Feature

Para Pekerja Shift Malam Adalah Barisan Para Pejuang

Mereka ini disebut manusia kelelawar, sebab bekerja pada malam dan tertidur saat siang.

Dan tak hanya jam kerja yang berbeda, sebenarnya ada banyak hal lain yang kami rasakan dengan hati was-was. Tak sepenuhnya serupa, meski katanya sama-sama bekerja pada shif malam, tentu setiap tempat memiliki aturan dan sistem yang berbeda.

Seorang kawan yang bekerja pada sebuah pabrik, konon memiliki kemungkinan untuk bisa beristirahat sejenak selama pekerjaannnya sudah selesai, bisa saja. Tapi tidak bagi pekerja yang di tempat berbeda. Sebut saja di rumah sakit atau klinik 24 jam yang harus selalu siaga jika ada pasien yang tiba-tiba butuh pertolongan. Bayangkan sepanjang malam, ketika orang lain sedang tidur, mereka justru harus selalu terjaga.

Jam Kerja yang Baru Otomatis Merubah Jam Biologismu dan Tingkat Sensitivitas

Menjalani kehidupan yang bertolak belakang dengan hal-hal biasanya dilakukan orang tentu bukan sesuatu yang mudah. Bahkan butuh waktu lama untuk mampu beradaptasi.

Bagaimana tidak, tubuh yang terbiasa tidur saat malam mau tak mau harus tetap aktif meski malam. Pelan-pelan jam biologis tubuh pun ikut berputar. Bahkan karena masih jadi kebiasaan baru, perubahan jam biologis ini sering membuat kita mengantuk di jam kerja.

Bahkan lelahnya bekerja juga berpengaruh pada hal lain pada tubuhmu, salah satunya menjadi lebih sensitif dari biasanya karena kurang beristirahat dengan baik. Bahkan para pekerja shift malam memiliki tingkat stres lebih tinggi dari mereka yang bekerja siang.

Tak Boleh Serampangan, Bijak dalam Mengatur Waktu Adalah Sesuatu yang Dibutuhkan

Jika malam bekerja, siangnya cukup tidur dan istirahat di rumah.

Begitu kira-kira yang mungkin ada dalam bayangan kita, padahal untuk menjalaninya tentu tidak semudah bicara. Ada saja faktor lain yang datang tanpa diundang. Memaksa kita tetap beraktivitas pada siang hari, padahal nanti malam masih harus tetap bekerja dan menguras pikiran.

Ini memang bukanlah sesuatu yang main-main, sebab salah dalam mengatur waktu bisa berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan. Berpengaruh pada pekerjaan, hingga menganggu kesehatan. Jangan biarkan semuanya berantakan, buatlah jadwal yang teratur untuk memilah-milah hal mana yang akan kamu lakukan.

Satu Sisi Ini Memang Tak Membosankan, Tapi Kerap Membuat Hati Tak Karuan

Faktanya ada masa dimana kita tak akan masuk malam lagi, dan ini jadi poin penting penyejuk hati. Ya, ada sisi berbeda yang kita rasakan. Sehingga pekerjaan yang ada, tak terasa monoton hanya karena begitu-begitu saja.

Dan barangkali ini jadi salah satu nilai positif yang bisa kita rasakan, hidup berjalan lebih dinamis. Karena selain beban pekerjaan malam yang terasa berat, ada hal lain yang mengobati hati.

Hidup yang dijalani terasa lebih berwarna karena tak terpaku pada jam kerja yang sama.

Hingga Perasaan Was-was Jika Sewaktu-waktu Terserang Penyakit

Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli, orang yang bekerja secara shift dipredikasi lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan dan masalah kesehatan.  Mulai dari obesitas, resiko tekanan darah, perubahan nafsu makan, hingga diabetes. Dan semua itu dikarenakan perubahan jam biologis yang ikut berubah.

Nah, demi menanggulanginya, baiknya kita berolahraga, menerapkan pola makan sehat, tidur dan istirahat secukupnya, hingga berhenti mengonsumsi alkohol dan kafein terlalu banyak.

Meski pada dasarnya siapa pun bisa terserang penyakit, namun ada baiknya kita berusaha mencegah sebelum nanti semuanya terjadi.

Dan Tak Hanya Jam Kerja, Kehidupan Sosial Pun Turut Serta Berubah

Saat kita sedang beristirahat di siang hari, teman-teman lain mungkin sedang bekerja. Namun saat mereka sudah kembali ke rumah, sebaliknya kitalah yang mau tak mau harus bekerja. Situasi ini memaksa kita untuk mengurungkan beberapa pertemuan dengan orang-orang, hingga mengubah kehidupan sosial. 

Ini mungkin akan susah, sebab waktu luang yang kita punya tidak sama dengan yang mereka miliki.

Siklus kerja dan jam istirahat kita memang berbeda dengan mereka yang bekerja dari pagi sampai sore, untuk itu pulalah kita patut berbangga. Sebab kita ini adalah pejuang yang sebenarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ternyata Laki-laki Bertubuh Pendek Lebih Sering Marah Dibanding Mereka yang Tinggi

Kalau harus diperhatikan, seorang lelaki yang bertubuh pendek ternyata lebih sering marah dan mudah terbakar cemburu dibanding mereka yang lebih tinggi. Tapi ini bukan sekedar perkiraan biasa. Karena dari hasil temuan para ilmuwan yang melakukan penelitian di Centres for Disease Control di Atlanta, ternyata lelaki bertubuh pendek lebih mudah terpancing emosi.

Menariknya lagi, penelitian yang dilakukan terhadap setidaknya 600 lelaki berusia 18 sampai 50 tahun ini, juga menemukan bahwa laki-laki bertubuh pendek juga lebih mudah emosi dan melakukan kekerasan dibanding mereka yang bertubuh  tinggi.

Hasil dari penelitian tersebut berkata, bahwa mereka yang pendek menganggap dirinya kurang maskulin yang kemudian bisa memicu tingkat ketakutan dan amarah dalam diri mereka.

Sumber : The Mirror

Disamping itu, penelitian lain yang dilakukan ilmuwan di Universitas Oxford juga mengungkapkan jika alasan seseorang bertubuh pendek lebih mudah marah sebenarnya sangat sederhana. Rasa percaya diri yang kurang, ditambah anggapan masyarakat tentang orang pendek kurang menarik, menjadikan mereka lebih mudah marah hingga berpikir negatif.

Namun tak selalu buruk, karena selain hasil temuan yang tadi sudah disebutkan. Peneliti tersebut juga menemukan fakta bahwa tak semua laki-laki bertubuh pendek lebih mudah marah. Karena, penelitian lain juga menemukan bahwa beberapa laki-laki pendek bahkan memiliki kesabaran yang lebih baik. Beberapa dari mereka juga memiliki rasa percaya diri tinggi, bahagia yang natural dan kemampuan menerima diri sendiri yang lebih baik.

Sumber : YouTube

Dengan kata lain, kita pun harus tahu jika faktor fisik bukanlah satu-satunya pemicu untuk seseorang, (khususnya laki-laki) kehilangan rasa percaya dirinya. Karena biasanya, ada beberapa hal lain yang juga mempengaruhinya. Mulai dari faktor ekonomi, lingkungan, keluarga, dan pekerjaan yang dimiliki.

Karena tinggi pendeknya seseorang kadang bukanlah sebuah jaminan bahwa ia mudah marah, cemburu atau tak percaya diri. Karena semuanya itu, kembali pada masing-masing pribadi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Melanie Putria dan Angga ‘Maliq & D’Essentials’, Resmi Bercerai!

Berbeda dengan Angga yang tak tampak dalam persidangan, Melanie Putria terlihat hadir dengan didampingi oleh kuasa hukumnya, pada sidang perceraiannya, yang digelar di Pengadilan Agama Jakarta Barat, kemarin Senin (21/1).

Dan atas kesepakatan bersama, keduanya akhirnya resmi bercerai sebagaimana hasil putusan yang dibacakan oleh hakim.

“Hari ini dikarenakan bukti sudah cukup, keterangan saksi juga sudah menguatkan alhamdulillah hari ini juga sekalian putusan. Sudah resmi bercerai,” ujar Indah Dewi Yani, kuasa hukum Melanie saat ditemui di Pengadilan Agama Jakarta Barat, dikutip dari laman detik.com.

Ternyata proses perceraian keduanya sudah sejak lama dilangsungkan dan sepakat berpisah dengan baik-baik. 

Sebelumnya, keduanya menikah pada 7 Maret 2010 lalu. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Sheemar Rahman Purariredja. Jarang terlihat dalam gosip miring, keduanya tampak mesra di sosial media. Namun, mendadak harus berpisah setelah 8 tahun berumah tangga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dihargai Rp. 1.500/Kg, Petani di Banyuwangi Buang Buah Naga ke Sungai

Dinilai tak mendapat harga yang cukup mempuni, beberapa petani buah Naga di Bayuwangi terlihat membuang hasil panen ke sungai. Hanya dihargai sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram (kg). Tindakan para petani yang membuang buah naga ke sungai ini jadi salah satu bentuk protes atas merosotnya harga buah tersebut.

Dikutip dari laman Detik.com, Hari candra setyawan (29), warga Dusun Silirbaru Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi mengaku, anjloknya buah naga di Banyuwangi membuat dirinya merugi.

“Terpaksa saya buang ke sungai karena memang tidak laku. Dijual pun juga tidak nutut dengan ongkos petani,” ujarnya kepada wartawan, Senin (21/1/2019).

Dan dari foto dan video yang beredar luas di dunia maya, konon kegiatan membuang buah naga tersebut adalah kali kedua. “Ini bentuk protes kami karena buah naga dari Banyuwangi tidak laku dipasarkan. Kemarin kita buang 100 kilo. Ini lebih banyak lagi. Hampir 200 kilogram,” tambahnya.

Dianggap tak bisa mengembalikan modal, beberapa petani buah naga di wilayah sekitaran Banyuwangi, yakni di Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, akhirnya mempersilahkan masyarakat untuk memetik sendiri buah naga di kebunnya.

“Silakan kalau mau ambil sendiri di kebun. Gratis. Harga tidak nutup dengan ongkos petik,” ujar Ukri, dikutip masih dari laman yang sama.

Situasi ini sudah berjalan sekitar 2 minggu lebih, padahal menurut Ukri para petani baru bisa dikatakan mendapat untung jika harga buah naga diatas Rp. 6.500/kg.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top