Feature

Mungkin Kamu Tak Sadar, Tapi Hidupmu Singkat Cuma 18 Tahun!

Pernah kamu berpikir kamu mau hidup sampai kapan? Selamanya? Setidaknya untuk saat ini hal itu tidaklah mungkin. Karena menurut Badan Pusat Statistik Indonesia, rata-rata harapan hidup manusia Indonesia hanya mencapai usia 72,59 tahun untuk perempuan dan 68,87 tahun untuk laki-laki.

Mari kita permudah angka ini dengan beranggapan rata-rata usia hidup manusia Indonesia berada di umur 70 tahun. Sebagian kita mungkin kemudian berpikir bahwa rentang usia tersebut sudah cukup panjang. Banyak hal yang bisa kita lakukan ketika hidup selama 70 tahun itu bukan.

Nah, masalahnya dari usia 70 tahun itu, sesungguhnya waktu kita untuk “benar-benar hidup” jauh lebih singkat dari pada itu.

Kamu Praktis Tak Bisa Mengingat 5 Tahun Pertama Hidupmu, berarti Kamu Cuma Punya Sisa Hidup 65 Tahun

Salah satu tahapan dalam hidup manusia yang dikenal di dunia pengetahuan dan medis adalah usia balita. Karena ketika inilah manusia mengalami yang disebut dengan masa keemasan dalam perkembangan. Mulai dari belajar berbicara, berjalan, dan fungsi dasar lainnya.

Namun pada masa itu sesungguhnya kita juga belum bisa menyimpan kenangan apa-apa bukan. Bahkan ketika bayi, kita tak punya kendali terhadap diri kita sendiri bukan. Karena itu kita bisa mengeliminasi masa hidup kita di lima tahun pertama ini. Artinya dari total 70 tahun, kita hanya benar-benar hidup selama 65 tahun.

Kalau Tak Jaga Kesehatan, Kemungkinan 5 Tahun Dari Masa Tua Tak Bisa Kamu Nikmati, Sisa Hidupmu Cuma 60 tahun

Dari riset kesehatan dasar tahun 2013 ditemukan bahwa hanya 15 persen lansia yang benar-benar sehat. Sementara 60 persennya meski bisa melakukan aktivitas, mengalami sakit seperti hipertensi, stroke, pengapuran sendi dan penyakit regeneratif lannya. Sementara 25 persen sisanya sakit renta dan membutuhkan bantuan orang lain dalam beraktivitas.

Nah, ini gambaran jika kamu termasuk orang yang tak menjaga kesehatan dikala muda. Bisa jadi 5 tahun masa tuamu dihabiskan dengan sakit. Kondisi yang tak ideal untuk kamu menikmati hidup bukan? Berarti pula dari sisa 65 tahun setelah dipotong masa balita, hidupmu dipotong lagi masa sakit ketika tua sebanyak 5 tahun. Alias hanya tersisa 60 tahun.

Waktu Tidur Ideal Itu 8 Jam, Berarti Seumur Hidup Kamu Habiskan Total 20 Tahun Hanya Untuk Tidur Saja, Hidupmu Sisa 40 Tahun

Secara idealnya manusia itu butuh tidur 8 jam setiap harinya. Anggaplah satu tahun 365 hari, artinya satu tahun kamu tidur selama 2920 jam. Jika sisa usiamu tadi hanya 60 tahun setelah dipotong masa balita dan usia tua, dalam rentang itu kamu tidur selama 175 ribu jam. Atau setara dengan 20 tahun.

Yup, 20 tahun dari hidupmu tidak ada di bawah kendalimu karena ketika itu kamu tidur. Bisa dibilang 20 tahun itu bukanlah milik hidupmu sepenuhnya. Artinya dari sisa 60 tahun tadi, hidupmu yang benar-benar hidup dikurangi 20 tahun lagi alias Cuma tersisa 40 tahun saja.

Di Indonesia Wajib Sekolah Selama Minimal 6 jam Sampai SMA, Atau Setara 2 tahun, Dan Hidupmu Tinggal 38 tahun

Salah satu Nawacita Presiden Jokowi adalah menerapkan wajib belajar selama 12 tahun. Dari SD hingga ke taraf SMA. Anggaplah kita bersekolah dari jam 7 pagi hingga jam 12 siang alias 5 jam setiap harinya. Jika dalam satu bulan ada 20 hari sekolah, berarti satu bulan kita menghabiskan 100 jam untuk sekolah dan setahun 1200 jam.

Dengan wajib sekolah 12 tahun berarti semasa hidup kita menghabiskan 144000 jam atau setara kurang lebih 2 tahun hanya untuk sekolah. Mengingat sebelumnya sisa hidup kitaa hanya 40 tahun, dikurangi masa sekolah ini, berarti kita hanya punya 38 tahun saja.

Kalau Kamu Bekerja Dari Usia 25 Tahun, Maka 7 Tahun Hidupmu Habis Untuk Kerja, Hidupmu Sisa 31 Tahun

Kamu mungkin tipikal pekerja kantoran yang bekerja 8 jam sehari dan 40 jam seminggu. Jika kamu seperti orang kebanyakan yang memutuskan pensiun di usia 55 tahun berarti masa baktimu akan berlangsung selama 30 tahun.

Artinya dengan menghitung satu tahun 52 minggu, kamu akan menghabiskan waktu 62400 jam dalam hidupmu. Angka Itu setara dengan 7 tahun. Alias, dari sisa 38 tahun hidupmu, kini hanya ada 31 tahun untuk kamu nikmati.

Kamu Seperti Rata-Rata Orang Indonesia Habiskan 5 Jam Bermain Gadget? Kamu Sudah Habiskan 6 Tahun Dan Hidupmu Sisa 25 Tahun

Menurut sebuah penelitian dari Digital GFK Asia, perempuan Indonesia setidaknya menghabiskan waktu selama 5,6 jam per hari saat mengutak-utik layar smartphone mereka. Adapun pria Indonesia, setidaknya menghabiskan waktu selama 5,4 jam sehari dan membuka sekitar 47 aplikasi atau alamat website.

Mari kita berandai kamu memiliki gadget di usia 25 tahun dan terus menggunakannya hingga ujung usia produktif 55 tahun. Jika kita sederhanakan hanya menjadi 5 jam, berarti selama 30 tahun memiliki gadget itu kamu akan menghabiskan 54750 jam. Angka ini setara kurang lebih 6 tahun. Artinya dari sisa 31 tahun tadi, kamu hanya menyisakan 25 tahun hidupmu.

Mandi, Makan Dan Hal Rutin Lainnya Sedikitnya Menyita 3 jam dari waktumu Sehari, Secara Total Sudah Habis 7 Tahun Dan Hidupmu Tersisa 18 tahun

Dari sekian banyak kegiatanmu, kamu pasti harus melakukan hal-hal yang sifatnya rutinitas belaka. Mulai dari mandi, makan, sikat gigi dan sejumlah kegiatan sejenis. Secara total per harinya kamu akan menghabiskan 3 jam.

Coba kamu kalikan 60 tahun hidupmu, maka akan didapat 65.700 jam. Ini setara dengan sekitar 7 tahun. Artinya hidupmu hanya tersisa 18 tahun saja.

Jadi Sejatinya Kamu Cuma Hidup 18 Tahun Saja, Masih Juga Mau Kamu Habiskan Baca Hoax, Saling Nyinyir Di Sosial Media?

Nah, dengan perhitungan macam itu kamu bisa melihat bahwa hidup yang benar-benaar kamu miliki dan bisa kamu gunakan secara bebas, sesungguhnya hanya 18 tahun saja. Itu pun jelas masih bisa jauh berkurang lagi.

Coba bayangkan kalau kamu harus terjebak macet dijalanan, berapa banyak jam yang kemudian terbuang lagi. Atau jika kamu tak pensiun di usia 55 tahun dan lebih tua lagi tentunya maakin banyak waktumu harus terbuang hanya untuk bekerja bukan?

Namun sebaliknya, kamu bisa membuat hidupmu jauh lebih hidup. Yaitu dengan mengambil alih kendali hal-hal disekitarmu. Berapa banyak hidupmu yang terbuang kalau kamu bekerja di bidang yang bukan minatmu? Berapa banyak hidupmu sia-sia hanya untuk tersiksa di kantor yang tak kamu sukai.

Atau coba kamu renungi, 5 jam sehari kamu habiskan di gadget kamu. Kemudian hanya kamu habiskan untuk berdebat tanpa ujung. Saling sindir dan nyinyir untuk hal-hal yang tak penting. Betapa sia-sianya hidupmu jika hanya dihabiskan untuk itu bukan?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jadi Istri yang Baik, Tak Cukup Hanya Modal Cantik

Punya makna ganda, setiap orang pasti punya pendapat yang berbeda untuk mendefinisikan kata cantik. Banyak dijadikan sebagai acuan, beberapa perempuan terlalu fokus untuk menjadi cantik tanpa memahami bagaimana arti cantik sesuai dengan dirinya. Apalagi untuk kamu yang saat ini sedang bersiap untuk menikah.

Yap, perkara menjadi seorang istri sehabis menikah memang bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap perempuan akan dihadapkan dengan babak baru dengan berbagai macam lika-liku. Pada titik inilah, kamu mungkin akan paham bahwa untuk menjadi istri yang baik tak cukup hanya modal cantik.

Lagipula selalu ada pertimbangan bagi seorang laki-laki yang akan mempersuntingmu jadi istrinya. Dan ‘cantik’ bukanlah jadi alasan yang pertama, sebaliknya ada hal-hal lain yang perlu kamu kuasai untuk menjadi seorang istri yang (baik) dimata sang suami.

Selepas Jadi Istri, Dirimu Juga Akan Menjadi Seorang Ibu, Sudahkah Kamu Siap Untuk Itu?

Selepas menikah, jika memang sudah berencana untuk memiliki momongan. Masa transisi untuk menjadi seorang ibu, juga akan dipenuhi dengan berbagai macam drama kehidupan berumah tangga. Maka penting untuk kamu bisa belajar mempersiapkan diri dari sekarang.

Cobalah untuk mengulik ilmu-ilmu dasar menjadi seorang perempuan yang akan memiliki bayi kecil. Bagaimana kamu akan membawanya selama 9 bulan, melahirkan, merawat dan membesarkan dan memastikan semua kebutuhannya terpenuhi dengan benar. Sudahkah kamu bersiap untuk itu semuanya?

Mandiri dan Tidak Manja, Juga Jadi Modal Baik untuk Mendidik Anakmu Nantinya

Walaupun laki-laki dan perempuan tercipta dengan porsi tenaga yang berbeda. Kamu tak boleh hanya berpangku tangan saja, menunggu bala bantuan dari pasangan. Beberapa perkara perlu dikerjakan seorang diri dan mampu mencari jalan keluar untuk semua masalah yang dihadapi.

Ketika kamu berhasil menjadi sosok seorang istri dan ibu yang mendiri, setidaknya kamu sudah punya acuan untuk mendidiknya seperti kemampuan yang kamu miliki. Tak spesifik untuk diturunkan kepada anak yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, karena setiap anak perlu dididik untuk menjadi mandiri dalam kehidupan.

Lihai Dalam Menguasai Pekerjaan Rumah dan Berbagi Tugas Bersama

Jangan salah kaprah, memintamu untuk menguasai pekerjaan rumah, bukan berarti ingin menjadikanmu sebagai sosok yang paling banyak bekerja. Coba pahami pelan-pelan, karena sebenarnya ini akan jadi kerjasama yang baik dengan pasangan. Mampu mengerjakan pekerjaan rumah dengan benar dan selalu membuka diri untuk terus belajar.

Akan berada di dalam rumah lebih sering daripada si suami, ada beragam hal yang akan kamu hadapi tanpanya. Untuk itu, penting mempersiapkan diri dalam menerima kemungkinan lain yang bisa terjadi. Bukan tentang hal-hal berat yang mungkin tak bisa kamu kerjakan, tapi lebih ke kemampuan dasar pekerjaan rumah yang biasa seorang istri lakukan.

Bijak dalam Mengatur Ekonomi, Semua yang Dibeli Harus Selalu Diperhitungkan dengan Teliti

Setiap perempuannya, umumnya akan jadi pemegang keuangan dalam keluarga. Kamu akan bertugas untuk mengatur semuanya yang diperlukan. Mulai dari kebutuhan pangan, sandang dan perintilan lain yang diperlukan. Tak boleh diputuskan dengan asal-asalan, ketelitian dalam mempertimbangkan sesuatu dengan matang amat perlu untuk berbagai macam kebutuhan.

Kamu harus bisa mempertimbangkan, segala biaya yang akan dikeluarkan. Pentingkan kursi baru yang rencananya akan kamu beli bulan depan. Sampai penentuan berapa batas biaya yang akan dikeluarkan untuk liburan keluarga setiap tahunnya.

Ya, semua ada perhitungannya. Dan istri yang baik, pasti tahu bagaimana mengaplikasikan perhitungan ini ke dalam kehidupan sehari-hari.

Serta Mampu Mengatur Emosi dalam Berbagai Macam Persoalan di Kehidupan Sehari-hari

Kehidupan rumah tangga, menjadi seorang istri dan ibu, jelas tak hanya tentang sesuatu yang bahagia. Ada kalanya kamu akan bertengkar dengan suami, lelah karena kenakalan anakmu, atau frustasi atas kesulitan lain dalam menjalankan peranmu. Ini memang berat, tapi bukan berarti kamu tak bisa kuat.

Itulah mengapa, penting sekali untuk bisa mengotrol diri dengan baik. Mengatur kapan harus marah dan kapan harus meredam semuanya. Diam tak selalu jadi pertanda jika kita kalah, tapi juga membuktikan seberapa besar kita bisa menang atas ego diri sendiri. Dengan catatan, si suami pun melakukan hal yang sama seperti yang kau yakini.

Setidaknya, kini kamu punya gambaran. Bagaimana menjadi istri yang baik dan benar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Keputusanku untuk Keluar dari Grup WhatsApp Pertemanan yang Isinya Semakin Tak Karuan

Selain mengurangi dosa, keluar dari grup whatsapp yang isinya cuma ujaran kebencian atau hal-hal menyebalkan lain. Kamu juga harus siap dimusuhi oleh kenkawan. Ya, mau bagaimana. Terus berada di sana hanya membuat kita sakit kepala, tapi memutuskan untuk pergi pun bukanlah hal yang mudah.

Namun dengan alasan kesehatan mental diri sendiri, akhirnya aku memutuskan untuk menarik diri dan keluar. Jangan tanya berapa kawan yang tiba-tiba nge-japri secara personal, hanya untuk bertanya “kenapa keluar?”, karena banyak ternyata whoaa. Bahkan dia yang tadinya, cuma ada di daftar kontak saja tiba-tiba chat dan bertanya kenapa.

Begini, perjalanan hidup beserta segala tetek bengeknya sudah terasa susah. Aku tak mau menambah beban untuk diriku sendiri, dengan tetap berenang dalam kolam toxic yang buat kepala pusing bukan kepalang.

Tak bisa diputuskan dengan mudah, langkah ini kuambil setelah berbulan-bulan berpikir dan bertanya pada diri sendiri. Dan memang, jawaban yang kutemui adalah “Untuk apa tergabung pada mereka yang suka menyebar sesuatu yang berujung dengan kebencian dan arah yang makin tak jelas?”. Maka untuk itu, aku memutuskan keluar dari grup pertemanan demi hidup yang lebih tenang.

Kamu yang sedang membaca ini, mungkin sedang merasakan hal yang sama. Tapi masih sibuk bergelut untuk mencari jawaban dan keputusan apa yang harus dilakukan. Demi membantumu, ada beberapa alasan yang membuatku akhirnya memutuskan keluar dari grup pertemanan.

Mereka Tak Mau Mendengar Pendapat yang Berbeda, Dimatanya Dia yang Paling Benar dari Semua Manusia

Yap, hal-hal yang kerap memancing emosi adalah sikap keras kepala yang selalu menganggap dirinya paling benar dari kawan di grup.

Gambarannya begini, seorang teman mengirimkan satu tautan ke grup, yang ternyata sebagian besar isinya adalah berita bohong yang tak berdasar. Mencoba untuk membantunya mengerti, barangkali memang kurang memahami.

Kemudian saya membalas kirmannya, dengan tautan lain yang lebih bisa dipercaya. Tapi sayang, pembahasan mana yang salah dan mana yang benar justru berakhir dengan pernyataan bahwa aku terlihat merendahkan kemampuannya dalam memahami satu fakta.

Satu dua kali mungkin masih bisa diterima, tapi kalau setiap teguran atas kesalahannya selalu dianggap merendahkan. Itu artinya ia memang tak mau mendengar pandangan lain yang berbeda. Lalu tiba-tiba saya teringat satu nasehat yang tak tahu entah dari siapa. “Berdebat dengan orang yang tak mau membuka diri akan pendapat orang lain, tak akan ada habisnya”.

Terlalu Sering Membaca dan Menyaksikan Perdebatan Politik Cebong dan Kampret, Ternyata Jadi Beban

Tanpa harus kujelaskan, kamu pasti paham. Bagaimana panasnya suasana jelang musim politik seperti sekarang ini. Masing-masing kubu sering mempermasalahkan sesuatu diluar hubungan pertemanan. Iya, membawa masuk politik hanya untuk menjatuhkan pilihan teman lain yang mungkin berbeda.

Aku yang masih bingung akan menyebrang ke mana, hanya bisa diam melihat bagaimana mereka berkutat dengan masing-masing pendapatnya. Semua berkata pilihannya benar. Sampai-sampai aku sering berpikir, ‘Memangnya apa susahnya sih, menerima pendapat orang?’

Bukan tak peduli akan apa yang mereka perdebatkan, sebagai seseorang yang sedang mencoba untuk jadi warga negara yang baik. Tentu saja aku mengikuti semua perkembangan berita politik. Tapi membawa hal tersebut masuk ke pertemanan, bukanlah sesuatu yang tepat. Apalagi kalau hanya untuk dijadikan bahan berdebat. Percayalah, itu menganggu dan jadi beban untuk pikiranmu.

Belum Lagi Tren Hijrah yang Kian Galak Digadang-gadang oleh Teman Lainnya

Jangan buru-buru emosi! Karena sesungguhnya Hijrah di mataku adalah perbuatan yang baik dan sungguh sangat kukagumi. Sayangnya, beberapa orang yang melabeli diri sedang ‘Hijrah’ justru tak menunjukkan ke-hijrah-annya. Mereka semua adalah temanku dan bisa dibilang aku hampir bisa tahu, bagaimana mereka sejak dulu.

Lalu, dengan alasan hijrah kemudian datang kepada kita untuk memberikan satu dua kata petuah yang seringnya jadi kalimat penghakiman. “Harusnya kamu begini”, “Kamu tak boleh begitu” hingga “Menurutku, harusnya…”

Tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat atas kajian dan pemahaman agama yang sudah mereka dapatkan. Berupaya terlihat jadi sosok yang paling “Suci” kupikir bukanlah bagian dari ‘Hijrah’ yang benar. Dan jujur ini jadi sesuatu yang amat menyebalkan.

Bahkan Ketika Sudah Keluar Saja, Masih Ada Teman yang Bersikap Menyebalkan

“Ah elunya aja yang sok-sokan, buktinya banyak yang masih di group kok. Walau nggak pernah bahas politik atau masalah hijrah kaya alasan lu”

Yap, itu adalah salah satu kalimat yang dikirimkan seorang teman. Ketika aku menjawab pertanyan yang ia ajukan. Dia tak tahu saja, bahwa sebenarnya beberapa orang di dalam mungkin juga sudah gerah dan tak bisa menahan tetap di sana. Cuma belum menemukan keberanian saja untuk bilang, “Maaf aku keluar grup ya teman-teman”

Setidaknya, ini jauh lebih baik walau  harus menerima sanksi dibenci oleh beberapa teman yang tadinya punya hubungan baik. Tak apa, biarlah mereka menilaiku semaunya. Satu hal yang pasti, aku hanya ingin mengoptimalkan waktu dan energi pada mereka yang memberiku kekuatan positif. Bukan mereka yang tahunya menyebar informasi bohong dan sibuk sok jadi paling benar sendiri.

Tapi Sebelum Keluar dari Grup Pertemanan, Cobalah Pikiran Beberapa Pertanyaan Ini

  1. Masihkah kamu merasa nyaman dengan obrolan yang ada atau justru resah karena mulai terlihat gaduh dan tak terarah?
  2. Bagaimana fungsi grup berjalan, jadi wadah untuk berbagi kabar atau ajang untuk adu debat dan ngotot-ngototan?
  3. Adakah pengaruh baik yang kamu dapatkan dari sana atau justru jadi beban yang menganggu pikiranmu?
  4. Tahukan mereka waktu yang tepat untuk berdebat? Jangan sampai karena grup tersebut, kamu kehilangan fokus untuk pekerjaanmu
  5. Dan yang terakhir, masihkah kamu menganggapnya sebagai grup pertemanan untuk tetap mempertahankan hubungan atau hanya sekedar jadi tameng untuk bisa saling serang?
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Tak Usah Terlalu Diumbar, Kemiripan diantara Kalian Belum Bisa Jadi Jaminan Melenggang ke Pelaminan

Relationship goals yang dikira orang selama ini bukan hanya yang selalu membagikan foto-foto bahagia di media sosial. Ada yang beranggapan relationship goals adalah saat kamu punya pasangan dengan hobi, kebiasaan, dan aneka sifat yang sama denganmu. Karena kesamaan itu, menurutmu pasti tipikal pasangan semacam ini akan terus adem ayem dan tak ada masalah yang cukup berarti.

Nyatanya tak selalu demikian. Kesamaan sifat atau kesukaan tak menjamin kebahagiaan dan hubungan yang langgeng. Misalnya, kamu dan pasangan dikenal sama-sama keras kepala, kalau dipaksakan bersama yang ada satu sama lain lebih sulit menyesuaikan dan tak ada yang mau mengalah. Pusing sendiri kan? Untuk itu, kesamaan tak menjamin kebahagiaan.

Jangan Takut dengan Perbedaan, Hubungan Asmara Justru Lebih Berwarna untuk Dilakoni

Kita ambil saja contoh dari pasangan Nick Jonas dan Priyanka Chopra. Keduanya bukan hanya beda usia, namun datang dari budaya yang berbeda sekaligus karier yang bertolak belakang. Namun perbedaan yang dijalani keduanya malah berakhir indah. Sebagai orang Amerika, Nick perlahan-lahan belajar adat sang istri yaitu India sehingga pengetahuannya pun bertambah. Tidak sia-sia kan punya pasangan yang berbeda?

Perbedaan karakter pun baik. Menurut hasil penelitian yang pernah dipublikasikan oleh Psychology Today, pasangan dengan karakter beda justru lebih langgeng bila dibandingkan dengan pasangan yang serba sama. Ini karena pengalaman yang dirasakannya dalam hidup lebih bervariasi.

Kalau Sama-sama Perfeksionis, Hati-hati Ada Momennya Kamu Tersiksa Saat Salah Satu dari Kalian Berbuat Kesalahan

Ukuran perfeksionis seseorang sejatinya berbeda-beda. Ada yang perfeksionisnya tinggi, ada yang sedang-sedang saja. Tingkat perfeksionis ini dapat memengaruhi bedanya ukuran prinsip masing-masing. Yang sedikit fatal adalah kalau salah satu dari pasangan melakukan kesalahan, bisa jadi pasangan satunya lagi tidak bisa mentolerir dan menunjukkan kekesalannya secara langsung. Semoga saja kamu tak mengalami hal semacam ini ya kawan.

Sama-sama Dikenal Ramah dan Peduli Pada Orang Lain, Ada Masanya Kalian Langsung Cemburu

Menjadi pribadi yang baik ke sesama dan selalu memikirkan kepentingan orang lain terlebih dahulu memang sangat baik. Hanya saja, hati-hati, jangan sampai lantaran kamu sibuk peduli dan menolong orang, waktumu selalu habis untuk orang lain sementara pasangan yang memerlukan keberadaanmu justru tak mendapat respon sama sekali. Alhasil, muncul rasa cemburu. Kalau kamu tidak bisa memanipulasi pikiran sendiri, bisa terjadi konflik lho kawan.

Kalau Kalian Sama-sama Haus Prestasi, Siap-siap Saat Menikah Nanti Selalu Saingan Karier Siapa yang Lebih Tinggi

Misalnya kamu di kondisi kalau kamu dan pasanganmu adalah sosok yang sama-sama berpengaruh di lingkungan kerja. Jabatan kalian juga tinggi dan selalu bekerja keras demi suksesnya perusahaan. Akhirnya, kalian disibukkan dengan jadwal di sana-sini.

Tapi, kalian tak mungkin kan sibuk terus kan? Terlebih saat pacaran, tentu harus bisa meluangkan waktu. Pun saat berdiskusi, bukan berarti kamu dan pasangan jadi saling menyibukkan diri pamer prestasi masing-masing. Ada lho karakter seseorang yang tak mau kalah saat pasangannya berada di puncak karier. Apa iya kamu saingan dengan pasanganmu sendiri?

Pasangan yang Keduanya Romantis Namun Punya Sisi idealis, Kalau Sedang Bosan, Justru Riskan Membanding-bandingkan

Buat kalian, pacaran itu harus romantis dan mengupayakan yang terbaik. Kamu pun bersyukur karena kamu menemukan pasangan yang sama-sama mendukung dan mampu bersikap romantis satu sama lain. Mungkin idealisme semacam ini terdengar bagus.

Tapi hubungan itu juga tak bisa selalu romantis. Pasti akan ada masalah tertentu. Selain itu, kalau terlalu sering romantis dan kadarnya berlebihan, bukannya justru membosankan? Di saat yang bosan inilah, rentan membanding-bandingkan hubungan dengan pasangan lain yang kamu lihat. Kawan, berhentilah membandingkan. Tuntutan untuk meniru pasangan lain ke pasangan sendiri justru bisa jadi beban lho.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top