Feature

Pinjam Uang Ada Etikanya, Apalagi Pinjam Sama Saudara atau Teman

Pasang surut isi saku memang kadang tak bisa ditebak. Untuk itu, jika dompet sudah benar-benar tiris, meminjam uang kepada teman atau keluarga jadi satu-satunya jalan keluar untuk bertahan hidup. Apalagi jika kamu adalah anak rantau yang tinggal sendiri di kota orang. 

Sialnya, perkara yang berawal dari kesusahan si peminjam dan rasa simpati si pemberi pinjaman ini, bisa berdampak buruk pada hubungan pertemanan atau persaudaraan. Bahkan saling sindir di media sosial karena uang pinjaman, mungkin sudah sering kita saksikan. Nah, selain mengembalikan uang yang kamu pinjam tepat waktu, ada 5 etika yang perlu kamu pahami jika ingin meminjam uang pada saudara atau teman.

1. Lihat Kondisi si Dia yang Kamu Mintai Pertolongan

Sekalipun kamu sedang butuh pinjaman, usahakan untuk tetap memakai akal. Jangan sampai karena kamu membutuhkan uang, dirimu tak lagi mau membuka mata untuk kondisi si dia yang ingin kamu pinjami. Jika ternyata ia lebih membutuhkan dari dirimu, cobalah untuk cari teman lain. Jangan minta tolong ke dia lagi.

Tidak apa-apa kalau kamu bisa segera mengembalikannya, tapi bisa jadi runyam kalau uang yang kamu pinjam darinya tak bisa kembali dalam waktu dekat. Ini penting untuk dipikirkan.

2. Jelaskan Lagi, Kapan Uang Tersebut Akan Kamu Kembalikan Lagi

Memang sih agak terdengar terlalu berlebihan, apalagi jika yang ingin kita pinjami adalah saudara atau teman. Tapi meski ia berkata tak apa-apa, tetap buat perjanjian untuk tempo waktu yang kamu butuhkan untuk mengembalikan uangnya lagi. Entah minggu depan atau bulan depan, dibayar sekaligus atau diangsur.

Karena si peminjam mungkin tak enak hati untuk bertanya kapan kamu akan mengembalikan uangnya. Untuk itu, tak apa jika kamulah yang lebih dulu berjanji padanya.

3. Sebelum Foya-foya, Kembalikan Dahulu Uang yang Kamu Pinjam

Ini penting! Beberapa orang yang meminjam uang dari saudara atau temannya, kadang tak tahu terimakasih. Sudah dipinjami uang, bukannya buru-buru dikembalikan ketika ada uang, malah pamer dan foya-foya tanpa merasa bersalah. Padahal si pemilik uang mungkin tahu, apa saja yang kamu lakukan, dari update-an yang kamu kirimkan.

Cobalah sadar diri dengan menjadikan uang yang kamu pinjam sebagai prioritas yang harus segera dikembalikan. Jangan ditunda-tunda, apalagi memakai uangnya dengan hal yang tak berguna. Dan semakin parah jika kamu memaperkan aktivitas hura-huramu di sosial media. Bukan apa-apa, itu jelas jadi sesuatu yang membuat si peminjam kecewa, merasa tak dihargai olehmu.

4. Meminjam Berarti Wajib Mengembalikan, Jangan Pura-pura Lupa dan Menghilang

Ingat, uang yang kamu pinjam adalah sesuatu yang bersifat wajib dikembalikan. Lain cerita jika si peminjam uang memang sudah berkata padamu untuk tak usah dikembalikan. Balaslah perbuatan baiknya yang memberimu pinjaman uang, dengan membayar pinjaman sesuai janji yang sudah kamu sampaikan.

Kalau memang masih belum ada uang, coba jelaskan kepadanya. Atau setidaknya, cicillah beberapa bagian dengan uang yang saat ini kamu pegang. Dan jangan pernah untuk menghilang, memblokir nomor temanmu hanya karena belum bisa membayar pinjaman. Selain dinilai jelak dimata mereka, kamu juga akan kehilangan ia sebaai teman atau saudara. Karena bisa jadi, ia sudah kecewa. 

5. Dan Jangan Pernah Meminjam Uang pada Orang yang Baru Kamu Kenal

Ini cukup aneh sih, bagaimana mungkin seseorang bisa dengan tiba-tiba meminjam uang pada seseorang yang bahkan tak dikenal. Kamu tak tahu dia siapa, dia pun tentu tak bisa percaya padamu begitu saja. Sebisa mungkin, cobalah cari orang yang memang kamu kenal baik untuk bisa meminjami uang yang kamu butuhkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Cara Hidup Bahagia yang Mudah Dilakukan Namun Sering Terlupakan

Setiap orang tentu saja mempunyai definisi bahagianya masing-masing. Dan ternyata bahagia itu terletak dari sejauh mana kita bersyukur tentang semua yang telah kita miliki. Pernahkah kamu duduk diam sejenak dan melihat kembali kehidupanmu sehari-hari? Makanan yang cukup, punya tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan dasar yang terpenuhi dengan baik. Dan tidak kalah pentingnya, mempunyai orang-orang yang peduli dan mencintai kamu.

Namun, seringkali kita menganggap bahwa masih banyak yang kurang dalam hidup kita sehingga rasanya jauh sekali dari bahagia. Kadang kita merasakan kecewa, ketidaknyamanan dan mencari kebahagiaan yang lain yang sebenarnya apa yang kita miliki pun sudah cukup. Hal ini yang menyebabkan kita semakin jauh dari rasa syukur.

Lalu, pernah tidak kamu ingin mengetahui bagaimana cara hidup bahagia yang mudah? Jika kamu ingin memikirkan kembali kehidupanmu, satu hal yang harus ditanamkan dalam hati adalah perkara menyederhanakan hidup. Bagaimana caranya? Sebenarnya ada cara jika kamu ingin hidup bahagia dengan mudah, akan tetapi sangat disayangkan sering terlupakan oleh kita. Seperti hal-hal dibawah ini!

Menghargai Apa yang Sudah Kita Miliki.


Pernahkah kamu menyadari perbedaan dari kebutuhan dan keinginan? Seringkali kita sudah memiliki semua yang kita butuhkan. Hanya saja kita lebih fokus pada apa yang kita inginkan. Bangunlah kebiasaan untuk memperhatikan dan menghargai apa yang sudah kita miliki dan berterimakasihlah.

Hargai orang-orang yang hadir dalam hidup kita, barang-barang yang kita miliki, makanan yang setiap hari tersedia dan momen-momen bersama orang-orang yang kita cintai. Tentu saja hal itu akan membuat rasa syukur tumbuh dalam hati kita.

Ketika Ingin Dihormati, Belajarlah Menghormati Terlebih Dulu.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menghormati orang lain. Misalnya dengan menghormati pendapat orang lain, berbicara dengan cara yang baik dan terlebih lagi menghormati keberadaan seseorang seperti bagaimana kita ingin dihormati. Jangan pernah merasa ingin dihormati sementara diri kita sendiripun masih lupa untuk menghormarti orang lain. Belajarlah menghormati orang lain seperti layaknya kita ingin dihormati juga.

Indahnya Berbagi Akan Menghadirkan Kebahagiaan Juga.


Pernahkah kamu menyadari bahwa ketika kamu memberikan sesuatu yang berguna untuk orang lain maka hatimu pun akan ikut merasa bahagia? Untuk itu, ada banyak orang-orang di sekitar kita, yang tanpa kita sadari sebenarnya membutuhkan kita.

Entah itu mereka yang kelaparan di jalan atau bahkan teman yang dilanda depresi dan membutuhkan telinga kita untuk mendengarkan. Cobalah untuk membantu mereka, setidaknya kamu telah menghadirkan kebahagiaan untuk mereka dan menumbuhkan kebahagiaan untuk diri sendiri pula.

Bukan berarti kamu harus menghabiskan setiap waktu yang kamu miliki hanya untuk membantu orang lain. Tetapi jika kamu masih punya waktu, tenaga dan hal lain untuk diberikan kepada orang lain, itu artinya kamu sudah ‘cukup’ bukan?

Dan Membangun Rasa Syukur Bisa Dilakukan Dengan Cara Sederhana Ini


Jika penjelasan di atas menurutmu masih kurang, maka ada 5 kebiasaan sehari-hari yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bangun pagi dan berterimakasihlah pada tuhan atas apa yang kamu miliki dalam hidupmu.

2. Tulislah jurnal berisi satu paragraf atas rasa syukurmu hari ini, sebelum beranjak tidur.

3. Saat kamu bertemu seseorang, biasakan untuk tersenyum pada mereka.

4. Sebelum menyantap makanan, ucapkan terimakasih untuk semua yang telah menyiapkannya. Syukurilah setiap makanan yang kamu kunyah.

5. Sebelum tidur, cobalah untuk menulis hal-hal baik apa yang kamu terima hari ini.

Mungkin setiap orang mempunyai cara yang berbeda. Namun, beberapa cara di atas tentu saja bisa membuatmu lebih bersyukur. Memang jika belum terbiasa pasti akan berat melakukannya, namun lama kelamaan juga kamu akan menikmatinya. Bagaimana menurutmu? Apakah kamu punya cara sendiri untuk hidup bahagia dan berlatih mencukupkan hidup?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hati-hati! Curhat Pada Sembarangan Teman, Bisa Jadi Rahasiamu Terbongkar

Mengira dia bisa menyimpan rahasia, sering kali kita menceritakan semua hal pada seorang teman. Bukannya menutup rapat mulutnya, ia malah jadi pihak yang kerap membeberkan cerita. Tak bermaksud membuatmu menaruh curiga, tapi beberapa orang bersedia mendengar hanya karena tahu ada informasi yang bsia dijadikan bahan gibah.

Uneg-uneg yang kita keluarkan, mendadak jadi bahan gosip dengan tambahan beberapa kalimat yang sejatinya tak kita sebutkan. Alih-alih membuat diri lebih tenang, curhat ke sembarangan orang malah membuat hati kian gusar. Curhat memang membuat tenang, memberi jawaban atas masalah yang kita sampaikan. Tapi perlu diingat pula, teman curhat yang kita pikir kawan bisa mendadak berubah jadi lawan.

Jangan Langsung Menyerah, Sebelum Curhat Berusahalah Sendiri dalam Menyelesaikan Masalah

Pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalahnya seorang diri. Hanya saja, kadang kala kita butuh teman untuk mendengarkan apa yang sedang kita rasakan. Inilah yang mungkin jadi penyebab, mengapa kita memilih curhat dengan teman. Berharap mereka bisa memberi saran yang tak kita pikirkan atau hal lain yang bisa membantu jalannya pikiran.

Namun sebelum memutuskan untuk bercerita pada temanmu, cobalah untuk berusaha sekuat tenaga mencari jalan keluar dari semua masalah. Uraikan semuanya pelan-pelan, cari titik mana yang jadi sumber persoalan, hingga nanti akan ada jalan keluar yang jadi jawaban.

Lagipula Daripada Curhat ke Teman, Bercerita ke Pasangan atau Keluarga Justru Lebih Aman

Yap, meski katamu teman bisa seperti saudara, pada waktu tertentu mereka bisa saja berubah secara tiba-tiba. Berbeda dengan pasangan atau saudara dan keluarga yang akan tetap menjaga rahasia yang kamu bagikan pada mereka. Tapi, lain hal jika kamu memang lebih percaya teman daripada pasangan atau keluargamu.

Semuanya kembali pada kita sebagai si pencerita. Apakah yakin sudah memilih teman curhat yang benar, atau memilih bicara pada pasangan saja, setiap kali ada masalah. Tapi ingat, sebaik-baiknya teman, keluargalah yang akan selalu menerima kita untuk pulang dalam segala keadaan.

Tapi Jika Memang Terpaksa Butuh Didengar Orang Lain, Pilihlah Teman yang Bisa Menyimpan Semua Cerita

Sejalan dengan yang tadi sudah dijelaskan diatas, kadang kala kita memang butuh didengar. Tapi persoalan yang sedang mendera mungkin adalah masalah kelaurga, sehingga kita merasa akan lebih baik jika yang mendengar adalah teman saja. Harapannya cuma satu, didengar atau diberi saran dan semua cerita tak akan bocor keluar.

Maka untuk berjaga-jaga, cobalah cari teman yang bisa dipercaya. Bisa menyimpan rahasia, dan tahu batasan tentang menjaga semua isi pembicaraan. Meski tak bisa memastikan jika ia tak akan bercerita kepada orang lain. Kesediannya untuk mau mendengarkan adalah sesuatu yang patut diapresiasi. Dan akan berbeda jika ternyata dirinyalah yang kemudian membeberkan semua rahasia kita.

Minta Ia Menutup Rapat Mulutnya, Jangan Ember dan Mengobral Semua Masalah

Demi mengingatkan seorang kawan, tak ada salahnya jika kita kembali menngingatkan dirinya tentang semau cerita yang baru saja kita bagikan bersamanya. Sampaikan padanya, jika kita tak ingin kabar ini diketahui banyak orang atau terdengar sampai keluar. Memilihnya menjadi teman bercerita karena kita percaya, jadi sebisa mungkin mintalah ia tetap menjaga kepercayaan yang sudah kita sematkan padanya.   

Namun Jika Tak Ingin Menambah Masalah, Cobalah Curhat Kepada Allah

Nah, alternatif paling baik setiap kali ada beban yang mendera, tentu saja curhat kepada Alla. pasangan bisa saja berubah tak mau mendengarkan, sahabat atau kawan bisa saja membeberkan semua rahasia dan cerita yang kamu sampaikan, tapi Tuhan sang pemiliki semesta akan selalu siap untuk mendengarkanmu bercerita, dimana dan kapan saja.

Jangan takut ceritamu dijadikan bahan gosip, karena yang sesungguhnya akan kau dapat bisa jadi jalan keluar dari persoalan yang kau sampaikan. Dekatkan diri untuk berbagai semua hal, datang padanya setiap kali kamu lemah dan bahagia. Dengan begitu, Allah tahu jalan seperti apa yang sedang kamu butuh.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Dan Kamu Belum Punya Uang untuk Jaminan Hari Tua?

Sebelum kelak menyesal, ada hal yang perlu kamu tanyakan pada diri sendiri. Sudahkah kamu punya cukup uang untuk tabungan masa depan? Nah, jika ternyata jawabannya adalah “belum”, itu artinya kamu perlu bergerak dari sekarang. Tak perlu risau dan berpikir jika kamu sudah terlambat, sebab perkara menyisihkan uang tak pernah ada kata terlambat untuk memulai.

Konon, dibandingkan laki-laki, perempuan akan hidup lebih lama. Jadi mereka membutuhkan uang yang lebih banyak pula untuk hari tuanya. Namun di waktu yang bersamaan, beberapa perempuan kerap memiliki persoalan dengan pekerjaan, yang bisa berdampak pada keputusan untuk berhenti bekerja. Padahal bisa jadi ia belum punya tabungan untuk hari tuanya. Jadi tak heran jika perempuan memang sering ketinggalan dalam hal menabung untuk masa depan.

“Mereka membutuhkan lebih banyak uang, tetapi mereka berada dalam situasi di mana mereka akan menabung lebih sedikit,” kata Cindy Hounsell, presiden dari Women’s Institute For A Secure Retirement, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada kesehatan keuangan jangka panjang para perempuan.

Nah, jika kamu adalah salah satu orang yang tertinggal dalam hal menabung untuk hari tua, cobalah lakukan beberapa hal ini sebagai langkah untuk mempersiapkan masa depan.

Jangan Tunggu Nanti, Mulailah Hari Ini

Sebagian besar perempuan sering merasa jika menabung untuk hari tua adalah sesuatu yang menyiksa mereka. Untuk selanjutnya merasa akan menabung jika keuangannya sudah membaik. Padahal ini adalah pemikirann yang salah, dan yang seharusnya kamu lakukan adalah mulailah menabung segera.

Lebih lanjut, Hounsell berkata jika tak ada hari yang sempurna untuk menisihkan sebagian penghasilan untuk pensiun dalam setiap bulan. “Jika kamu menunggu hari itu, itu tidak akan terjadi,” katanya.

Pilihan lain yang bisa kamu lakukan, ikut serta menabung dana pensiun yang ditawarkan perusahaan tempat kerja. Biasanya, tabungan ini dipotong langsung dari gaji yang kita miliki. Tapi menabung pada beberapa flatform keuangan yang menawarrkan bunga yang cukup lumayan, juga bisa jadi salah satu pilihan. Pangkas semua biaya yang sekiranya tak penting, demi tabungan yang diinginkan.  

Mulailah Realistis dan Bergerak Membuat Perubahan

Jika kamu baru mulai menabung dana pensiun atau jaminan hari tua pada usia 40-an atau 50-an, itu artinya kamu butuh usaha yang ekstra disiplin.

“Selalu ada kesempatan untuk mulai menabung” kata Hounsell, “Tapi itu berarti, kammu harus memotong drastis semua pengeluaran”.

Perbandingannya begini, jika kamu ingin mulai menabung dana jaminan hari tua di usia 20-an, itu berarti kamu harus menyisihkan 10 hingga 15 persen dari jumlah kesuluran gaji untuk masa tua yang nyaman. Namun jika kamu ingin mulai menabung pada usia 40-an, itu artinya kamu butuh menarik 25 hingga 40 persen gaji, dan jika usiamu sudah diatas 45 tahun itu artinya kamu harus menabung 40 hingga 60 persen dari gaji.

Langkah lain yang bisa kamu lakukan, mulailah beralih ke transportasi umum untuk bekerja, serta berhenti untuk makan di luar setiap akhir pekan.

Utamakan Diri Sendiri, Serta Coba Evaluasi Kembali Semua Pengeluaran Kita Selama Ini

Beberapa kali, kita lebih terfokus pada masalah keuangan orang lain, lalu lupa pada perkara keuangan sendiri. Apalagi jika kita memiliki tanggung jawab untuk membayar beberapa kebutuhan orangtua. Perlu untuk memilah-milah kebutuhan dan kewajiban yang harus dijalankan.

“Anda harus selalu fokus pada diri sendiri terlebih dahulu,” kata Joanna Leng, penasihat keuangan di Singapura yang baru-baru ini meninggalkan posisinya sebagai Senior Estate Planner di Rockwills untuk memulai praktiknya sendiri bekerja secara khusus dengan orang tua tunggal.

Masih melanjuti hal yang tadi dijelaskan, jika memang sudah punya pasangan. Perlu juga untuk membicarakan masalah keuangan pribadimu dengannya. Selain itu, coba cek lagi berapa banyak pengeluaran yang sebenarnya tak kita butuhkan. Dengan begitu, kita bisa menyisihkan dan tersebut untuk masuk ke tabungan.

“Kamu masih punya waktu,” katanya, “Kamu lebih baik memutuskan untuk menabung dan menaatinya.” tutup Hounsell

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top