Feature

Metromini: Dulu Jadi Angkutan Paling Berderu, Kini Nasibnya Lesu

Sebelum ada TransJakarta, Ibu Kota punya berbagai jenis angkutan umum bahkan namanya legendaris sampai hari ini. Yang paling terkenal mungkin angkutan berupa bus tanggung, sebut saja Kopaja, Metromini, Koantas Bima, sampai PO Deborah. Namun lantaran peraturan pemerintah hingga urusan keamanan dan kenyamanan penumpang yang kini diutamakan, angkutan tersebut sudah banyak yang tak beroperasi. Apalagi beberapa tahun belakangan, angkutan ini memang dikenal sering ugal-ugalan.

Dari sekian banyak nama bus, yang bertahan cukup lama salah satunya Metromini. Dengan bodi berwarna setengah oranye setengah biru yang dibatasi aksen putih, bus yang satu ini berderu di banyak titik di Jakarta. Yup, Metromini punya banyak trayek sehingga masyarakat yang tinggal di Jakarta pasti sering sekali melihat angkutan yang satu ini berlalu lalang. Tapi bagaimana ya nasibnya sekarang?

Sempat Jadi Bus yang Diandalkan pada Asian Games 1962, Metromini Justru Dilarang Seliweran di Gelaran Asian Games 2018

Sumber: merdeka.com

Mengutip kompas.com, jika menarik sejarah, keberadaan bus tanggung itu semula lahir dari helatan perdana Asian Games tahun 1962. Kala itu, Presiden Soekarno mengadakan bus-bus untuk mengantar jemput atlet dari Bandara Kemayoran ke Gelora Bung Karno. Setelah Asian Games 1962 dan Ganefo selesai, bus-bus itu lantas dijadikan transportasi masyarakat Jakarta.

Selanjutnya, dari buku “Planning the Megacity: Jakarta in the Twentieth Century” karangan Christopher Silver (2007), Metro Mini saat itu dianggap lebih unggul lantaran bisa bermanuver lebih lincah dibanding bus-bus Mercedes-Benz dan Dodge yang dioperasikan Damri. Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1976, mengumpulkan 700 bus yang beroperasi sejak 1962 di bawah satu bendera, PT Metro Mini.

Baru di tahun 1980, bus-bus yang sudah terlihat tua diperbarui dengan bus-bus Toyota. Hingga awal 2000-an, armadanya terus bertambah dan menjangkau hampir seluruh jaringan jalan raya Ibu Kota. Tarifnya yang murah dan rata untuk sekali jalan membuat bus ini menjadi andalan.

Namun, pada helatan Asian Games 2018 lalu, yang terjadi justru sebaliknya. Metromini tak lagi jadi bus andalan, keberadaannya pun ‘diasingkan’. Selama helatan Asian Games, trayek Metromini dialihkan, bahkan ada penindakan untuk bus yang tak layak jalan. Gagasan ini muncul saat Basuki Tjahaja Purnama masih menjabat jadi Gubernur DKI Jakarta.

Sebagian besar armada Metro Mini dan Kopaja yang menguasai jalanan umurnya melebihi 10 tahun, track record-nya yang sering ugal-ugalan bahkan jadi penyebab kecelakaan membuat Ahok–sapaannya, tak ingin melihat Metromini beroperasi lagi di jalanan Ibu Kota.

Lewat Metromini, Kita Mengenal Keberagaman Masyarakat Ibu Kota

 Gambar terkait

Sumber: ibenimages.com

Kapan lagi melihat ‘warna warni’ masyarakat Jakarta kalau bukan di angkutan umum? Bukan hanya pekerja, kita pun sering menjumpai pedagang, anak sekolah, bahkan pengamen jadi penumpang bus Metromini. Sebelum maraknya kendaraan bermotor, Metromini jadi andalan orang-orang. Pergi ke kantor, ke pasar, ke sekolah, bahkan rumah sakit, cukup naik bus tanggung ini.

Tapi kalau sedang tak mujur, bahkan bisa saja kita jadi korban para copet. Itulah dinamikanya. Keras memang, belum lagi kalau angkutannya sedang penuh sesak. Jangan harap mencium aroma wangi, yang ada di hadapan kita justru peluh diri sendiri dan orang lain bahkan bau badan orang lain yang kelewat menyengat.

Untukmu yang pernah melipir ke terminal Blok M, pasti sempat merasakan banyaknya Metromini dengan belasan trayek berjejer di sepanjang terminal. Ditemani panas, atau kadang hujan, kadang pakaian yang semula rapi jadi kusut begitu turun dari Metromini. Efek berdesak-desakan. Satu-satunya sumber hawa sejuk hanya angin yang berhembus masuk dari jendela bus.

Berkaca Dari Keberadaan Metromini, Dulu Kita Sempat Jadi Orang yang Tak Tertib Lho

Hasil gambar untuk metromini asian games

Sumber gambar: kompas

Lebih tepatnya penumpang yang tak tertib. Bayangkan, sebagian besar dari kita pernah tidak buang sampah sembarangan saat di dalam Metromini? Entah menaruhnya di lantai bus, menyelipkan di dekat pintu, atau bahkan yang paling ‘frontal’ yaitu melemparkan sampah kecil lewat jendela atau pintu bus? Betapa tak tertibnya penumpang kala itu.

Pun angkutan ini pun secara tak langsung ‘mendidik’ kita jadi penumpang yang ugal-ugalan. Menyetop bus bisa dimana saja, entah pada saat kita hendak naik, maupun saat sudah tiba di tujuan. Kini kalau dibandingkan saat di TransJakarta, kamu tak bisa sesembrono itu kan? Urusan makan dan minum di dalam bus, dulu tentu sesukamu. Bahkan perokok pun bebas mengepulkan asap rokoknya. Bersyukurlah kini kondisi bus angkutan jauh lebih manusiawi. Tak ada lagi asap rokok, bahkan urusan makan dan minum pun ada larangannya.

Kalau diberi skala 1-10, kira-kira berapa nilai yang akan kamu sematkan untuk angkutan yang kini derunya mulai lesu itu? Meski masih dijumpai di beberapa titik, Metromini jelas tak sebanyak dulu. Bahkan karena faktor pendapatan yang kian berkurang, sepertinya profesi kernet Metromini perlahan menghilang. Tak akan lagi kamu menjumpai kernet dengan bunyi gemerincing koin di tangannya tanda ia menagih ongkos, atau kernet yang membantu penumpang untuk naik dan turun dari bus.

Sekarang, penumpang langsung diarahkan ke supir untuk membayar ongkos sebesar Rp 4.000. Lihatlah, dari segi harga saja kini Metromini jelas sukar bersaing dengan TransJakarta yang menawarkan tarif Rp 3.500 sekali perjalanan namun dengan armada yang jauh lebih nyaman dan dilengkapi pendingin udara.

Metromini kini berada di titik akhirnya. Digantikan roda-roda bus modern yang menawarkan pendingin udara dan beragam kenyamanan lainnya. Lantainya yang berlubang, deru mesin tuanya, dan kisah-kisah para penghuninya sebentar lagi hanya akan jadi kenangan mereka yang pernah menumpang bus oranye nan legendaris ini.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Jika Sudah Pergi, Jangan Kembali Lagi 

“Setelah perpisahan kita, hatiku memang remuk. Dihantam dengan keras oleh perpisahan, hingga sulit untuk melupakan”

Kita pernah bersepakat, agar terus jadi dua orangyang sepaket. Bersama dalam suka dan duka, beriringan meski dihadang cobaan, dan akan tetap saling mengenggap apapun hal yang akan terjadi di depan. Sampai akhirnya, hari perayaan patah hati itu tiba tanpa diduga. Hubungan yang sudah sekian lama dibina, selesai begitu saja.

Sampai kini, aku masih bisa mengingat setiap janji yang pernah kamu sampaikan. Diucapkan dengan penuh keyakinan, dan memintaku percaya atas semua yang kamu bilang. Walau kini aku harus banyak-banyak menyadarkan diri sendiri. Meminta hatiku melupakan agar tak lagi terbayang atas kisah cinta yang pernah kita jalankan. Karena nyatanya, perpisahan itu sudah berlangsung lama, walau sampai kini masih menyisahkan luka.

Belajar melepaskan tentu bukanlah upaya yang mudah. Ada ribuan rasa sayang yang susah payah aku lupakan, jutaan kenangan yang juga harus kuhilangkan dari ingatan. Hidup tanpa dirimu, aku berjuang melepaskan semua cintaku. Pelan-pelan semuanya mulai membaik. Hidupku berjalan dengan alur yang hampir sempurna. Tak lagi berharap bersama, aku mulai berdamai dengan hidup yang kini aku punya.

“Lalu, kau datang lagi. Menawarkanku hati untuk kembali dicintai…”

Kamu mungkin tak tahu, bagaimana kerasnya upayaku. Belajar melupakan semua kenangan, menata hati yang kemarin kau porak-porandakan. Lalu  dengan mudah kau hancurkan. Tanpa rasa bersalah, kau haturkan maaf atas kepergian pertama, lalu mengajakku untuk kembali memulai semuanya dari awal seperti pertama kali kita jumpa. Dirimu bisa saja menjadi manis dalam berkata-kata, tapi sikap dan perilaku bisa jadi masih serupa.

Harus kuakui memang, perasaan sayang dan cinta yang kumiliki masih serupa, ada untukmu sesuai porsinya. Tapi patah hati pertama, jadi alasan logis yang membuatku tak harus menerimau kembali sebagai yang tercinta. Tak bisa mencegahmu datang kembali, tapi kuharap dirimu akan mengerti jika sudah tak ada ruang untuk kembali saling mengasihi.

Bawalah cinta dan keinginanan yang kini kembali kamu sampaikan. Aku akan tetap melanjutkan hidup tanpa berharap bisa kembali bersama denganmu lagi. Tak lagi pernah berharap untuk bisa bergandengan, aku belajar jika sebagian cerita yang kuanggap menyenangkan tak selalu jadi sesuatu yang layak diperjuangakan. Mari sama-sama melupakan dengan tak lagi saling mengusik kebahagian. Sebagaimana aku yang sudah sejak lama menjauh darimu, kuharap kau pun bisa melakukan hal serupa atas diriku.

“Jika sudah pergi, tak perlu datang lagi”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Seorang Selebgram Laporkan Lucinta Luna Karena Telah Menginjak Fotonya 

Lucinta Luna memang tak pernah luput dari pemberitaan. Baru-baru ini, ia dilaporkan oleh seorang selebgram bernama Rivelino Wardhana ke kepolisian, karena sikapnya dalam sebuah tayangan konten talkshow di salah satu channel Youtube.  

Pada tayangan tersebut, terlihat sesorang memperlihatkan foto Rivelino Wardhana, Lucinta Luna yang melihatnya terlihat tampak geram hingga kemudian menginjak foto tersebut di lantai. Lantaran tak terima dengan sikap dari Biduan tersebut, selebgram tersebut memilih jalur hukum untuk menyelesaikan permasalahan mereka.

Dikutip dari Kapanlagi.com, pelantun lagu Bobo Dimana tersebut mengaku belum menerima kabar dari lawyer atau manajernya mengenai kabar tersebut.

“Oh aku sih belum tahu ya ada laporan kayak gitu dari lawyer aku, manajer aku juga enggak tahu. Di situ kita belum terima laporannya karena Lucinta ini baik terhadap siapa pun,” ujar Lucinta Luna, saat saat ditemui di gedung Trans TV, Jakarta Selatan, Senin (22/7/2019).

Mantan personil Dua Bunga itu, akan dilaporkan karena ada dugaan pencemaran, penghinaan, dengan menyerang kehormatan. Akan tetapi, disinggung perihal sikapnya tersebut, dirinya merasa tak merasa bersalah kepada pria yang digosipkan pernah menjalin hubungan dengannya itu.

“Aku nggak tahu apa-apa ya, enggak ngerti. Intinya aku enggak menerima laporan tertentu karena aku baik-baik saja kok,” jelasnya.

Dan dari pengakuannya, Lucinta Luna menyebut kalau aksi menginjak foto itu adalah ide dari tim kreatif acara yang diisinya. Saat ini ia sendiri tidak mau berkomentar lebih banyak terkait kasus itu.

“Oh nggak ada (motifnya) kok. Itu yang inisiatif orang kreatifnya saja,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Ardina Rasti dan Suami Sepakat Atur Batasan dalam Menerima Tawaran Iklan untuk Anaknya

Pasangan Ardina Rasti dan Arie Dwi Andika masih menikmati tumbuh kembang buah hati mereka, Anara Langit Adria. Anara yang masih berusia sekitar 7 bulan, kata Rasti, sudah dapat beberapa tawaran iklan.

“Ada, sih, sebenarnya ada. Cuma kami mikirnya, produknya yang berhubungan dengan baby,” kata Rasti seperti dikutip dari Kumparan.com. Ia mengatakan, dirinya tak menolak tawaran iklan untuk putranya yang lahir pada 8 Desember 2018 lalu. Namun ia cukup selektif dalam memilih tawaran iklan agar sesuai dengan Anara. Bahkan keduanya memiliki batasan khusus.

“Kalau misal memang cocok dan enggak mengganggu waktu dia, ya. Pokoknya, kami fleksibel saja. Kami batesin, sih, yang penting enggak terbuka, jangan sampai enggak pakai baju. ‘Kan ada yang posting bayi berenang, sebaiknya jangan,” ucap Rasti.

Saat ini, keduanya masih sibuk berbagi tugas mengurus Anara. Sebab, mereka memilih untuk tidak menggunakan jasa baby sitter untuk merawat Anara.

“Kalau masih guling-gulingan, masih bisa ditinggal, sekarang ganti-gantian sama Arie. Karena, kami ngasuh baby tanpa baby sitter. Jadi, kami lagi menikmati seru-serunya, deg-degan momong anak,” ucapnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top