Feature

Pelan-pelan Kita Memang Harus Melepaskan Orang-orang Toxic, Termaksud Dia yang Menjadi Pacar

Menjalin hubungan dengan mereka ini, seringnya jadi sesuatu yang akan berujung sia-sia. Jadi untuk apa?

Waktu berjalan, hubungan yang ada kian memperlihatkan kekuatannya. Entah untuk semakin mengeratkan kedekatan atau justru sebaliknya. Dia yang tadinya selalu bersemangat mendengarkan cerita kita. Mendadak berkata bosan karena selalu jadi tempat keluh kesah. Padahal dulu, hal itulah yang diajukannya sebagai kemampuan untuk memenangkan hati kita.

Pun begitu sebaliknya, dirimu yang mungkin tadinya selalu bersikap tenang dan bijaksana dalam berbagai macam situasi. Mendadak merasa kesal dan selalu emosi hanya karena ia tak lagi punya waktu untuk mendengar ceritamu. Jika situasi ini sedang kamu alami, percayalah kamu tak sendiri. Diluar sana ada banyak orang yang mungkin juga sedang bernasip sama. Tapi, bagaimana kamu harus belajar melepas pihak-pihak yang membuat hidupmu kian susah, akan jadi pilihan selanjutnya.

Mencintai Memang Jelas Tak Mudah, Tapi Jika Hubunganmu Justru Melahirkan Kebencian, Untuk Apa?

Jangan pernah menyalahkan situasi atau rasa, sebab individulah yang kadang salah dalam mengartikannya. Coba ingat dulu, hal kuat apa yang dulu membuatmu menjadikannya sebagai pacar untuk kisah cintamu. Seringnya kita hanya fokus pada satu titik yang dianggap jadi kelebihan, hingga tanpa sadar buru-buru membuat keputusan. Padahal bisa saja ia juga memiliki kekurangan lain yang mungkin tak sejalan dengan apa yang kita harapkan.

Beberapa pasangan yang saling mencintai pun kerap terlibat dalam pertentangan, perbedaan pandangan, hingga keinginan yang tak sejalan. Tapi cinta selalu datang untuk meredam, bukan untuk melahirkan kebencian. Maka jika semua perdebatan bersama dengan pasangan justru membuat kita semakin membencinya, ada hal yang memang perlu dievaulasi dari hubungan kita. 

Coba Pelajari Dulu, Sejauh Mana Hubungan Toxic yang Telah Terjadi dalam Hubunganmu

Lahirnya kebencian, jelas selalu jadi induk dari semua permasalahan. Untuk bisa memahami hal ini, kita perlu melihat sejauh mana hal buruk itu telah berkuasa atas hubungan. Sudah terlalu parah atau masih bisa dibenahi?

Perkara ini memang jadi sesuatu yang cukup rumit, karena persoalan yang ada dalam hubungan. Sering datang dari hal-hal yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan. Dan dia yang menjadi Toxic selalu berperan sebagai pihak yang disakiti, padahal sesuangguhnya ialah yang mungkin jadi penyebab dari masalah yang kita alami.

Jengah dan lelah, barangkali jadi dua hal yang sering mendera rasa. Tapi jika kamu bukanlah satu-satunya pihak yang bersalah. Mari pelan-pelan cari akar masalahnya.

Kita Juga Mesti Paham, Jika Situasi Ini Akan Tetap Ada Jika Tak Ada yang Mau Mengalah

Dari beberapa kasus yang pernah terdengar, pihak-pihak yang menjadi pasangan kadang sudah sadar. Jika sebenarnya hubungan yang sedang dijalaninya adalah sesuatu yang tak sehat. Dalam artian, ia sadar ada yang memang tak wajar. Tapi dengan alasan cinta dan berpikir masih sayang, ia terus dan tetap bertahan. Meski hati dan kesehatan mental jadi taruhan.

“Dia sayang kok sama aku, buktinya selalu ngelakuin apapun yang aku mau” aku seseorang jika ditanya mengapa tak mau melepas sang pacar padahal mereka terus bertengkar. Percayalah ini hanya perasaan sesaat yang lahir dari ketakutan kita akan kehilangan. Selanjutnya akan terus berlanjut dan berulang, yang jelas juga akan melahirkan kekecewaan.

Mulailah mengalah, tapi bukan untuk berdiam diri dan tak melakukan perlawanan pada situasinya. Tapi mengalah dengan pelan-pelan melepaskan mereka yang jadi toxic dalam perjalanan hidup kita.

Memangnya Sudah Tak Cinta? Ya Masih, Tapi…

Perkara cinta memang selalu jadi sesuatu yang sulit kita pahami. Tapi bukan berarti juga jadi alasan untuk terus berdiam diri dalam situasi yang menyiksa hati. Begini, kita boleh saja masih mengaku cinta pada si dia. Tapi jika situasi sudah berubah dan kian terasa menyiksa, lantas untuk apa?

Kita masih merasa membutuhkannya, begitu pula dengan dia yang selalu berusaha membuat kita merasa dicintai dan disayangi dengan begitu baiknya. Tapi anehnya, hubungan ini justru terasa membosankan, tak membuat kita tenang. Selalu ada kecemasan yang hadir dalam benak kita. Takut jika ini akan menyakiti kita sendiri, atau juga menyakiti dia yang kita panggil kekasih.

Situasi Ini Jadi Racun dan Pelan-pelan Akan Melukai Diri Sendiri

Hal yang perlu kita sadari, toxic tetaplah toxic!

Alasan yang kita jadikan untuk tak mau berpisah memang terdengar sangat klise dan banyak dipakai untuk berlindung dari ketakutan akan kehilangan. Halah, pakai bilang masih cinta, padahal cuma takut tak ada yang menemani malam mingguan saja! Jadi kenyataan lain dibalik ungkapan masih cinta yang sering kita suarakan.

Bertahan mungkin bisa saja, karena akan ada masa dimana ia bisa kembali manis dan bersikap baik seperti semula. Tapi juga akan kembali bersikap menyebalkan seperti yang sudah-sudah. Mau terus begitu?

Takut Tak Bisa Melanjutkan Hidup Tanpanya Itu Biasa, Tapi Bukan Berarti Kita Tak Bisa

Bersamanya dalam waktu yang cukup lama, sedikit banyak memang pastilah menyisahkan ketergantungan. Kita takut, jika harus berpisah akan kehilangan arah, tak punya teman bercerita, hingga kegiatan lain yang mungkin terasa tak bisa dilakukan jika tak bersamanya.

Takut? Padahal belum juga dilakukan. Tanpa bermaksud untuk membuatmu segera meninggalkan sang pacar. Ini jadi fakta lain yang mulai harus kamu pikirkan. Ingat kembali bagaimana kamu menjalani hidupmu sebelum ada dia. Jika semuanya pernah baik-baik saja, maka hal serupa juga bisa kamu lakukan meski tanpa dia.

Maka, Tetap Bertahan atau Pelan-pelan Melepaskan, Jadi Keputusan yang ada di Tangan

Setelah perjalanan panjang dan banyaknya pertimbangan yang sudah dipikirkan. Keputusan akhir selalu jadi jawaban. Masihkah kita akan tetap bertahan dengan dia, atau belajar untuk berani melepasnya. Dia mungkin boleh saja memaksa untuk tetap tinggal, tapi jawaban akhir selalu ada ditangan kita.

Sebagai pihak yang merasa, kamu pastilah tahu. Sejauh mana hubungan itu telah menyiksamu, hingga langkah mana yang sebenarnya harus ditempuh. Berada diantara orang-orang toxic, akan selalu membuat kita merasa tersiksa. Begitu pula dengan mencintainya. Untuk itu, belajar melepaskannya secara perlahan adalah sesuatu yang kita butuhkan.

Bukan tanpa alasan, kadang kala terjebak dalam sebuah hubungan toxic, tak melulu jadi kesalahan. Dari berbagai macam kasus, hubungan tak sehat akan semakin terlihat ketika relasi yang dijalin sudah berjalan beberapa waktu. Awalnya, kita bisa saja merasa bahwa dia adalah sosok yang memang akan memenuhi segala kekurangan diri. Tapi pelan-pelan, kenyataan mungkin berkata lain. Karena bersamanya sekian lama, justru menyadarkan kita. Bahwa ternyata dia bukanlah orangnya. 

Dan tak hanya untuk hubungan bersama pacar saja, persahabatan yang toxic pun perlu ditinggalkan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kenali Tanda Rekan Kantormu Menyebalkan, Tak Usah Buang-buang Waktu untuk Mengajaknya Berteman

Hampir semua orang memiliki sisi yang menyebalkan. Coba saja tanya ke teman-temanmu. Pun tak menutup kemungkinan kalau kamu bisa bertemu orang yang menyebalkan di mana pun. Ketika ada seseorang yang memiliki sisi menyebalkan, tak masalah kalau kamu mau menghindari berurusan dengan orang yang seperti itu.

Ini mungkin kamu akan tahu kalau kamu tak akan tahan dengan sifatnya. Kawan, sesekali menjaga jarak dengan orang yang memiliki hal-hal negatif itu baik lho. Kalau kamu memiliki teman dan dia memunculkan tanda-tanda seperti ini, kamu harus berhat-hati ya!

Senang Di Atas Penderitaan Orang Lain

Hal ini mungkin jarang ditunjukkan oleh beberapa orang. Tapi kalau kamu punya teman yang menunjukkan kebahagiaannya padahal ada temannya yang sedang tertimpa musibah, sebaiknya kamu jaga jarak saja dengan teman tipikal semacam ini. Ia mungkin tak terlihat tertawa.

Tapi selentingan atau nyinyiran yang keluar dari mulutnya jadi pertanda kalau dia ini punya karakter senang kalau ada temannya yang menderita. Bukankah jauh lebih baik bertemu dengan teman yang mampu bersimpati dan berempati?

Ia tak Kelihatan punya Rasa Tanggung Jawab Terhadap Pekerjaannya

Saat seseorang mendapatkan suatu tanggung jawab untuk melakukan sesuatu, pasti setidaknya dia akan memiliki rasa tanggang jawab itu. Tapi ada lho,  beberapa orang yang tak punya rasa tanggung jawab tinggi. Mereka cuek saja dengan tanggung jawab yang sejatinya dibebankan padanya.

Kalau orang semacam ini ada di lingkup kerja atau di kantormu, bukankah yang ada hanya merugikanmu? Bisa saja, kalau kamu meminta tolong sesuatu dan dia mengiyakan di awal, tapi pada akhirnya dia tak melakukannya, jadinya menyebalkan, kan?

Kamu Merasa Tak Nyaman Saat Berada di Dekatnya

Saat kamu menghabiskan waktu bersama seseorang atau berada dekat dengan orang semacam ini, kamu akan merasakan energi atau aura yang muncul dari orang itu. Saat kamu berkumpul dengan teman-temanmu, tiba-tiba ada salah satu temanmu yang membuatmu merasa tak nyaman. Bisa karena perilakunya, atau hal-hal kecil yang ditunjukkan, lho. Ini juga menjadi sebuah tanda bagi kamu untuk mempertimbangkan apakah dia adalah teman yang baik atau kurang baik.

Faktanya, Banyak Teman yang Mulai Mengingatkanmu

Saat kamu mengenal sosok yang menurut orang-orang menyebalkan, maka saat berurusan dengannya kamu juga harus berhati-hati. Kamu butuh pendapat orang-orang terdekat kamu atau setidaknya caritahu tahu orang seperti apa dia. Ini tindakan antisipasi yang kamu lakukan untuk berhati-hati untuk berteman dengan orang lain lho.

Dia Tak Pernah Merasa Bersalah

Kesalahan bisa dilakukan secara sengaja atau tak sengaja. Saat orang merasa melakukan sesuatu yang salah, normalnya dia akan merasa tak enak atau merasa ganjal. Namun, kalau kamu bertemu orang yang melakukan kesalahan dan dia justru tak menunjukkan rasa bersalah atau semacamnya, kamu harus merasa janggal dengan hal ini. Dia malah menunjukkan sikap santai-santai saja. Kamu patut curiga dengan karakter dia yang sebenarnya.

Setidaknya kamu berhati-hati dengan karakter orang yang malah akan memberikan efek nagatif untuk kamu, ya. Kamu harus bisa memilih mana yang bisa menjadi teman dekatmu.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jangan Paksa Seseorang Kembali Ceria Jika Sedihlah yang Ia Rasa

Tak selalu bahagia, beberapa kejadian mengerikan bisa datang begitu saja. Mendapati pacar yang selingkuh dengan sahabatmu, rekan kerja yang mendadak pindah tak lagi bisa bertemu, hingga kabar dari ibu yang minggu ini harus masuk rumah sakit lagi.

Silih berganti, kesedihan bisa saja menyelimuti hati. Menganggu saraf bahagia dan menggantinya dengan satu ketakutan yang luar biasa pada diri kita. Situasi ini jelas diluar ekspektasi, karena kalau bisa memilih pastilah kita ingin bahagia sampai mati. Dipandang jadi sesuatu yang menakutan, kesedihan selalu kita jadikan momok yang harus segera dihilangkan.

Dikubur secepatnya, dan harus berganti dengan bahagia seperti kata-kata orang bijak di sosia media. Jika bahagia bisa dirayakan dengan begitu baiknya, mengapa kesedihan selalu kita anak tirikan?

Tak Seharusnya Dibedakan, Bahagia dan Sedih Memang Haruslah Ada dalam Kehidupan

“Sudahkah anda bahagia hari ini?” atau “Jangan lupa bahagia”, barangkali jadi jargon yang bertebaran di media sosial. Dibuat dengan dasar kepedulian, kita semua berlomba-lomba untuk mencari bahagia sampai pada celah paling sempit yang ada.

Seolah lupa pada teka-teki yang ada, sedih dan bahagia memang sudah ditakdirkan akan datang kapan saja pada hidup kita. Karena memang begitulah, hidup yang sesungguhnya. Perjalanan ini adalah misteri, banyak hal tak terduga yang mungkin menghampiri. Jika bahagia bisa membuatmu tertawa, maka kesedihan harusnya bisa diterima dengan serupa.

“Akui – nikmati – dan tak perlu ditutup-tutupi”

Meminta Orang Lain Segera Bahagia Memang Elok Didengar Telinga, Padahal Kau Tak Tahu Sebesar Apa Dukanya

“Sudahlah, lupain aja. Masih banyak yang bisa buat kamu bahagia” jadi kalimat lazim yang mungkin sudah kita gunakan ratusan kali pada beberapa teman. Berperan sebagai malaikat yang akan memberi penghiburan. Kita berusaha mengumpulkan petuah-petuah ajaib yang nadanya serupa. “Kamu harus bahagia”.

Padahal, tak hanya bahagia. Menangis setiap kali bersedih pun dipercaya mampu membuat seseorang menenangkan pikirkannya. Tak tahu seberapa dalam lobang menganga di hatinya, daripada sibuk memintanya melepaskan semua sedihnya. Bersedia memberikan telinga untuk mendengar keluh kesahnya jadi sesuatu yang lebih ia perlu.

Pelan-pelan Mulai Membandingkan Sedihnya dengan Orang Lain yang Lebih Nelangsa

Antara ingin terlihat bijak dan berwawasan luas atau memang berniat untuk menghibur seorang kawan. Menyuruhnya membuka mata, tentang kehidupan menyedihkan lain yang lebih parah dari pengalamannya. Seolah terlihat wajib untuk disampaikan pada mereka.

Mendorongnya untuk segera bahagia dengan membandingkan kesedihannya dengan orang lain jelas tak jadi jalan keluar. Karena semakin mencoba untuk menghilangkan semua kesedihan, akan selalu ada celah yang membuatnya justru kian muncul ke permukaan. Diharapkan akan hilang dari ingatan, luka yang diminta hilang justru kian terasa dalam pikiran.

Terlalu Takut Pada Sesuatu yang Terasa Berat, Kita Lupa Bahwa Hidup Takkan Sempurna Jika Hanya Ada Bahagia

Coba bayangkan sebentar, kamu hidup dengan segala kelimpahan dan bisa mendapatkan apa saja yang kamu inginkan tanpa usaha yang perlu keras. Lalu ingat kembali, tawa dengan air mata dari ibu kala melihatmu diwisuda. Bagaimana ayah memelukmu sambil bercurah air mata, ketika kamu berhasil naik jabatan tanpa butuh waktu yang lama.

Sejatinya, manusia bisa merasakan berbagai macam emosi dengan cara bersamaan. Tertawa sampai menangis, bahagia sampai terharu. Semua itu terjadi begitu saja, menandakan bahwa hidup kita memanglah sempurna. Tak perlu takut berlebihan dengan kesedihan, biarkan mereka menangis jika memang sedang berduka. Dan berhenti memintanya tertawa jika ia memang sedang ingin diam saja.

Sebab Setiap Orang Punya Tingkat Ketakutan dan Kesedihan yang Berbeda, Kita Tak Punya Hak untuk Memintanya Menyudahi Sedihnya

Beberapa orang hidup dengan dirundung masalah yang tak terbanyak banyaknya. Kawanmu mungkin pernah dipukuli oleh kekasihnya, anak yang jadi korban perceraian orangtuanya, hingga seseorang yang mungkin pernah hampir diperkosa oleh kerabat dekatnya. Lalu masihkah kita merasa berhak untuk memintanya segera bangkit dari sedihnya?

Membiarkan dia diam dalam sedihnya bukan berarti kita tak peduli kepadanya. Tapi, ada hal lain yang sedang kita sadari. Bahwa saat ini, bersedih mungkin memang jadi sesuatu yang ia butuhkan. Mengambil langkah untuk memaksanya berbahagia saat hatinya sedang berkabung, bukanlah sesuatu yang membantu. Sebaliknya, berusahalah untuk bisa mendengarnya dan membantu sebisanya. Bukan memaksanya untuk bahagia.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Hidupmu akan Lebih Baik Jika Kamu Berani Melakukan 7 Tantangan Ini!

Setiap orang pasti menginginkan hidupnya menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Namun untuk merealisasikannya tentu bukan hal yang mudah. Banyak orang yang tak tahu bagaimana harus memulai langkah guna memperbaiki hidupnya. Coba lakukan 7 tantangan ini, jika kamu berhasil melakukannya, kamu akan mendapatkan hidup yang lebih baik di masa depan.

1. Tantang Dirimu untuk Fokus pada Hidupmu dan Berusaha Mengembangkan Kemampuanmu

Bisa dibilang saat kamu berpikir rumput tetangga lebih hijau, cobalah untuk memberikan air lebih banyak pada rumputmu sendiri. Tantanglah dirimu sendiri untuk berusaha fokus pada apa yang kamu miliki dan mengembangkannya. Pastikan kamu paham apa yang menjadi kelemahan dan kekuatanmu.

2. Tantang Dirimu untuk Melepaskan Hasrat Berlebihanmu dan Lebih Menikmati Hidupmu

Saat kamu memiliki hasrat yang berlebihan atas suatu hal, cobalah untuk menantang hidupmu dengan melepaskannya dan mencoba menikmati apa yang ada dalam hidupmu. Tak semua hal yang ada di dunia ini bisa kamu jangkau dengan mudah, kamu harus paham jika ada beberapa hal yang bisa terjadi di luar kendalimu.

3. Tantang Dirimu untuk Konsisten dalam Melakukan Sesuatu

Saat kamu berpikiran ingin melakukan suatu hal yang baru, cobalah untuk menantang dirimu agar lebih konsisten dalam menjalankan sesuatu. Apapun kendala yang kamu hadapi, tetaplah berada di jalur yang kamu inginkan dan tetaplah berusaha untuk melakukannya dengan konsisten.

4. Tantang Dirimu untuk Memilih yang Paling Kamu Takuti dari Dua Pilihan

Saat kamu dihadapkan dengan dua pilihan, cobalah untuk menantang dirimu sendiri dengan memilih hal yang paling kamu takuti. Karena dengan memilih hal paling kamu takuti, kamu akan tumbuh dengan lebih baik dan lebih cepat.  Pilih yang sulit dan yang paling kamu takuti agar kamu belajar untuk bekerja lebih keras.

5. Tantang Dirimu untuk Tidak Menyalahkan Diri Sendiri

Saat kamu melakukan sebuah kesalahan dan kamu sadar akan hal itu, cobalah menantang dirimu untuk tak menyalahkan diri sendiri. Tantanglah dirimu sendiri untuk bisa memaafkan segala kesalahan yang sudah kamu perbuat. Cobalah untuk menjadikan sebuah kesalahan itu sebagai salah satu media pembelajaranmu agar tak lagi mengulanginya di masa depan.

6. Tantang Dirimu untuk Membalas Semua Cacian Orang Lain dengan Kebaikan

Tak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan pula. Saat kamu menemui ada orang yang meremehkanmu, cobalah untuk menantang dirimu dengan membalas pandangan rendah mereka dengan kebaikan.

7. Tantang Dirimu untuk Tetap Tenang dan Fokus pada Apa yang Harus Kamu Jadikan Prioritas

Saat kamu memikirkan sesuatu secara berlebihan, cobalah menantang dirimu sendiri untuk tetap tenang. Tentukanlah mana yang memang sudah seharusnya kamu jadikan prioritas. Kendalikan dirimu dan usahakan untuk selalu fokus.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top