Tips

Meski Sering Dicap Lelet, Ada Manfaat Baik dibalik Kebiasaan Makan Pelan-pelan

Kebiasaan makan bersama teman seringkali jadi cara untuk mengenal karakter satu per satu teman kita. Salah satunya soal kebiasaan makan. Setiap orang pasti punya durasi yang berbeda untuk menghabiskan seporsi makanan mereka. Ada yang terbiasa makan cepat dan lahap, ada juga yang lebih suka mengunyah makanan dengan lambat tapi kenyang.

Sayangnya, tipe orang yang suka makan pelan-pelan seringkali dicemooh dan dianggap lelet. Padahal, kebiasaan makan lebih lambat nyatanya terbukti menyehatkan dan bisa membantu tubuh agar menjaga berat badan lebih normal. Ya, makan lebih lambat dapat membuatmu lebih menikmati makanan serta membuat perut menjadi lebih cepat kenyang.

Sementara mereka yang terbiasa makan cepat, kamu perlu tahu setidaknya butuh waktu sekitar 20 menit bagi tubuh untuk mengirim sinyal kenyang ke otak. Makan terburu-buru membuat proses ini menjadi terpangkas. Dengan makan cepat, tubuh juga menjadi tidak mendapat kesempatan untuk memperoleh manfaat maksimal dari makanan.

Di samping itu, kamu mungkin perlu tahu risiko lainnya yang muncul jika terbiasa makan dengan cepat.

  1. Apapun yang serba cepat, baik makan cepat maupun minum dengan cepat sejatinya bisa meningkatkan aliran balik asam lambung ke kerongkongan setelah makan, sehingga meningkatkan risiko penyakit asam lambung yang menyebabkan nyeri ulu hati. Kamu perlu tahu, hal ini jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi penyempitan kerongkongan hingga pendarahan.
  2. Makan dengan tergesa-gesa justru membuat Anda tidak menikmati makanan dan cenderung menghabiskan makanan dalam jumlah terlalu banyak dari yang seharusnya. Kondisi ini menyebabkan seseorang jadi mengonsumsi kalori secara berlebih dan akhirnya meningkatkan berat badan.
  3. Penelitian menemukan bahwa kebiasaan makan dengan tergesa-gesa meningkatkan risiko diabetes tipe 2 hingga 2,5 kali lipat. Tingginya kadar gula darah dan insulin meningkatkan risiko resistensi insulin.
  4. Makan cepat meningkatkan risiko sindrom metabolik yang kemudian juga meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.
  5. Makan sambil menonton TV, memainkan telepon genggam, atau pun mengetik di depan komputer membuatmu cenderung makan jadi lebih cepat. Karenanya memang lebih dianjurkan bila kamu makan di meja makan sambil berkonsentrasi pada makananmu tanpa terganggu. Cobalah setel musik ringan atau pun sambil menyalakan lilin.

Sementara untukmu yang mungkin terkendala atau sudah terbiasa makan dengan durasi cepat, teknik ini mungkin bisa menolongmu agar kamu bisa memulai mengonsumsi makanan dengan pelan-pelan.

  1. Gigit makanan sedikit demi sedikit, kunyah perlahan, nikmati rasa, dan tekstur makanan. Kunyah setidaknya hingga 20-30 kali dalam setiap suapan.
  2. Kamu harus menentukan waktu makan secara teratur. Terlambat makan membuat Anda terbiasa makan cepat. Menunggu hingga terlalu lapar baru makan membuat Anda makan lebih banyak dan memilih makanan yang tidak sehat.
  3. Mengonsumsi camilan sehat di sela waktu makan utama dapat mencegahmu jadi terlalu lapar sehingga tak mendorong untuk makan dengan tergesa-gesa.
  4. Tak masalah jika ingin mengonsumsi segelas air di tengah makan. Hal ini dapat membantumu mengambil jeda agar makan lebih perlahan.
  5. Di samping itu, cobalah mengonsumsi makanan yang kaya serat. Makanan berserat sejatinya butuh waktu lebih lama untuk dicerna sehingga membuat perut kenyang lebih lama.

Dengan makan lebih lambat, kamu mendapatkan manfaat lebih banyak dari makanan yang dikonsumsi, juga manfaat kesehatan yang tidak akan didapatkan jika kamu makan dengan cepat.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Ternyata Laki-laki Bertubuh Pendek Lebih Sering Marah Dibanding Mereka yang Tinggi

Kalau harus diperhatikan, seorang lelaki yang bertubuh pendek ternyata lebih sering marah dan mudah terbakar cemburu dibanding mereka yang lebih tinggi. Tapi ini bukan sekedar perkiraan biasa. Karena dari hasil temuan para ilmuwan yang melakukan penelitian di Centres for Disease Control di Atlanta, ternyata lelaki bertubuh pendek lebih mudah terpancing emosi.

Menariknya lagi, penelitian yang dilakukan terhadap setidaknya 600 lelaki berusia 18 sampai 50 tahun ini, juga menemukan bahwa laki-laki bertubuh pendek juga lebih mudah emosi dan melakukan kekerasan dibanding mereka yang bertubuh  tinggi.

Hasil dari penelitian tersebut berkata, bahwa mereka yang pendek menganggap dirinya kurang maskulin yang kemudian bisa memicu tingkat ketakutan dan amarah dalam diri mereka.

Sumber : The Mirror

Disamping itu, penelitian lain yang dilakukan ilmuwan di Universitas Oxford juga mengungkapkan jika alasan seseorang bertubuh pendek lebih mudah marah sebenarnya sangat sederhana. Rasa percaya diri yang kurang, ditambah anggapan masyarakat tentang orang pendek kurang menarik, menjadikan mereka lebih mudah marah hingga berpikir negatif.

Namun tak selalu buruk, karena selain hasil temuan yang tadi sudah disebutkan. Peneliti tersebut juga menemukan fakta bahwa tak semua laki-laki bertubuh pendek lebih mudah marah. Karena, penelitian lain juga menemukan bahwa beberapa laki-laki pendek bahkan memiliki kesabaran yang lebih baik. Beberapa dari mereka juga memiliki rasa percaya diri tinggi, bahagia yang natural dan kemampuan menerima diri sendiri yang lebih baik.

Sumber : YouTube

Dengan kata lain, kita pun harus tahu jika faktor fisik bukanlah satu-satunya pemicu untuk seseorang, (khususnya laki-laki) kehilangan rasa percaya dirinya. Karena biasanya, ada beberapa hal lain yang juga mempengaruhinya. Mulai dari faktor ekonomi, lingkungan, keluarga, dan pekerjaan yang dimiliki.

Karena tinggi pendeknya seseorang kadang bukanlah sebuah jaminan bahwa ia mudah marah, cemburu atau tak percaya diri. Karena semuanya itu, kembali pada masing-masing pribadi.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Melanie Putria dan Angga ‘Maliq & D’Essentials’, Resmi Bercerai!

Berbeda dengan Angga yang tak tampak dalam persidangan, Melanie Putria terlihat hadir dengan didampingi oleh kuasa hukumnya, pada sidang perceraiannya, yang digelar di Pengadilan Agama Jakarta Barat, kemarin Senin (21/1).

Dan atas kesepakatan bersama, keduanya akhirnya resmi bercerai sebagaimana hasil putusan yang dibacakan oleh hakim.

“Hari ini dikarenakan bukti sudah cukup, keterangan saksi juga sudah menguatkan alhamdulillah hari ini juga sekalian putusan. Sudah resmi bercerai,” ujar Indah Dewi Yani, kuasa hukum Melanie saat ditemui di Pengadilan Agama Jakarta Barat, dikutip dari laman detik.com.

Ternyata proses perceraian keduanya sudah sejak lama dilangsungkan dan sepakat berpisah dengan baik-baik. 

Sebelumnya, keduanya menikah pada 7 Maret 2010 lalu. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Sheemar Rahman Purariredja. Jarang terlihat dalam gosip miring, keduanya tampak mesra di sosial media. Namun, mendadak harus berpisah setelah 8 tahun berumah tangga.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Dihargai Rp. 1.500/Kg, Petani di Banyuwangi Buang Buah Naga ke Sungai

Dinilai tak mendapat harga yang cukup mempuni, beberapa petani buah Naga di Bayuwangi terlihat membuang hasil panen ke sungai. Hanya dihargai sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram (kg). Tindakan para petani yang membuang buah naga ke sungai ini jadi salah satu bentuk protes atas merosotnya harga buah tersebut.

Dikutip dari laman Detik.com, Hari candra setyawan (29), warga Dusun Silirbaru Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran Banyuwangi mengaku, anjloknya buah naga di Banyuwangi membuat dirinya merugi.

“Terpaksa saya buang ke sungai karena memang tidak laku. Dijual pun juga tidak nutut dengan ongkos petani,” ujarnya kepada wartawan, Senin (21/1/2019).

Dan dari foto dan video yang beredar luas di dunia maya, konon kegiatan membuang buah naga tersebut adalah kali kedua. “Ini bentuk protes kami karena buah naga dari Banyuwangi tidak laku dipasarkan. Kemarin kita buang 100 kilo. Ini lebih banyak lagi. Hampir 200 kilogram,” tambahnya.

Dianggap tak bisa mengembalikan modal, beberapa petani buah naga di wilayah sekitaran Banyuwangi, yakni di Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, akhirnya mempersilahkan masyarakat untuk memetik sendiri buah naga di kebunnya.

“Silakan kalau mau ambil sendiri di kebun. Gratis. Harga tidak nutup dengan ongkos petik,” ujar Ukri, dikutip masih dari laman yang sama.

Situasi ini sudah berjalan sekitar 2 minggu lebih, padahal menurut Ukri para petani baru bisa dikatakan mendapat untung jika harga buah naga diatas Rp. 6.500/kg.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top