Feature

Pertemanan yang Berat Sebelah, Buat Kita Terjebak dalam Masalah

“Pakai uang lu dulu, nanti gue ganti”

Jadi salah satu kalimat yang akhir-akhir ini terdengar menyeramkan di telinga. Bukan tak percaya pada dia yang mungkin adalah teman kita. Tapi, seringnya ucapan itu hanyalah bualan belaka. Dilupakan jika sudah kejadian, hingga jadi sumber masalah kalau kita coba ingatkan.

Memang sih, pinjam-meminjam sudah jadi hal lumrah dalam sebuah perteman. Tapi yang jadi masalahnya, yang memberi pinjaman hanya kita saja. Sedang si dia masih tetap dengan peran tetapnya, peminjam yang tak pernah ingat untuk mengembalikan hutangnya.

Ini bukan perkara, siapa pihak yang paling banyak uang. Bukan juga kawan yang gajinya puluhan juta lebih besar. Maka dari itu, baiknya kita bisa membedakan. Manakah pertemanan yang memang sungguhan, dengan sikap parasit yang hanya ingin memanfaatkan dengan alibi pertemanan.

Jumlahnya Mungkin Tak Seberapa, Tapi Dampaknya Bisa Besar untuk Hubungan Kita

Katakanlah dia mungkin hanya meminjam Rp.1 Juta, dengan janji akan dikembalikan bulan berikutnya di tanggal serupa. Berpikir dia akan berinisiatif untuk mengembalikan tanpa diminta, si kawan justru diam-diam saja sampai 3 bulan berikutnya. Perkara uang memang agak krusial, tapi yang namanya hutang pinjaman tetap harus dikembalikan. Kecuali sedari awal dia memang niatnya meminta, dan kita ikhlas untuk memberinya dengan cuma-cuma.

Tiba di hari H, saat kita tagih janjinya. Biasanya ia akan berdalih dengan macam-macam alasan. Mulai dari perkara-perkara di luar kendali, hingga kebutuhan lain yang konon lebih mendesak lagi. Lalu bagaimana jika kita juga sedang butuh uangnya? Bukannya mengerti kondisi kita, ia justru menilai kita terlalu perhitungan sebagai teman. Kalau begini, apa yang harus dilakukan?

Terlalu Sering Merasa ‘Nggak Enak’, Juga Bisa Bahaya Loh!

Namanya juga teman, sudah kenal lama, kemana-mana sering bersama. Maka akan jadi sesuatu yang wajar jika ada beberapa rasa tak enak, tiap kali ngomongin piti dengannya. Tak akan berbuntut panjang, jika rasa enggan yang kita miliki cepat disadari oleh dirinya. Tapi bisa berbuntut panjang, jika si dia tak sadar-sadar.

Berjuang mati-matian untuk menahan diri agar tak emosi, tapi dirinya masih saja tak mengerti. Pilihannya hanya akan ada dua, diam untuk masalah yang semakin dalam atau bersuara agar dia sadar, walau buat dia marah dan menghindar.

Karena Meski Sudah Dikasih Hati, Beberapa Orang Justru Makin Tak Tahu Diri

“Gue pinjem duit lu lagi dong 500 ribu, nanti gue bayar sekalian sama yang 3 juta kemarin”.

Oke katakanlah, kamu memang jadi orang yang cukup lebih beruntung dari dirinya secara finansial. Tapi, bukan berarti juga semua kebutuhannya kamu yang pikirkan kan? Sekalipun ia memang sudah tak lagi punya uang sepeser pun, harusnya ia juga berusaha untuk bisa tetap punya cadangan tabungan tanpa harus terus menambah pinjaman. Yang ujung-ujungnya juga tak akan dibayar.

Sebagai teman, kita pun perlu bijak dalam memilah-milah sikap mereka. Manakah teman yang memang benar-benar kawan, dengan dia yang memang hanya ingin memanfaatkan kita. Selalu ingat, pertemanan akan terus terjaga dengan baik kita kita saling memberi dan menerima. Bukan hanya jadi pemberi dan dia terus menerus jadi penerima dan peminjam saja.

Hari Ini Janji Akan Diganti, Besok Alasannya Pasti Beda Lagi

Berapa kali ia mengingkari janji, dengan membuat janji baru lagi? Saking seringnya ingkar, kita bahkan tak bisa membedakan lagi. Manakah kalimatnya yang merupakan sebuah janji dengan ucapan manis yang hanya sekedar untuk terhindar dari tagihan hutang yang sebenarnya ia lah yang menjanjikan.

Janji hari ini belum juga ditepati, tapi dirinya sudah kembali membuat janji baru lagi. Begitu seterusnnya sampai kita bosan menangih dan akhirnya lupa. Yap, barangkali itulah yang memang diinginkannya.

Jangan Berdiam Diri dengan Alasan Tak Mau Menyakiti Hati, Pertemanan Seperti Itu Hanya Akan Membebani Diri

Dengar, menunjukkan rasa peduli dan empati pada teman memang bisa kita lakukan dengan membantunya ketika kesusahan. Dengan catatan, kita tak lantas jadi pihak yang nantinya menggemban beban yang sebenarnya adalah masalahnya. Berikan temanmu pinjaman kalau  memang kamu ada, bukan malah membuatmu susah.

Selanjutnya, jika kesabaranmu memang sudah berada pada titik puncak. Sah-sah saja jika kamu akan marah karena ia sudah ingkar dari janji yang dibuatnya. Utarakan semua keluh kesahmu atas sikapnya yang terlihat berat sebelah, walau itu membuatnya sakit hati dan menarik diri dari kita.

Hal lain yang perlu kita camkan adalah, cobalah lihat siapa dia teman yang akan kau beri pinjaman. Kalau omongannya tak bisa dipegang, jangan segan-segan untuk bilang “Maaf aku tak punya uang”. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hasil Studi : Laki-laki yang Hobi Selingkuh Berpotensi Meninggal Lebih Cepat dari yang Setia

Merasa dicintai banyak perempuan itu memberi efek ‘nagih’, seolah bahagia atau berbangga. Beberapa laki-laki justru menantang dirinya untuk mendua. Ya, antara memang ingin atau terpaksa. Tapi sekalipun terpaksa, laki-laki yang selingkuh selalu sadar atas apa yang dilakukannya. Jadi kalau ada yang bilang ia ‘khilaf’, bisa jadi itu alibi saja.

Nah, jika kamu adalah lelaki yang disebut sebagai pelaku, hati-hat saja nih. Pasalnya, sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan dan diterbitkan dalam Jurnal Of Sexual Medicine oleh University Of Florence, Italia menyebutkan, kebiasaan selingkuh terbukti membuat usia lelaki lebih cepat meninggal dibandingkan laki-laki yang setia.

Kamu Bingung Bagaimana Itu Bisa Terjadi? Begini…

Masih dari penellitian yang sama, para ilmuan tersebut menemukan fakta jika, lelekai beristri yang memiliki perempuan simpanan, lebih beresiko terkena serangan jantung secara mendadak.

Hal ini terdengar masuk akal, sebab sejalan dengan hasil temuan dari banyaknya laporan yang menyatakan jika jumlah kasus lelaki meninggal saat tengah berkencan dengan selingkuhan akibat serangan jantung sangat tinggi. Sebaliknya, belum ada laporan yang mengatakan seorang lelaki tewas ketika sedang bercinta dengan pasangan sah-nya.

Lebih lanjut, para peneliti tersebut mengungkapkkan, banyaknya serangan jantung yang menyerang lelaki selingkuh disebabkan beberapa faktor. Mulai dari kondisi pikiran yang was-was berlebihan, penggunaan obat kuat demi menyenangkan teman kencan yang biasanya lebih muda, sebab peneliti juga menuturkan jika kebanyakan laki-laki selingkuh ialah mereka yang sudah berumur dan secara kejantanan menurun.

Sedangkan pasangan selingkuhannya biasanya adalah para gadis muda yang masih sangat kuat dan membara dalam hal seksualitas. Nah, inilah yang menjadi alasan mengapa banyak laki-laki selingkuh terkena serangan jantung karena mengonsumsi obat kuat berlebihan.

Lagipula Meski Terlihat Bahagia, Lelaki yang Selingkuh Sebenarnya Sedang Menderita

Coba bayangkan saja, setiap hari dalam hidupnya ia harus menjadi dua pribadi yang berbeda. Menjaga hubungan baik dengan selingkuhannya dan menutup rapat kebohongan dari istrinya. Dan untuk bisa menjalani dua sisi ini, tentu tak mudah.

Setiap saat kamu kan merasa tidak tenang, gelisah, cemas berlebihan dan bisa menimbulkan depresi atau stres. Kondisi inilah yang kemudian mempengaruhi kesehatan fisik para lelaki yang selingkuh. Fakta menarik lainnya, lelaki yang setia ternyata secara kejiwaan lebih sehat dan bahagia dibandingkan laki-laki yang doyan selingkuh dari pasangannya.

Sekilas Selingkuh Mungkin Asyik, Tapi Kalau Ternyata Mendekatkan Diri ke Maut. Untuk Apa?

Dari beberapa pengakuan laki-laki yang memang sudah doyan selingkuh, ketika mereka melakukan tindakan ini. Ada semacam rasa bangga yang kemudian hadir dalam diri mereka. Merasa cukup jago berbohong, berbangga diri karena tidur dengan banyak perempuan, merasa butuh dilayani lebih dari apa yang diberikan istri, hingga ke alasan pelarian dari masalah yang mungkin sedang diemban.

Terserah memang, kalian mau selingkuh atau tidak. Tapi jika itu justru mendekatkanmu pada kematian. Untuk apa kawan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Agar Tak Membahayakan Diri, Kita Perlu Bijak Mengelola Emosi

Kenyataan yang tak sesuai keinginan, teman yang menyebalkan, jalanan macet tak karuan, atau apa saja yang bisa memancing amarah untuk diluapkan. Serungkali jadi alasan, kita untuk emosi dan marah. Tapi tak semua bisa mengeluarkan uneg-unegnya. Beberapa orang justru diam, meski emosinya sudah ada diambang batas kemarahan.

Sialnya selepas emosi dan marah-marah, ada hal buruk yang bisa saja terjadi atas kita. Membuat lingkungan merasa risih atau tak suka. Namun, seolah tak ada habisnya. Memendam amarah justru bisa berbahaya pada diri kita. Lantas harus bagaimana?

Kenali Dulu Jenis-jenis Emosimu

Setiap emosi dalam hidup kita memiliki peran penting dalam segala hal yang kita lakukan. Berpikir, berperilaku, mengambil tindakan, berbicara, dan bisa terlihat pula pada raut wajah. Sayangnya, masih banyak kita yang belum paham. Bagaimana bisa mengenali emosi dan cara mengelolanya serta membeda-bedakannya. Agar tak lagi terjebak dalam pemahaman yang salah, ini 7 jenis emosi dasar manusia dengan fungsi yang berbeda yang perlu kamu kenali.

Bahkan Sering Merasa Sendiri, Adalah Bentuk Lain dari Emosi

Ya, meski sedang berada di tengah keramaian. Jiwa dan hatimu tetap saja merasa sendiri, manusia dan hal-hal lain yang ada seolah tak berarti. Tak pernah diminta, perasaan selalu merasa sendiri bisa datang kapan saja, yang belakangan diketahui. Ternyata perasaan ini adalah bentuk lain dari emosi.  

Sebab, Meskin Jarang Disadari Memendam Emosi Bisa Berbahaya Pada Diri

Menurut psychmechanics, memendam emosi adalah cara seseorang untuk tidak mengakui emosinya atau tidak mengekpresikan emosi dengan cara yang sehat. Padahal pada dasarnya, emosi tidak bisa ditekan dan tetap harus dikeluarkan dengan cara apapun, salah satunya adalah meditasi. Sebab, emosi yang dipendam justru akan menimbulkan banyak masalah. Bagaimana saja dampaknya bisa kamu baca disini.

Untuk Itu Kita Harus Lebih peka, Cari Tahu Apa yang Membuatmu Marah-marah

Karena suka marah-marah nggak jelas, hasilnya bisa merusak mood diri dan orang-orang di sekitar. Untuk itu kita perlu lebih peka, sebab yang namanya asap tentu pastilah ada sumber api. Untuk itu, cobalah kenali berbagai hal yang mungkin jadi penyebab, kenapa belakangan ini kamu mudah tersulut amarah untuk berbagai hal yang sebenarnya bukanlah masalah.

Dan Jika Sedang Emosi, Cobalah Lakukan Hal Ini

Ada hal-hal buruk yang bisa saja terjadi setelah emosi, mulai dari membuat orang lain terluka atau justru melukai diri kita. Bertumbuh jadi manusia dewasa memang banyak tantangannya, dan mengelola emosi jadi salah satunya. Maka untuk tak buru-buru marah, coba lakoni hal-hal ini saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Sering Merasa Sendiri, Adalah Bentuk Lain dari Emosi

Tak berniat untuk hidup dalam bayang-bayang kesendirian, beberapa orang justru bernasib sial karena tak bisa mengendalikan situasi tersebut dalam dirinya. Tak pernah diminta, perasaan selalu merasa sendiri bisa datang kapan saja, yang belakangan diketahui. Ternyata perasaan ini adalah bentuk lain dari emosi.  

Ya, meski sedang berada di tengah keramaian. Jiwa dan hatimu tetap saja merasa sendiri, manusia dan hal-hal lain yang ada seolah tak berarti. Sebagian orang memang menyukai ini, karena merasa bisa menenangkan diri dan fokus pada apa yang dilakoni. Maka, hal lain yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa situasi tersebut bisa terjadi pada diri kita?

Merasa Tak Ada Pihak yang Bisa Memahami dengan Baik

Bukan tak percaya pada keluarga, teman, atau orang-orang di sekitar. Beberapa kali, setelah berusaha berbagi cerita tentang apa yang sedang dialami. Orang-orang tersebut justru memberi respon yang jauh dari harapan. Maka untuk selanjutnya, kamu lebih memilih memendam emosimu.

Yap, rasa tak dipahami yang kamu dapatkan pelan-pelan memang merubahmu menjadi seorang pendiam yang sulit untuk terbuka. Rasa percaya pada orang lain kian memudar, sebab respon yang kamu terima selalu serupa. Tak dipahami sebagaimana harapan yang ada di dalam isi kepala.

Sering Direndahkan, Membuatmu Berpikir Bahwa Tak ada yang Tahu Apa yang Kamu Inginkan

Orang lain mungkin tak percaya, jika rasa kesepian bisa lahir dari perasaan yang selalu direndahkan oleh orang lain. Apa yang kamu lakukan selalu terlihat salah, merasa jika dirimu tak berharga sebab apapun yang kamu perbuat tak pernah dihargai oleh mereka.

Percaya dirimu menurun, maka wajar jika akhirnya kamu memilih untuk pergi dan menyendiri. Sembari merenungi sikap yang terasa direndahkan tersebut, pikiranmu akan dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Pada titik inilah kamu akan terus berpikir, bahwa ternyata belum ada orang yang bisa tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan.

Terasa Sulit untuk Beradaptasi, Sebab Hal-hal di Luar Diri Terasa Tak Berarti

Mendapati kenyataan tentang bagaimana kamu selama ini diperlakukan, membawamu pada keinginan untuk menyendiri. Dari sini, kamu mulai berimajinasi tentang hal-hal yang tak bisa kamu dapatkan ketika berada di tengah keramaian. Dirimu mulai nyaman dengan segala hal yang kamu lakukan tanpa bantuan. Karena ada semacam kesadaran yang selalu terdengar, bahwa apapun yang di luar dirimu tak pernah ada arti. Anggaplah ini sebagai sebuah pembalasan, atas kesendirian yang selama ini menghantui diri.

Lelap dalam Persoalan yang Salah, Membandingkan Hidup dengan Mereka yang Terlihat Lebih Bahagia

Coba ingat lagi, bagaimana rasa sepi dan kesendirian itu datang pada hatimu. Sebab tak hanya datang dari luar diri saja, pemahaman kita dalam memandang kehidupan orang lain bisa jadi sumber masalahnya. Gambarannya begini, saat ini kamu tengah merasa bergulat dengan ekonomi yang tak kunjung membaik. Berpikir bahwa hidup tak adil, kemudian kamu malah membandingkan dirimu pada mereka yang hidupnya selalu berkecukupan.

Ini memang jadi sebuah persoalan pelik, bahkan jika kita tak segera menyadarinya bisa berbahaya pada diri. Untuk itu, daripada terus menerus membandingkan hidup dan lelap dalam kesedihan. Belajarlah untuk bangkit dan berjalan, meski tak ada orang yang mau menjadi teman.

Transisi Kehidupan, dari yang Tadinya Pacaran Kini Sendirian

Diyakini atau tidak, hal-hal semacam ini bisa saja terjadi. Kamu yang dulu mungkin punya pacar yang selalu bisa siaga untuk bersama. Tapi hidup terus berjalan, setiap orang bisa berubah, begitu pula dengan status hubungan kita. Dari yang tadinya punya pacar, kini malah sendirian. Kesepian itu pasti terasa, sakit hati dan kecewa mungkin masih susah hilangnya.

Salah-salah dalam mengartikan status hubungan, kamu bisa saja merasa kesepian. Sebab sebelumnya selalu ada yang dijadikan teman, walau orang lain selalu menghindar ketika kita datang. Tak apa, ini biasa tapi tak boleh terus diperpanjang. Karena bisa jadi sebuah masalah.

Lantas Bagaimana Mengusir Sepi itu Pergi?

Tak banyak yang bisa diperbuat seorang diri, karena biar bagaimanapun kita butuh bantuan orang lain untuk bisa bangkit dan berdiri lagi. Tapi untuk bisa mengusir sepi, cobalah untuk mengontrol dan menguasi diri. Buang semua perasaan negatif yang kadag jadi beban, ganti dengan pemikiran positif yang bisa memberi dampak baik untuk pikiran.

Sendiri memang sepi, tapi tak selalu berarti terasa mati jika kamu paham bagaimana cara menikmatinya. Nyalakan semua hal yang kamu suka, untuk menganti hal lain yang sekira kau tak suka.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top