Feature

Perempuan yang Menikah Diatas Usia 25 Tak Perlu Malu, Angka Bukanlah Tolak Ukur Bahagiamu

Setelah memasuki masa seperempat abab, beberapa perempuan seringkali merasa harus buru-buru menikah. Walau sejatinya ia masih belum ingin, tekanan dari luar dirilah yang kadang jadi faktor pemicunya. Belum lagi teman-teman seusia yang sudah pada pamer foto bayi di Instagram miliknya. Jadi sesuatu yang toxic, hal-hal begini memang kerap merusak pertahanan.

Tapi tunggu dulu, tarik nafasmu sebentar lalu hembuskan perlahan dan mulailah menimbang-nimbang. Kenapa kita harus terpaku pada orang? Selama kamu bukanlah sosok yang anti dengan pernikahan, tak perlu ada yang harus dikhawatirkan. Merasa minder atas pencapaian hidup sampai saat ini itu biasa. Tapi menjadikan hidup orang sebagai acuan pun tak benar-benar amat. Toh setiap orang punya cerita bahagia yang berbeda, lalu kenapa harus dipaksa?

Menikah Tak Melulu Tentang Bahagia, Ada Juga Sedih Di Sana

Daripada sibuk mikirin kapan kita punya pacar, kapan kita dilamar, sampai kapan kita akan nikah?. Lebih baik perbanyak belajar akan hal-hal lain yang mungkin akan terjadi dalam hidup setelah pernikahan. Tak ada salahnya, kamu mulai membaca dan mencari beberapa panduan bagaimana bersikap yang baik ketika ada pertengkaran dengan pasangan.

Jangan pikir suamimu kelak akan tetap terus bersikap manis seperti awal perkenalan, karena dia pun adalah manusia biasa yang juga bisa khilaf dan tak bisa menahan emosi. Satu kali ia mungkin akan marah, membuatmu terluka dan sedih hatinya. Tapi bukan berarti dia tak lagi cinta, tapi memang begitulah sesungguhnya hidup berumah tangga.

Ada sedih dan bahagia, manis dan pahit, gurih dan asam. Pokoknya nano-nano deh rasanya.

Keputusan Ini Bukan Akhir dari Pembelajaran, Justru Jadi Awal Mula Perjalanan yang Lebih Menantang

“Duh, gue pusing banget. Pengen nikah aja biar nggak usah kerja”

Kita mungkin pernah dengar keluhan macam ini, atau jangan-jangan kita sendiri pun pernah bilang begitu? Menikah memang akan membuat kita merasa lengkap, punya teman untuk diskusi dan berbagai tugas pada hal-hal lain yang mungkin tak bisa dilakukan seorang diri. Tapi bukan berarti semua kesusahan akan hilang.

Daripada harus mengatakan ini adalah sebuah akhir dari pembelajaran, pernikahan lebih pantas kita sebut sebagai awal mulai petualangan baru yang lebih menantang. Coba bayangkan, kamu akan berbagi tempat tidur dengan orang lain setiap malam, tinggal satu atap dengan dia yang akan kamu temui setiap saat. Diwaktu itu pula kita akan belajar bahwa menikah bukan hanya tentang pelukan mesra saja.

Lagipula Tak Ada Manusia yang Punya Cerita Hidup Sama Persis, Jangan Berusaha untuk Bisa Seperti Orang Lain

Lingkaran pertemanan atau mereka yang ada disekitar, sering kali jadi rabun yang mempengaruhi pikiran kita. Dan ini memang sesuatu yang wajar sebenarnya. Lagipula siapa sih yang tak ingin, jika suatu hari kelak akan kembali bertemu dengan teman-teman dengan menggendong bayi yang seumuran. Bukannya ini jadi sesuatu yang asyik?

Namun daripada harus menyamakan cerita hidup kita dengan orang lain, berserah diri justru jadi sesuatu yang lebih kita butuhkan saat ini. Temanmu mungkin ditakdirkan bertemu jodohnya diusia 24 tahun, sedangkan kamu masih saja sendiri sampai 26 tahun. Tapi tak apa, karena setiap orang punya cerita, dan yang jelas tak akan pernah sama.

Tak Perlu Gusar, Tuhan Tahu Mana yang Paling Kita Butuhkan

Atas nama keinginan dan harapan, berbagai macam doa agar segera bertemu jodoh pun kita panjatkan. Deretan nama lelaki yang kira-kira berpotensi jadi suami, tak lupa didikte dalam setiap shalat dan tahajud kala malam. Bertindak sok jadi yang paling tahu, kita sering memaksa sang Kuasa untuk segera mengabulkan apa yang kita pinta.

Seolah lupa siapa yang paling berkuasa, kita abai pada kemampuan Allah yang sejatinya lebih tahu apa yang paling kita butuh. Belum dipertemukan dengan jodoh di usia sekarang, bisa jadi Tuhan ingin kita lebih giat belajar, bekerja lebih keras, atau menikmati kesendirian dulu sebelum nanti bertemu dia yang memang untukmu.

Walau Disarankan Pemerintah, Bukan Berarti Kau Harus Menginyakan Kan?

Iya-iya, kami paham bahwa konon usia awalan 21 tahun hingga 25 tahun adalah masa yang pas untuk seorang perempuan menikah. Dinilai jadi periode mas, temuan ini disampiakan dalam berbagai macam wadah. Mulai dari iklan televisi seleberan di jalan, sampai konten digital pun tak pernyataan ini bertebaran.

Tak berniat untuk membuatmu jadi warga negara yang abai akan aturan dan anjuran pemerintah. Tapi ini semua tentang dirimu dan masa depan. Tak ada yang menjamin kamu akan baik-naik saja jika menikah dibawah usia 25 tahun, begitupula sebaliknya. Menikah diatas 25 tahun, bukan berarti kamu tak akan bahagia.

Ini Tentang Kesiapan dan Keyakinan Terhadap Pasangan, Bukan Berapa Angka Usiamu Sekarang

Lebih dari segala macam hal yang selalu digambarkan dengan bahagia, tetek bengek iklan dan ajakan maut dari kawan lainnya. Menikah itu adalah tentag kamu dan dia yang akan jadi pasanganmu. Kalau memang masih merasa belum siap, kenapa harus dipaksa? Tunggulah sebentar, sembari belajar.

Jika nanti memang sudah sama-sama yakin untuk melangkah. Kamu dan pasangan bisa menikah kapan saja, tanpa harus terpaku pada angka di usia. Karena menikah diatas 25 tahun, bukanlah sebuah keburukan. Untuk itu kau tak perlu malu

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Daripada Terus Tersiksa, Bercerai Mungkin Membuatmu Lebih Bahagia

Jadi sesuatu yang tak pernah diinginkan, perceraian selalu jadi momok mengerikan pada semua orang. Merusak mental anak, menyakiti diri sendiri, hingga membuat malu keluarga selalu jadi pertimbangan yang dipikirkan. Tak ingin itu semua terjadi, padahal bertahan pun justru kian menyiksa diri. Lalu tunggu apa lagi?

Dengar, tak satu pun orang ingin pernikahannya berakhir dengan sia-sia. Tapi kita pun tak bisa menolak jika memang keputusan bercerai adalah satu-satunya jalan keluarga untuk bisa lebih bahagia. Tak lagi tahan dengan kekerasan yang diterima, atau hadirnya pihak ketiga mungkin jadi salah satu alasannya.  

Kamu Bisa Saja Bertahan, Tapi Coba Pertimbangkan Adakah Sesuatu yang Berubah atau Justru Kian Parah?

Ya, apapun itu alasannya jika memang masih bisa dipertahankan dan dibenahi, cobalah untuk berkomunikasi dengan pasangan. Bicarakan dengan kepala dingin, cari letak salah dan titik sumber masalah. Berilah ia kesempatan kedua, jika memang diminta atau ajukan hal tersebut kepadanya.

Lalu lihat lagi perubahan yang terjadi selama rentang waktu janji untuk saling berbenahi diri. Adakah itikad baik dari dirinya untuk menunjukkan perubahan, atau masih tetap sama seperti biasa. Membuatmu jadi pasangan yang tersiksa hingga merasa kian tak benah hidup berdua.  

Maka Jika Bercerai Justru Membuatmu Lebih Bahagia, Kamu Tak Perlu Takut untuk Melakukannya

Dikutip dari laman prevention.com, ketika masalah demi masalah terus terjadi dan konflik terus menghimpit, tidak jarang perceraian menjadi pilihan terbaik yang diambil. Memang, rasa sakit hati, kecewa dan sedih mendalam akan dialami orang-orang yang bercerai. Namun, jika ini adalah jalan terbaik, perceraian justru jadi harapan baru untuk bisa memberimu bahagia.

Tak hanya itu saja, penelitian yang dilakukan di Universitas London Kingsley juga menemukan bahwa perempuan akan merasa lebih bahagia, lebih lega dan percaya diri setelah lima tahun dari perceraiannya. Setelah bercerai, perempuan juga akan mempunyai banyak waktu untuk memegang penuh kendali atas dirinya sendiri juga kendali atas anak-anaknya. Bisa memahami diri sendiri lebih baik, akan membantumu menemukan sumber bahagia yang selama ini kamu cari.

Jadikan Ini Sebagai Pelajaran, Agar Tak Asal dalam Memilih Pasangan

Setelah bercerai, kamu akan lebih berhati-hati dan teliti dalam hal menemukan pasangan atau menjalin hubungan. Sudah bisa lebih bijaksana dan bersiap untuk kecewa, kamu tahu bagaiman menaruh percayamu. Berita baiknya, kesiapan psikologi setelah bercerai dalam menemukan cinta baru bahkan dinilai lebih baik dari kesiapan cinta yang dulu.

Tak perlu takut atau merasa akan gagal lagi untuk yang kedua kali, beberapa ahli bahkan menyarankan agar kamu kembali membuka diri. Sebab kamu sudah lebih paham dan tahu bagaimana caranya membenahi kesalahan di masa lalu. Tak lagi buru-buru dalam menentukan, kamu perlu bijak dalam membuat keputusan.

Semua Orang Pernah Berbuat Salah, dan Bercerai Bisa Jadi Cara untuk Menebus Rasa Bersalah

Jangan pernah merasa hina hanya karena kamu memutuskan untuk berpisah. Meski orang-orang akan membuat penilaian yang negatif tentang dirimu, tetaplah jadi diri sendiri dengan tak peduli akan cibiran dari orang lain. Jika perceraian ini jadi sebuah kesalahan yang terbesar dalam hidupmu, maka belajarlah untuk berbenah diri agar tak lagi mengulangi kesalahan serupa. Belajar lebih bijak, lebih dewasa, tak lagi sembarangan bersikap, dan paham bagaimana caranya menjaga hubungan.

Tak Perlu Meratapi Semua yang Sudah Terjadi, Ini Semua Adalah Cerita Hidup yang Mungkin Memang Harus Terjadi

Bohong memang jika kamu tak sedih, biar bagaimana pun ia pernah jadi suami atau istri yang mengisi hari-hari. Mencintaimu sepenuh hati, hingga memberimu anak-anak lucu yang jadi buah cinta atas pernikahan yang dijalani. Tapi hidup berjalan, manusia berubah, dan apapun bisa terjadi tanpa kita duga.

Kamu boleh sedih, tapi jangan lama-lama. Simpan semua sedihimu untuk hal lain yang bisa saja terjadi di lain hari. Hari ini, berjanjilah untuk berbahagia, melupakan luka lama yang selama ini terasa menyiksa, dan siapkan diri untuk cerita hidup baru yang sudah menunggumu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Buat Ayah, Kukirim Doa untukmu yang Kini Sudah di Surga

Tak pernah bisa berkata-kata, menahan rindu denganmu selalu jadi kelemahanku. Pernah bisa pulang sesuka hati untuk menemui, pusaramu kini jadi tempat peraduanku. Masih tetap dengan kebiasaan kita, aku sering mengambil telepon genggam untuk bertanya kabar. Tapi ternyata sosok setia yang selalu mengangkat telepon di seberang sana sudah tiada.

Kau benar-benar pergi, meninggalkan kami yang masih butuh didampingi. Hidup yang tadinya selalu terasa sempurna, mendadak berubah arah karena Ayah sudah tak lagi ada. Ragamu memang mati, menyatu dengan tanah dalam liang yang jadi rumah. Tak lagi bisa memelukmu setiap waktu, aku hanya bisa berdoa jika sedang rindu.

Jadi Lelaki Pertama yang Kucinta, Kau Tak Pernah Marah Walau Aku Sering Berbuat Salah

Keping-keping kenangan bersamamu, tentuk tak akan hilang. Semuanya selalu dan akan selalu melekat diingatan. Bagaimana ekspresi wajahmu saat datang ke rumah dengan hadiah di ulangtahunku yang ke 5. Kesabaranmu dalam melatihku mengayuh sepeda, hingga segaal pertolongan lain yang selalu engkau berikan tanpa rasa lelah. Tak pernah merasa kekurangan, memilikimu sebagai Ayah adalah anugerah terbesar.

Melepasku tinggal terpisah di kota berbeda demi sekolah, pelukanmu setiap kali aku pulang ke rumah jadi penenang atas segala gundah. Tak pernah terlihat marah, sekalipun aku melanggar janji diantara kita berdua. “Banyak-banyak berbuat salah, biar kamu tahu mana pilihan yang paling layak dicoba”, katamu sembari tertawa. Kali ini, bisakah aku mendengar ucapan-ucapan ajaibmu sekali lagi?

Tak Peduli Selelah Apa Dirimu Selepas Kerja, Kau Selalu Terlihat Tanguh di Depan Kami Semua

Jadi penolong untuk kami semua, pemimpin yang baik untuk keluarga. Setiap hari di segala situasi, kamu selalu bersikap jika tubuhmu tak pernah lelah. Tak pernah sungkan membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah, membant kami menyelesaikan rumah sekolah, hingga hal-hal lain yang selalu kamu lakoni tanpa rasa lelah.

“Ayah tak capek?” kataku suatu waktu, lalu kau jawab dengan kalimat “Jadi ayah harus selalu siap siaga, jadi tak boleh lelah”. Hari ini aku sadar, jika semua yang kamu lakukan hanyalah untuk membuat kami semua senang. Tak peduli bagaimana lelahnya tubuhnya, apapun yang kami perlu selalu kau berikan tanpa menunggu.

Selalu Diam dan Menutup Semua Derita, Ayah Tak Ingin Kami Tahu Jika Engkau Juga Bisa Lemah

Jangankan untuk mendengar Ayah berkeluh kesah, kecewamu saja selalu kau tutupi dari kami semua. Bagiamana dirimu direndahkan oleh keluarga, dikecewakan oleh teman lama, hingga kejadian-kejadian lain yang membuatmu terluka. Aku tahu Ayah bersedih kala itu, namun hanya karena tak ingin kamu ikut menangis. Engkau memilih diam, mengemban semua beban. Termaksud sakit penyakit yang telah lama bersarang dalam badan.

Untuk itu, ada keajaiban yang kembali membawamu kehadapanmu. Aku ingin bilang Ayah tak lagi boleh memendam segala kesusahan. Terbukalah untuk segala yang kau rasakan, agar kita tahu apa langkah yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan.

Hingga Akhirnya Kau Pergi dengan Tiba-tiba, Menyisahkan Luka dan Memberi Tanya ‘Mengapa Ayah Tak Memberi Aba-aba?’

Tak pernah berpikir akan kehiilanganmu secepat ini. Berita kepergianmu lebih mirip cerita bohong yang tak ingin kupercaya, hingga akhirnya aku pulang ke rumah. Mendapati tubuhmu terbujur kaku dan tak lagi bisa berjalan memelukku di teras rumah kita. Tanpa sepatah kata yang bisa jadi pengingat setelah engkau tiada, Ayah pergi begitu saja meninggalkan kami semua. Sakitmu menang, ia berhasil merenggutmu dari kami semua. Dan untuk kesekian kalinya, aku masih belum percaya jika dirimu benar-benar tiada.

Merasa Bersalah Sebab Belum Bisa Membuatmu Bangga, Tapi Menyesal pun Tentu Tak Ada Gunanya

Selepas kepergianmu, ada bongkahan batu besar yang sepertinya menimpah tubuhku. Jatuh tepat di atas kepalam, menghimpit dada hingga membuatku tak bisa bergerak kemana-mana. Kehilanganmu tak hanya membuatku terluka, tapi juga membuat diri kian merasa bersalah.

Masih belum bisa membuatmu tersenyum dan berbangga, segala janji yang pernah ada kelak akan terlaksa tanpa dirimu ada. Satu hal yang kutahu pasti, apapun yang kulakukan di dunia. Dari atas surga Ayah pasti selalu menyertaiku dengan segala upaya.

Untuk Bisa Melepasmu Tentu Tak Pernah Mudah, Tapi Semoga Aku Bisa

Hidupku sempat terhenti, tak bisa berkata-kata hingga tak tahu harus berbuat apa. Nadi dari dunia ini seolah mati, pandangan mata kerap terlihat gelap, lalu dalam hati aku terus bertanya-tanya. Benarkah Ayah sudah tak ada? Kemana ia pergi? Mengapa ia tak kunjung kembali? Lalu bagaimana aku menjalani hidupku nanti? Ribuan pertanyaan lahir atas kehilangan, tapi tak satu pun jawabannya yang kutemui bisa menghilankan luka dalam hati.

Aku tahu ini tak akan mudah, melepas lelaki tercinta untuk hilang selama-lamanya. Tapi atas kekuatan dari ibu dan saudara, semoga kami semua tetap bisa melanjutkan hidup meski tanpa Ayah.

Walau Tak Lagi Hidup Pada Dunia yang Sama, Semoga Ayah Bisa Mendengar Segala Rinduku Lewat Doa

Jangankan untuk bisa merasakan hangatnya dekapanmu, bertemu dalam mimpi saja sering membuatku terharu. Seolah tahu jika anaknya sedang rindu, engkau kerap menampakkan diri meski hanya beberapa detik di pandangan mata. Tak benar-benar hilang, aku tahu jika jiwamu masih ada di dekatmu setiap waktu.

Maka untuk membalas semua pengorbanan dan segala kasihmu. Berdoa satuu-satunya cara yang bisa kusampaikan padamu yang kini sudah di surga.

Aku memang kehilangan tubuhmu, tak lagi bisa menggenggam tanganmu, bahkan harus menangis setiap kali aku sedang terbayang semua kenangan. Berbahagialah di Surga yah, aku akan kirim semua rindu dalam doa.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Goo Hara Mulai Bangkit Pasca Insiden Percobaan Bunuh Diri

Penggemar KPop sekaligus masyarakat Korea Selatan sempat dihebohkan dengan kabar percobaan bunuh diri yang dilakukan aktris Goo Hara. Ia melakukan upaya bunuh diri tersebut di sebuah kamar di lantai dua rumahnya yang berlokasi di Cheongdam, Korea Selatan, Minggu 26 Mei 2019.

Untung saja percobaan bunuh diri tersebut digagalkan oleh pihak kepolisian setempat. Mereka mendapat kabar dari tim manajemen Hara yang menghubungi pihak kepolisian pasca mengetahui gerak gerik aneh dari Hara.

Dilansir dari laman Soompi, Goo Hara diketahui sudah mulai bangkit dari keterpurukannya. Hal itu diketahui lewat postingan pertamanya di media sosial instagram story miliknya @koohara_.

Goo Hara mulai aktif di media sosial dan mencoba berinteraksi dengan penggemarnya di seluruh dunia. Lewat instagram storynya, Hara mengunggah ucapan selamat hari jadi, untuk fanbase resmi grupnya KARA yang bernama Kamilia.

“Kamilia Day 6.11,” tulis Goo Hara sembari menambahkan gambar hati.

Sementara itu diketahui, pasca melakukan upaya bunuh diri, Hara mengaku mulai sadar jika perbuatannya tersebut tidak baik dan tidak patut dicontoh. Ia juga langsung memberikan kabar kepada penggemarnya bahwa ia berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

“Saya akan mencoba yang terbaik untuk menunjukkan sisi sehat saya dengan memiliki pola pikir yang lebih kuat. Saya benar-benar minta maaf tentang kejadian baru-baru ini,” ungkap Goo Hara.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top