dianggap tak lagi peduli dengan sahabatnya, bahkan sampai dicap lupa diri hanya karena sudah punya kekasih.

Perkara dan cerita-cerita seperti ini memang sering membuat kita dilema. Bingung dalam menentukan langkah, hingga kadang tak bisa berpikir untuk mencari jalan keluarnya. Tapi tunggu dulu, tanpa bermaksud untuk membela dia yang saya beri sebutan “teman” tadi, dalam hubungan pertemanan memang ada beberapa orang yang tak salah untuk ditinggalkan. Tapi sejalan dengan itu, ada beberapa pihak juga yang patut untuk diperjuangkan.

Jack Schafer, seorang agen FBI yang sudah pensiun, dalam buknya “The Like Switch” datang untuk memperkenalkan formula persahabatan. Beliau ini, pernah ditugaskan di Program Analisis Perilaku Keamanan Nasional FBI, untuk itu ia adalah seorang ahli dalam perilaku dan interaksi manusia. Lalu bagaimana polanya?

Persahabatan adalah Penggabungan dari Jarak + Frekuensi + Durasi + Intensitas

Serupa hubungan kita dengan pasangan, pertemanan juga baiknya diberi batas dan beberapa aturan. Sedekat apa pun kita dengan beberapa teman, tetap ada batasan yang kadang penting untuk dijalankan.

Rumusan ini akan jadi gambaran yang memudahkan kita dalam menilai dia yang menjadi teman. Dari sini kita bisa lihat, apakah obrolan yang kita lakukan dengannya jadi sesuatu yang membangun atau justru sebaliknya. Selanjutnya, mari kita lihat bagaimana setiap bagian dari pola itu akan bekerja pada pertemanan yang kita punya.

Kedekatan yang Nggak Terlalu, tapi Juga Tidak Jauh

Coba ingat dulu? Seberapa dekat kamu dengan seorang teman? Lalu seberapa besar pula intensitas tersinggung kalau ada salah-salah kata? Beberapa orang berkata bahwa, pertemanan yang sudah terjalin lama dan sudah dekat seringkali jadi hubungan yang justru rentan drama dan sulit untuk memahaminya. Benarkah demikian? Silahkan jawab dalam hati saja, ya!

Begini, ukuran kedekatan mengacu pada jarak antara kita dengan sang teman yang memang terlihat oleh orang-orang. Tapi tetap mengatur jarak untuk memberi sedikit ruang bagi masing-masing diri, selalu jadi pilihan baik yang akan membuat kita lebih memahami arti dari jalinan yang sedang dijalani. Kita paham, bahwa selain teman kita punya kehidupan lain, ia yang menjadi teman juga pelan-pelan akan mengerti bahwa temannya itu juga punya sisi lain dari hidup yang perlu dilakoni.

Frekuensi dan Durasi Pertemuan, Perlu Diatur Agar Tak Menimbulkan Kejenuhan

Percayalah semua orang yang setiap hari bertemu dengan temannya, tak melulu punya hubungan sehat seperti ekspektasi kita. Tapi disamping itu, kita juga perlu tahu bahwa durasi pertemuan juga jadi salah satu bonding yang baik untuk pertemanan. Tak berlebihan, tapi tidak juga kurang.

Untuk bisa lebih leluasa menikmati cerita lain selain dengan teman, cobalah untuk kompromikan kapan waktu yang tepat untuk bertemu dengan teman. Entah itu dua minggu sekali, atau mungkin sebulan sekali. Menikmati pertemuan yang akan diisi dengan berbagai  macam obrolan jelas menyenangkan. Tapi jika dilakukan terus menerus, pastilah kamu juga bosan.

Dan pada Setiap Pertemuan, Belajarlah untuk Selalu Memaksimalkan Interaksi dengan Sang Teman

Ini jadi sesuatu yang mungkin sering kita lakukan, niatnya sih ketemuan tapi pas sudah bertemu malah sibuk dengan ponsel masing-masing. Kita mungkin sudah menghabiskan waktu yang cukup banyak, tapi anehnya masih sering terasa kurang karena waktunya lebih banyak untuk sibuk dengan gadget sendiri.

Kebiasaan kita yang lebih memilih untuk fokus pada kegiatan sendiri, pelan-pelan akan jadi bumerang yang justru menghilangkan keintiman dari sebuah hubungan. Tubuh kita mungkin sedang berhadap-hadapan dengan beberapa teman. Tapi pikiranmu bisa jadi tengah melayang kemana-mana.

Maka jika Ingin Pertemanan Tetap Jalan, Cobalah Gunakan Formula Ini demi Terus Mempertahankan Persahabatan

Kamu mungkin sedang dalam kebingungan, antara tetap memperbaiki hubungan dengan kawan yang mendadak menjauh atau memulai mencari teman baru yang bisa sejalan. Semuanya sah-sah saja, dengan catatan kamu perlu memastikan. Siapa yang patut ditinggalkan dengan yang harus dipertahankan.

Serupa dengan mantan pacar, akan ada masa dimana seorang teman (mungkin) sudah tak lagi bisa sejalan dengan kita. Dan tak ada salahnya jika kita memang harus meninggalkan mereka. Toh, dia masih punya teman lain. Begitu juga dengan kita yang masih bisa mencari teman baru, meskipun mungkin akan susah.

Hidup terus bergerak, lepaskan apa yang memang menjadi beban maupun sudah tak dapat dipertahankan, termasuk dia yang hanya ingin diperjuangkan tanpa mau memperjuangkan. Bukan tak menghargai mereka yang menjadi teman atau ingin lupa pada kawan. Namun, menghabiskan waktu dengan mereka yang tak mau memahami kita adalah perbuatan sia-sia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Kisah Memprihatinkan dari Tikiri, Gajah Kurus yang Dipaksa Bekerja di Sri Lanka

Cerita-cerita perenggutan lahan hutan yang akhirnya menghilangkan tempat tinggal untuk binatang mungkin sering kita dengar. Dan hal lain yang lebih menyedihkan adalah, cerita-cerita eksploitasi hewan demi keuntungan oleh beberapa orang. Seperti cerita seekor gajah yang baru-baru ini viral di media sosial.

Yap, binatang malang itu adalah Takiri, seekor gajah berusia 70 tahun yang dipaksa ikut dalam sebuah festival keagamaan di Sri Lanka untuk menghibur penonton. Namun, tak ada yang menyangka di balik kostum warna-warni yang dikenakan gajah tersebut. Gajah berjenis kelamin betina itu dalam kondisi yang miris. Di balik kain yang dikenakan, Yap, dari beberapa foto yang beredar luas, ternyata badan Takiri sangat kurus tidak seperti gajah pada umumnya.

Dilansir dari worldofbuzz.com, Kamis (15/8), pada awalnya kisah gajah malang tersebut diungkap oleh Lek Chailers, pendiri yayasan Save Elephant Foundation, sebuah organisasi yang fokus dalam penyelamatan gajah. Dalam momentum peringatan Hari Gajah Sedunia pada 12 Agustus lalu, melalui halaman Facebook ia menceritakan bahwa Tikiri merupakan salah satu dari 60 gajah yang dipaksa bekerja selama 10 malam berturut-turut di Esala Perahera, sebuah festival yang digelar di Kandy, Sri Lanka.

“Tikiri bergabung dalam parade awal setiap malam hingga larut malam selama sepuluh malam berturut-turut, ia bekerja di tengah-tengah kebisingan, kembang api, dan asap. Dia berjalan beberapa kilometer setiap malam sehingga orang-orang akan merasa diberkati selama upacara,” katanya.

Membuat orang-orang kian simpatik dan merasakan kesedihan yang teramat dalam atas kondisi gajah itu. Kulitnya terlihat mengendur, bagian tulang rusuk dan tulang belakangnya bahkan sampai terlihat di balik tubuh kurusnya itu.

“Bagaimana kita dapat menyebut festival ini berkah, atau sesuatu yang suci, jika kita membuat hidup makhluk lain menderita? Hari ini adalah Hari Gajah Sedunia. Kita tidak dapat membawa dunia yang damai kepada gajah jika kita masih berpikir bahwa kondisi Tikiri bukanlah masalah,” sambung Lek Chailers lagi.

Di sisi lain, menurut kabar terbaru yang disampaikan oleh yayasan Save Elephant Foundation lewat halaman Facebook, Kamis (15/8), kondisi Tikiri kini semakin mengenaskan. Kondisi kesehatan Tikiri dikabarkan semakin menurun. Foto terbaru yang mereka bagikan memperlihatkan Tikiri terkulai lemas dikerubungi banyak orang.

Kisah Tikiri pun ramai jadi bahan perbincangan para pengguna media sosial. Dan sejak pertama kali diunggah pada Selasa (13/8) lalu, postingan tersebut telah dibagikan ulang lebih dari dua ribu kali. Sebagian besar warganet pun mengungkapkan keprihatinannya terhadap apa yang dialami Tikiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mantan Sudah Punya Pacar, Tapi Kamu Masih Sendirian? Tenang…

Mengetahui mantan pacar sudah punya pasangan baru setelah putus, kadang jadi sesuatu yang menganggu pikiran. Apalagi jika masih ada perasaan yang belum bisa dihilangkan, tentu kita akan masih merasa sedih melihat ia dengan orang lain. Tapi, jika apa yang kita harapkan, kadang berbalik dengan kenyataan. 

Maka, daripada harus bersedih jika mantan kekasih sudah punya pacar baru lagi. Ada hal lain yang sebenarnya bisa kita syukuri dan pahami. Daripada berbuat sesuatu yang justru merugikan diri sendiri, lebih baik mulai membuka mata tentang hal apa saja yang bisa kita lakukan ketika mantan sudah punya pasangan duluan. 

Lebih Dulu Punya Pacar Tak Berarti Jadi Pemenang

Hanya demi ego dan harga diri, kadang kita menjadikan punya pacar lagi sebagai pencapaian. Padahal, hubungan lama atau baru bukanlah sebuah lomba yang akan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Tak perlu merasa tertinggal, atau kesal hanya karena mantan pacar sudah punya gandengan. 

Fokuslah pada dirimu sendiri dulu, dan biarkan ia melakukan apapun yang ia mau. Tak ada yang layak disebut sebagai pemenang dan pecundang, perpisahan kalian adalah jalan yang jadi penentu jika masing-masing akan berjalan sendiri-sendiri. Jadi tak ada yang perlu kau urusi dari apa yang dilakukan oleh mantan kekasih. 

Sudah Tak Ada Hubungan Apa-apa, Biarkan Ia Melakukan Maunya

Kadang kala kita sering lupa, kalau kini sudah tak ada apa-apa antara kita dan dirinya. Lupa jika dirinya sudah jadi mantan, hingga akhirnya masih sibuk memikirkan dirinya dan cemburu melihat ia pergi dengan orang lain. Untuk itu, kamu tak seharusnya memikirkan ia secara berlebihan. 

Ingat, dirinya bukan lagi milikmu dan yang ia lakukan itu bukan urusanmu. Maka biarlah ia melakukan apa saja yang ia mau, entah ingin punya pacar lebih dulu atau tidak semuanya bukan lagi urusanmu. Sebab, kalian berdua sudah tak ada hubungan apa-apa. 

Lagipula Punya Pacar Lebih Dulu Bukan Berarti Lebih Bahagia 

Dari postingan yang ia unggah di sosial media, kamu mungkin melihatnya tertawa lepas dan bahagia dengan seseorang yang baru ia pamerkan. Tapi jangan buru-buru bersedih dan merasa dirimu butuh dikasihani. Karena potret yang kamu lihat tak selalu sejalan dengan kenyataan yang ia rasakan. Walau terlihat bahagia, bisa jadi ia sedang berpura-pura hanya untuk membuatmu merasa iri dengan apa yang dicapainya. 

Karena pada kenyataannya, foto-foto bahagia bukanlah patokan bahagia setiap manusia. Apalagi dinilai dari punya pacar atau tidak. Dan punya pacar atau tidak, kamu akan tetap bisa berbahagia dengan berbagai macam cara. 

Tetap Lanjutkan Hidupmu Tanpa Perlu Memikirkan Mantanmu 

Daripada sibuk memikirkan mantan, lebih baik lakukan sesuatu yang membuatmu sibuk. Dari pagi hingga malam, lakukan apapun yang kamu sukai dan buat itu sepadat mungkin agar kamu tidak memiliki waktu untuk memikirkannya. Dengan begitu kamu akan lebih mudah melupakannya. 

Setidaknya kamu tidak akan stalking media sosialnya dan menemukan foto dia dan pacar barunya yang bisa membuatmu semakin sedih saja. Dan di sisi lain, kamu pun akan lebih bahagia karena punya waktu untuk melakukan semua yang kau suka. 

Dan Jangan Pernah Menerima Seseorang Karena Ingin Buru-buru Punya Pacar Seperti Mantanmu

Demi membuktikan pada mantan, jika kamu juga sudah berhasil melupakan. Barangkali kamu mungkin kepikiran, untuk segera menerima siapa saja yang ingin menyatakan perasaan, walau dirimu sendiri mungkin tak benar-benar sayang. Dengar, hanya karena mantanmu punya pacar, bukan berarti kamu pun harus melakukan hal yang sama. 

Tak ada hati yang pantas untuk disakiti demi ego untuk menunjukkan jika kamu juga sudah bisa mencintai. Selain membohongi diri sendiri, kenyataan dan situasi seperti ini tentu juga tak baik untuk orang yang  mungkin sedang mendekati. Nikmati semua waktu yang kamu miliki, dengan melakukan hal baik lainnya. Dan berhenti untuk ikut campur pada urusan mantanmu yang sudah tak lagi punya hubungan denganmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dari Hasil Riset, Laki-laki yang Suka Kirim Foto Penis ke Perempuan Ternyata…

Kalian mungkin pernah mendengar atau membaca, beberapa kasus lelaki yang sering mengirim foto penis miliknya kepada kaum hawa. Nah, sebuah riset mengungkap ternyata laki-laki yang suka melakukan hal tersebut memiliki kepribadian narsis dan seksis.

Riset ini dipublikasikan oleh The Journal of Sex Research pada 18 Juli 2019 lalu. Tim ilmuwan menuliskan bahwa ini adalah penelitian pertama yang secara kuantitatif menginvestigasi motif pria heteroseksual mengirim foto penis mereka. Dalam riset ini, seperti dilansir IFL Science, para peneliti mempelajari 1.087 responden laki-laki di Amerika Serikat. Ada 48 persen di antara para responden mengaku pernah mengirimkan foto penisnya ke perempuan meski tidak diminta.

Untuk menilai perilaku para responden, tim periset meminta mereka untuk menjawab sejumlah pertanyaan. Dari situ para ilmuwan menemukan bahwa laki-laki yang mengirimkan foto penis memiliki tingkat narsis dan seksis yang sangat tinggi. Nah, orang dengan sifat narsis cenderung memiliki rasa kagum berlebihan pada dirinya sendiri. Mereka sering merasa bahwa dirinya lebih baik dibanding orang lain atau terobsesi dengan dirinya. Inilah yang kemudian mendorongnya percaya diri untuk mengirimkan foto-foto penis miliknya kepada orang-orang. 

Tak hanya itu saja, riset ini juga menemukan, 15 persen responden mengaku alasan mereka mengirimkan foto itu adalah untuk membuat penerimanya merasa takut. Sementara delapan persen lainnya ingin membuat penerima foto itu merasa malu. Selanjutnya, para peneliti juga menemukan, bahwa motivasi utama responden mengirimkan foto adalah akibat sifat misoginis dan ingin memiliki kontrol.

Bahkan, ada responden yang setuju dengan komentar semacam, “Saya memiliki rasa tidak suka pada perempuan dan mengirim foto penis memuaskan saya” atau “Mengirim foto penis membuat saya merasa memiliki kontrol dari orang yang saya kirimi gambar itu”.

Sebagian besar lelaki yang mengirim gambar, menganggap apa yang ia lakukan itu akan membuat penerimanya merasakan hal positif. Temuan lain dalam riset ini menunjukkan, 45 persen responden mengirimkan foto dengan harapan mendapat balasan gambar serupa. Yakni, perempuan akan berbalik mengirimkan foto gambar alat vital mereka.

Uniknya, hanya sedikit responden yang mengaku mengirimkan foto penis demi memuaskan rasa seksual mereka. Karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa libido tidak selalu menjadi alasan kenapa pria mengirimkan foto penisnya ke perempuan. Bisa saja mereka yang mengirimkan foto penisnya ke perempuan karena tidak cukup percaya diri dengan tampangnya. Mereka lalu merasa “alat vitalnya” punya kemungkinan lebih besar untuk memukau perempuan yang sedang ia dekati. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top