Feature

Mereka yang Sering Menyendiri Bukan Berarti Tak Punya Empati

Deretan orang yang tergabung dengan banyak kawan, barangkali jadi idola semua teman. Mereka disebut-sebut sebagai sosok yang mudah bergaul, pintar bersosialisasi, dan hal itu pulalah yang membuat mereka disenangi. Sebaliknya, dia yang katanya tak punya kawan. Tak pernah berbaur dengan banyak orang, mungkin akan dicap sebagai sosok yang kurang pergaulan, tertutup pada dunia luar, padahal belum tentu semua itu benar.

Untuk tak terdengar sedang memojokkan mereka yang ada di pihak “Tak punya banyak teman”, baiknya kita membuka mata. Tentang apa yang sesungguhnya mereka rasa. Wajar memang jika kita akan memberi berbagai macam opini yang bertujuan untuk membantu mereka untuk pintar bersosialisasi. Tapi bukankah setiap pilihan pasti ada alasannya?

Sama Seperti Apa yang Sedang Kita Pikirkan, Bisa Jadi Ia Pun Sedang Berusaha Agar Lebih Berani

Yap, sebagaimana kita yang sedang berusaha untuk memintanya lebih terbuka dengan orang. Barangkali hal yang serupa juga sedang ia upayakan saat ini. Sebagai sosok yang berbeda, mereka yang katanya sulit bergaul memang tak punya keberanian untuk membuka obrolan, menyapa orang, hingga bentuk komunikasi lain yang mungkin terasa biasa untuk kita.

Agar tak menyinggung perasaan mereka, daripada terus-menerus mempertanyakan sikap diamnya. Ada baiknya kita jadi teman yang bersedia untuk menemani mereka untuk lebih terbuka. Setidaknnya dari kita, mereka mungkin bisa belajar bagaimana pola komunikasi yang akan memudahkan ia membuka obrolan dengan orang.

Lagipula Berhakkah Kita Untuk Menentukan, Banyak Tidaknya Teman Jadi Wujud dari Kepribadian?

Tak tahu siapa yang menjadikannya sebagai acuan, tapi percaya atau tidak kita berada pada lingkungan yang kadang menilai seseorang berdasarkan siapa dan berapa banyak teman yang ia punya. Dengan mudah, si pemilik teman banyak dinilai sebagai orang baik yang mudah bergaul sedang si pemalu yang lebih banyak menyendiri, konon adalah pribadi yang tak mau berbagi.

Jika kita bisa mengatakan bahwa si pemilik teman banyak adalah orang baik, mengapa hal serupa tak bisa kita sematkan pada mereka yang tak punya teman juga. Toh mereka sama, sama-sama punya alasan atas pilihan hidupnya.

Fakta Lain yang Harus Kita Mulai Akui, Orang-orang Seperti Ini Selangkah Lebih Maju dari Kita yang Katanya Mudah Disenangi

Jangan selalu berpikir bahwa, kehidupan yang kita jalani lebih baik dari mereka. Untuk banyaknya pengalamanan dalam hal bersosial dan berbagi dengan teman. Kita mungkin bisa menang, tapi adakah yang bisa menjamin jika hidup kita lebih baik dari mereka? Tentu tidak.

Gambarannya begini, terbiasa berada dalam lingkup pertemanan yang ramai membuat kita merasa ketergantungan. Sehingga satu kali kala hidupmu benar-benar sepi tanpa teman, kamu pasti sadar bahwa ini berat.  Sedanngkan mereka? Mau ada tidak ada teman, ia sudah terbiasa untuk melakukan banyak hal seorang diri saja. Ini hanya satu contoh, masih banyak fakta lain yang juga jadi gambaran bahwa mereka juga ternyata punya kelebihan dari kita.

Sebab Kemampuan Mereka Menjalani Hari-harinya, Pastilah Lebih Mudah dari Kita

Banyak teman memang bahagia, tapi jangan lupa juga jika banyak teman juga bisa membuat kita pusing tak terkira. Kamu pasti paham kan, jika setiap orang hadir dengan watak yang sikap yang berbeda. Sebagai teman yang akan menjalin hubungan dengan mereka. Mau tak mau, kita harus melunakkan diri. Terbuka untuk memahami dan sering pula berakhir dengan pusing sendiri.

Lalu apakabar dengan mereka? Hem sepertinya sama saja. Hari-hati yang dilalui oleh mereka bisa jadi terasa lebih mudah dan ringan. Sebab tak perlu terhubungan dengan berbagai macam sikap manusia yang katanya adalah teman.

Jangan Buru-buru Memberi Vonis Kepada Mereka, Bisa Jadi Apa yang Kita Percaya Adalah Sesuatu yang Salah

Satu hal yang perlu kita ingat, setiap orang punya alasan untuk menentukan setiap pilihan. Sebagaimana kita yang memilih untuk dekat dan menjalin hubungan dengan banyak orang. Orang-orang yang sendiri juga pastilah punya alasan, tentang mengapa ia hanya terbuka pada orang-orang tertentu saja.

Tak ada  yang berhak untuk menjatuhi sebuah sebutan yang tak enak pada mereka. Apalagi sampai bilang jika mereka ini adalah sosok yang hilang empatinya. Setiap orang punya hak yang sama, begitu juga denngan kita dan dirinya.

Nikmat Memang Punya Teman Banyak, Tapi Apakah Itu Adalah Sebuah Keharusan?

Dari berbagai macam aspek, memilik teman memang mendatangkan banyak manfaat. Selama itu adalah pertemanan yang sehat ya. Karena biasanya, semakin banyak teman maka semakin banyak punya hall-hal yang kadang datang di luar perkiraan. Dari yang tadinya ingin membahas film, bisa jadi berubah dengan menjadikan permasalah kawan lain jadi topik perbincangan.

Punya banyak teman, bukanlah sebuah keharusan jadi tak ada aturan yang bisa membedakan kita. Sebab semua manusia sama saja.

Karena Pada Intinya, Setiap Orang Punya Cara yang Berbeda Untuk Menikmati Hidupnya

Kita mungkin menilai bahwa minum kopi adalah kenikmatan yang hakiki di pagi hari, tapi kawan lain justru memilih teh sebagai hidangan minuman pagi. Ya, setiap orang lahir dan besar dengan pandangan yang berbeda. Apa yang kita suka belum tentu disukai oleh orang lain, begitu  pun sebaliknya.

Rona bahagia dari kita yang terlihat sedang bersama dengan banyak teman, bisa jadi pilihan. Tapi mereka yang memilih untuk lebih banyak menikmati hidupnya dengan sendiri juga punya hak yang berbahagia dengan caranya sendiri. Tak sama, bukan berarti kita berhak untuk berkata bahwa dia salah. Maka belajarlah untuk saling menghargai dalam segala hal dalam hidup yang kita jalani.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Film Bebas : Kilas Balik Kenangan Manis Anak-anak ‘90-an

Dendang ‘Bebas’ milik Rapper kondang Iwa K, barangkali jadi salah satu lagu hits pada era 90-an yang masih banyak didengarkan hingga sekarang. Hal itu pulalah yang jadi inspirasi untuk Riri Riza dan Mira Lesmana, tatkala pasutri ini membesut film terbarunya yang diberi judul sama seperti lagu Iwa K, Bebas.

Yap, Bebas adalah sebuah film yang diadaptasi dari film box office hits Korea berjudul Sunny (2011). Selain jadi negara ke-4 yang sudah menerjemahkan film Sunny, CJ Entertainment sebagai production house dari film aslinya, konon memberi kebebasan pada Miles Films untuk memproduksi Bebas hingga jadi sebuah suguhan epik yang sangat relateable dengan kehidupan orang Indonesia sepanjang tahun 90-an. Mulai dari lagu-lagu asyik hingga polemik politik. 

Bercerita tentang seorang remaja perempuan asal Sumedang yang baru pindah ke Jakarta, bernama Vina yang diperankan oleh Maizura. Sebagaimana anak-anak SMA, di sekolah barunya, Vina bertemu dengan siswa-siswi yang tergabung ke dalam geng yang ditakuti di sana, yakni Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Priscilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra).

Tak butuh waktu lama, kesan pertama atas nasib yang dirasa serupa, membuat Kris merasa akrab dengan Vina. Hingga akhirnya mereka menemukan satu nama untuk menamai gengnya, yakni ‘Geng Bebas’. Ada banyak cerita menarik yang kemudian mereka alami bersama. Menikmati waktu sepulang sekolah, belajar dance bersama, dan beberapa kenakalan lain yang membuat mereka justru kian berbahagia. Akan tetapi, kebersamaan atas kelompok yang mereka bentuk harus berakhir karena sebuah peristiwa tragis. 

Puluhan tahun kemudian, ketika Vina dewasa yang diperankan oleh Marsha Timothy sedang mengunjungi ibunya, secara tak sengaja ia bertemu dengan Sahabatnya Kris dewasa yang diperankan oleh Susan Bachtiar. Kris yang menderita sakit parah, divonis hanya akan hidup sebentar lagi. Dan sebagai permintaan terakhir sebelum ia pergi, Kris meminta Vina untuk mengumpulkan kemblai Geng Bebas untuk reuni.  

Tahu sahabatnya akan pergi, Vina berusaha untuk mengumpulkan satu persatu sahabat-sahabatnya. Pada proses pencariannya, Vina menemukan banyak hal yang sudah berubah. Jauh dari apa yang dulu mereka angan-angankan, hidup yang dijalani sekarang jadi sesuatu yang justru memperihatinkan. Mulai dari Jessica dewasa (Indy Barends) yang menjadi agen asuransi dan selalu tertekan oleh sang atasan sebab tak mencapai target penjualan, Jojo dewasa (Baim Wong) jadi seorang pengusaha sukses namun terlihat bimbang dan tak bahagia, hingga Gina dewasa (Widi Mulia) yang harus bersusah payah menjadi pekerja serabutan sembari merawat ibunya yang sudah sakit-sakitan. 

Untuk kalian yang kebetulan sudah menonton film aslinya ‘Sunny’, akan dengan cepat menyadari jika film adaptasi ini memang menuangkan semua yang ada di Sunny secara  keseluruhan. Mulai dari dialog, konflik, hingga alur cerita yang dipakainya. Walau beberapa poin terlihat dihilangkan atau diganti sesuai dengan sang penulis skenario Mira Lesmana, tapi film ini masih terlihat utuh sebagaimana film aslinya. 

Dibawa sesuai dengan kultur dan masa 90-annya Indonesia, setidaknya membuat penonton akan tertawa, terharu, dan bersedih dalam waktu yang berentetan. Selain latar belakang ceritanya, kalian juga akan menemukan beberapa tembang pilihan yang memang terkenal pada era 90-an. Mulai dari  lagu ‘Bidadari’ milik Andre Hehanusa pada babak pembuka cerita, ‘Cerita Cinta’ (Kahitna), ‘Cukup Siti Nurbaya’ (Dewa 19), ‘Kebebasan’ (Singiku), hingga ‘Aku Makin Cinta’ (Vina Panduwinata).

Tak hanya sekedar lagu saja, hal lain yang juga akan membuatmu merasa ada di zaman 90-an adalah, beberapa hal yang disebutkan pada dialog-dialog para pemainnya, Mulai dari penampakan gimbot, majalah GADIS, MTV, Nadya Huatagalung, radio tape, majalah GADIS, komik Candy-Candy, pager, sampai berita tentang majalah Tempo dan Detik yang diberedel pada era itu. 

Walau harus diakui pula, tak ada konflik yang terasa begitu berarti sebagaimana di Film ‘Sunny’, film ini terasa menghajar penonton dengan berbagai macam hal menyenangkan di 30 menit pertama, tapi terasa mengendur pada pertengahan, dan berhasil selamat pada babak akhir yang memang terasa mengharukan. 

Akan tetapi, film ini jadi salah satu tontonan yang cukup menjanjikan sajian drama komedia yang menyengarkan. Terlebih pada teknik pengambilan gambarnya, alur maju-mundur pada film tersebut disajikan dengan mantap dengan perpindahan gambar yang terasa sangat lembut. Dari masa sekarang ke masa lalu cerita, atau sebaliknya.

Tak hanya itu saja, kemampuan akting dari para pemerannya pun patut diapresiasi, mulai dari Maizura dan Sheryl yang memang banyak berinteraksi, dan Priscilla dan Baskara dengan tektokan dialog yang tergiang di kepala bahkan ketika mereka menjadi dewasa. Hingga deretan cameo yang juga turut serta menambah manisnya cerita, seperti Sarah Sechan dan Reza Rahardian, serta Tika Panggabean. 

Akan tayang serempak mulai 03 Oktober 2019 mendatang, film ini jadi wadah segar untuk kalian yang rindu masa SMA. Entah untuk reuni cerita-cerita cinta atau mengenang kembali pencarian jati diri saat masih remaja. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Gara-gara Polemik Revisi KUHP, Banyak Turis Australia yang Batal ke Bali

Proses regulasi Revisi Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (RKUHP) yang sedang digarap, ternyata jadi polemik bagi sebagian besar masyarakat. Beberapa pihak menilai sejumlah pasal dalam RKUHP tersebut memuat hal kontroversial. Salah satunya soal pasal perzinahan yang dinilai terlalu masuk dalam ranah privat masyarakat.

Dalam pasal ini diatur soal hukuman bagi pasangan yang tidak menikah namun ketahuan tinggal bersama. Nah, tindakan tersebut bisa dilaporkan ke polisi dan pelakunya bisa dikenai hukuman berupa denda hingga penjara.

Dan ternyata, pasal perzinahan dalam Revisi KUHP tersebut membuat beberapa turis asal Australia enggan untuk berkunjung ke Bali. Dilansir dari PerthNow, Minggu (22/9) para turis asal Australia merasa keberatan jika mereka harus menunjukkan surat nikah sebelum memesan kamar ketika liburan di Bali.

Dikutip dari laman kumparan.com, Elizabeth Travers, salah satu pemilik restoran dan villa di Bali mengaku pihaknya sudah menerima banyak pembatalan dari turis Australia karena adanya wacana RKUHP tersebut.

“Revisi tersebut bahkan belum disahkan tapi saya sudah menerima sejumlah pembatalan. Salah satu klien saya mengatakan mereka tidak lagi percaya untuk datang ke Bali karena mereka tidak menikah,” ujar Travers.

Menurut Travers, jika RKHUP lolos, maka aturan tersebut justru akan membunuh pariwisata di Bali. “Saya telah berkecimpung di dunia pariwisata, mengalami dua kali pengeboman, berbagai bencana alam dan menurut saya jika pemerintah pusat menegakkan hukum seperti itu, industri pariwisata akan hancur dan memicu akhir kehidupan di Bali seperti yang kita tahu,” pungkasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu Akan Cenderung Dipandang Kurang Sukses, Kalau Terlalu Sering Unggah Foto Selfie

Dari pengamatan biasa, aktivitas selfie memang adalah kegiatan biasa yang bisa kita temukan dengan mudah di media sosial. Dilakukan untuk menunjukkan eksistensi, wajah yang cantik, hingga hal lain yang ingin ditonjolkan dari gambar diri.

Tapi, jika kamu adalah salah seorang dari banyaknya manusia yang gemar selfie, ada beberapa hal yang harus mulai kamu ketahui. Dan salah satunya adalah sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Washington State University dan University of Southern Mississippi.

Dimana para peneliti tersebut menemukan, bahwa mengunggah foto selfie di media sosial Instagram berpengaruh buruk terhadap pandangan orang lain terhadap individu. Yaap, orang yang sering mengunggah selfie dianggap tidak percaya diri, juga dipandang sebagai individu yang kurang sukses, kurang disukai, dan kurang terbuka terhadap pengalaman baru.

Studi yang dipublikasikan di Journal of Research in Personality itu meneliti sejumlah pengguna asli Instagram, walau harus diakui pula jika sampelnya memang tergolong kecil. Pada tahap pertama, para peneliti meminta 30 mahasiswa dari universitas negeri di Amerika Serikat bagian selatan untuk mengisi kuisioner kepribadian.

Para peneliti juga memelajari unggahan Instagram para mahasiswa. Unggahan tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa kategori. Kategori tersebut yaitu selfie, posies (jika foto diri diambil oleh orang lain), dan kategori foto lainnya. Materi konten juga dicatat oleh peneliti. 

Nah, Pada studi berikutnya, para peneliti meminta 119 mahasiswa dari Amerika Serikat bagian barat laut untuk menilai profil 30 orang tersebut. Penilaian mencakup sejumlah faktor, seperti tingkat kepercayaan diri, tingkat interaksi, tingkat kesuksesan, dan tingkat egoisme.

Hasilnya, orang-orang yang mengunggah “posies” cenderung dipandang sebagai figur petualang, lebih tidak kesepian, lebih dapat diandalkan, lebih sukses, lebih ramah, lebih percaya diri, dan dianggap sebagai teman yang lebih baik daripada orang-orang yang lebih sering mengunggah selfie.

“Bahkan ketika dua orang memiliki konten yang sama, seperti menggambarkan pencapaian mengunjungi tempat tertentu, kesan yang diberikan oleh orang-orang yang mengunggah selfie cenderung lebih negatif. Sementara kesan yang dibangun oleh orang-orang yang lebih banyak mengunggah posies cenderung lebih positif,” kata Profesor Psikologi dari Washington State University dan penulis utama studi, Chris Barry. 

Terlepas dari konteks, hal ini menunjukkan ada isyarat visual tertentu yang menggambarkan respons positif atau negatif pada media sosial.

Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa mengunggah selfie cenderung dilakukan untuk memamerkan diri. Misalnya, ketika menunjukkan otot lengan jika ia adalah seorang lelaki, atau menunjukkan detail riasan wajah jika ia perempuan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top