Feature

Nikah Muda, Yakin Bahagia?

“Capek kuliah, lelah bekerja, maunya nikah saja”

Kalau kau pikir, menikah bisa jadi solusi dari semua masalah dan lelahmu. Kamu salah kawan! Membangun pernikahan, berarti membagi kebahagian. Oleh sebab itu, jangan cari bahagia dalam pernikahan, karena ia karena ia tak ada di sana.

Coba bayangkan, beban yang tadinya hanya datang dari perkara hidup sendiri akan bertambah karena ada pasangan yang juga punya masalahnya sendiri. Benar memang, kamu juga akan merasa bahagia, tapi untuk bisa begitu tentu tak mudah. Tak berniat untuk menciutkan nyalimu yang sedang ingin menikah, tapi apa kamu yakin menikah muda bisa membuatmu bahagia?

Tak Hanya Bahagia yang Bertambah, Beban dan Tanggung Jawab Juga

Kamu dan pasangan memang akan saling membahagiakan, tapi bagaimana dengan beban? Apa kamu tega membiarkannya menanggung semuanya? Tentu tidak kan?.

Seorang teman yang memutuskan menikah di awal masuk kuliah, pernah bercerita. “Tadinya aku pikir, bakalan lebih tenang karena ada suami yang setiap hari bersama. Ternyata, bebanku justru bertambah, karena selain masalahku sendiri. Aku juga harus berbagi peran untuk menyelesaikan masalah suami”. 

Kewajiban baru sebagai suami atau istri, mau tak mau memaksa kita untuk berbagi beban. Berpikir menikah akan mengurangi kesusahan, nyatanya pilihan ini malah melipatgandakan kesusahan. Tak ada pernikahan yang salah, tapi jika kamu pikir itu bisa membuatmu lepas dari semua persoalan. Maka pola pikirmu lah yang salah.

Bahagia di Luar Belum Tentu Begitu di Dalam

Biar kutebak, kamu pasti sering terlena kan oleh postingan kawan-kawan di Instagram? Potret-potret manis dengan sang istri hingga wajah lucu dari bayi mungil yang baru saja mereka hasilkan. Tapi itu kan penampilan luar, apa yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Bisa jadi berbeda, dengan apa yang mereka tampilkan.

Berbagai macam hal bisa jadi mereka pikirkan. Terikat dalam hubungan, tak bisa berbuat banyak hal tanpa seizin pasangan, hingga hal-hal lain yang kadang membuat hati sedih sendiri. Di usia yang serupa, teman lain masih bisa leluasa untuk pergi kemana saja untuk mewujudkan mimpinya. Di sisi lain, kamu yang menikah mungkin sedang menanggun beban. Pusing memikirkan banyaknya tagihan dan kebutuhan.

Berharap Bisa Menyelesaikan Masalah, Tekanan Justru Berdatangan Banyak dari Berbagai Arah

Yap, kamu mungkin memang tak lagi menerima tekanan dari keluarga. Tak lagi dicibir oleh tetangga, karena pacaran bertahun-tahun lamanya. Satu masalah selesai, dan berharap bahagia mulai datang untuk dirasakan. Meski sebenarnya apa yang kamu terima justru jauh dari dugaan.

Kamu mendadak harus bangun pagi untuk memasak untuk suami, bekerja keras untuk membantu biaya kuliah istri, mulai berhemat beli mesin cuci, hingga hal-hal lain yang akan jadi tuntutan kehidupan. Menikah memang bukan tentang bahagia, tapi jika kamu mau bersabar sedikit saja. Bukan tak mungkin kamu bisa selalu bahagia, karena sudah mempersiapkan semuanya dengan matang tanpa diburu-buru usia.

Kalau Tak Pintar Mengontrol Diri dan Emosi, Bisa Berdampak Buruk Pada Jiwa dan Hati

Emosi yang masi belum bisa stabil saat menikah muda, dinilai jadi alasan pertama yang kerap melahirkan masalah. Apalagi jika usiamu dan pasangan tak jauh berbeda, atau masih sama-sama muda. Tak ada yang berinisiatif untuk meredam amarah, tak mau mengalah dan tetap pada ego yang dipercaya. Fase seperti ini mungkin akan membuatmu paham, kesiapan emosional sangat penting untuk pernikahan. Tak bisa mengelolanya dengan baik, kamu bisa sedih sendiri hingga membuatmu deresi.

Memotong Masa Muda, Ada Penyesalan yang Bisa Saja Kau Rasa

Menerima ia sebagai suami atau istri, berarti kamu sudah siap untuk berbagai hampir separuh hidupmu untuknya. Kamu harus memasak untuknya, mengurus ia tiap kali lelah, atau bekerja keras untuk memberinya nafkah dan kehidupan yang layak. Sudah sibuk mengurus popok bayi, sedangkan teman lain masih bernafsu untuk mewujudkan mimpi.

Setiap orang memang memiliki jalan cerita yang berbeda, tapi jika kamu pikir ini adalah takdir yang memang harus kamu terima, jelas salah.Padahal, seharusnya kamu bisa merubah takdirmu. Menghindari menikah muda yang memutuskan untuk meneruskan pendidikan setinggi-tingginya, misalnya.

Untuk Bisa Santai Ketika Didesak untuk Menikah Memang Susah, Tapi Kamu Berhak Menentukan Apa Saja

Aku paham bagaimana beratnya tekanan yang mungkin kamu emban. Hingga desakan lain yang kadang membuat diri gelap mata. Hingga buru-buru memutuskan untuk menikah saja, agar diri lebih tenang dari semua persoalan yang ada. Walau fakta yang kau terima, persoalan hidup justru kian rumit saja.

Kamu mungkin tak enakan, sulit untuk menolak tawaran orangtua atau desakan keluarga. Tapi coba sekali saja, beranikan diri untuk bisa bersuara tentang apa yang ingin kamu jalani. Pikirkan lagi, apakah menikah muda memang jadi sesuatu yang kamu ingini? Jika ternyata tidak, cobalah untuk menolak. Sampaikan alasan yang kamu punya. Karena kamu selalu jadi pihak penentu tentang apa saja yang akan terjadi dalam hidupmu sendiri.

Jangan Sampai Menyesal, Cobalah Pikirkan Matang-matang!

Merasa masih bisa berpikir jika memang nanti tak cocok pada suami atau istri kita. Memang bukanlah pemikiran yang salah. Biar bagaimana pun kita selalu berhak untuk melakukan apa saja yang dirasa benar. Tapi bagaimana jika nanti penyesalan itu datang setelah kamu sudah punya anak? Memberikannya situasi yang berat jelas salah, walau katamu tak apa, pasti selalu ada rasa berdosa yang akan menghampirimu setiap harinya.

Tak ada yang perlu dikerja, tak pula harus buru-buru. Cobalah berpikir lebih tenang, agar tak menyesal.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Untuk Laki-laki, Cintailah Perempuanmu Seutuhnya Bukan Sebutuhnya!

Sebelum berhasil mendapatkan hati seorang perempuan, konon laki-laki akan berbuat apa saja untuk merebut hatinya. Sialnya, setelah resmi menjadi pacar atau suami. Beberapa lelaki justru berubah, tak lagi semanis dan sebaik saat sedang pendekatan. Seolah ada yang hilang dari mereka, perempuan yang paham pasti akan bisa melihat perbedaannya.

Padahal, salah satu tanggung jawab seorang lelaki selepas menjadi pacar atau suami adalah dengan mencintai pasangannya secara utuh bukan hanya ketika sedang butuh. Pacar atau istrimu bukanlah sebuah benda yang bisa kamu cari ketika kamu inginkan dirinya. Untuk itu, selalulah bijak dalam bersikap. Perlakukan ia baik sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

Jangan Hanya Tahu Berkata Cinta, Kamu Wajib untuk Tetap Menjaga Semua Rasa

Sebagaimana yang tadi sudah dijelaskan diatas, para kaum adam selalu akan bersikap manis untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Maka untuk bisa menilai seberapa teguh ia pada janjinya adalah bagaimana ia bersikap setelah sah menjadi pacar atau suami.

Sebagai perempuan kamu bisa melihat, masihkah ia bersikap sama manisnya atau sudah berbeda dan lupa pada janjinya. Dan teruntuk para lelaki, tanpa harus diperingati, harusnya kamu paham bagaimana bersikap sebagai seseorang yang jantan. Tak lari dari semua yang kamu ucapkan dan selalu bertahan demi cinta kepada sang perempuan.

Tak Ada Manusia yang Sempurna, Jangan Pergi Hanya Karena Perempuanmu Banyak Kurangnya

Setelah menjadi pacarnya, kamu mungkin baru tahu jika ada beberapa kekurangan yang ia miliki. Entah sesuatu yang kurang berkenan atau hal lain yang mungkin tak kamu sukai. Tanpa harus buru-buru kabur dan pergi karena ia punya banyak kekurangan. Cobalah untuk membicarakan semua yang menurutmu kurang berkenan dan sebaiknya dihilangkan.

Dengan begitu perempuanmu bisa tahu, apa yang perlu dilakukannya demi membuat dirimu nyaman. Ingat, hubungan akan bisa berjalan dengan baik jika ada komunikasi yang baik. Jadi jangan main asal pergi ya.  

Karena Mencintai Tanpa Berharap Balas adalah Bentuk Lain dari Cinta yang Sesungguhnya

Seorang laki-laki yang memang sungguh-sungguh mencintai tak akan pernah bosan untuk terus memberi perhatian. Lebih dari itu, ia akan selalu bersikap sebagai pahlawan untuk  memenuhi semua yang dibutuhkan seorang perempuan. Ia memberi dengan tulus, karena merasa perempuannya layak mendapatkan itu.

Kamu perlu tahu, jika rasa cinta yang tulus tak pernah ragu-ragu. Itulah mengapa seorang laki-laki akan rela berbuat apa saja tanpa berharap mendapat balasan dari perempuannya. Hingga kelak kamu akan sadar bahwa cinta yang kalian berdua miliki adalah sesuatu yang luar biasa berbeda dari yang biasanya.

Tak Boleh Sampai Salah, Perempuanmu adalah Tulang Rusuk Bukan Tulang Punggung

Untuk urusan mencari nafkah atau berbagi materi ketika masih pacaran, tentulah tak salah. Sebagaimana lelaki yang bekerja, perempuan pun punya hak serupa untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi dengan catatan, sebagai laki-laki kamu tetap jadi pihak yang bertanggung jawab atas kehidupan dan mencari materi untuk kebutuhan.

Tetapi jika kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, dimana kamu menjadikan perempuanmu sebagai tulang punggung keluarga. Itu artinya ada yang salah dengan pemahamanmu sebagai laki-laki untuknya.

Akan Selalu Ada Masalah, Tapi Bukan Berarti Kamu Bebas Meninggalkannya

Hubungan yang baik bukan yang tak pernah diterpa masalah. Pada beberapa fase kehidupan dan percintaan, akan ada yang namanya pasang surut untuk hubungan. Kalian mungkin akan bertengkar, saling marah dan menyalahkan, merasa jengkel atau kecewa pada pasangan, hingga kepada pertengkaran lain yang bisa membuat kita hampir menyerah.

Tapi, seorang lelaki tak pantas menjadikan hal semacam ini sebagai alasan untuk meninggalkan perempuannya. Kamu bertanggung jawab untuk tetap menyelesaikan masalah. Bahkan jika memang tetap harus berpisah, kamu tak boleh pergi begitu saja. Tetap bertahan dan jelaskan kepadanya apa yang menjadi sumber masalah dalam hubungan kalian berdua.

Dan Bersikaplah Baik dengan Sepenuhnya, Bukan Hanya Ketika Kamu Membutuhkan Dirinya Saja

Tak peduli apa yang akan terjadi, kamu patut untuk selalu berjaga atas rasa cinta pada si dia. Tetap bertahan dan memperlakukannya baik sepanjang waktu, bukan hanya ketika dirimu butuh dan ingin dia ada di dekatmu. Jangan egois dengan hanya mementingkan dirimu sendiri saja, kamu juga perlu sadar bahwa perempuanmu juga tak suka jika kamu hanya mencarinya ketika sedang butuh saja.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Makin Tua Makin Malas Beli Baju Baru di Lebaran, Kenapa?

Selain bisa berkumpul dengan formasi lengkap, hal lain yang paling dinantikan saat lebaran adalah aktivitas membeli baju baru. Tapi itu dulu! Karena semakin tua kita, ada rasa makin malas untuk membeli baju baru setiap kali lebaran tiba.

Entah berlaku padamu juga, selepas masa-masa sekolah rasanya membeli baju saat lebaran tiba bukan lagi jadi sebuah kebutuhan yang harus digenapi. Karena kadang-kadang, baju lebaran tahun lalu saja hanya dipakai satu kali. Sehingga ada rasa enggan, jika harus beli baru lagi.

Nah, selain alasan yang tadi sudah disebutkan. Kira-kira kenapa sih ketika kita sudah dewasa hasrat untuk membeli baju di lebaran ikut memudar?

Posisi di Keluarga Bergeser, Kini Ada Keponakan yang Wajib Diberi THR

Dulu, kita mungkin jadi si penerima THR dari semua sanak famili. Mulai dari orangtua, kakak, abang, om, tante. Bude, pakde dan semua keluarga besar. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, posisi kita saat ini bukan lagi jadi si penerima. Tapi si pemberi THR kepada mereka yang lebih muda. Entah itu sepupu yang masih kecil atau keponakan-keponakan. 

Barangkali, hal ini pulalah yang membuat pandangan kita berubah. Daripada membeli baju untuk diri sendiri, lebih baik uangnya dibagikan pada keponakan dan sepupu saja. Meski tak banyak, melihat senyum mereka kadang jauh lebih membanggakan daripada saat mengenakan baju baru saat lebaran.

Kita Lebih Bijaksana, Baju Baru di Lebaran Kadang Hanya untuk Dipamerkan Saja, Lalu untuk Apa?

Mari pikirkan dulu, sebenarnya apa sih esensi dari baju baru setiap kali lebaran? Mungkin tak semuanya, tapi sebagian besar dari kita kerap menjadikan lebaran sebagai ajang adu gaya dengan baju baru yang kita kenakan. Entah itu pamer ke tetangga, keluarga besar, atau kepada orang-orang yang ada di masjid serupa tempat kita melakukan salat ied bersama.

Dulu, hal-hal seperti ini menyenangkan, kita anggap sebagai pembuktian diri bahwa kita bisa lebih cantik atau lebih tampan dari orang lain dengan baju yang kita kenakan.

Sekalinya Ingin Beli Baju Baru, Lelah Sendiri Melihat Banyaknya Orang di Toko atau Pusat Perbelanjaan

Yap, satu minggu jelang lebaran. Biasanya semua gerai toko baju dan pusat-pusat perbelanjaan sudah dipenuhi oleh pengunjung yang berburu baju lebaran. Jangankan untuk ikut terjun dan bergabung bersama ratusan orang yang sudah terlihat ramai itu. Melihatnya saja kadang kita sudah pusing duluan.

Terdengar sebagai salah satu alasan dari orang malas memang. Tapi percaya atau tidak, di usia yang sudah sedewasa ini kita sering menghindar dari keramaian-keramaian seperti itu. Rasanya, tak kuat jika harus ikut antri dengan memanjang sampai ke meja kasir.

Lagipula Masih Banyak Baju yang Layak dari Tahun-tahun Sebelumnya, Pakai Itu Saja

Coba ingat lagi, berapa kali baju lebaran tahun lalu kamu pakai? Tiga kali, dua kali, atau cuma sekali di hari H lebaran saja? Nah, dari situ kita bsia menarik kesimpulan jika nyatanya baru lebaran yang sering membuat kita gelap mata biasanya hanya dipakai satu kali saja.

Lain hal jika kamu membeli baju lebaran yang modelnya bisa ke berbagai acara. Mungkin bisa dipakai pada kesempatan lainnya. Karena baju tahun lalu masih baru dan layak untuk dipakai, maka tak perlu membeli baju baru lagi. Cukup pakai baju lebaran tahun lalu saja. Toh masih bagus kan?

Daripada Uangnya Dipakai untuk Membeli Baju, Lebih Baik Ditabung untuk Kebutuhan Lain

Pertimbangan untuk membeli baju baru, perlu memakai logika. Tentang berapa budget yang akan kita keluarkan untuk satu setelan baju. Lalu bayangkan lagi, adakah hal lain yang bisa kita dapat dengan jumlah yang sama. Dan jawabannya tentu saja ada.

Entah itu untuk membeli kebutuhan kursi kerja baru untuk di rumah, menambah biaya pemeliharaan kendaraan, atau ditabung untuk hal-hal penting lain yang kerap terjadi di luar dugaan. Bukannya mau melarang, tapi orang dewasa akan lebih teliti untuk membuat suatu keputusan. Termaksud beli baju lebaran baru.

Alasan Lainnya, Semakin Tua Kita Semakin Tak Merasa Butuh Pula dengan Baju Baru

Lebih dari sekedar baju baru, ada hal lain yang lebih kita butuhkan. Kesiapan diri selepas bulan Ramadan, perubahan sikap yang lebih baik, sampai pada berbagai macam persiapan lain untuk berbagai macam rencana yang hendak dilakukan. Karena biasanya, setelah berhasil melalui bulan puasa, ada semacam introkpeksi diri yang aka memenuhi isi kepala. Untuk itulah, di pikiran orang-orang dewasa. Mencari hal-hal baru untuk dilakoni setelah hari kemenangan pasca berpuasa jauh lebih penting daripada baju lebaran.

Karena Sejatinya, di Hari Lebaran Hati Kitalah yang Perlu Baru Bukan Baju

Inti dari serangkaian ibadah yang sudah kita lakukan satu bulan penuh. Tentu terletak pada proses puasa yang sudah dilakoni. Adakah pelajaran baru yang didapat atau malah tak mendapat pelajaran apa-apa sama sekali. Kemenangan di hari yang fitri tak hanya ditandai dari sekedar baju baru yang kita kenakan. Tapi bagaiman kita bisa membersihkan hati dari semua hal yang tak baik dengan menjadi baru dan suci lagi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Andre Taulany, Akhirnya Kembali Lagi Muncul di TV

Sempat diistirahatkan dari salah satu acara tv yang biasa dipandunya, karena tersandung kasus dugaan penistaan agama. Terbaru, Andre Taulany kembali terlihat muncul di televisi. Yap, ia masuk ke dalam program sahur “Ini Sahur” yang tayang di salah satu stasiun televisi swasta. Terlihat melempar senyum kepada para pemain lain, Nunung yang juga jadi salah satu rekannya terlihat tak kuat menahan haru atas kehadiran Andre.

Sebagai ungkapan rasa bahagianya, ia menghampiri seluruh teman-temannya dan memeluk mereka. Mulai dari Nunung, Vincent, hingga Sule.

Sumber : NetMediatama

Sebelumnya Andre Taulany dituding menghina ulama karena plesetan ‘Adisomad’ hingga dituduh menghina Nabi Muhammad SAW. Namun, karena perilaku dan sikap yang ia tunjukkan olehnya, masyarakat menilai jika Andre Taulany tak sepatutnya diberhetikan dari program tv.

Dirinya pun sudah meminta maaf secara pribadi ke Ustaz Adi Somad. Tak hanya itu, ayah tiga anak tersebut juga mendatangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) untuk menjelaskan bagaiman kronologi yang sebenarnya dan menjelaskan banyaknya pemberitaan miring yang tak benar.  

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top