Feature

Perceraian Kian Terasa Biasa, Tapi Apa Sebenarnya Hal yang Melatarinya

Beberapa minggu lalu, seorang teman yang saya kenal baik mencoba untuk membagi cerita sedihnya. Ya, dia baru saja memutuskan untuk bercerai dengan suami yang baru dinikahinya kurang lebih 8 bulan. Hal jelas, membuat saya bertanya-tanya. Sebab yang saya tahu, sebelum memutuskan untuk menikah. Mereka berdua sudah berpacaran 5 tahun lamanya, belum lagi mereka adalah teman sedari kecil yang tinggal dengan rumah yang berdekatan.

Dengan beberapa fakta tersebut, saya pikir adalah sebuah hal yang mustahil jika tiba-tiba mendengar mereka bercerai. Hal ini nampaknya sejalan dengan satu fakta penelitian di Amerika yang berkata bahwa, 40-50% pasangan pengantin baru mengalami perceraian pada pernikahan pertama, sedangkan 60% lainnya pun masih mengalami perceraian pada pernikahan yang kedua.

Biduk rumah tangga memang tak selalu berjalan mulus, pada beberapa kesempatan ada saja hal-hal yang menjadi penyebab perpisahan. Dan berdasarkan salah datu info dari marriage.com, setidaknya ada 7 penyebab yang biasanya jadi dalang dibalik perceraian pasangan suami istri.

Hadirnya Orang Ketiga Secara Tiba-tiba, Dinilai Jadi Faktor yang Sering Jadi Alasan Pertama

Isu pelakor memang masih hangat dan selalu jadi perbincangan banyak orang, dan jadi faktor nomor satu yang menyebabkan perpisahan, bahkan bagi mereka yang sudah memutuskan untuk menikah.

Jangan bilang jika satu pihak terlihat gampang menyerah, karena bisa saja sang pihak yang berselingkuh hanya khilaf saja. Ya, itu sih terserah. Jika ternyata kamu menilainya seperti itu, sebab bagi kawan lain perselingkuhan adalah sesuatu yang berat untuk dilupakan. Menyisahkan luka, menimbulkan trauma, hingga kadang membuat diri merasa bersalah.

Maka akan sangat terdengar wajar, jika ada seseorang yang secara tiba-tiba menggugat cerai pasangannya, karena ketahuan selingkuh.

Disusul dengan Kebutuhan Finansial yang Mungkin Dirasa Kurang

Cinta sih cinta, sayang sih sayang tapi kalau hidup juga ditelantarkan, siapa yang tahan? Tanpa harus dijelaskan secara rinci lagi, kita semua tentu tahu jika hidup dan berumah tangga tak hanya tentang cinta. Ada kewajiban lain yang juga harus dipenuhi. Entah itu kebutuhan hidup, tempat tinggal, hingga hal lain yang memang diperlukan.

Bukan ingin bersikap matre, atau mamandang seseorang hanya dari kemampuan finansial. Namun sesuatu yang ingin kami sampaikan, adalah kehidupan berumah tangga memanglah harus ditopang dengan uang sebagai modalnya.

Untuk itu laki-laki yang menjadi kepala keluarga harusnya bertanggung jawab untuk mencari nafkah. Akan tetapi sebagai istri perempuan juga bisa berbuat hal yang sama, membantu suami untuk mencari uang. Jika ternyata sang lelaki malah bermalas-malasan dan tak perduli, wajar jika akhirnya istri minta diceraikan.

Lalu Tidak Adanya Komunikasi Baik yang Terjalin Antar Pasangan

Beberapa pasangan, mungkin akan benar-benar melihat watak asli dari pasangannya ketika nanti sudah menikah. Kamu mungkin tak lagi dimanja seperti dulu, diminta untuk selalu tak bertopang dagu pada suamimu, atau hal-hal lain yang tadinya kerap ia lakukan kini sudah tak lagi jadi keharusan.

Alih-alih sibuk dengan dunia masing-masing, kedua belah pihak tak lagi menjadikan komunikasi sebagai kebutuhan. Kalian mungkin ada dalam satu kamar untuk kemudian tidur berdua. Tapi jiwanya bisa jadi tak ada disana. Hasilnya? Berceria mungkin jadi jalan solusi yang segera dilakukan.

Hingga Perdebatan Terjadi Secara Terus Menerus Tanpa Ada Jalan Keluar

Dulu ia mungkin jadi pihak yang selalu mengalah dalam segala hal yang mungkin jadi pertentangan. Menuruti semua keinginanmu meski kadang ia sendiri tak suka. Terbiasa diperlakukan seperti itu, kamu mungkin masih akan tetap berlaku sama, tak berubah. Padahal ini bisa jadi sumber masalah.

Tak percaya? Cobalah sesekali tanyakan padanya. Apa sebenarnya pendapat yang ia punya, untuk sesuatu yang mungkin sedang kalian bicarakan berdua. Toh jika nanti pendapatnya dirasa kurang pas, kamu bisa memberinya pemahaman.

Sebab terus menerus bersitengang pada pendapat masing-masing tanpa mau mengalah, bisa jadi sumber masalah yang berujung pada perceraian karena merasa jengah. Tak dihargai sebagai suami atau istri.

Tak Ada Rasa Saling Memiliki, Sehingga Keintiman Dalam Hubungan Pun Hilang

Ini penting! Maka jika saat ini kamu sedang merasa bahwa perjalanan cerita rumah tangganmu kian tak tertolong. Cobalah tanyakan pada diri sendiri, seberapa jauh kamu menganggap ia sebagai orang yang kamu cintainya. Atau jangan-jangan kamu menikah hanya demi status saja?

Baik suami dan istri selalu ingin merasa dicintai, maka untuk itu cobalah mengerti dan belajar mencintai mereka. Belajar memahami mereka sebagaimana kamu ingin diperlakukan oleh dirinya. Karena tak dianggap dan merasa dilupakan, bisa membuat pasangan sakit hati dan membenci kita.

Atau Sebenarnya Memang Belum Benar-benar Siap Untuk Menikah

Ini mungkin akan terdengar sangat klise, sebab pada dasarnya sebagian orang memilih menikah bisa jadi hanya karena terpaksa. Desakan dari orangtua, cibiran dari lingkungan, bahkan usiapun kerap dijadikan alasan.

Perlu kamu tahu, menikah bukanlah sebuah perlombaan yang akan memenangkanmu jika jadi orang pertama. Lebih dari itu, ini adalah sebuah keputusan untuk jalan hidup yang akan kamu pilih. Maka untuk itu, menikahlah ketika kamu sudah merasa siap, bukan merasa didesak. Karena kalau memang belum siap, jangan heran jika tiba-tiba kamu merasa ingin menyudahinya saja.

Dan Terjadinya Kekerasan dan Pelecehan, Baik Secara Fisik Atau Emosional

Kekerasan tak hanya perkara pemukulan dan penyiksaan secara fisik semata. Kekerasan tak hanya ketika kamu menampar pasangan atau memaksanya kerja berat demi permintaan yang kamu inginkan.

Tapi juga pada hal lain yang mungkin tanpa sengaja kamu lakukan. Memakinya dengan kata-kata yang tak baik, memaksanya untuk berhubungan intim secara kasar, atau kerap berbicara kasar padanya dengan kata-kata yang tak sewajarnya.

Menyedihkan memang, hal-hal seperti ini jadi jejeran hal buruk lain yang sering membuat pasangan suami istri akhirnya memutuskan untuk berpisah dan menjali hidup masing-masing saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Uang Adalah Salah Satu Alasan Untuk Bekerja, Tapi Sudahkah Kamu Mengelolanya dengan Baik Sebagaimana Mestinya?

Dari sekian banyak alasan yang bisa kita sebutkan, tentang alasan untuk bekerja. Uang selalu jadi bagian penting yang akan disebutkan. Memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, makan, rumah tinggal, pakaian, dan barang-barang lain yang mungkin diperlukan.

Tapi sayangnya, kita kerap salah kaprah. Bahkan masih saja sering membeli barang yang tak sesuai pada peruntukannya. Selanjutnya, setelah sudah sampai pada titik lelah atas banyaknya barang yang dibeli namun tak berarti. Coba cek lagi, sudah sampai mana kemampuan kita dalam mengelola pendapatan yang diterima selama ini!

Kerja Rodi Bagai Kuda, Tapi Tabungan pun Tak Ada

Jika hal ini memang sedang kamu rasakan, itu artinya kamu tak punya kemampuan mengelola keuangan. Kalau tak percaya, coba hitung berapa gajimu selama memiliki sumber pendapatan, lalu bandingkan dengan saldo tabunganmu sekarang.

Padahal kalaupun gaji yang ditabung hanya 10 persen dari gaji, nilai ini sangatlah bermanfaat untuk masa-masa sulit yang mungkin terjadi di hari depan. Jadi, kapan mau mulai menabung?

Tak Memperdulikan Berapa Banyak Pengeluaran, Kamu Tak Tahu Uang yang Keluar Setiap Bulan

Sekilas kegiatan seperti ini mungkin terasa aneh bagimu, atau berpikir jadi sesuatu yang sudah teramat kuno. Gambarannya begini, kalau kamu tak tahu apa saja yang menjadi pengeluaranmu tiap bulan. Dengan membuat catatan pengeluaran yang teratur dan terinci, jelas akan membantu kita untuk tahu.

Sebab dengan begitu, kita tahu kemana uang yang dimiliki pergi. Dan rasa kehilangan yang sia-sia, juga tak lagi terasa. Karena kita tahu, kemana alokasinya.

Tagihan Kartu Kedit, Lebih Besar dari Gaji Bulanan

Nah, coba dipikirkan lagi apa sebenarnya alasanmu untuk bekerja. Jangan sampai, semua gaji yang kamu terima hanya akan habis untuk membayar tagihan kartu kredit yang kerap digesek tanpa tahu aturannya.

Tiap kali kita berbelanja, hanya dengan menggunakan kartu tanpa mengeluarkan uang tunai. Rasanya memang jelas membuat baagia, seolah apapun yang kita suka bias didapat dengan mudah. Padahal setiap kali kamu belanja dengan kartu kredit, itu sama saja dengan menambah jumlah hutang yang kamu punya.

Kartu kredit jelas membantu pada waktu-waktu tertentu, tapi kalau sudah keblalasan bisa-bisa jadi beban.

Bukan Perlu, Sering Kali Barang yang Dibeli Hanya Sekedar Ingin Saja

Demi memastikannya, mari kita lihat lagi barang-barang yang ada dalam lemari. Benarkah semuanya terpakai dengan baik, atau justru masih ada banyak barang baru beli yang belum tersentuh? Bukan karena butuh dan memang dirasa perlu, beberapa benda yang kita miliki sering kali dibeli hanya karena suka. Padahal, dipakainya jarang sekali.

Kontrol diri untuk lebih realistis lagi, dengan tak membuang-buang uang pada barang yang sejatinya tak diperlukan. Karena tak hanya meyelamatkan kita dari ancaman kehabisan uang, hal ini juga jadi upaya agar isi lemari tak dihiasi barang-barang tak perlu.

Dan Sering Menghambur-hamburkan Uang, Hanya Demi Terlihat Kekinian

Dalam seminggu, dua atau tiga kali kamu mungkin akan duduk manis di coffee shop. Menikmatian beberapa cangkir kopi, yang harga bisa jadi biaya bensin untuk satu minggu ke depan. Dan kalau akan dikalkulasikan, bisa-bisa budget untuk minum kopi saja kadang 40% dari total gaji kita.

Keinginannmu untuk terlihat kekinian, jelas jadi hak semua orang. Tapi bukan berarti juga kita harus membuang-buang uang hanya demi sebuah pengakuan. Biarlah orang akan memandang kita seperti apa adanya kita, yang terpenting kita mampu mengelola keuangan dengan benar dan sesuai keinginan.

 

 

 

 

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Siasat Jitu Untuk Menjawab Pertanyaan ‘Nyelekit’ dari Keluarga Saat Lebaran Tiba

Setahun sekali, kita menantikan 1 Syawal untuk bersilaturahmi dengan keluarga besar. Bermaaf-maafan, saling bertukar kabar, sampai bertanya seputar kesibukan yang sedang dilakukan sudah jadi bagian dari silaturahmi keluarga saat lebaran.

Tapi ada kalanya di tengah situasi yang kamu harapkan bisa berjalan kondusif, ada saja hal-hal diluar ekspetasi yang harus kamu hadapi. Misalnya, menghadapi pertanyaan ‘nyelekit’ berbau sindiran, sinisme, atau bahkan sarkasme pasti pernah kamu terima, bukan?

Begini, kuncinya yang terpenting ada pada dirimu yang menanggapi. Daripada dimasukkan ke dalam hati, cobalah untuk menanggapi omongan atau pertanyaan tersebut dengan senyuman. Ingat lho, di hari yang Fitri, sebaiknya rayakan dengan sepenuh hati.

Saatnya Kamu Memiliki Pengendalian Diri yang Baik, Kali Ini Kuminta Anggaplah Omongan yang Datang Sebagai Bentuk Perhatian…

Sebab ada banyak cara untuk mengungkapkan perhatian. Tak melulu dengan sikap yang positif dan omongan yang membangun. Sebab ada lho yang justru menunjukkannya dengan melontarkan pertanyaaan nyelekit seperti yang kamu rasakan. Angap saja begitu.

Anggaplah apa yang kamu terima sebagai bagian dari rasa perhatian mereka. Sukar memang, tapi cobalah untuk mengendalikan dirimu agar tidak terbawa perasaan atau emosi saat menghadapi omongan nyelekit dari saudara.

Memberi Senyum Adalah Hal Terbaik dan Terindah yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Membangun Komitmen untuk Saling Bermaaf-maafan

Di hari yang Fitri, kamu pasti ingin suasana kumpul keluarga terasa hangat dan membahagiakan. Langkanya intensitas bertemu dengan anggota keluarga yang lain, sebaiknya kamu manfaatkan untuk lebih sering lagi memberi senyum. Jangan hanya karena kamu menghadapi omongan atau komentar mereka yang begitu nyelekit, mood-mu jadi ikut berantakan.

Nah, untuk menghadapi situasi semacam ini, ya cukup senyum saja lalu beralih ke saudaramu yang lain. Cukupkan pembicaraan antara kamu dan dia yang melontarkan pertanyaan atau omongan tersebut, manfaatkan waktumu untuk berinteraksi dengan anggota keluarga yang lainnya juga ya.

Saat Mereka Bertanya, Sebaiknya Lontarkan Kembali Pertanyaan yang Serupa tapi dengan Nada Positif

Membangun image yang positif itu perlu. Seiring bertambahnya usiamu. Tapi tentu image yang dibangun harus dengan ketulusan hati. Seperti membuktikan kalau kamu pun sekarang sudah  bisa dewasa dalam menyikapi segala situasi yang mungkin menyulitkanmu.

Tunjukkan kalau pertanyaan atau komentar yang nyelekit tak akan mampu meruntuhkan mood baikmu dan ada baiknya kamu mengalihkan pembicaraan dengan melontarkan pertanyaan kepada si penanya.

Biasanya orang akan lebih tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang dirinya dibanding mendengarkan jawaban orang.

Kalau di Momen yang Sekarang Ini Kamu Masih Ditanya Soal Karier, Target Menikah, atau Mungkin Kapan Mau Memiliki Momongan, Hadapilah dengan Kepala Dingin dan Tetap Meminta Doa

Perihal bagaimana saudara, tante, paman, ya siapapun itu dalam lingkup keluarga besarmu yang suka bertanya soal ‘kapan’, lebih baik jawablah dengan sebijak mungkin. Tak perlu kamu emosi atau jadi malas mengobrol dengan mereka, semalas apapun itu, lawanlah egomu dan jawablah dengan tetap meminta doa. Jadi orang bijak memang sukar, tapi justru akan lebih baik untuk dirimu sendiri sekaligus belajar mengendalikan diri, bukan?

Di Hari dimana Kamu Merayakan Kemenangan, Jangan Mau Kalah dengan Situasi yang Suka Semena-mena

Coba pikirkan kembali, setelah satu bulan menahan hawa nafsu dan amarah, ini adalah momen kamu meraih kemenangan di hari Lebaran. Untuk itu, jangan mau terusik dengan omongan-omongan yang mungkin tak mengenakkan hatimu.

Fokuskan niatmu untuk menikmati kemenangan dan bersilaturahmi dengan keluarga besar. Toh merayakan dan menikmati kemenangan di momen Lebaran ini sepenuhnya hakmu sebagai manusia. Tak perlu lagi lah pusing-pusing mikirin mereka. Sebab belum tentu apa yang mereka ucapkan ini benar-benar dipikirkan sebelumnya.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Mengapa Laki-laki yang Sudah Melukai, Jadi Sosok yang Paling Sulit Hilang dari Hati?

Tenang, tenang ini bukan perkara belum move on atau tidak. Tapi jika saat ini, kamu sedang merasakan hal yang serupa, kamu tak sendiri.

Konon dia yang selama ini sudah berhasil melukis tawa, bisa saja jadi pihak yang melahirkan luka. Membuat kita bersedih, menangis hingga menimbulkan benci yang bisa merusak hubungan. Cinta pertama katanya akan selalu dikenang. Disisi lain, sejalan dengan itu, dia yang sulit dilupakan justru adalah sosok lelaki yang sudah melukai hatimu begitu dalam.

Berbagai upaya untuk melupakan sudah dilakukan, anehnya sosoknya justru selalu datang dalam pikiran. Lalu, apa hal yang sebenarnya menjadi penyebab dari ini semua?

Kamu Sudah Mencintai dengan Sangat Dalam, Namun Pada Waktu yang Bersamaan Ia Justru Memilih Pergi dan Melenggang

Gambarannya begini, kita mungkin sudah merasa ia adalah sosok yang akan menemani sampai akhir usia nanti. Hingga tak segan untuk percaya sepenuh hati, padahal si dia justru berbalik dan memilih untuk pindah ke lain hati.

Kecewa dan sakit hati itu wajar, karena biar bagaimana pun kita pernah saling sayang. Namun hal yang justru membuat kita sulit untuk melupakan adalah besarnya rasa sayang yang sudah kita berikan, beberapa saat sebelum ditinggalkan. Cinta boleh saja sudah dicurahkan, tapi memaksa orang lain untuk tetap tinggal jelas diluar kemampuan.

Mencoba Beralih pada Sosok yang Baru, Tapi Nyatanya Bayang-bayang Mantan Masih Seperti Hantu

Hal lain yang kita perlu ingat adalah, kisah cinta yang berakhir tak sesuai keinginan. Sudah menjadi takdir atas kehidupan. Tak bisa dicegah atau dihindari, mau tak mau memanglah harus dihadapi.

Setelah putus karena telah dilukai, beberapa orang memilih untuk buru-buru mencari mengganti. Seolah ingin membuktikan bahwa diri ini juga bisa hidup tanpa tanpanya. Tak apa memang, jika kita sudah menemukan orang yang tepat. Tapi biasanya, hal ini diputuskan hanya untuk sebuah pelarian.

Hasilnya? Bukannya membantu proses melupakan lebih cepat, menerima orang baru dengan buru-buru justru membuat kita merasa bersalah. Karena meski sudah bersamanya, sosok yang dibayangkan masih saja dia yang telah jadi cerita.

Bahkan Kenangan Buruk Akan Dirinya, Kerap Membuat Kita Takut Kembali Terluka

Bayangan yang ada dipikiran sekarang adalah dia yang tadinya kita cinta justru jadi pihak yang menggoreskan luka. Pelan-pelan membuat diri tak nyaman, sebab mencintai dia yang tadinya kita percaya akan membuat bahagia saja, akhinya berujung dengan sia-sia.

Selain hal buruk yang sering terbayang, memang masih ada jenis bahagia yang pernah dirasakan berdua. Namun, tingkat dari rasa sakit hati yang kita lalui terasa lebih tinggi. Beberapa kali demi memastikan diri, kita mungkin akan bertanya-tanya, mengapa dia yang kita cintai dengan tulus justru membuat hati terluka? Dan akhirnya kita pun masih sering tak bisa menerima orang yang sedang berusaha untuk mendekatkan hatinya kepada kita.

Takut Kehilangan Itu Sah-sah Saja, Tapi Tetap Mempertahankan Hubungan Jelas Bukan Pilihan

Tak ada yang salah dengan pilihan untuk tetap tinggal, barangkali hati mungkin berpikir bahwa sebentar lagi dia akan kembali seperti semula. Hal lain yang justru menjadi kesalahan adalah langkah apa yang akan kita ambil jika ternyata dia tak terlihat menunjukkan perubahan.

Bukan, itu jelas bukan cinta. Karena faktanya kita hanya takut kehilangan sosoknya saja. Sehingga apa pun yang ia lakukan, akan tetap kita terima dengan dada yang lapang.

Melepasnya Memang Tak Akan Mudah, Tapi Tetap Lelap Dalam Luka, Untuk Apa?

Proses melupakan seseorang yang pernah kita cinta, barangkali memang jadi sesuatu yang susah. Jatuh-bangun kita menyembuhkan luka, hingga belajar untuk ikhlas dalam menerima semua. Tak ada yang bilang ini akan mudah, tapi bukan berarti juga kita tak bisa.

Tanpa ada yang akan memaksa kita tetap tinggal lagi, sebenarnya kita berhak untuk memilih hal apa yang akan dilakoni. Namun, jika ternyata tetap berada disampingnya hanya akan membuat luka kian menganga, lantas untuk apa?

Belajarlah untuk lebih bijak dalam memilah-milah pilihan, tentang jalan mana yang harus kita ikuti dan jalani.

Cobalah Nikmati Masa Transisi Ini, Hingga Benar-benar Tak Ingat Lagi

Jangan dipaksakan untuk benar-benar melupakan dengan cepat, tapi tak juga tetap lelap dalam bayang-bayang pacar yang sudah pergi meninggalkan. Buka hati dan pikiran, lihat sosok mana yang benar-benar sayang, dan terima hal-hal yang memang sudah jadi ketentuan.

Sebab tak satu pun dari kita bisa menentukan, jalan cerita seperti apa yang besok terjadi atas kehidupan. Hal yang bisa kita lakoni hanyalah menunggu dan menjalani alur cerita yang sudah disiapkan untuk kehidupan kita.

Karena Bukan Tak Bisa Melupakan, Kamu Hanya Terlalu Mengingat Hal-hal yang Nyaman dan Lupa Pada Luka yang Juga Telah Ia Goreskan

Jika memang saat ini kamu masih saja berkutat pada proses melupakan yang tak bisa diijalankan. Cobalah fokuskan diri pada keinginan yang sedang ingin dijalani, bukan malah berdiam diri pada bayang-bayang bahagia yang dulu ada.

Tanamkan pada pikiranmu, jika lelaki itu pernah dengan tega melukai hatimu. Cobalah ingat kembali, bagaimana ia pergi meninggalkanmu saat sedang butuh, hingga tak adanya rasa bersalah dari dia yang sudah menorehkan luka.

Bukan berarti tak bisa melupakannya dia, hanya saja dirimu kurang giat mengingat luka hati yang telah dibuatnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top