Feature

Rasa Pahit Ketika Pesan Cuma Di-Read Sementara Balasnya Diirit-irit

Entah sudah berapa hati yang tersakiti sejak perusahaan Apple mengenalkan fitur Read Receipt alias tanda “pesan sudah dibaca” pada tahun 2011 lalu. Apalagi kemudian penggunaan fitur ini meluas karena diterapkan oleh aplikasi lain mulai dari Whatsapp, Line, FB Messanger, Telegram, Line, Snapchat dan sejumlah aplikasi berkirim pesan lainnya. Meski penyebutannyaa berbeda-beda dan terdapat perbedaan minor, tapi intinya sama yaitu memberi tahu pengirim bahwa pesannya sudah dibaca

Sesungguhnya, fasilitas untuk mengetahui pesan telah terkirim ini telah lama ada jauh sebelum era pesan singkat ala iOS milik Apple tersebut. Di jaman surat masih konvensional, kantor pos di seluruh dunia sudah punya fitur tambahan ini. Mereka yang mengirim surat bisa membayar biaya tambahan agar mendapatkan tanda terima bahwa suratnya sudah dikirimkan sampai ke alamat. Petugas pos akan membawa kertas bukti tanda terima yang akan ditanda tangani si penerima dan kemudian dikirimkan balik oleh kantor pos kepada si  pengirim.

Ketika bergeser ke ranah digital, Microsoft Outlook dan Thunder Bird mengadopsi layanan konvensional tersebut. Pemilik akun bisa mengaktifkan fitur email tracking yang gunanya memberi tahu pengirim email bahwa pesannya sudah diterima.

Lantas kalau fitur semacam itu sudah dikenal lama, kenapa hingga kini tanda “sudah dibaca” itu masih jadi kontroversi? Beberapa pengguna bahkan lebih nyaman untuk mematikannya. Dan aplikasi yang penggunanya tak punya pilihan mematikannya macam FB messanger kerap mendapat komplain agar bisa dimatikan saja.

Karena Lawannya Cinta Itu Bukan Benci, Tapi Perasaan Diabaikan

Elie Wiesel, seorang pemikir dan peraih Nobel Perdamaian, pernah bilang: “Lawannya cinta bukanlah benci, melainkan perasaan diabaikan.” Ini pula yang terjadi ketika menerima tanda sudah dibaca pada aplikasi chatting yang biasa kita gunakan, sementara menunggu pesan tak dibalas. Mengetahui seseorang sudah membaca pesan kita namun tak kunjung memberikan balasan itu akan menimbulkan perasaan terabaikan dan berujung pada sakit hati.

Setidaknya menurut seorang psikolog bernama Guy Winch, perasaan demikian memicu pergolakan di otak serupa saat seseorang terluka fisik terluka. Artinya, perasaan diabaikan memang memicu rasa sakit yang parahnya sama dengan luka di fisik, atau bahkan lebih parah. Gawatnya dalam kadar yang tinggi menurut Winch, penolakan berkali-kali bahkan bisa menurunkan IQ seseorang karena perasaan rendah diri.

Kondisinya Makin Runyam Dengan Kehadiran Sosial Media

Yup, adanya fitur tanda sudah dibaca itu saja telah memunculkan sejumlah perasaan terbaikan, namun kondisinya makin runyam dengan hadirnya sosial media. Coba bayangkan apa yang terjadi ketika pesan Whatsapp sudah memberikan tanda centang biru dua tanda dibaca, namun si penerima tak kunjung memberi balasan sementara dia bisa update status di facebook atau mempublish instagram stories.

“Woi balas pesan gak bisa, tapi update status bisa. Gak perlu dimention lah orangnya, kudu sadar diri aja”

Sering melihat kalimat sejenis bukan? Kehadiran sosial media memang seringnya “membantu” meningkatnya perasaan diabaikan ini. Karena mereka yang pesannya sudah dibaca tapi tak kunjung mendapat balasan, umumnya gelisah dan kemudian ingin mencari segera jawabannya. Cara tercepatnya adalah dengan men-stalking sosial media orang yang dikirimi pesan. Dan jika kemudian ditemukan update, siap-siap saja membaca status nyinyir no mention dari pengirim pesan.

Tanda “Sudah Dibaca” Ini, Kemudian Mematikan Imajinasi Yang Berujung Pada Minimnya Toleransi

Ketika kita melefon seseorang dan tidak diangkat, kita mungkin merasa kecewa. Namun tak begitu parah karena kita punya ruang imajinasi yaang cukup luas. Ada beragam kemungkinan skenario yang kita pikirkan. Bisa jadi karena disilent, bisa saja sedang meeting, bisa saja sedang mengemudi, dan sejenisnya.

Begitu juga dengan saling berkirim pesan. Jika tanpa fitur tersebut otak kita masih terlatih untuk memberikan toleransi pada sejumlah skenario. Namun, dengan adanya fitur read receipt itu, kita menjadi lebih mudah tersingung dan tak mudah memberikan alasan pembenar bagi lawan bicara kita di seberang.

Hingga Memicu Pertanyaan Apa Sebenarnya Yang Menjadi Fungsi Dari Tanda Baca Tersebut

 

Sejak Apple menemukan fitur ini pada 2011 lalu, rasa diabaikan akan terasa lebih cepat karena tanda sudah dibaca bisa meghitung berapa lama pesan yang kita kirimkan telah diabaikan. Dan berbagai alasan serta kemungkinan yang bisa saja memang benar jadi alasan, rasanya menjadi susah untuk bisa ditolerir lagi.

Menyadari ketidaknyamanan sebagian pengguna ini, beberapa aplikasi macam Whatsapp memang menyematkan cara untuk mematikan tanda terima tersebut. Namun situasinya juga sama tak mudahnya. Karena umumnya fitur ini sudah menyala secara by deafult alias sudah dari awalnya dinyalakan. Ketika kemudian kita memilih mematikannya, tak sedikit orang yang justru menanyakannya, “kok dimatikan”. Entah itu pertanyaan langsung atau sekedar dalam hati.

Tapi Apa Iya Ada Alasan Kenapa Orang Membaca Pesan Kita Namun Tak Langsung Membalasnya?

smart watch

Ada, dan banyak alasannya! Salah satunya adalah kemunculan Wearable gadget. Mulai dari jam tangan pintar, kacamata, gelang bluetooth di mobil, dan sebagainya. Beberapa gadget ini hanya memungkinkan penggunanya untuk membaca pesan tanpa bisa membalasnya. Kalaupun bisa hanya singkat karena cukup merepotkan.

Sekarang bayangkan seseorang yang sedang menyetir, kemudian mendapat notifikasi pesan dan membacanya singkat di jam tangan pintarnya. Tentunya dia tak bisa langsung membalasnya bukan? Atau skenario lain dia sedang mengemudi kemudian membuka singkat ponselnya ketika berhenti di lampu merah. Belum sempat membalas, lampu sudah hijau dan kemudian harus jalan.

Kondisi lain adalah aplikasi chat yang saat ini sudah multi platform. Bisa saja kamu bertanya tentang data pekerjaan kepada seseorang via FB messanger. Dia membukanya di ponsel, sementara untuk menjawabnya, dia harus melakukan crosscheck pada laptop dan berniat membalasnya melalui browser web agar mudah di copy paste.

Kamu yang sedang dilanda asmara juga tak jarang didera asumsi-asumsi yang tak perlu soal tanda baca ini. Ketika bercanda ria malam via chat tiba-tiba obrolan terhenti dengan pesan menunjukan sudah dibaca. Pikiran pun langsung kalut dan menduga-duga secara negatif. Padahal mungkin saja si pasangan sudah tertidur misalnya.

Secara Tidak Langsung Muncul Etika Baru Berkirim Pesan Yang Katanya Harus Kita Jaga

Meski ada sejumlah alasan pembenar kenapa pesan dibaca tapi tak kunjung dibalas, suka tidak suka fitur satu ini memang sudah merevolusi etika berbicang via messanger dunia digital.  Merespon dengan waktu yang lama yang dulu tak pernah  dipermasalahkan, tiba-tiba berubah menjadi ketidaksopanan yang dipercaya dapat menimbulkan kejengkelan bagi mereka yang mengirimi kita pesan.

Di sisi lain pada posisi kita sebagai si penerima pesan juga mengharuskan kita untuk berpikir dua kali jika memang tak ingin membalas pesan yang kita terima. Meskipun ada alasan tertentu untuk kita untuk melakukannya tapi tentu kita kerap mendapat tekanan dalam diri untuk tidak disebut sebagai orang yang tidak sopan atau terkesan mengabaikan orang lain.

Mungkin ini waktunya kita belajar etika baru tersebut. Atau kamu mengambil jalan pintas dengan mematikan begitu saja fitur tersebut?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

7 Cara Membuat Kue yang Lezat dan Bikin Siapapun Ketagihan

Kue adalah salah satu jenis makanan yang banyak disukai orang. Tak heran jika kamu akan menghabiskan cukup banyak uang untuk membeli kue di hari yang spesial. Padahal sebenarnya kamu juga bisa loh membuatnya sendiri di rumah. Kamu bisa bebas memilih bahan yang berkualitas juga tentunya.

Nah, untuk itu tak ada salahnya kamu mencoba 7 cara membuat kue yang bisa bikin banyak orang ketagihan ini.

1. Mulailah dengan Belajar Resep yang Sederhana

Sumber : IDN Times

Sebagai pemula, kamu bisa mulai dengan mempelajari resep yang sederhana terlebih dahulu. Buatlah kue yang memang mudah dibuat, seperti bolu kukus atau cupcakes. Lambat laun pasti kamu akan terbiasa dengan resep yang lebih sulit dibandingkan resep sebelumnya.

2. Jangan Lupa Perhatikan Takaran Bahan yang Dipakai

Sumber : Rawpixel

Pastikan takaran bahan yang kamu pakai benar-benar tepat. Jangan asal mengira-ngira saja. Lebih baik gunakan timbangan untuk mengatur takaran agar tak meleset dari resep yang sudah ada.

3. Pilih Bahan yang Berkualitas

Sumber : picjumbo.com

Kue yang enak tentu terbuat dari bahan yang berkualitas. Karenanya usahakan untuk selalu memilih bahan yang berkualitas ya untuk kue yang akan kamu buat. Pastikan semua bahan dalam keadaan yang baik.

4. Atur Temperatur Oven dengan Tepat

Sumber : Pratesi Living

Hal lain yang harus kamu perhatikan adalah temperatur oven. Jika temperatur oven sempurna, maka kematangan kue pun akan sempurna. Jangan menyepelekan hal yang satu ini. Karena sudah banyak kasus kue tak matang sempurna karena kesalahan dalam mengatur temperatur oven.

5. Pastikan Waktu Memasaknya Pas

Tak hanya temperatur oven saja yang harus diperhatikan, waktu memasak pun perlu mendapat perhatian khusus. Jika waktu idealnya 30 menit maka masaklah dengan waktu tersebut. Karena jika kamu memasaknya terlalu cepat atau terlalu lama, hal itu akan berimbas pada hasil kematangan kue buatanmu.

6. Pastikan Resep yang Digunakan Memang Sudah Tepat

Senjata utama dalam membuat kue ada pada resepnya. Karena itu usahakan untuk memilih resep yang benar-benar sudah tepat. jangan mengikuti resep yang hanya abal-abal saja.

7. Dinginkan Kue dengan Baik Setelah Matang

Yang terakhir dan tak kalah pentingnya adalah proses pendinginan kue. Jangan lupa diamkan dulu kue di loyang sebelum kamu keluarkan, kurang lebih selama 5 menit. Setelah itu kamu baru bisa memberikan topping sesuai keinginanmu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Sangat Ironis, Nyatanya Sarjana Kerap Kalah Bersaing di Dunia Kerja

Saat ini, dunia ada pada level yang sangat ironis. Banyak anak yang menempuh pedidikan setinggi yang mereka bisa, yaitu level sarjana. Namun pada kenyataannya, ijazah bukanlah segalanya. Ada banyak sarjana yang masih menjadi pengangguran di luar sana. Faktor yang memengaruhi hal ini pun beragam, berikut adalah 7 faktor yang sering muncul.

1. Sempitnya Lapangan Pekerjaan

Ini menjadi faktor yang memengaruhi banyaknya sarjana yang menganggur. Para sarjana semakin bertambah setiap waktu, namun lapangan pekerjaan tak selalu bertambah juga. Sehingga akhirnya banyak sarjana yang tak mendapatkan pekerjaan yang selayaknya.

2. Ketidaksesuaian Keahlian Lulusan dengan Kriteria yang Dibutuhkan

Hal lain yang menjadi faktor banyaknya sarjana yang masih menganggur adalah ketidaksesuaian keahlian lulusan dengan kriteria yang dibutuhkan. tentu saja setiap tempat kerja yang membuka lowongan pekerjaan akan mengajukan beberapa persyaratan seperti keahlian lulusan yang sesuai dengan posisi yang dibutuhkan.

3. Pandangan yang Salah Mengenai Sarjana

Sebagian besar mahasiswa memiliki paradigma yang salah dari awal. Mereka memandang bahwa nanti saat mereka lulus, mereka akan menjadi pekerja di sebuah perusahaan atau lembaga tertentu. Tanpa memikirkan alternatif lain, seperti membangun sebuah bisnis sendiri.

4. Kurangnya Soft Skill yang Dimiliki oleh Para Sarjana

Seringkali para mahasiswa berfokus pada hal-hal yang bersifat akademis dan melupakan yang namanya soft skill. Sehingga saat mereka lulus, tak banyak sarjana yang memiliki soft skill cukup baik.

5. Banyaknya Sarjana yang Memilih Bekerja Dibanding Mempekerjakan

Jika dilihat lebih seksama, sebagian besar sarjana adalah mereka yang lebih memilih untuk bekerja pada orang dibanding mempekerjakan orang. Alasannya tentu juga bervariasi.

6. Ego Para Sarjana yang Tinggi dalam Memilih Pekerjaan

Pada dasarnya kita tak pernah tahu pekerjaan apa yang sudah menanti kita saat sudah lulus nanti. Banyak sarjana yang cenderung malu untuk mendapati pekerjaan yang menengah ke bawah. Hal ini juga disebabkan oleh pandangan mereka bahwa mereka adalah seorang sarjana, seharunya mereka juga mendapatkan pekerjaan yang lebih tinggi dibanding orang yang lulusan setara SMA.

7. Tujuan Kuliah yang Salah

Tujuan kuliah yang salah juga bisa menjadi penyebab kenapa banyak sarjana yang sampai saat ini masih menjadi pengangguran. Jika niat kuliah dari awal sudah dalah, biasanya akan sulit bagi seseorang untuk memiliki keseriusan dalam mendalaami ilmu. Hasilnya, saat lulus, kepercayaan diri mereka juga akan rendah saat terjun langsung di dunia kerja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Tumbuhkan Minatmu, Ini 7 Pekerjaan Baru yang akan Muncul di Masa Depan

Saat ini, perkembangan teknologi di dunia memang sangatlah pesat. Kecanggihan teknologi ini tentunya harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang berkualitas untuk menanganinya. Nah, dengan pertumbuhan teknologi yang cukup pesat ini, kemungkinan nantinya di masa depan akan ada beberapa profesi baru loh. Yuk lansung simak saja artikelnya.

1. Desainer 3D Printer

Profesi yang satu ini bisa banget kamu coba geluti. Nantinya pasti akan banyak dibutuhkan seorang desainer yang handal untuk memudahkan dalam menciptakan apa yang orang inginkan dengan lebih terstruktur.

2. Insinyur Drones

Saat ini sudah banyak sekali orang yang memiliki drones. Nah, tentunya di masa depan pengguna drones ini sangatlah banyak dan semakin menjamur. Insinyur drones ini bertugas untuk membuat beragam inovasi drones terbaru dan memperbaiki drones yang rusak akibat bertabrakan dengan drones  yang lainnya.

3. Sejarawan Internet

Internet sudah tak bisa terlepaskan dari kehidupan manusia masa kini. Jika kamu termasuk orang yang paham dan tahu segala isi dari internet, mungkin kamu bisa menjadi seorang sejarawan internet di masa depan.

4. Dokter Bedah Robot

Perkembangan teknologi saat ini tak lepas dengan perakitan berbagai inovasi baru berupa robot. Nah, bukan tak mungkin nantinya di masa depan akan ada banyak robot yang tercipta dan dibutuhkan seorang dokter bedah robot yang bisa memperbaiki kondisi robot jika terjadi sesuatu yang salah.

5. Terapis untuk Para Pecandu Medsos

Tak harus menunggu di masa depan rasanya. Saat ini saja sudah banyak orang yang kecanduan dengan media sosial. Kecanduan yang sudah berada di level berbahaya tentu membutuhkan penanganan khusus oleh seorang terapis khusus pula.

6. Jasa Penghijauan Lingkungan

Saat ini pun rasanya jasa ini sudah sangat diperlukan. mengingat banyaknya industri yang dibangun dan akhirnya yang menjadi korban adalah wilayah-wilayah yang seharusnya dilindungi, seperti hutan atau daerah pantai.

7. Desainer Sampah

Profesi ini terlihat sangat unik. Daripada sampah dibiarkan menumpuk begitu saja, akan lebih baik jika ada seorang yang menggeluti profesi ini. Seorang desainer sampah perlu diberi tugas untuk mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna untuk jangka panjang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top