Feature

Mereka yang Curhat di Sosial Media, Antara Ingin Dapat Solusi Atau Cari Sensasi

Hidup yang kita jalani memang tidak akan lepas dari yang namanya masalah, dan masalah tersebut jelas akan mempengaruhi suasana hati kita.

Misalnya saat tengah terjebak macet dijalan, hujan atau banjir hingga ke masalah-masalah lain yang bisa menghampiri kita kapan saja. Kita butuh ruang yang bisa membantu kita untuk bisa berekspresi. Dan dengan terbatasnya ruang sosial yang ada disekeliling kita, sosial media jadi satu-satunya wadah yang bisa menampung semua keluh kesah.

Hal ini mungkin bisa melegakan hati, tapi juga selalu ada plus dan minusnya. Maka demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, cobalah tengok beberapa hal yang bisa jadi dampak buruk dari curhat di sosial media.

Pasti Ada Alasan, Begitu Juga dengan Mereka yang Melakukan

Beberapa orang mungkin akan memilih curhat atau bercerita dengan orang yang memang mereka telah kenal baik atau dekat.  Namun sebagiannya lagi memilih untuk curhat di sosial media, dimana semua orang dari belahan dunia manapun bisa melihat isi curhatanya tersebut.

Hal ini pun bisa disebabkan oleh beberapa alasan, yang salah satunya mungkin dia tidak memiliki orang yang bisa dipercayakan. Terdengar masuk akal, tapi apakah harus di media sosial ? toh masih banyak hal lain yang bisa kita lakukan. Jika hanya untuk sekedar mencurahkan semua isi hati saja. Salah satunya lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada sang pemilik hidup, ini akan jauh lebih menenangkan hati.

Bagi Sebagian Orang, Ini Adalah Bagian dari Caranya Untuk Berekspresi 

Dr. Ida Ruwaida, Seorang sosiolog dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa “Sedikitnya ruang sosial yang makin terbatas dan ikatan emosional yang rendah terutama di kota-kota besar menimbulkan perubahan dalam pola interaksi masyarakat. Akhirnya, teknologi digital menjadi alat untuk menyalurkan emosi alias katarsis lewat media sosial”.

Zaman memang sudah berubah, dan salah satu dampaknya adalah pengaruh terhadap cara kita untuk menyampaikan suara. Selain itu faktor internal yang dialami oleh seseorang, juga menjadi salah satu yang penyebabnya. Misalnya mereka tidak bisa menyampaikan perasaannya pada lingkungan sekitarnya dan memilih untuk curhat di sosial media.

Dibenaknya sosoial media, sudah dianggap sebagai teman baru. Tapi kita perlu ingat bahwa dunia sosial media mempunyai kulturnya sendiri, alih-alih ingin curhat bisa saja kita malah mendapat masalah baru.

Lalu Tujuannya? Mencari Solusi atau Cuma Ingin Membuat Sensasi?

Sebelum memilih untuk mencurahkan isi hati di sosial media, seharusnya kita bisa berpikir ulang.  Apa sebenarnya tujuan kita untuk melakukannya? meski sebagian orang akan berkata bahwa mereka hanya ingin mencari solusi untuk masalah, tak sedikit pula yang cuma ingin mencari sensasi.

Jika kita berada pada pihak yang sedang curhat mungkin akan ada ketenangan jiwa setelah melakukannya. Tapi coba bayangkan, jika kita jadi pihak yang disuguhi oleh curhat panjang lebar yang terkesan tidak penting diberandamu? jelas saja ini akan menganggu.

Karena Pada Dasarnya, Aktivitasmu di Sosial Media Jadi Gambaran dari Kepribadianmu yang Sesungguhnya 

Terlepas dari semua alasan yang sering mendorong kita untuk memaparkan masalah di sosial media, sadar atau tidak sebenarnya kita sedang menjelaskan jati diri kita sendiri.

Jika sosial media kita dihiasi dengan postingan-postingan positif yang berguna, tak heran jika feedback yang kita dapatkan juga pasti akan baik pula. Namun jika hanya mengisinya dengan  curhat panjang lebar yang berlebihan, teman lain akan berpikir negatif pada kita.

Selagi masih punya teman bicara, bicaralah pada (orang) yang nyata. Jangan di dunia maya!
Mestinya kita bisa belajar dari sekian banyak kasus curhat yang berujung kepada pertengkaran,  karena banyak menerima respon buruk dari komentar orang lain. Dengan kata lain, curhat di sosial media bukanlah solusi terbaik.

Menghindari teknologi informasi tentu tidak bisa dilakukan, Sebaliknya ambillah sisi positifnya “Misalnya, media sosial membuat kita bisa bertemu kembali dengan teman lama,”. Karena tak satupun manusia dimuka bumi yang tak punya masalah, berhenti untuk curhat berlebihan di sosial media.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Feature

Kamu yang Merasa Sehat, Bukan Berarti Beneran Sehat

Mengetahui sehat atau tidaknya tubuhmu itu tidak hanya dari penampilannya. Tapi sekali waktu kamu pun perlu mengeceknya ke dokter demi memastikan benarkah kondisi tubuhmu memang prima atau perlu ada perhatian khusus. Sayangnya, banyak dari kita yang suka melupakan pentingnya tes kesehatan.

Padahal di usia sekarang, penting sekali mengutamakan tes ini agar kita punya gambaran bagaimana kondisi tubuh kita sekarang ini dan bisa melakukan pencegahan terhadap penyakit yang mungkin berisiko menyerang tubuh. Mengutip Bright Side, ini dia jenis tes yang perlu kamu lakukan setidaknya saat usiamu sudah memasuki kepala dua.

Tes Kesehatan Kulit demi Mencegah Kanker Kulit

Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh American Cancer Society, sebanyak 3,3 juta penduduk Amerika didiagnosa mengalami kanker kulit setiap tahunnya. Karenanya, penting sekali untuk mengecek kesehatan kulit setidaknya selama sebulan sekali. Kamu perlu tahu, melakukan tes screening bisa menekan risiko seperti paparan sinar ultraviolet berlebih, potensi kanker kulit, munculnya tahi lalat berlebihan, hingga permasalahan kulit lainnya.

Tes Koresterol Juga Perlu Lho untuk Mengetahui Tingkat HDL-mu

Kendati kamu berkilah kalau usiamu masih terlalu muda untuk tes kolesterol, itu sejatinya bukan jadi alasan untukmu agar melewatkan tes yang satu ini. Biasanya, kalau kamu hendak mengikuti tes untuk mengukur tingkat kolesterol, dokter tak akan mengizinkanmu untuk makan setidaknya 9-12 jam sebelum tes. Hal ini karena makanan bisa mempengaruhi tingkat kolesterolmu.

Kamu perlu tahu, selama tes, ada beberapa hal yang perlu diamati yaitu meliputi HDL atau tingkat kolesterol baik, LDL atau tingkat kolesterol yang buruk dan triglycerides. Biasanya petugas medis akan menjelaskan hasilnya nanti kepadamu.

Bagi Perempuan yang Sudah Menikah, Coba Lakukan Pap Smear, Ya!

Setiap perempuan yang sudah menikah, disarankan untuk melakukan uji pap smear setiap tiga tahun sekali. Tes ini diperuntukan untuk mengecek serviksmu apakah dalam keadaan baik-baik saja atau ada gejala kanker yang perlu diwaspadai. Mengapa tes semacam ini perlu? Karena kanker rahim ternyata jadi penyebab kematian tertinggi pada perempuan. Tapi berdasarkan data dari American Cancer Society, risiko kematian akibat kanker rahim dalam lima puluh tahun terakhir bisa ditekan mencapai angka 74 persen lantaran banyak perempuan  yang sudah sadar untuk melakukan uji pap smear.

Sering Dilupakan, Padahal Tes Hepatitis juga Penting untuk Tubuhmu

Penyebab hepatitis diketahui lantaran ‘infeksi’ yang terjadi pada livermu. Bagi sebagian orang yang mengalami hepatitis, awalnya tak ada gejala yang muncul pada tubuh. Untuk itu, cara mencegahnya tentu dengan melakukan cek atau tes hepatitis terlebih dahulu. Orang yang terinfeksi virus hepatitis, nantinya akan sering tumbang karena sistem imunnya tak lagi mampu bekerja secara maksimal. Nah, sebelum terlambat, lebih baik kamu cari tahu kondisi livermu dari sekarang, bukan?

Tes Darah Agar Kanker Darah Tak Jadi Ancaman untuk Tubuhmu

Tahukah kamu, sejatinya ada 137 tipe kanker darah, tapi mungkin yang  paling umum diketahui banyak orang yaitu leukemia, lymphoma, dan myloma. Dengan jumlah sebanyak itu, penting sekali untukmu agar dapat mencegah kanker darah yang sewaktu-waktu bisa menyerang tubuh. Sebab hanya dengan tes darah, yang namanya kanker darah baru bisa terdeteksi.

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Community

Nyaman Untuk Tinggal di Hunian Kecil Ala Orang Jepang

Tinggal di hunian yang sempit memang memaksa kamu harus meminimalisir barang yang kamu miliki agar tak menambah penuh ruang hunianmu. Tak jarang kenyamanan pun tak bisa kamu dapatkan karena minimnya ruang dalam apartemen. Nah untuk mengakalinya, kamu bisa coba tiru cara orang Jepang menata hunianya agar tetap nyaman nih meski lahannya sempit.

1. Sofa Sebagai Alternatif Tempat Tidur

Ruang yang ada dalam apartemen tentu lebih sempit dibandingkan rumah pada umumnya. Jadi kamu harus pandai-pandai dalam memanfaatkan ruang. Salah satunya dengan menggunakan sofa bed yang bisa dilipat agar bisa kamu jadikan sebagai tempat tidur juga.

2. Menggunakan Furnitur yang Multifungsi

Karena ruanganmu yang terbatas, akan lebih baiknya jika kamu memilih furnitur yang multifungsi untuk digunakan dalam apartemen. Misalnya kamu bisa menggunakan stools dengan tinggi sedang sebagai tempat duduk tamu maupun meja untuk menaruh barang-barang kecil yang penting.

3. Memilih Furnitur dengan Kapasitas Maksimal

Selain menggunakan furnitur yang multifungsi, kamu juga perlu memilih furnitur dengan kapasitas maksimal. Misalnya kamu bisa memilih lemari pakaian dengan kapasitas besar yang sesuai dengan ruangan, dimana kamu juga bisa menggunakan lemari tersebut sebagai tempat televisi di tengahnya. Akan lebih baik juga jika kamu memilih lemari dengan pintu geser.

4. Memanfaatkan Cermin untuk Menimbulkan Kesan Ruang yang Lebih Luas

Kamu bisa menempatkan cermin dinding besar di beberapa sudut ruangan apartemenmu. hal ini akan menimbulkan kesan ruang apartemenmu lebih luas dua sampai tiga kali lipat dari luas sebenarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Trending

Tentang Jargon “Syantik”, Syahrini Disindir Anji

Setelah lagu “Lagi Syantik” milik Siti Badriah sukses dan viral di tengah-tengah masyarakat kita. Syahrini memang terlihat sempat mengutarakan kekesalannya soal jargon “Syantik” yang dipakai pada lagu yang didendangkan oleh Siti Badriah tersebut.

Setelah penyataannya dengan sang adik yang juga menjadi managernya beberapa waktu lalu, banyak netizen yang juga turut serta memberi tanggapan. Ada yang pro tapi tak sedikit juga ada yang kontra. Sejalan dengan itu, dikutip dari viva.co.id, Musisi Anji juga turut serta untuk memberi tanggapannya pada persoalan tersebut.

“Saya sangat respect sama dia (Syahrini) dengan caranya menciptakan jargon-jargon, dan dia bisa menciptakan tren-tren yang buat saya mungkin buat sebagian orang aneh, tetapi akhirnya diikutin semua orang. Tapi khusus untuk lagu ‘Lagi Syantik’ ini, saya rasa Syahrini harus lebih detail,” tutur Anji, pada salah satu kesempatan di kawasan Kemang, Rabu, 19 Juli 2018 lalu.

Sumber : instagram.com/duniamanji

Suami dari Wina Thalia ini juga menilai, bahwa tak seharusnya Syahrini mengklaim atau bahkan mematenkan sebuah kata yang sejatinya sudah banyak dipakai oleh orang-orang.

“Tapi Syahrini juga bilang kan, Anda jangan julid, saya bukannya julid sih. Tapi dari pihak yang ngarang lagu saja katanya itu terinspirasi dari Mimi Peri. Terus saya lihat di YouTube kan menjadi trending, ada yang komen ‘nenek gue dari tahun 80an sudah tahu kata-kata syantik’,” lanjut Anji.

Anji juga menerangkan bahwa, untuk mematenkan sesuatu. Ada banyak kriteria yang dibutuhkan, tak boleh asal-asalan. Selanjutnya, ia juga berkata “Saya pernah nulis juga di twitter, ‘ngeri juga ya dengan kata-kata itu terus diakuin sebagai kata-kata seseorang’. Kata syantik itu sebenarnya biasa, saya juga mendengar kata syantik itu sejak lama. Jadi buat saya kurang cocok saja Syahrini bilang begitu”.

Persoalan jargon ini memang cukup menarik perhatian dari masyarakat. Karena selain lagunya yang mendadak viral, Syahrini berpendapat bahwa Siti Badriah tak terlebih dahulu meminta izin kepadanya, ketika hendak menyematkan kalimat “Syantik” pada judul single terbarunya tersebut. Meski pada kenyataannya, menurut sang pengarang lagu. Beliau justru terispirasi dari sosok Mimi Peri di laman sosial media Instagram yang juga kerap memakai kata “Syantik” untuk menggambarkan dirinya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

MOST SHARE

To Top