Feature

Pendidikan Tak Selalu Jadi Tolak Ukur Untuk Sukses, Asal Punya Semangat Dan Ketekunan Yang Keras Siapa Pun Kamu Tentu Bisa

Tanpa disadari, kita sering terlalu mengagungkan pendidikan. Bahkan merasa bahwa semakin tinggi bangku sekolah yang diduduki, semakin tinggi pula peluang suksesnya nanti. Faktanya hal tersebut tak selalu benar, pasalnya menurut data Badan Pusat Statistik pada Tahun 2016 terdapat 695 ribu jiwa sarjana yang tercatat sebagai pengangguran.

Dari sini kita belajar, untuk tak lagi berpikir bahwa pendidikan adalah faktor utama yang harus kita punya. Lebih dari itu, yang kita butuhkan adalah kerja keras dan usaha. Meski tak memiliki titel, bukan berarti kita tak bisa sukses kan?

Mustahil Merubah Mimpi Jadi Kenyataan Dalam Waktu Cepat, Untuk Itu Kita Butuh Kerja Keras

Sebagai langkah awal untuk mejajal medan tempur dunia kerja, pendidikan mungkin jadi satu syarat yang membantu kita. Namun faktanya, segala mimpi yang kita punya tentu tak dapat diwujudkan dalam sekejap. Untuk itu kita butuh tenaga dan usaha lebih keras.

Bayangkan jika ini adalah titik awal dari sebuah lari maraton yang harus kita menangkan. Selain semangat yang membara diawal perjalanan, kita juga tentu harus menyimpan amunisi spirit yang sama hingga garis finish di depan. Semangat yang tetap menggelora dengan porsi yang pas jadi komponen utama untuk sebuah keberhasilan yang kita mimpikan.

Ijazah Hanya Meloloskanmu Pada Satu Seleksi Alam Saja, Selanjutnya Kamu Butuh Ketekunan Demi Mimpi Yang Jadi Dambaan

“Syarat : – Pendidikan Min S1”

Wajahmu mungkin akan terlihat lebih sumringah karena merasa akan diterima setiap kali melihat beberapa syarat saat melamar kerja. Benar memang, pendidikan tentu jadi salah satu hal yang harus kita punya. Tapi itu hanya meloloskanmu pada satu tahapan seleksi saja.

Karena tak hanya kerja keras dan semangat saja, kita juga butuh ketekunan yang konsisten untuk bisa tetap bertahan dan giat bekerja.  Sikap tekun yang kamu punya, perlahan akan membawamu kepada pemikiran baru. Dan tentu akan sangat membantu jalan menuju sukses yang kamu inginkan.

Kita Memang Berbeda Atas Gelar Sarjana Yang Kita Punya, Tapi Itu Tak Jadi Alasan Untuk Terlalu Memewahkan Diri

Untuk mendapat beberapa embel-embel di belakang nama, memang bukanlah perjuangan mudah. Kita punya berbagai macam cerita dalam 4 tahun untuk mendapatkannya. Alih-alih berbeda dengan mereka yang tak mengenyam pendidikan sama. Bahkan barangkali kita berpikir bahwa mereka tak akan bisa sama hebatnya dengan kita.

Lebih parahnya lagi, mungkin kita akan bersikap jauh lebih congkak dari yang lainnya. Padahal jika dipikirkan kembali ini adalah bumerang yang akan menghancurkan diri sendiri. Menutup diri dengan menganggap diri jauh lebih hebat dari orang lain, tentu akan membuatmu semakin kerdil dan tak dapat ilmu baru dari mereka.

Pendidikan Tentu Jadi Jembatan Penghubung Yang Siap Mengantarmu Menyeberang, Lebih Dari Itu Perangaimu Dalam Bekerja Jauh Lebih Menentukannya

Percaya atau tidak, selembar kertas yang kita sebut ijazah itu hanyalah modal untuk sampai di pintu interview saja. Lagipula ketika kamu sudah masuk dalam dunia yang kamu jadikan tiang kehidupan, ijazah tak lagi ada artinya, Sikapmu dalam bekerjalah yang akan menentukan nasib selanjutnya.

Untuk itu berhenti berpikir bahwa ijazah milikmu adalah segalanya, kecuali kamu memang tak mau bangkit untuk berubah.

Keyakinan Akan Diri Sendiri Jadi Tumpuan, Simpan Semua Keraguan Sekalipun Kamu Bukanlah Orang Yang Bergelar

Tak hanya ketekukan yang patut dimiliki, kamu juga harus punya kepercayaan diri yang tinggi. Jika kepala milikmu masih diisi oleh ketakutan akan mereka-mereka yang berpendidikan tinggi, segeralah hilangkan. Tapi kamu hanya perlu menghilangkan pikirannya, tidak dengan kepalanya.

Kepercayaan diri jadi gawai utama yang harus kita punya, agar mampu tetap berdiri untuk semua rintangan yang ada. Tak perlu ada alasan untuk merasa rendah diri, hanya karena kamu tak memiliki gelar atau pendidikan yang tinggi.

Berkaca Dari Banyaknya Sarjana Yang Masih Tak Bekerja, Nyatanya Titel Tak Menjamin Hidupmu Akan Mapan

Terlepas dari nasib setiap orang yang berbeda, kita tentu bisa melihat kenyataan yang ada di sekeliling kita. Berapa banyak mereka yang berstatus sarjana, tapi masih susah payah untuk sekedar cari kerja.

Bahkan tak sedikit pula yang akhirnya banting stir, menjajal pekerjaan yang seharusnya bukan untuk mereka. Kenyataan ini setidaknya bisa jadi gambaran untuk kita, bahwa pendidikan dan gelar yang kamu punya tak selamanya jadi tolak ukur untuk hidup yang lebih sukses dan bahagia. Siapa pun itu orangnya tentu bisa sukses, jika memang punya semangat kuat serta usaha yang keras untuk mewujudkannya.

Tak Perlu Kamu Pikir Pilihanmu Telah Salah, Karena Setiap Manusia Punya Jalan Sukses Yang Berbeda

Namun meski hidupmu mungkin terasa sedang berada pada jalan yang salah. Sudah punya gelar namun hidup masih terasa susah saja. Buang jauh-jauh pikiranmu itu, karena setiap orang punya garis tangan yang berbeda.

Cobalah untuk terus berusaha menjajal semua kesempatan yang ada. Meski tak punya embel-embel gelar di belakang nama, bisa saja kamu duduk disebuah kursi yang seharusnya untuk mereka yang bergelar. Sebaliknya untuk kamu yang mungkin sedang gundah, karena bekerja pada bidang yang tak mensyaratkan gelar sarjanamu, simpan semua gundahmu, maksimalkan semua kemampuanmu. Siapa tahu pekerjaan itulah yang justru kelak mengantarmu pada sukses yang kamu mau.

Bekerjalah Keras Sekuat Tenaga Sembari Berdoa, Semoga Semesta Memberi Apa Yang Kamu Minta  

Satu hal yang juga tak boleh kita lupa adalah tetap berdoa sembari bekerja. Kamu harus tahu bahwa semua hal yang bergerak di semesta, tentu ada dalam kendali sang empunya. Berilah modal untuk diri berupa semangat dan ketekunan yang tiada henti. Tapi juga jangan lupa untuk meminta izin pada Sang Pemilik Semesta.

Karena pada akhirnya apapun gelar pendidikanmu, kamu tentu bisa berhasil jika terus mencoba. Tak ada hukum yang menetapkan batasan siapa saja yang bisa sukses dan berhasil dalam hidupnya.

Siapa pun itu orangnya, tentu bisa berhasil! Termasuk kamu yang sedang membaca tulisan ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jadi Istri yang Baik, Tak Cukup Hanya Modal Cantik

Punya makna ganda, setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda untuk mendefinisikan kata cantik. Banyak dijadikan sebagai acuan, beberapa perempuan terlalu fokus untuk menjadi cantik tanpa memahami bagaimana arti cantik sesuai dengan dirinya. Apalagi untuk kamu yang saat ini sedang bersiap untuk menikah.

Yap, perkara menjadi seorang istri sehabis menikah memang bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap perempuan akan dihadapkan dengan babak baru dengan berbagai macam lika-liku. Pada titik inilah, kamu mungkin akan paham bahwa untuk menjadi istri yang baik tak cukup hanya modal cantik.

Lagipula selalu ada pertimbangan bagi seorang laki-laki yang akan mempersuntingmu jadi istrinya. Dan ‘cantik’ bukanlah jadi alasan yang pertama, sebaliknya ada hal-hal lain yang perlu kamu kuasai untuk menjadi seorang istri yang (baik) dimata sang suami.

Selepas Jadi Istri, Dirimu Juga Akan Menjadi Seorang Ibu, Sudahkah Kamu Siap Untuk Itu?

Selepas menikah, jika memang sudah berencana untuk memiliki momongan. Masa transisi untuk menjadi seorang ibu, juga akan dipenuhi dengan berbagai macam drama kehidupan berumah tangga. Maka penting untuk kamu bisa belajar mempersiapkan diri dari sekarang.

Cobalah untuk mengulik ilmu-ilmu dasar menjadi seorang perempuan yang akan memiliki bayi kecil. Bagaimana kamu akan membawanya selama 9 bulan, melahirkan, merawat dan membesarkan dan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi dengan benar. Sudahkah kamu bersiap untuk itu semuanya?

Mandiri dan Tidak Manja, Juga Jadi Modal Baik untuk Mendidik Anakmu Nantinya

Walaupun laki-laki dan perempuan tercipta dengan porsi tenaga yang berbeda. Kamu tak boleh hanya berpangku tangan saja, menunggu bala bantuan dari pasangan. Beberapa perkara perlu dikerjakan seorang diri dan mampu mencari jalan keluar untuk semua masalah yang dihadapi.

Ketika kamu berhasil menjadi sosok seorang istri dan ibu yang mendiri, setidaknya kamu sudah punya acuan untuk mendidiknya seperti kemampuan yang kamu miliki. Tak spesifik untuk diturunkan kepada anak yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, karena setiap anak perlu dididik untuk menjadi mandiri dalam kehidupan.

Lihai Dalam Menguasai Pekerjaan Rumah dan Berbagi Tugas Bersama

Jangan salah kaprah, memintamu untuk menguasai pekerjaan rumah, bukan berarti ingin menjadikanmu sebagai sosok yang paling banyak bekerja. Coba pahami pelan-pelan, karena sebenarnya ini akan jadi kerjasama yang baik dengan pasangan. Mampu mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar dan selalu membuka diri untuk terus belajar.

Akan berada di dalam rumah lebih sering daripada si suami, ada beragam hal yang akan kamu hadapi tanpanya. Untuk itu, penting mempersiapkan diri dalam menerima kemungkinan lain yang bisa terjadi. Bukan tentang hal-hal berat yang mungkin tak bisa kamu kerjakan, tapi lebih ke kemampuan dasar pekerjaan rumah yang biasa seorang istri lakukan.

Bijak dalam Mengatur Ekonomi, Semua yang Dibeli Harus Selalu Diperhitungkan dengan Teliti

Setiap perempuannya, umumnya akan jadi pemegang keuangan dalam keluarga. Kamu akan bertugas untuk mengatur semuanya yang diperlukan. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang dan perintilan lain yang diperlukan. Tak boleh diputuskan dengan asal-asalan, ketelitian dalam mempertimbangkan sesuatu dengan matang amat perlu untuk berbagai macam kebutuhan.

Kamu harus bisa mempertimbangkan, segala biaya yang akan dikeluarkan. Pentingkan kursi baru yang rencananya akan kamu beli bulan depan. Sampai penentuan berapa batas biaya yang akan dikeluarkan untuk liburan keluarga setiap tahunnya.

Ya, semua ada perhitungannya. Dan istri yang baik, pasti tahu bagaimana mengaplikasikan perhitungan ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

Serta Mampu Mengatur Emosi dalam Berbagai Macam Persoalan di Kehidupan Sehari-hari

Kehidupan rumah tangga, menjadi seorang istri dan ibu, jelas tak hanya tentang sesuatu yang bahagia. Ada kalanya kamu akan bertengkar dengan suami, lelah karena kenakalan anakmu, atau frustasi atas kesulitan lain dalam menjalankan peranmu. Ini memang berat, tapi bukan berarti kamu tak bisa kuat.

Itulah mengapa, penting sekali untuk bisa mengotrol diri dengan baik. Mengatur kapan harus marah dan kapan harus meredam semuanya. Diam tak selalu jadi pertanda jika kita kalah, tapi juga membuktikan seberapa besar kita bisa menang atas ego diri sendiri. Dengan catatan, si suami pun melakukan hal yang sama seperti yang kau yakini.

Setidaknya, kini kamu punya gambaran. Bagaimana menjadi istri yang baik dan benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Keputusanku untuk Keluar dari Grup WhatsApp Pertemanan yang Isinya Semakin Tak Karuan

Selain mengurangi dosa, keluar dari grup whatsapp yang isinya cuma ujaran kebencian atau hal-hal menyebalkan lain. Kamu juga harus siap dimusuhi oleh kenkawan. Ya, mau bagaimana. Terus berada di sana hanya membuat kita sakit kepala, tapi memutuskan untuk pergi pun bukanlah hal yang mudah.

Namun dengan alasan kesehatan mental diri sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk menarik diri dan keluar. Jangan tanya berapa kawan yang tiba-tiba nge-japri secara personal, hanya untuk bertanya “kenapa keluar?”, karena banyak ternyata whoaa. Bahkan dia yang tadinya, cuma ada di daftar kontak saja tiba-tiba chat dan bertanya kenapa.

Begini, perjalanan hidup beserta segala tetek bengeknya sudah terasa susah. Aku tak mau menambah beban untuk diriku sendiri, dengan tetap berenang dalam kolam toxic yang buat kepala pusing bukan kepalang.

Tak bisa diputuskan dengan mudah, langkah ini kuambil setelah berbulan-bulan berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Dan memang, jawaban yang kutemui adalah “Untuk apa tergabung pada mereka yang suka menyebar sesuatu yang berujung dengan kebencian dan arah yang makin tak jelas?”. Maka untuk itu, aku memutuskan keluar dari grup pertemanan demi hidup yang lebih tenang.

Kamu yang sedang membaca ini, mungkin sedang merasakan hal yang sama. Tapi masih sibuk bergelut untuk mencari jawaban dan keputusan apa yang harus dilakukan. Demi membantumu, ada beberapa alasan yang membuatku akhirnya memutuskan keluar dari grup pertemanan.

Mereka Tak Mau Mendengar Pendapat yang Berbeda, Dimatanya Dia yang Paling Benar dari Semua Manusia

Yap, hal-hal yang kerap memancing emosi adalah sikap keras kepala yang selalu menganggap dirinya paling benar dari kawan di grup.

Gambarannya begini, seorang teman mengirimkan satu tautan ke grup, yang ternyata sebagian besar isinya adalah berita bohong yang tak berdasar. Mencoba untuk membantunya mengerti, barangkali memang kurang memahami.

Kemudian saya membalas kirmannya, dengan tautan lain yang lebih bisa dipercaya. Tapi sayang, pembahasan mana yang salah dan mana yang benar justru berakhir dengan pernyataan bahwa aku terlihat merendahkan kemampuannya dalam memahami satu fakta.

Satu dua kali mungkin masih bisa diterima, tapi kalau setiap teguran atas kesalahannya selalu dianggap merendahkan. Itu artinya ia memang tak mau mendengar pandangan lain yang berbeda. Lalu tiba-tiba saya teringat satu nasehat yang tak tahu entah dari siapa. “Berdebat dengan orang yang tak mau membuka diri akan pendapat orang lain, tak akan ada habisnya”.

Terlalu Sering Membaca dan Menyaksikan Perdebatan Politik Cebong dan Kampret, Ternyata Jadi Beban

Tanpa harus kujelaskan, kamu pasti paham. Bagaimana panasnya suasana jelang musim politik seperti sekarang ini. Masing-masing kubu sering mempermasalahkan sesuatu diluar hubungan pertemanan. Iya, membawa masuk politik hanya untuk menjatuhkan pilihan teman lain yang mungkin berbeda.

Aku yang masih bingung akan menyebrang ke mana, hanya bisa diam melihat bagaimana mereka berkutat dengan masing-masing pendapatnya. Semua berkata pilihannya benar. Sampai-sampai aku sering berpikir, ‘Memangnya apa susahnya sih, menerima pendapat orang?’

Bukan tak peduli akan apa yang mereka perdebatkan, sebagai seseorang yang sedang mencoba untuk jadi warga negara yang baik. Tentu saja aku mengikuti semua perkembangan berita politik. Tapi membawa hal tersebut masuk ke pertemanan, bukanlah sesuatu yang tepat. Apalagi kalau hanya untuk dijadikan bahan berdebat. Percayalah, itu menganggu dan jadi beban untuk pikiranmu.

Belum Lagi Tren Hijrah yang Kian Galak Digadang-gadang oleh Teman Lainnya

Jangan buru-buru emosi! Karena sesungguhnya Hijrah di mataku adalah perbuatan yang baik dan sungguh sangat kukagumi. Sayangnya, beberapa orang yang melabeli diri sedang ‘Hijrah’ justru tak menunjukkan ke-hijrah-annya. Mereka semua adalah temanku dan bisa dibilang aku hampir bisa tahu, bagaimana mereka sejak dulu.

Lalu, dengan alasan hijrah kemudian datang kepada kita untuk memberikan satu dua kata petuah yang seringnya jadi kalimat penghakiman. “Harusnya kamu begini”, “Kamu tak boleh begitu” hingga “Menurutku, harusnya…”

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat atas kajian dan pemahaman agama yang sudah mereka dapatkan. Berupaya terlihat jadi sosok yang paling “Suci” kupikir bukanlah bagian dari ‘Hijrah’ yang benar. Dan jujur ini jadi sesuatu yang amat menyebalkan.

Bahkan Ketika Sudah Keluar Saja, Masih Ada Teman yang Bersikap Menyebalkan

“Ah elunya aja yang sok-sokan, buktinya banyak yang masih di group kok. Walau nggak pernah bahas politik atau masalah hijrah kaya alasan lu”

Yap, itu adalah salah satu kalimat yang dikirimkan seorang teman. Ketika aku menjawab pertanyan yang ia ajukan. Dia tak tahu saja, bahwa sebenarnya beberapa orang di dalam mungkin juga sudah gerah dan tak bisa menahan tetap di sana. Cuma belum menemukan keberanian saja untuk bilang, “Maaf aku keluar grup ya teman-teman”

Setidaknya, ini jauh lebih baik walau  harus menerima sanksi dibenci oleh beberapa teman yang tadinya punya hubungan baik. Tak apa, biarlah mereka menilaiku semaunya. Satu hal yang pasti, aku hanya ingin mengoptimalkan waktu dan energi pada mereka yang memberiku kekuatan positif. Bukan mereka yang tahunya menyebar informasi bohong dan sibuk sok jadi paling benar sendiri.

Tapi Sebelum Keluar dari Grup Pertemanan, Cobalah Pikiran Beberapa Pertanyaan Ini

  1. Masihkah kamu merasa nyaman dengan obrolan yang ada atau justru resah karena mulai terlihat gaduh dan tak terarah?
  2. Bagaimana fungsi grup berjalan, jadi wadah untuk berbagi kabar atau ajang untuk adu debat dan ngotot-ngototan?
  3. Adakah pengaruh baik yang kamu dapatkan dari sana atau justru jadi beban yang menganggu pikiranmu?
  4. Tahukan mereka waktu yang tepat untuk berdebat? Jangan sampai karena grup tersebut, kamu kehilangan fokus untuk pekerjaanmu
  5. Dan yang terakhir, masihkah kamu menganggapnya sebagai grup pertemanan untuk tetap mempertahankan hubungan atau hanya sekedar jadi tameng untuk bisa saling serang?
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Usah Terlalu Diumbar, Kemiripan diantara Kalian Belum Bisa Jadi Jaminan Melenggang ke Pelaminan

Relationship goals yang dikira orang selama ini bukan hanya yang selalu membagikan foto-foto bahagia di media sosial. Ada yang beranggapan relationship goals adalah saat kamu punya pasangan dengan hobi, kebiasaan, dan aneka sifat yang sama denganmu. Karena kesamaan itu, menurutmu pasti tipikal pasangan semacam ini akan terus adem ayem dan tak ada masalah yang cukup berarti.

Nyatanya tak selalu demikian. Kesamaan sifat atau kesukaan tak menjamin kebahagiaan dan hubungan yang langgeng. Misalnya, kamu dan pasangan dikenal sama-sama keras kepala, kalau dipaksakan bersama yang ada satu sama lain lebih sulit menyesuaikan dan tak ada yang mau mengalah. Pusing sendiri kan? Untuk itu, kesamaan tak menjamin kebahagiaan.

Jangan Takut dengan Perbedaan, Hubungan Asmara Justru Lebih Berwarna untuk Dilakoni

Kita ambil saja contoh dari pasangan Nick Jonas dan Priyanka Chopra. Keduanya bukan hanya beda usia, namun datang dari budaya yang berbeda sekaligus karier yang bertolak belakang. Namun perbedaan yang dijalani keduanya malah berakhir indah. Sebagai orang Amerika, Nick perlahan-lahan belajar adat sang istri yaitu India sehingga pengetahuannya pun bertambah. Tidak sia-sia kan punya pasangan yang berbeda?

Perbedaan karakter pun baik. Menurut hasil penelitian yang pernah dipublikasikan oleh Psychology Today, pasangan dengan karakter beda justru lebih langgeng bila dibandingkan dengan pasangan yang serba sama. Ini karena pengalaman yang dirasakannya dalam hidup lebih bervariasi.

Kalau Sama-sama Perfeksionis, Hati-hati Ada Momennya Kamu Tersiksa Saat Salah Satu dari Kalian Berbuat Kesalahan

Ukuran perfeksionis seseorang sejatinya berbeda-beda. Ada yang perfeksionisnya tinggi, ada yang sedang-sedang saja. Tingkat perfeksionis ini dapat memengaruhi bedanya ukuran prinsip masing-masing. Yang sedikit fatal adalah kalau salah satu dari pasangan melakukan kesalahan, bisa jadi pasangan satunya lagi tidak bisa mentolerir dan menunjukkan kekesalannya secara langsung. Semoga saja kamu tak mengalami hal semacam ini ya kawan.

Sama-sama Dikenal Ramah dan Peduli Pada Orang Lain, Ada Masanya Kalian Langsung Cemburu

Menjadi pribadi yang baik ke sesama dan selalu memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu memang sangat baik. Hanya saja, hati-hati, jangan sampai lantaran kamu sibuk peduli dan menolong orang, waktumu selalu habis untuk orang lain sementara pasangan yang memerlukan keberadaanmu justru tak mendapat respon sama sekali. Alhasil, muncul rasa cemburu. Kalau kamu tidak bisa memanipulasi pikiran sendiri, bisa terjadi konflik lho kawan.

Kalau Kalian Sama-sama Haus Prestasi, Siap-siap Saat Menikah Nanti Selalu Saingan Karier Siapa yang Lebih Tinggi

Misalnya kamu di kondisi kalau kamu dan pasanganmu adalah sosok yang sama-sama berpengaruh di lingkungan kerja. Jabatan kalian juga tinggi dan selalu bekerja keras demi suksesnya perusahaan. Akhirnya, kalian disibukkan dengan jadwal di sana-sini.

Tapi, kalian tak mungkin kan sibuk terus kan? Terlebih saat pacaran, tentu harus bisa meluangkan waktu. Pun saat berdiskusi, bukan berarti kamu dan pasangan jadi saling menyibukkan diri pamer prestasi masing-masing. Ada lho karakter seseorang yang tak mau kalah saat pasangannya berada di puncak karier. Apa iya kamu saingan dengan pasanganmu sendiri?

Pasangan yang Keduanya Romantis Namun Punya Sisi idealis, Kalau Sedang Bosan, Justru Riskan Membanding-bandingkan

Buat kalian, pacaran itu harus romantis dan mengupayakan yang terbaik. Kamu pun bersyukur karena kamu menemukan pasangan yang sama-sama mendukung dan mampu bersikap romantis satu sama lain. Mungkin idealisme semacam ini terdengar bagus.

Tapi hubungan itu juga tak bisa selalu romantis. Pasti akan ada masalah tertentu. Selain itu, kalau terlalu sering romantis dan kadarnya berlebihan, bukannya justru membosankan? Di saat yang bosan inilah, rentan membanding-bandingkan hubungan dengan pasangan lain yang kamu lihat. Kawan, berhentilah membandingkan. Tuntutan untuk meniru pasangan lain ke pasangan sendiri justru bisa jadi beban lho.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top