Community

Perkara Jodoh, Perempuan Jawa Selalu Jadi Juara

Banyak orang berbondong-bondong untuk melancong ke berbagai Negara. Bukan hanya melancong saja, tapi juga untuk mencari jodoh. Maka tak jarang juga orang memilih untuk menikah dengan warga negara lain. Alasannya sangat beragam, mulai dari karena fisiknya, sampai karena rasa nyaman yang didapatnya.

Sah-sah saja memang jika kamu ingin pergi berkeliling penjuru dunia selagi kamu bisa. Entah untuk mencari pengalaman baru, menuntut ilmu atau juga mencari jodoh seperti katamu. Tapi mencari cinta pasti ujungnya untuk menikah bukan? Setiap pernikahan akan memiliki konsekuensi, seperti halnya jika kamu ingin menikah dengan warga asing. Yakin kamu sudah siap mengurus segala persyaratannya?

Itu memang hak mu, tapi mencintai warga asing, itu berat, kamu tak akan sanggup, biar aku saja. Hehe. Kamu perlu tahu bahwa mengurus persyaratan untuk menikah dengan warga lokal dan warga asing sangat jauh berbeda. Berkas yang harus kamu urus juga lebih banyak dan lebih ruwet tentunya. Maklum, kamu harus memenuhi persyaratan pernikahan dari dua negara yang berbeda. Yakin kamu sudah siap?

Kalau memang tidak, alangkah baiknya kamu pulang kembali ke Indonesia saja. Dan dari sekian banyak perempuan yang ada, perihal jodoh wanita Jawa jadi juaranya.
Buat apa jauh-jauh mencari jodoh ke negeri seberang kalau warga lokal saja sudah cukup menarik dan selalu jadi idaman. Kamu pasti sudah tahu bukan tentang karaktreristik yang dimiliki oleh wanita Jawa? Bule saja banyak yang terpikat, masak kamu yang warga lokal nggak terpikat dengan sosok wanita Jawa yang menarik hati?

Banyak orang yang bilang kalau wanita jawa itu setia, lemah lembut dan penyayang. Wanita jawa punya ciri khas sebagai sosok yang nurut dan tak terlalu menuntut. Wanita Jawa cenderung mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh Tuhan. Itulah sebabnya mengapa kamu akan menyesal jika tidak memilih wanita Jawa sebagai calon istri.

Bukankah sebagai calon pemimpin keluarga, kamu butuh istri yang tidak melulu menuntut apa yang diinginkannya?

1 Comment

1 Comment

  1. Naika

    May 23, 2018 at 1:53 pm

    Artikelnya lebaaayyyy….penulisnya wong jowo😂😂😂..cewe2 sumatera byk yg nurut patuh sm suami,wanita sumatera jg jago2 masak..apalagi kalo soal keturunan,wanita sumatera berkulit putih,dijamin anak2nya lucu2 n beekulit putih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Tak Apa Jika Aku Dianggap Kurang Pergaulan, yang Penting Aku Tak Pernah Menyusahkan Orang

Julukan kuper atau kurang pergaulang sudah biasa terdengar oleh telingaku. Tak jarang mereka pun menjulukiku sebagai seorang introvert. Memang, selama ini aku lebih suka berdiam diri di rumah dan melakukan apapun sendiri tanpa gangguan dari orang lain. Tapi apakah yang aku lakukan salah di mata mereka?

Meski aku terlihat hanya diam saja di rumah, bukan artinya aku hanya bersantai dan menghabiskan waktuku dengan hal yang tak berguna. Aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk mengasah kemampuan intelektualku.

Sebenarnya ada banyak keindahan yang ditawarkan oleh dunia luar, tapi aku tetap memilih untuk sendiri. Merasakan keindahan dengan cara pandangku sendiri. Di saat yang lain sibuk bersenang-senang bersama teman dan keluarga mereka, aku lebih suka menghabiskan waktu dirumah untuk membaca buku, membuat suatu yang unik, menulis sebuah artkel, atau belajar ilmu pengetahuan yang belum aku ketahui sebelumnya.

Bagiku, teman terbaikku hanyalah diriku sendiri. Bukan aku tak membutuhkan orang lain di sampingku. Namun memang pada kenyataannya aku memiliki kehidupan sendiri yang tak mungkin orang lain pahami. Aku punya caraku untuk hidup, aku punya caraku untuk bahagia. Hanya itu, aku belum membutuhkan suatu yang lebih dari itu.

Banyak orang mempertanyakan bagaimana aku bisa hidup dengan caraku ini. Apakah aku tak kesepian, atau apa aku tak punya suatu hal yang ingin kulakukan bersama orang lain di luar sana. Jawabannya, buktinya aku bisa, aku tak pernah kesepian karena ada diriku sendiri yang selalu setia bersamaku, untuk pertanyaan apakah aku tak ingin melakukan suatu hal dengan orang lain, rasanya sampai saat ini aku belum memilikinya.

Bukan aku sombong atau anti sosial, tapi memang beginilah caraku menjalani kehidupan. Aku menghargai cara hidup orang lain di luar sana, jadi tolonglah, hargai caraku juga dalam menjalani kehidupanku.

1 Comment

1 Comment

  1. Naika

    May 23, 2018 at 1:53 pm

    Artikelnya lebaaayyyy….penulisnya wong jowo😂😂😂..cewe2 sumatera byk yg nurut patuh sm suami,wanita sumatera jg jago2 masak..apalagi kalo soal keturunan,wanita sumatera berkulit putih,dijamin anak2nya lucu2 n beekulit putih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Melanglang Buana ke Luar Negeri, Film Marlina Sedang Tayang di Amerika Serikat Pekan Ini

Jadi deretan prestasi yang membuat bangga nama Indonesia, kali ini film garapan sutradara Mouly Surya, jadi salah satunya. Yap, film “Marlina si Pembunuh dalam Empak Babak” akan tayang secara terbatas di bioskop Amerika Serikat, mulai Jumat 22 Juni 2018 kemarin.

Hal ini merupakan kerjasama dari dua distributor spesialis film arthouse, yakni Icarus dan Kimstim. Tak hanya itu saja, konon Marlina juga akan ditayangkan di Kanada terhitung sejak tanggal 29 Juni 2018 mendatang.

Dan fakta lain yang juga perlu kamu tahu, sejak pertama kali diputar di Directors Fortnight, Cannes pada Mei 2017 lalu, film yang dibintangi oleh Marsha Timothy ini sudah di distribusikan di lebih dari 40 Negara dam masuk dalam selesksi berbagai festival film bergengsi bertaraf Internasional.

Sejalan dengan itu, pada salah satu kesempatan, Rama Adi selaku produser berkata “Festival film internasional seperti Cannes dari awal kami jadikan strategi penting sebagai etalase untuk memperluas jalur distribusi film. Theatrical Release di Amerika menjadi penting untuk memperkenalkan Mouly Surya dan film Indonesia ke audiens amerika secara umum,” 

Ini jelas jadi berita membanggakan untuk dunia perfilman tanah air, karena sebelumnya. Produksi film Indoensia yang berhasil mendapatkan distribusi sampai ke bioskop di Amerika, masih hanya film “The Raid” dan “The Act of Killing”. 

Dan dengan film ini juga, Marsha Tomothy sang pemeran Marlina, berhasil mendapatkan pernghargaan sebagai Best Actress dalam Sitges International Fantastic Film Festival di Spanyol tahun 2017 lalu.

Wah, semoga para pembuat film di Indonesia semakin giat dalam membuat karya agar semakin dikenal di berbagai negara juga.

 

 

1 Comment

1 Comment

  1. Naika

    May 23, 2018 at 1:53 pm

    Artikelnya lebaaayyyy….penulisnya wong jowo😂😂😂..cewe2 sumatera byk yg nurut patuh sm suami,wanita sumatera jg jago2 masak..apalagi kalo soal keturunan,wanita sumatera berkulit putih,dijamin anak2nya lucu2 n beekulit putih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Kekhawatiran Seorang Perempuan Jawa yang Tak Lihai Memasak Seperti Mereka yang Lainnya

Memasuki usia 20-an bukanlah hal tabu untuk memikirkan sebuah pernikahan. Sempat terlintas dipikiranku tentang menikah muda. Tapi apa mungkin aku mampu menjalani status pernikahan yang harus terikat dengan aturan yang dibuat oleh suami.

“Aku pun ingin sesegera mungkin menikah, tapi apa suami dan mertuaku mau menerimaku sebagai bagian dari mereka?”

Aku adalah wanita jawa yang pada dasarnya memiliki norma-norma yang harus dipatuhi oleh setiap insan. Namun aku memang sedikit berbeda. Ayahku adalah seorang pendidik dan beliau sangat menjunjung tinggi sebuah pendidikan. Sampai-sampai dari dulu aku selalu didaftarkan di sekolah yang memiliki mutu bagus.

Untung saja aku termasuk siswa yang pandai sejak berada di sekolah dasar. Saat kuliah pun, orangtuaku merelakan adanya jarak antara aku dengan mereka untuk menempuh ilmu di kota lain. Ya tentu saja, perguruan tinggi yang cukup terpandang.

Aku terbiasa hidup bebas, tapi tak urakan. Aku terbiasa melancong kesana sini dengan uang hasil tabunganku selama beberapa waktu untuk mengunjungi kota bahkan negara yang ingin kusinggahi sejenak.

Ya, tentu untuk belajar pula. Karena itulah aku tak biasa hidup dengan kekangan Jawa yang sesuai dengan istilah “macak, masak, manak” yang artinya “berdandan, memasak, dan melahirkan.”
Aku tak tau nantinya keluarga suamiku bisa menerimaku atau tidak, juga suamiku, apa dia mau menerima apa yang ada dalam diriku saat ini.

Berbagai pikiran itu sering terlintas di benakku, “Apa tak mungkin jika wanita karir tak mampu menjadi ibu yang baik juga istri yang berbakti pada suami?”

Sebab jika pun nanti aku menikah, aku ingin mejadi istri yang mandiri. Bukan hanya berpangku tangan pada suami meminta uang bulanan. Aku pun ingin berpenghasilan setelah sekian lama dan sekian banyaknya materi yang orangtuaku keluarkan untuk menyekolahkan aku setinggi yang mereka mampu.

Aku tak mau menjadi wanita yang hanya diam di rumah, bangun pagi menyiapkan makanan untuk suami dan anak, lantas membersihkan rumah, kemudian menunggu anak pulang sekolah dan suami pulang bekerja. Ahh pasti sangat membosankan.

Apa tak mungkin bagiku menjadi ibu yang baik juga istri yang berbakti dengan statusku sebagai seorang wanita karir nantinya? Ahh sudahlah, bahkan sampai saat ini aku masih harus melihat resep makanan untuk bisa memasak. Ya semoga saja apa adanya diriku mampu diterima oleh suami dan mertuaku kelak. Iya, semoga.

1 Comment

1 Comment

  1. Naika

    May 23, 2018 at 1:53 pm

    Artikelnya lebaaayyyy….penulisnya wong jowo😂😂😂..cewe2 sumatera byk yg nurut patuh sm suami,wanita sumatera jg jago2 masak..apalagi kalo soal keturunan,wanita sumatera berkulit putih,dijamin anak2nya lucu2 n beekulit putih..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top