Feature

Pertanyaan Pada Diri Sendiri, Memasuki Usia ‘Quarter Life Crisis’

Yap, usia 25 tahun sering disebut-sebut sebagai masa “quarter life crisis”. Dimana kita sering merasa hampir putus asa dengan kehidupan yang ada. Pekerjaan dan mimpi yang masih entah seperti apa, kisah cinta yang tak kunjung terlihat arahnya, hingga persoalan lain yang kian memusingkan kepala.  

Di usia ini, hidup memang tak sesimpel dulu. Hal-hal yang dulu dirasa mudah, berubah jadi sesuatu yang berat dan susah. Tenang, kamu tak sendiri. Karena hal tersebut terjadi atas semua orang. Dan dari sekian banyak perasaan yang sering membuat hidup terasa berat. Beberapa hal ini adalah yang paling sering kita pertanyakan pada diri sendiri di usia 25 tahun.

“Selama Ini, Aku Ngapain Aja Sih?”

Pertanyaan ini biasa datang setelah beberapa saat setelah kita melihat pencapaian-pencapian yang telah dicapai oleh teman kita. Kadang kala, pencapaian itu memang bisa jadi pemacu semangat. Tapi di lain kesempatan, hal tersebut justru jadi sumber kekhawatiran. Merasa diri tak bisa berbuat apa-apa. Sampai berpikir bahwa kita tak akan bisa seperti mereka.

Bagaimana? Terasa familiar? Ya, semua orang pernah merasakannya kawan! Sering pula kita malah merasa rendah diri, karena tak bisa sehebat mereka. Tak apa, itu adalah perkara biasa. Hal yang selalu perlu kita ingat adalah, “Setiap orang punya cerita hidup yang berbeda”. Jadi tak perlu merasa tak berguna hanya karena tak bisa sehebat teman lainnya. Barangkali, kehebatan kita ada di hal lain yang berbeda.

“Teman Lain Sudah Punya Pekerjaan yang Nyaman, Aku Kok Gini-gini Aja Ya?”

Masih bermula dari membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain. Media sosial mungkin jadi sumbernya. Bagaimana kita melihat teman SMA, teman Kuliah atau teman main lain yang sering membagikan aktivitas pekerjaannya. Terlihat lebih menarik, lebih nyaman, dan lebih banyak nilai plusnya dari pekerjaan yang kini sedang kita jalani.

Asal tahu saja, itulah kenapa para peneliti berkata ketika memasuki usia 25-tahun memang sebaiknya kita mengurangi aktivitas di media sosial. Selain menganggu produktivitas diri untuk bisa bekerja lebih giat lagi. Ada banyak sumber pengacau yang akan merusak kepercayaan diri. Jadi, selain terus mengasah kemampuan, baiknya membuka Instagram memang perlu dibatasi. 

“Orang-orang Sudah Pada Lanjut S-2, Tapi Mimpiku Masih Belum Kesampaian Juga”

Nah, jangankan untuk bisa terus melenggang untuk lanjut study ke S-2. Seperti teman-teman lainnya, kadang untuk menghidupi diri sendiri saja sering tak bisa. Sesekali, masih harus menadah ke orangtua untuk kebutuhan lainnya.   

Niat untuk lanjut S-2 sih ada, tapi jalannya sepertinya kok susah sekali ya? Berbeda dengan mereka yang sepertinya bisa melangkah dengan mudah.Yap, kita sering iri pada mereka baru kerja satu tahun selepas S1, tiba-tiba sudah bisa melanjutnya study dengan biaya sendiri. Tapi balik lagi ke konsistensi awal, setiap orang punya jalan berbeda untuk menemukan mimpinya.

“Mereka Udah Pada Nikah dan Punya Anak, Lah Aku Punya Pacar Aja Nggak”

Hehehe, Untuk yang satu ini mungkin lebih identik pada kaum hawa. Usia 25-tahun, memang disebut-sebut sebagai usia yang cukup idela untuk segera menikah. Lalu coba melempar pandangan ke jejeran teman-teman yang memang sebagian besar sudah jadi istri atau suami. Posting foto berdua atau bertiga dengan bayi-bayi mungil mereka.

Lalu kita mendadak berkaca pada diri sendiri, sudah sampai mana kisah asmaranya. Janngannya untuk bisa menikah dan foto bertiga dengan anak pertama. Pacar saja tak punya, duh makin lengkap deh penderitaannya yang terasa. Tapi, itu bukan jadi alasan untuk tak bahagia ya. Karena apapun kondisinya, diri sendiri selalu jadi pihak penentu yang akan memilih. Mau bahagia atau terus bersedih.

“Hidup Orang Lain Kayanya Bahagia-bahagia Aja, Aku Kok Sering Ngerasa Susah Ya?”

Percaya deh, ini hanya kelihatannya saja. Karena kalau harus diminta untuk berkata jujur. Mereka yang kita lihat bahagia pun, tentu punya babak sedih dalam hidupnya. Hanya saja kita tak selalu melihatnya, karena setiap orang hanya akan membagikan sisi bahagia dari hidup yang ia jalankan.

Jadi bukan berarti mereka bahagia dan kita selalu susah ya. Kita hanya tak melihat kesusahan mereka. Dengan kata lain, setiap manusia punya kadar bahagia dan sedihnya masing-masing. Tinggal bagaimana kita menerima itu semua dan tetap bijak menjalani hari ke depannya.

“Inginnya Sih Liburan Kaya Orang-orang, Tapi Selalu Gagal Karena Kebutuhan Lain yang Datang Dadakan”

Di tengah-tengah tuntutan pekerjaan dan aktivitas yang kita lakukan. Ada masa dimana kita merasa sangat lelah, ingin beritirahat dan butuh sesuatu yang bisa menyengarkan pikiran. Keinginan untuk bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cepat tak selalu datang sesuai harapan.

Yap, rencana liburan seperti teman lain kerap gagal hanya karena kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih mendesak. Nah, kalau sudah begini kita kadang suka berbicara pada diri sendiri. “Mau liburan dari jerih payah sendiri saja, kok ada gangguannya terus ya?

“Sampai Kapan ya, Aku Begini?”

Nah, dari semua pertanyaan yang sedari tadi sudah dijelaskan. Kalimat ini mungkin jadi salah satu yang paling sering kita ucapkan pada diri sendiri. Merasa lelah dengan keadaan hingga hampir putus asa dengan keinginan yang sedari dulu didambakan.

Tunggu sebentar, tarik nafas dalam-dalam lalu hembusankan dan tanamkan kalimat ini dalam pikiran. “Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda, mulai dari pekerjaan, kebahagian, harapan dan cita-cita, hingga persoalan asmara”

Merasa tergungah untuk seperti orang lain itu adalah perkara biasa, tapi menjadi rendah diri karena tak merasa sanggup untuk melakoni apa yang kita ingini bukanlah sikap yang perlu dipelihara. Tetap semangat dan yakinkan diri bahwa kita pun bisa bahagia dengan apa yang kita punya dan percaya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Selamat, Ilustrator Indonesia Menang Kontes Fan Art ‘Spider-Man: Far From Home’

Dalam rangka menyambut penayangan serempak untuk film ‘Spider-Man: Far From Home’, menggandeng Talenthouse, mereka  mengadakan kontes fan art yang diadakan di media sosial. Dan menariknya nama Adhitya Zulkarnaen, ilustrator asal Indonesia berhasil memenangkan kontes tersebut bersama dengan sembilan kompetitor lainnya yang berasal dari seluruh penjuru dunia.

Buah karya dari Adhitya, konon juga pernah menarik perhatian Jake Gyllenhaal, pemeran Mysterio dalam ‘Spider-Man: Far From Home’. Dan tak ketinggalan, deretan fans Spider-Man lainnya juga sangat mengapresiasi karya dari ilustrator Indonesia ini.

Dan tak hanya Adhitya yang berucap syukur atas kemenangannya, Sony Picture Indonesia melalu akun twitter @SonyPictureID juga memberikan ucapakan selamat kepada sang ilustrator dengan turut serta mengunggah hasil karya buatan Adhitya.

Talenthouse adalah sebuah platform yang menghubungkan antara kreator dengan brand atau artis yang related dengan karyanya. Nah, melihat momentum ini, tak menutup kemungkinan jika Adhitya bisa saja dipanggil oleh Talenthouse atau mungkin dari pihak studio resmi lainnya untuk membantu membuat sebuah karya ilustrasi resmi lainnya. Seperti Bosslogic yang dipanggil Disney untuk membuat poster alternatif resmi bagi penonton.

Karya lain dari Adhitya bisa juga kamu lihat dengan mengunjungi laman Instagram pribadinya di @adhityazul.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Perbedaan Lelaki yang Ingin Sekedar Jadi Pacar dengan Dia yang Siap untuk Meminang

Buru-buru dalam memaknai kehadiran seorang lelaki, beberapa perempuan kerap menelan luka. Menaruh harap pada pacarnya, padahal si lelaki datang hanya sekedar singgah. Dengar, tak semua lelaki yang ada dalam hidupmu punya ketulusan untuk mencintaimu. Beberapa dari mereka datang hanya untuk sekedar saling suka, lalu kemudian pergi membuatmu terluka.

Memilih lelaki untuk dinikahi bukanlah perkara kisah cinta yang bisa putus kapan saja. Lebih dari itu, kamu perlu memilah-milah sosok mana yang memang benar-benar mencintaimu. Memiliki komitmen untuk jangka panjang dan bersedia tetap saling menggenggam dalam segala hal.

Nah, agar tak salah kaprah dalam menilai mereka. Ada beberapa hal yang bisa membantumu membedakan. Manakah lelaki yang hanya ingin jadi sekedar pacar, dengan dia yang sungguh-sungguh siap meminang.

Yang Hanya Ingin Jadi Pacar Akan Banyak Berjanji, Tapi yang Ingin Menikah Akan Memberimu Bukti

Demi membuatmu merasa nyaman, si lelaki yang ingin jadi pacar ini akan memberimu banyak janji. Tapi sebagian besar dari janjinya itu, tak pernah ada yang dipenuhi. Bukannya membuatmu kian percaya, ia hanya bisa bercerita tentang semua angan-angannya untukmu tanpa berusa menjadikannya nyata. Obrolan yang ia selalu pakai pun tak jauh-jauh dari angan-angan, dan kalimat manis lain yang rasanya tak mungkin dilakukan.

Lain dengan lelaki tadi, yang serius untuk menjadikanmu istri akan hadir dengan pembuktian, bukan hanya sekedar omongan. Membuatmu bahagia dengan hal-hal yang kamu memang suka, hingga berbuat sesuatu yang tak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Tanpa diminta, ia bergerak untuk memberimu bukti nyata.

Dengan Lelaki yang Serius Kamu Punya Temat Berdebat, Berbeda dengan si Pacar yang Hanya Mendengarmu Bercerita

Pacarmu itu mungkin aja jadi teman cerita yang selalu bersedia memberi telingannya. Mendengarmu berkata apa saja, tapi selalu diam dan tak memberi masukan apa-apa. Yang ia tunjukkan hanyalah kehadiran, bukan jadi pihak yang membantumu kian paham tentang sesuatu yang kalian bicarakan.

Lalu sebaliknya, si lelaki yang serius untuk menikah akan jadi teman debat yang bisa membawamu kian dewasa. Memberimu pemahamanan yang berbeda, hingga jawaban-jawaban menakjubkan yang selama ini tak ada dalam kepala. Ya, bersamanya kamu berkembang tak hanya jadi percerita yang handal. Tapi juga punya pengalaman yang lebih lebar.

Dia yang Hanya Sekedar Ingin Jadi Pacar, Menganggap Kencan Hanya Ajang Jalan-jalan, Tapi yang Serius Akan Membuat Kalian Saling Mengenal Lebih Dalam

Lebih dari acara makan–nonton– lalu pulang, laki-laki yang serius akan selalau menikmati waktu berdua dengan cara yang tak biasa. Mencipatakan obrolan-obrolan menarik untuk kalian berdua, hingga kalian mengerti kalau ada hal lain yang bisa dilakukan lebih dari sekedar kencan jika sedang berduaan. Untuk itu, kamu bisa membedakan hal apa saja yang sering pacarmu tunjukkan setiap kali kalian menghabiskan waktu di akhir pekan. Membawamu untuk sekedar makan malam atau mengajakmu menikmati sesuatu yang bertujuan membuat kalian saling mengenal lebih dalam.

Lelaki yang Hanya Berniat Memacari Tak Peduli pada Kebiasan Burukmu, Sedangkan yang Serius Akan Merubahmu Jadi Lebih Baik dengan Cara yang Benar

Jangan buru-buru senang jika sang pacar terlihat acuh dengan hal-hal buruk yang kamu lakukan. Bukan karena ingin memberimu kebebasan melakukan apa saja. Karena kelak jika kalian sedang berselisih, ia bisa saja memakai kebiasaanmu burukmu sebagai senjata. Ya, senjata untuk memojokkanmu hingga jadi seorang tersangka.

Namun sebaliknya, dia yang memang memiliki niat baik untuk menjadikanmu pasangan hidupnya. Pelan-pelan akan bersuara, memberimu pemahaman berbeda, hingga akhirnya memabantumu merubah kebiasaan buruk yang ada. Bukan untuk bersikap lebih benar, ia memilih kata dan kaliamat yang lebih pelan, halus dan tak membuatmu merasa ditekan.

Pacar Sering Menuntutmu Merubah Penampilan, Tapi yang Berniat Menikahimu Bersedia Menerimamu Bagaimana Adanya

Kalau yang tadi terlihat acuh pada kebiasaanmu, kini ia bisa jadi berubah getol untuk memerhatikan penampilanmu. Mulai dari pakaian yang kamu kenakan, sepatu yang kamu pilih, hingga warna lipstikmu kerap harus sesuai dengan yang ia ingini. Ia mendorongmu berubah, tapi untuk sesuatu yang menjadi keinginannya, bukan seperti yang kau ingini.

Padahal, sebagai lelaki harusnya ia tahu jika setiap orang berhak untuk menentukan apa yang ia inginkan. Itulah mengapa jika seseorang yang benar-benar sudah siap menikah, tak akan mempermalasahkan penampilan. Apalagi menuntutmu berubah sesuai yang ia inginkan. Karena ia tahu, setiap orang berhak menentukan apapun. Tak akan memaksa, ia akan menerima bagaimana kamu ada.

Si Pacar Tak Pernah Membawamu Ke Lingkup Pertemanannya, Tapi yang Serius denganmu Selalu Bangga untuk Mengakuimu Di Hadapan Semua Orang

Jangankan untuk dikenalkan ke keluarga besar, tiap kali bertemu temannya saja ia selalu pergi sendiri dengan dalih tak ingin ditemani. Sebaliknya, setiap kali kamu berusaha untuk mengajaknya bertemu dengan teman-temanmu ia selalu punya alasan untuk bisa menghindar dari ajakanmu. Baginya, hubungan kalian baiknya jadi rahasia. Tak perlu ada yang tahu.

Padahal lelaki yang siap menikahimu, selalu merasa perlu untuk membawamu ke lingkup pertemanannya. Membawamu ke acara keluarga, dan tak pernah malu untuk mengakuimu sebagai kekasihnya. Dari titik ini harusnya kamu bisa membedakan, siapa dia yang hanya ingin sekedar jadi pacar dengan dia yang memang serius siap untuk menikah dalam waktu dekat.

Tak Menghindar Setiap Kali Membicarakan Pernikahan Seperti Pacarmu, yang Serius Menikah Selalu bersemangat Jika Ingin Membicarakan Kelangsungan Hubungan

Yap, satu-satunya alasan mengapa ia selalu bersikap menunjukkan semua hal yang tadi sudah dijelaskan. Tentu saja karena belum merasa siap untuk menjadikanmu sebagai istrinya. Atau memang hanya ingin main-main saja, tanpa pernah berniat serius, sebagaimana kamu menganggapnya.

Ini jadi langkah paling menentukan. Bagaimana ia bersikap setiap kali kamu mengajaknya membicarakan pernikahan. Apakah dia pura-pura menghindar atau justru membuka obrolan dengan semangat yang berbeda dari biasanya.

Jangan mudah terlena hanya karena umbaran kata cinta yang membuatmu merasa istimewa. Lelaki yang memberimu kata-kata manis belum tentu berniat mengajakmu melangkah ke jenjang yang lebih intim dari sekedar pacaran.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Hemat Bikin Kamu Kaya, Tapi Pelit Buat Hidupmu Tak Bahagia!

Walau tak banyak, kamu pasti punya teman yang pelitnya nggak ketulungan. Jangankan untuk mau memantu orang, berbagi hal-hal kecil saja selalu ogah-ogahan. Menyebalkan memang kalau orang-oran seperti ini adalah di lingkup kehidupan. Tak pernah mau memberi, tapi selalu berharap untuk diberi.

Ngakunya sih hemat, padahal itu hanyalah siasat agar tak mengeluarkan orang. Alih-alih ikut menyumbang, ia bisa santai dengan duduk tanpa mengeluarkan sepeserpun, jika sedang kumpul bersama teman. Uangnya mungkin tetap banyak, tapi percaya deh orang-orang pelit adalah mereka yang hidupnya selalu dirundung gelisah, stress dan tak bahagia.

Karena Kata Peneliti, Orang Pelit Biasanya Mudah Sekali Stress

Demi menjawab fenomena marahnya orang-orang pelit ini, baru-baru ini para ilmuan meneiliti tingkat kebahagia dari mereka yang terkenal kikir. Apakah ada kepuasan lain yang membuat mereka bahagia dengan menjadi pelit? Dengan menggunakan metode analisis fisiologis, dan menggunakan simulasi tawas menawar sebagai bahan penelitian.

Para ilmuan dari Queensland University of Technology (QUT) di Brisbane, Australia, ini menemukan mereka yang menawar terlalu rendah memiliki tingkat stres lebih tinggi dibandingkan mereka yang nawar sewajarnya, atau bahkan tidak menawar saat membeli produk finansial.

Lalu bagaimana peneliti mengetahui orang yang pelit itu lebih stres? Para ahli melihat dari kerja jantung responden saat melakukan tawar menawar. Mereka yang menawar sangat rendah terbukti memiliki pacu jantung yang tidak beraturan dan lebih cepat.

Kinerja jantung seperti ini juga terjadi pada orang yang sedang depresi, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, atau sedang menghadapi masalah besar hingga ia stres.

Sedangkan sebaliknya, orang yang menawar sewajarnya bahkan tidak melakukan penawaran, jantung mereka lebih stabil dan emosi mereka juga lebih tenang. Hal ini sama seperti seseorang sedang berada di tempat liburan yang menyenangkan. Jadi, kamu bisa membandingkan.

Dan Semakin Kita Sayang Kepada Uang dan Harta, Semakian Bertambah Pula Tingkat Stres Kita

Nah, akhirnya, hasil penelitian yang dipublikasi dalam jurnal Plus One ini menyimpulkan jika, saat melakukan penawaran, ada beberapa kondisi psikis seseorang yang bisa diamati. Mulai dari tingkat empati, emosional, sampai ke stres mental.

Menurut Markus Schaffner, salah seorang peneliti dan manajer Queensland Behavioral Economics Gropu Laboratory for Economic Experiments di QUT. Pada tahap penelitian, mereka menemukan dua hal penting pada responden. Yakni terjadinya stres mental saat berhubungan dengan uang dan keputusan.

Pertama, orang yang pelit merasa selalu khawatir uangnya akan berkurang, sehingga emosinya tidak stabil. Kedua, saat melakukan penawaran di bawah 40%, mereka ternyata juga mengalami penyesalan. Baik itu menyesal karena kenapa tidak lebih rendah, padahal mereka berfikiran itu bisa rendah, atau menyesal karena telah menawar dengan sangat rendah.

Maka dengan kata lain, semakin kita sayang terhadap uang yang kita miliki, semakin tinggi pula tingkat kegusaran yang kita hadapi. Jadi jika memang kamu ingin bahagia dan merasa berguna, mulailah untuk berbagi kepada siapa saja tanpa menghitung berapa banyak yang sudah kamu keluarkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top